Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpura-pura
Di dalam mobilnya, Nova tak juga menjalankan mobilnya. Pria itu tampak termenung lama, seraya menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi. Dia memejamkan mata, kata-kata Alma di dalam lift tadi, masih terus bergaung di telinganya membuat batinnya terasa terusik dan tak tenang.
"Apa sebenarnya maksud perkataan Alma?" gumamnya pelan, lalu mengembuskan napas kasar dengan gelisah. "Kali ini, apa lagi yang akan ia rencanakan untukku?"
Nova membuka matanya dan menegakkan punggungnya, lalu memukul stir mobil yang tak bersalah dengan keras.
"Aah... dasar wanita tak punya perasaan...!" umpatnya tertahan, rahangnya mengeras penuh amarah yang meluap. "Baru beberapa hari menjabat sebagai Direktur Operasional, tapi dia sudah berani bertindak sewenang-wenang dan menganggapku seperti seonggok sampah yang siap dibuang kapan saja.!"
Namun, tiba-tiba wajahnya berubah pucat seketika. "Tapi... bagaimana jika dia sampai menemukan kesalahan yang sengaja aku buat pada berkas itu. Aah, gawat! Bisa kacau semuanya!"
Nova mengacak rambutnya dengan kasar hingga berantakan. Rasa cemas mulai menguasai dirinya, lalu tiba-tiba dia keluar dari mobil dan berlari masuk kembali ke dalam kantor. Tujuannya hanya satu yaitu ruangan kerja Alma dan mengambil berkas miliknya berharap belum sempat diperiksa oleh wanita itu.
Sesampainya di dalam, Nova segera mencarinya, mengangkat satu per satu tumpukan map yang ada di atas meja, dan rak penyimpanan berharap menemukan berkas miliknya. Namun, setelah menggeledah setiap sudut tempat itu, bahkan tak ada tempat yang terlewatkan, dia tetap tak menemukannya di mana pun.
"Aah...di mana dia menyembunyikannya?" gumamnya putus asa, lalu duduk berselonjor di bawah meja dengan raut wajah kalut dan panik.
Pikirannya mulai tak tenang. Dia ingat kembali ucapan Alma yang seakan penuh ancaman. "Nggak, aku nggak boleh kalah! Aku harus selamatkan karir yang kubangun dengan susah payah. Nggak mau jika harus hancur di tangan wanita itu!" Dia menggelengkan kepala cepat, menolak kenyataan buruk yang seakan terasa nyata.
...
Sementara itu, di mobil dalam perjalanan pulang menuju apartemennya, Alma duduk santai sembari menatap layar ponselnya. Di layar itu terpantau jelas segala tingkah laku Nova yang sedang kebingungan, gelisah, dan putus asa di dalam ruang kerjanya. Senyum tipis penuh kepuasan tersungging di bibir wanita itu.
"Silakan kamu mencari sampai lelah, bahkan sampai pingsan sekalipun... nggak akan pernah menemukan apa yang kamu cari," bisiknya pelan, penuh perhitungan. "Karena apa yang kamu tulis merupakan bukti nyata tentang kecuranganmu."
"Ada apa, Mbak? Apa ada masalah?" tanya Nirina, ia merasa heran sebab tiba-tiba Alma berbicara sendiri.
"Ah, nggak ada apa-apa. Aku cuma sedang melihat rekaman dari kamera yang aku pasang diam-diam di ruanganku," jawab Alma, lalu menyodorkan ponselnya agar Nirina bisa melihatnya juga.
Gadis itu memperhatikannya dengan seksama rekaman gambar di layar ponsel Alma.
"Lihatlah dia," lanjut Alma lagi, matanya masih tertuju pada wajah Nova yang tampak kalut. "Sepertinya sudah sadar kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar. Makanya dia sampai segitu paniknya kembali masuk ke ruanganku dan mencari berkas laporannya yang sudah dia serahkan padaku."
