"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEPULUH
Andra menatap layar ponselnya dengan gelisah. Sudah sejak beberapa menit lalu ia berusaha menghubungi Kanaya, tapi tak ada satu pun panggilannya yang mendapatkan dari sang istri.
Pesan-pesan yang ia kirimkan juga bernasib sama, tak mendapat balasan.
"Nggak mungkin dia udah tidur jam segini, ini belum terlalu larut. Apa dia lagi mandi ya,..." Gumam Andra pelan penuh rasa kegelisahan.
"Mas,.... Lagi apa?"
Nisrin menyentuh lengan suaminya penuh
kelembutan, telapak tangannya yang halus bergerak naik turun mengusap bahu Andra seakan menggoda.
Senyum sensualnya hampir sirna saat melihat nama Kanaya di layar ponsel suaminya, ia akhirnya tau apa yang membuat pria itu sangat gelisah sejak kedatangan mereka di villa.
Meski sulit, Nisrin kembali mengulas senyum seolah ia tak terganggu sama sekali dengan kegelisahan Andra yang terus memikirkan Kanaya.
Ia harus mempertahankan image dirinya sebagai istri kedua yang baik hati, lemah lembut dan penuh pengertian.
Setidaknya sampai ia benar-benar berhasil menyingkirkan Kanaya dari hidup Andra dan memiliki
pria itu juga seluruh harta sang suami seutuhnya.
Nisrin jelas belum dan tidak tau sama sekali terkait dengan Andra yang sudah memindahkan semua kepemilikan harta pria itu pada sang istri pertama.
"Kamu mau telfon Mbak Naya? Mungkin jam segini dia udah tidur, Mas. Ini udah jam sembilan malam, kan? Mungkin udah istirahat dan nggak liat handphone lagi. Kalau ditelfonin terus takutnya dia malah ngerasa keganggu."
Masih sambil mempertahankan suara lembut dan penuh pengertiannya, Nisrin kembali mengusap sensual dada dan bahu Andra.
Meski di dalam hatinya Nisrin cukup dongkol dan kesal karena suaminya itu malah asyik memikirkan Kanaya ketika ia yang jauh lebih seksi sudah berada di depan matanya.
"Nggak, nggak mungkin. Ini baru jam sembilan, Naya nggak biasanya tidur seawal ini. Jam segini bukan jam tidur dia biasanya." Jawab Andra yang merasa sudah sangat mengenal sang istri.
Dada Nisrin terasa semakin panas membara, kesal dan cemburu bersatu padu merusak suasana hatinya.
Padahal, ia sudah sangat senang karena berpikir bisa berduaan dengan Andra tanpa gangguan siapa pun.
"Mungkin aja kan malam ini agak beda. Apalagi Mbak Naya dari tadi pagi kan memang keluar rumah dan kumpul-kumpul sama temennya, mungkin dia capek dan tidur lebih awal. Bisa aja, kan?"
Nisrin semakin menempelkan dirinya pada Andra,
menggesek dada penuhnya yang lembut pada lengan sang suami berharap hal tersebut bisa menarik perhatian pria itu agar beralih padanya.
Ia sudah mandi, berdandan dan memakai gaun tidur super seksi, sungguh sangat amat sia-sia kalau pada akhirnya ia hanya jadi pajangan karena Andra malah sibuk mengurus istrinya yang jauh di rumah.
"Apa iya ya,.... Kok hatiku nggak tenang kaya begini.
Seenggaknya aku mau ngomong sebentar sama Kanaya, baru aku bisa bener-bener tenang."
Keluh Andra sambil menghela nafas panjang dan dalam, ia dengan enggan meletakan ponselnya di atas meja nakas.
"Besok lagi juga kan masih bisa telfon Mbak Naya, Mas. Sekarang, ya. Mbak Naya suruh kita pergi berdua juga kan supaya kita punya waktu tanpa keganggu siapa pun. Selain itu, kita juga kan harus kasih Ibu oleh-oleh anak lucu." Kita nikmatin aja dulu waktu berduaan
Nisrin kembali menggoda, tangannya mengusap dagu dan pipi Andra.
Menyentuh bibir pria itu dengan sensual dan menatapnya penuh godaan.
Nisrin semakin merapatkan tubuh bagian depannya ke arah sang suami, menekan rapat-rapat hingga tak ada celah juga jarak di antara mereka berdua.
Dengan kepala yang semakin mendekat, Nisrin menghembuskan nafas hangat yang menerpa wajah Andra.
