NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

“Sudah selesai?” tanya ustadz Haidar yang membuat Shaka mengangguk pelan.

“Sudah, ustadz.”

Ustadz Haidar lalu mengulurkan pakaian yang sejak tadi ia pegang.

“Pakai ini.”

Shaka menatap pakaian itu. Baju koko putih dan juga sarung, membuat matanya sedikit membesar.

“Saya…?” tanya Shaka pelan sementara ustadz Haidar mengangguk.

“Kamu mau menghadap Allah untuk meminta ampun malam ini. Untuk itu kamu harus memakai pakaian yang bersih.”

Shaka menatap pakaian itu cukup lama sebelum akhirnya menerimanya perlahan.

Tangannya kembali gemetar kecil. Entah kenapa hal sederhana seperti ini terasa begitu asing baginya. Baju koko itu terasa bersih dan harum, sangat berbeda dengan pakaian kusut yang sedang ia kenakan sekarang. Shaka menundukkan pandangannya. Dadanya terasa aneh. Hangat dan sesak sekaligus.

“Terima kasih…” ucapnya lirih.

Ustadz Haidar tersenyum kecil.

“Toilet di samping mushola masih kosong,” ujar ustadz Haidar. “Pergilah ganti pakaian dulu.”

Shaka mengangguk pelan. Ia memeluk baju koko dan sarung itu di tangannya beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dan kembali berjalan menuju toilet di samping mushola. Langkah kaki Shaka terdengar pelan saat ia berjalan menuju toilet kecil yang berada di samping mushola. Di tangannya masih tergenggam baju koko putih dan sarung yang tadi diberikan oleh Ustadz Haidar. Malam semakin larut. Udara dingin menusuk kulit, namun entah kenapa dadanya justru terasa panas dan sesak. Pikirannya kacau. Semua yang terjadi malam ini terasa begitu cepat.

Baru beberapa jam lalu ia masih berlari dari kejaran polisi sambil membawa tas berisi obat-obatan terlarang dan tangannya yang memegang pisau. Kepalanya dipenuhi rasa takut dan kemarahan. Bahkan ia sempat mengancam akan membunuh seseorang.

Namun sekarang ia sedang berjalan menuju toilet mushola sambil membawa baju koko dan sarung untuk melaksanakan sholat taubat.

Hidup benar-benar aneh.

Shaka akhirnya sampai di depan toilet kecil itu. Lampunya redup kekuningan. Dindingnya sederhana dengan sedikit cat yang mulai mengelupas di beberapa bagian. Tidak mewah sama sekali, tapi terasa bersih. Ia masuk perlahan lalu menutup pintu di belakangnya. Ruangan itu terlihat sempit, hanya ada ember di pojok ruangan, keran air, gantungan kecil di dinding, dan sebuah cermin kusam yang sedikit retak di bagian pinggirnya.

Shaka berdiri diam di depan cermin itu. Tatapannya langsung bertemu dengan pantulan dirinya sendiri. Untuk beberapa detik ia hanya diam. Wajahnya terlihat lelah, matanya terlihat merah dan sembab karena terlalu banyak menangis malam ini. Rambutnya berantakan dan pakaian yang ia kenakan tampak kusut, penuh debu dan keringat. Bau rokok masih melekat samar dari jaketnya. Di ujung lengan bajunya bahkan ada noda kecoklatan yang entah darah siapa. Mungkin darah orang yang pernah dipukulnya atau mungkin darahnya sendiri.

Shaka menatap dirinya cukup lama lalu perlahan menurunkan pandangannya ke pakaian yang melekat di tubuhnya. Pakaian itu seperti menggambarkan seluruh hidupnya. Kotor, berantakan dan gelap. Tangannya perlahan bergerak membuka jaket lusuh yang sejak tadi ia pakai. Gerakannya lambat.

Seolah ada sesuatu yang berat di dalam dadanya. Saat jaket itu terlepas dari tubuhnya, Shaka langsung teringat malam-malam panjang di jalanan. Tentang dinginnya trotoar tempat ia pernah tidur, tentang perkelahiannya

dan suara tawanya yang kasar seperti para preman hingga transaksi haram di gang-gang gelap.

