Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10-Wajah pucat di Koridor
Bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring, menggema di seluruh penjuru sekolah, menjadi tanda kelegaan bagi hampir seluruh murid yang sejak tadi sibuk mencatat dan menyimak penjelasan guru. Bu Guru Kimia pun segera membereskan berkas-berkasnya, berpamitan, lalu melangkah keluar dari ruang kelas. Suasana kelas yang tadinya hening seketika berubah menjadi riuh rendah. Semua murid bergerak serentak, mengemas buku dan alat tulis mereka, lalu berjalan menuju loker masing-masing untuk menyimpannya dan menguncinya rapi sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Di koridor sekolah yang kini mulai padat oleh kerumunan murid yang berjalan ke sana kemari, Elara dan Keisha berjalan beriringan menuju arah kantin.
"Ah, akhirnya jam istirahat juga," keluh Keisha sambil menggerakkan lehernya yang terasa kaku karena terlalu lama menunduk mencatat. Ia menghela napas panjang, lalu menatap Elara dengan wajah yang sedikit berkerut. "Kamu tahu nggak, El? Aku pusing banget lho mikirin materi kimia tadi. Rumus-rumusnya banyak banget, campur aduk gitu, sampai rasanya kepala aku mau pecah."
Elara tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya itu, lalu menggeleng pelan. "Kalau menurut aku sih sebenernya gampang banget, Kei. Cuma tinggal dihafalin polanya aja, nanti juga paham sendiri kok."
Keisha langsung menyenggol lengan Elara pelan dengan siku tangannya. "Yaiyalah kamu bilang gampang! Kamu kan emang pinter sejak lahir, makanya bisa diterima di sini pakai beasiswa penuh. Beda sama aku yang harus belajar mati-matian biar nilai nggak jatuh."
Elara tersenyum menenangkan, lalu merangkul bahu Keisha santai. "Tenang aja, jangan khawatir. Nanti pas pulang sekolah, di asrama aku bakal ajarin kamu materi tadi sampai kamu paham betul. Aku jelasin pelan-pelan kok, pasti kamu ngerti deh."
Wajah Keisha seketika berubah cerah kembali, matanya berbinar senang. "Oke deh! Janji ya? Jangan lupa lho, aku andalin kamu banget nih."
Mereka pun kembali melangkah, berjalan melewati kerumunan murid lain. Namun di tengah perjalanan, pandangan Elara tanpa sengaja tertuju ke sisi kiri, ke arah lorong panjang yang letaknya agak tersembunyi. Berbeda dengan koridor utama yang ramai dan terang, lorong itu tampak sepi, redup, dan terasa dingin meski matahari sedang bersinar terang. Itu adalah koridor tua yang konon sudah jarang digunakan dan sering dikatakan guru sebagai daerah terlarang karena bangunannya yang sudah tua dan berbahaya.
Namun, di sana, Elara melihat sosok yang dikenalnya.
"Itu kan Dinda..." gumam Elara pelan, langkah kakinya terhenti seketika. Matanya menatap tajam ke arah gadis berambut lurus itu yang sedang berjalan sendirian memasuki lorong sepi tersebut, berjalan dengan pandangan kosong, seolah ada yang memanggilnya. "Dia mau kemana ya?"
Keisha pun ikut berhenti dan mengikuti arah pandangan Elara. Ia mengerutkan kening bingung, lalu bergumam tak mengerti. "Oh iya... ngapain dia ke sana? Itu kan koridor kosong, udah lama nggak dipakai. Katanya juga dilarang masuk ke sana karena bangunannya udah rapuh dan berbahaya. Lagian tempatnya gelap dan seram banget lho."
Elara merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ingatannya kembali pada sosok berwajah pucat yang dilihatnya tadi pagi, dan pesan-pesan misterius dalam mimpinya. Perasaannya berkata bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan Dinda mungkin dalam bahaya atau terlibat sesuatu yang aneh. Tanpa berpikir panjang lagi, Elara menoleh ke arah Keisha dengan tekad yang bulat.