"Tadinya dia begitu angkuh dan merasa hebat, karena aku tak memanggilnya untuk merevisi kerjaannya. Padahal aku sengaja diam dan berpura-pura tak tahu apa-apa, supaya dia merasa aman dan merasa sudah berhasil menipuku dengan segala akal liciknya itu."
"Tapi yang dia nggak tahu, bahwa semua yang dia rencanakan dan lakukan, sudah tersimpan rapi di dalam file. Itu semua bakal jadi senjataku nanti saat waktunya tiba."
Nirina menoleh menatap Alma dengan takjub sekaligus sedikit ngeri.
"Jadi… sebenarnya Mbak Alma sudah tahu kalau dia berbuat curang? Lalu kenapa diam saja dan pura-pura nggak tahu?"
Alma tersenyum dingin, lalu menyimpan kembali ponselnya.
"Karena aku ingin dia menggali lubangnya sendiri," jawabnya tenang, tetapi tersirat ketegasan. "Karena semakin jauh dia melangkah, maka makin kuat alasanku untuk menjatuhkannya sampai ke dasar."
"Terus… kapan Mbak Alma akan menindak dan membongkar semuanya?" tanya Nirina lagi penasaran.
"Belum sekarang," jawab Alma cepat. "Nanti saat mereka benar-benar sedah merasa menang, saat itulah aku akan buka semuanya sekaligus… Hingga akhirnya dia akan menyadari bahwa dari awal mereka sudah terperangkap."
...
Di sisi lain, Nova berjalan keluar dari gedung kantor dengan langkah gontai dan hati yang gelisah luar biasa. Dia terus berpikir serta bertanya-tanya, kenapa berkas itu hilang begitu saja.
"Apa Alma dengan sengaja menyembunyikannya? Tapi di mana? Atau... jangan-jangan dia membawanya pulang?" pikirnya yang membuat rasa panik perlahan mulai merayap masuk dan menggerogoti kepercayaan dirinya.
Sesampainya kembali di dalam mobil, Nova tak langsung pergi meninggalkan area kantor. Dia justru mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Marsha.
"Gawat, Sha… ada masalah!" ucapnya pelan penuh kekhawatiran, begitu panggilan tersambung. "Berkas yang kita ubah itu… hilang. Aku sudah mencarinya ke seluruh ruangannya… tapi sama sekali aku tak menemukannya di mana pun."
Di ujung telepon, Marsha terdiam berusaha tetap tenang, sebelum menjawab.
"Mas harus tenang, jangan panik dulu. Mungkin dia memindahkannya ke ruang arsip, atau diserahkan pada sekretarisnya. Bisa saja, kan? Ingat, dia baru bekerja beberapa hari, dan belum paham seluk-beluk situasi kerja di situ. Jadi, mana mungkin dia curiga apa yang kita perbuat."
"Tapi tatapan matanya dan ucapannya tadi waktu di dalam lift… rasanya nggak sesederhana itu, Sha," potong Nova ragu. "Ada sesuatu dari sikapnya yang membuatku merinding. Seolah-olah dia tahu segalanya, tapi sengaja berpura-pura nggak tahu."
Marsha mendengus kesal di seberang sana.
"Kamu itu jangan jadi penakut gitu dong, Mas! Dia itu cuma perempuan yang naif! Dan sekarang kebetulan saja kedudukannya di atasmu, makanya dia pamer kekuasaan. Kalau menurutku tetaplah tenang, laksanakan rencana seperti yang sudah kita bicarakan, jangan mundur selangkah pun!"
Nova menghela napas panjang, berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan ucapan istrinya itu, meski rasa was-was di hatinya belum hilang sama sekali. "Baiklah… mungkin kamu benar. Aku cuma terlalu panik saja," jawabnya berusaha tenang.
"Tapi, Sha… kalau sampai rencana ini gagal dan kita tersandung masalah, kita berdua sama-sama akan hancur. Tak ada jalan mundur lagi buat kita."
"Sudah kubilang aman saja," jawab Marsha tegas dan penuh keyakinan palsu. "Percaya sama aku. Kita yang berhak menentukan siapa yang tetap bertahan dan siapa yang akan jatuh nanti!"