Untuk sesaat, pria yang beberapa menit lalu begitu
gelisah karena istri pertamanya itu akhirnya tergoda juga.
Jarak bibir mereka yang semakin dekat membuat Andra tak tahan lagi, ia menyambar bibir Nisrin dan melumatnya rakus.
Suara decapan juga desahan terdengar bersahut-sahutan, lenguhan dan erangan ikut menggema saat tangan Andra bergerak menyentuh Nisrin dengan liar.
"Eunghhh,... 'Mas,..." Lenguhan itu terdengar semakin keras dan menggema.
Tangan Andra bergerak cepat mengangkat tubuh Nisrin dan menggendongnya, tanpa melepaskan tautan bibir mereka ia membawa istri keduanya itu ke atas ranjang.
Sementara Nisrin, tangan wanita itu tak kalah lincah bergerak menyentuh sang suami. Ia menarik pelan rambut Andra, menekan kepala suaminya semakin menempel seraya memiringkan kepalanya memberi akses lebih luas untu Andra menciumi lehernya.
Bibirnya tersenyum puas, jika ia bisa menarik perhatian Andra semudah ini, maka wanita itu yakin tak akan sulit juga bagi dirinya menyingkirkan Kanaya dari hati pria itu sehingga hanya ia seorang yang bertakhta.
"Naya,... Eungh,... Sayang."
Senyum di wajah Nisrin seketika hilang, dadanya seperti dipukul dengan sangat keras saat pria itu itu malah menyebut nama istri pertamanya padahal Andra tengah asyik merabai tubuh padatnya.
"Mas!"
Nisrin berusaha mendorong Andra menjauh darinya karena pria itu masih asyik meremas pahanya gemas, suaminya itu bahkan belum sadar dengan kesalahannya yang malah menyebut nama wanita lain.
"Mas! Stop! Stop, Mas!"
Bentak Nisrin lebih keras, suaranya terdengar cukup gemetar karena marah dan merasa terhina.
Ia mendorong dada Andra menjauh dengan cukup kencang hingga dia hampir terjerembab ke belakang, tapi perhatian pria itu kini benar-benar terpusat padanya.
Andra menatap Nisrin dengan sorot mata bingung dan penuh tanya yang justru semakin menegaskan bahwa pria itu memang benar-benar tidak sadar dengan kesalahan yang dirinya lakukan.
"Kenapa? Ada apa? Kenapa tiba-tiba minta berhenti?" Tanya Andra bingung, ia menatap heran Nisrin yang kedua matanya tampak memerah dan berkaca-kaca seakan sudah siap untuk menumpahkan air matanya.
"Kamu nggak sadar sama kesalahan kamu?"
Pertanyaan Nisrin hanya membuat Andra semakin bingung.
Ia yakin dirinya tak melakukan kesalahan apapun, mereka barusan hendak bercinta bukan pikir Andra di dalam hatinya.
"Apa? Memangnya aku bikin kesalahan apa? Apa aku terlalu kasar?" Nisrin mendengus, matanya semakin memerah dan berair.
Rasanya akan lebih baik dan mudah bagi Nisrin menerimanya jika Andra memang menyentuhnya terlalu kasar dari pada pria itu malah menyebut nama istri pertamanya ketika mereka hendak bercampur.
Padahal, Nisrin sudah begitu percaya diri dan yakin kalau dirinya sudah berhasil memikat Andra dalam pesona miliknya.
Ia pikir dirinya sudah sedikit berhasil menyingkirkan Kanaya dalam benak dan pikiran Andra.
Tapi suaminya itu justru membuktikan sebaliknya!
Kanaya masih saja menjadi duri dan gangguan di dalam hubungan mereka bahkan ketika wanita itu berada sangat jauh dari mereka.
Nisrin sangat kesal, marah, kecewa dan amat terhina.
"Kamu malah sebut nama Mbak Naya! Kamu nggak sadar?!" Kedua mata Andra membelalak saat mendengar ucapan sang istri.
Seketika rasa bersalah menyelimuti dirinya, Andra tau itu adalah kesalahan yang fatal. Meski Kanaya juga adalah istri sahnya, menyebut nama wanita itu saat mereka hendak bercinta tetap lah menyakitkan.
Andra itu menelan ludahnya dengan susah payah, ia berusaha untuk kembali mendekat pada Nisrin dan mengusap halus puncak kepala wanita itu.
Untungnya, Nisrin tak menolak sentuhan dari Andra.
Wanita itu hanya diam dengan air mata yang semakin memupuk di kedua mata.