"Kei, kamu duluan aja ke kantin ya," ucap Elara sambil melepas rangkulannya. "Aku mau nyusul Dinda, aku mau tanya dia mau ke mana."
Keisha langsung menahan lengan Elara dengan cemas, wajahnya tampak khawatir sekali. "Eh, nggak boleh El! Kamu jangan ke sana! Itu tempatnya angker banget lho, banyak cerita seram soal lorong itu. Gimana nanti kalau kamu kenapa-napa atau terluka di sana? Aku nggak tenang kalau kamu pergi ke sana sendirian."
Elara tersenyum tipis, berusaha meyakinkan sahabatnya itu sambil mengusap lembut tangan Keisha yang memegang lengannya. "Aku nggak apa-apa kok, Kei. Aku cuma mau lihat keadaan Dinda aja, takutnya dia ada masalah atau butuh bantuan. Percaya sama aku ya, aku hati-hati banget kok."
Melihat ketegasan di mata Elara, Keisha akhirnya tak kuasa lagi melarang. Ia tahu kalau Elara sudah berniat, sulit sekali mengubah keputusannya. Keisha menghela napas pasrah, lalu mengangguk berat.
"Ya udah kalau begitu... tapi janji ya, kamu harus cepet balik lagi. Jangan lama-lama di sana," pesan Keisha dengan nada memohon. "Aku bakal pesenin kamu makanan sama minuman kesukaan kamu di kantin, nanti kamu langsung cari aku ya pas udah selesai."
"Iya, siap!" jawab Elara sambil tersenyum lega.
Keisha pun akhirnya berjalan pergi dengan langkah yang berat, sesekali menoleh ke belakang memastikan Elara aman, hingga tubuhnya hilang di balik kerumunan murid di koridor utama.
Setelah Keisha benar-benar pergi, senyum di wajah Elara perlahan hilang berganti dengan ekspresi serius. Ia menatap ujung lorong yang gelap dan sepi itu dengan napas tertahan. Udara dingin seolah mulai menyentuh kulitnya meski ia masih berdiri di tempat yang terang. Dengan perlahan namun pasti, Elara mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam koridor tua itu, mengikuti arah perginya Dinda yang bayangannya sudah mulai menjauh di ujung sana.
Semakin jauh Elara melangkah masuk ke dalam koridor tua itu, suasana semakin terasa berbeda. Udara di sini jauh lebih dingin, menusuk hingga ke tulang, seolah ada pendingin ruangan raksasa yang dinyalakan di sepanjang lorong ini. Dinding-dindingnya berwarna putih kekuningan yang sudah kusam, dengan beberapa bagian cat yang mengelupas, memperlihatkan batu bata di baliknya. Lampu-lampu di langit-langit hanya menyala redup, berkedip-kedip sesekali seolah akan mati kapan saja, membuat bayangannya sendiri tampak menari-nari dengan aneh di lantai. Suara langkah kakinya bergema nyaring, satu-satunya bunyi yang terdengar di tempat yang senyap dan sepi ini.
Jantung Elara berdegup makin kencang, namun rasa penasaran dan kekhawatirannya pada Dinda membuatnya terus maju. Ia terus menatap ke depan, berharap bisa melihat sosok Dinda yang berjalan dengan pandangan kosong tadi.
Sampai akhirnya, tepat di bagian tengah koridor yang paling gelap dan sepi itu, langkah kaki Elara terhenti mendadak. Napasnya tertahan.
Di sana, tak jauh di depannya, berdiri sesosok gadis seumuran dengannya. Gadis itu diam tak bergerak, membelakangi Elara. Rambutnya panjang, lurus, dan jatuh terurai hingga pinggang. Yang membuat Elara semakin heran, gadis itu mengenakan seragam sekolah yang persis sama dengannya—kemeja putih dengan dasi berwarna merah marun, dan rok biru tua kebanggaan Hantage School Academy.
“Dia siapa ya?” batin Elara bertanya-tanya, matanya menatap penuh kebingungan. “Apa dia murid kelas lain? Tapi kenapa dia berdiri diam saja di tempat sepi begini? Dan kenapa rasanya... ada yang aneh banget dari dia?”
Elara mencoba menenangkan diri. Mungkin saja gadis itu juga sedang mencari sesuatu, atau tersesat sama seperti dirinya. Dengan napas panjang, Elara memberanikan diri melangkah mendekat, jarak mereka kini tinggal beberapa langkah saja.
"Halo..." panggil Elara pelan, suaranya sedikit bergetar namun berusaha terdengar ramah. "Permisi... apa kamu lihat gadis yang rambutnya dikepang dua lewat sini? Namanya Dinda, badannya agak kurus, pakai kacamata. Kamu lihat dia lewat nggak?"
Gadis itu tetap diam. Tak ada jawaban, tak ada gerakan sedikit pun. Ia masih berdiri tegak, membelakangi Elara persis seperti patung. Keheningan itu terasa makin mencekam, membuat bulu kuduk Elara meremang hebat.
"Maaf...?" Elara bertanya sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras dan mendekatkan tubuhnya. "Kamu denger aku ngomong nggak?"
Namun tetap saja tidak ada jawaban. Gadis itu diam seribu bahasa, membuat kebingungan Elara berubah menjadi rasa takut yang samar. Perasaannya mulai berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat salah di sini. Tanpa sadar, tangan Elara terulur perlahan, lalu menyentuh pundak gadis itu dengan lembut, berniat meminta perhatian.
"Maaf..."
Belum selesai kata-kata itu keluar, tubuh gadis itu perlahan berputar. Sangat pelan, sangat kaku, seolah engsel yang berkarat.
Saat wajah gadis itu akhirnya berbalik menghadap ke arah Elara...
"AAAAA!!!!"
Jeritan panjang melengking keluar dari mulut Elara, memecah keheningan koridor itu. Darah di seluruh tubuhnya seolah berhenti mengalir, kakinya lemas seketika namun rasa takut mendorongnya untuk bergerak.
Di hadapannya bukanlah manusia biasa. Wajah gadis itu sangat pucat, seputih kertas mati, tanpa ada sedikit pun rona merah. Kulitnya terlihat kaku dan kering. Namun yang paling mengerikan... seluruh wajah dan tubuhnya penuh dengan noda-noda merah gelap yang mengering—darah. Darah itu meleleh dari matanya yang kosong, berlubang tanpa bola mata, mengalir turun melewati pipi, hidung, mulut, hingga ke leher dan masuk ke balik seragam sekolahnya yang sudah kotor dan sobek. Baunya anyir dan busuk tercium tajam menusuk hidung, bau kematian yang begitu pekat.
Gadis itu menatap ke arah Elara dengan mulut yang terbuka lebar, seolah hendak berteriak namun tak ada suara yang keluar, hanya hembusan hawa dingin yang berhembus ke wajah Elara.
Hati Elara rasanya mau copot. Ia tak sanggup lagi melihat pemandangan mengerikan itu sedetik pun lebih lama. Dengan sisa tenaga yang ada, Elara berbalik badan secepat kilat. Ia berlari sekuat tenaga, seolah nyawanya dipertaruhkan, kembali ke arah datangnya, menjauhi sosok mengerikan itu.
Elara terus berlari tanpa menoleh ke belakang, napasnya tersengal-sengal berat, dadanya naik turun seolah hendak meledak. Kakinya terasa berat sekali, seolah ada sesuatu yang menariknya ke bawah, namun rasa takut yang masih mencekam membuatnya terus melaju menjauh dari sosok mengerikan tadi. Baru saat ia merasa paru-parunya nyaris kehabisan udara, langkah kakinya perlahan melambat, hingga akhirnya ia berhenti sepenuhnya sambil bersandar lemas di dinding koridor.
“Itu tadi apa...? Apa yang baru saja aku lihat...?” batin Elara bergumam pelan, air mata nyaris kembali menetes. “Wajah itu... darah itu... seragam sekolah itu... siapa dia sebenarnya?”
Sambil berusaha menenangkan diri dan mengatur napasnya kembali, pandangan Elara tanpa sengaja jatuh ke sebuah pintu kayu tua yang terletak tepat di samping tempatnya berdiri. Pintu itu berwarna cokelat tua, catnya sudah memudar dan banyak yang terkelupas, terlihat sudah sangat lama tidak tersentuh. Tidak ada tulisan nama ruangan, tidak ada nomor ruang, hanya ada kunci tua yang tergantung menggantung di gagangnya.
Elara mengerutkan kening, rasa penasaran perlahan mengalahkan sedikit rasa takutnya. Ia melangkah mendekat, menatap pintu itu dengan saksama.
“Ini ruangan apa ya...?” gumamnya pelan, suaranya masih bergetar. Ia merasa ada sesuatu yang aneh memancar dari balik pintu tertutup itu. Suasana di sekitar ruangan itu terasa lebih dingin, lebih hening, seolah menyimpan rahasia besar yang terkunci rapat di dalamnya.
Tangan Elara perlahan terulur, jari-jarinya menyentuh gagang pintu yang terasa dingin dan berdebu. Ia berniat membukanya sedikit saja, sekadar mengintip apa yang ada di baliknya.
Namun tepat saat jarinya hendak menekan gagang itu, tiba-tiba sebuah tangan kasar dan kuat mencengkeram pergelangan tangannya, menahan gerakannya sepenuhnya.
Elara tersentak hebat, jantungnya kembali nyaris copot karena kaget. Ia berbalik cepat dengan napas tertahan, siap berteriak lagi mengira sosok mengerikan tadi kembali datang. Namun saat ia melihat siapa yang memegang tangannya, mulutnya seketika terkatup rapat.
“Kamu...?!” seru Elara tak percaya. Di hadapannya berdiri Arkan. Pemuda itu menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin, wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun, namun cengkeraman tangannya cukup kuat seolah tidak ingin melepaskannya barang sedetik pun.
Tanpa memberi kesempatan Elara bertanya lebih jauh, Arkan langsung menarik pergelangan tangan gadis itu dengan tegas. Ia membawa Elara berjalan cepat meninggalkan pintu tua itu, berjalan menyusuri koridor samping yang lebih terang dan sedikit lebih dekat ke bagian utama sekolah. Elara yang kaget hanya bisa mengikuti langkah panjang Arkan dengan langkah kecilnya, sempat terhuyung-huyung karena ditarik secara tiba-tiba.
Sesampainya di persimpangan koridor yang lebih ramai, Arkan baru melepaskan tangannya dengan kasar. Elara langsung menarik tangannya kembali, lalu mengusap pergelangan tangannya yang terasa sedikit perih karena cengkeraman tadi. Ia menatap Arkan dengan tatapan tidak terima, campuran antara rasa kaget, takut, dan kesal.
“Ih, ngapain sih kamu narik aku ke sini sembarangan?! Sakit tau!” ucap Elara ketus, suaranya meninggal sedikit karena kesal. “Kamu ngapain ada di sini? Ngikutin aku ya?!”
Arkan menatapnya dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh kemarahan Elara. Ia bertanya dengan nada datar dan rendah, seolah sedang menegur anak kecil yang berbuat salah.
“Ngapain lo mau masuk ke ruangan itu?” tanyanya singkat namun penuh tekanan.
Elara membuang muka sedikit, masih kesal. “Ya... aku mau tahu aja itu ruangan apa! Kan nggak ada tulisannya, aku jadi penasaran. Lagian aku ke sini juga ada urusan, aku lagi cari Dinda. Aku lihat dia masuk ke koridor tadi, jadi aku mau nyusul dia.”
Arkan menghela napas pelan, lalu menatap Elara lebih tajam lagi, suaranya terdengar serius dan tegas.
“Lo gak boleh masuk ke ruangan itu. Dan lo sebaiknya gak usah urus-urus tempat di sekitar sini.”
Elara menoleh kembali, menatap Arkan dengan bingung dan bertanya-tanya. Rasa penasarannya makin memuncak melihat sikap Arkan yang sangat melarang itu.
“Kenapa? Kenapa aku gak boleh masuk ke sana? Emangnya ada apa di dalamnya? Emangnya itu ruangan terlarang atau apa? Kan aku murid di sini, aku berhak tahu kalau ada ruangan apa aja di sekolah ini,” bantah Elara.
“Pokoknya lo gak boleh ke sana! Titik!” potong Arkan dengan nada yang lebih tinggi dan dingin, memotong perkataan Elara dengan tegas. Matanya menatap tajam, seolah tidak mau mendengar alasan apa pun lagi. “Dengerin omongan gue: ruangan itu bukan tempat buat murid-murid kayak lo. Dan koridor ini... bukan tempat yang aman buat lo keluyuran sendirian.”
Elara terdiam, makin bingung dan heran. Ia belum pernah melihat Arkan seketat dan secemas ini sebelumnya. Biasanya pemuda itu selalu dingin dan cuek, tidak peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi kali ini, Arkan terlihat sangat berusaha melarangnya, seolah ada bahaya besar yang mengintai di sana. Ada sesuatu yang disembunyikan pemuda itu, Elara yakin akan hal itu.
Arkan kembali berbicara, nadanya sedikit melunak namun tetap dingin dan memerintah.
“Mending lo sekarang pergi dari koridor ini. Balik ke koridor utama, ke kantin, atau ke mana aja yang ramai. Jangan sendirian di sini.”
Elara menggeleng tegas. “Gak bisa. Aku belum nemuin Dinda. Aku lihat jelas-jelas dia masuk ke sini tadi, aku harus pastiin dia aman.”
Arkan mendengus pelan, lalu mengarahkan pandangannya ke arah lorong yang baru saja mereka datangi. Ia menunjuk ke arah sana dengan dagunya.
“Lo cari Dinda kan? Itu dia.”
Elara buru-buru menoleh ke arah yang ditunjuk Arkan. Matanya membelalak kaget, mulutnya sedikit terbuka tak percaya.
Di sana, berjalan santai melewati persimpangan koridor itu, terlihat sosok Dinda. Gadis itu berjalan biasa saja, membawa bukunya di dada, wajahnya tenang, bahkan sempat tersenyum menyapa teman sekelasnya yang berpapasan dengannya. Langkahnya santai menuju arah kantin, persis seperti murid lain yang sedang jam istirahat.
Elara terpaku di tempatnya, pikirannya berputar kacau. 'Tapi... tadi aku lihat dia masuk ke koridor sepi itu dengan pandangan kosong! Dia berjalan kaku banget, kayak orang yang sedang tidur sambil jalan! Kenapa sekarang dia ada di sini, berjalan biasa aja seolah nggak ada apa-apa?'
Pikirannya kembali teringat pada sosok berwajah pucat penuh darah yang dilihatnya di tengah koridor tadi. Semuanya terasa begitu nyata, begitu mengerikan, tapi sekarang Dinda ada di sini, aman dan sehat, seolah tidak pernah pergi ke tempat angker itu.
Arkan kembali menegur, membuyarkan lamunan Elara.
“Udah sana pergi. Kejar aja dia kalau mau pastiin,” ucap Arkan singkat, lalu ia berbalik badan hendak pergi seolah tidak ingin berlama-lama berada di sana.
Elara menatap punggung Arkan yang mulai menjauh, lalu menatap kembali ke arah Dinda yang semakin menjauh pula. Meski penuh tanda tanya dan rasa takut yang belum hilang, ia tahu ia tidak bisa berlama-lama di sini sendirian.
“Iyaiya, aku pergi...” gumam Elara pelan, masih tertegun. Ia sekali lagi melirik ke arah pintu tua yang tadi dilarang Arkan, lalu segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor itu, mengejar Dinda yang menghilang di kerumunan murid.
Namun satu hal yang Elara sadari dengan pasti: Misteri di sekolah ini, sosok wanita berwajah pucat itu, dan rahasia yang disembunyikan Arkan... semuanya saling berkaitan erat. Dan perlahan tapi pasti, semua itu mulai menyeret Elara masuk ke dalamnya.