Shaka menghentikan tangannya untuk sesaat. Napasnya terasa berat. Lalu perlahan ia melepas kaus hitam kusam yang melekat di tubuhnya. Bau asap rokok dan jalanan langsung terasa samar di udara sempit toilet itu. Shaka menatap pakaian itu di tangannya.

Tiba-tiba bayangan demi bayangan muncul di kepalanya. Wajah orang-orang yang pernah membeli narkoba darinya. Tatapan kosong para pecandu. Anak muda yang hidupnya hancur dan tangisan ibu yang memohon padanya dulu, membuat dada Shaka langsung terasa sesak. Tangannya mengepal kuat.

“Gue bener-bener sampah...” bisik Shaka lirih dan nyaris tak terdengar.

Shaka lalu melepas celana panjang lusuhnya perlahan. Dan entah kenapa saat pakaian-pakaian itu mulai terlepas satu per satu dari tubuhnya, rasanya seperti ia sedang melepaskan kehidupan lamanya sedikit demi sedikit. Kehidupan yang penuh dosa, penuh kemarahan dan penuh luka.

Shaka berdiri beberapa saat hanya dengan kaus dalam tipis dan celana pendek lusuhnya.

Ia kembali menatap cermin. Tatapannya terlihat kosong. Namun malam ini untuk pertama kalinya, ia tidak ingin lagi menjadi lelaki yang ada di pantulan itu. Perlahan, Shaka mengambil baju koko putih yang tadi diberikan Ustadz Haidar. Tangannya kembali gemetar kecil saat menyentuh kainnya yang bersih, lembut dan harum. Sangat berbeda dengan pakaian yang biasa ia pakai.

Dengan hati-hati ia mulai mengenakannya.

Saat kain putih itu melekat di tubuhnya, Shaka menunduk pelan. Dadanya terasa aneh. Ia lalu mengambil sarung dan mencoba memakainya perlahan. Gerakannya sedikit kikuk. Sudah lama sekali ia tidak memakai sarung. Mungkin terakhir kali saat masih kecil. Saat ayahnya masih hidup. Ingatan itu kembali menusuk dadanya. Setelah selesai memakai sarung, Shaka perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap ke cermin lagi dan ia membeku. Pantulan di depannya terasa asing.

Sangat asing. Lelaki di cermin itu tidak lagi terlihat seperti preman jalanan yang tadi datang dengan pisau dan tas narkoba. Baju koko putih itu membuat penampilannya berubah lebih bersih dan tenang, meski matanya merah dan luka di wajahnya masih terlihat jelas.

Shaka menatap dirinya lama sekali, lalu perlahan bibirnya bergerak.

“Apa orang kayak gue pantas pakai beginian...?” tanya Shaka dengan lirih dan penuh keraguan.

Matanya kembali memanas. Ia merasa seperti penipu. Seorang lelaki kotor yang mencoba memakai pakaian orang-orang baik. Tangannya perlahan menyentuh bagian depan baju koko itu yang terlihat bersih dan putih sedangkan dirinya? Penuh dosa.

Shaka tertawa kecil. Namun tawanya terdengar pahit. Kalau santri-santri di pesantren ini tahu siapa dirinya sebenarnya, apa mereka masih mau berdiri dekat dengannya? Atau mereka akan menjauh karena jijik? Shaka menunduk pelan. Dadanya kembali terasa sesak. Namun setelah beberapa saat terdiam, ia akhirnya menarik napas panjang. Lalu mengambil pakaian lamanya dari lantai. Ia menatap pakaian kusam itu sebentar sebelum menggantungnya di sudut ruangan.

Tatapannya terlihat berat seolah ia sedang meninggalkan sebagian hidupnya di sana.

Kemudian perlahan, Shaka membuka pintu toilet dan membuat udara malam langsung menyambutnya. Ia melangkah keluar dengan pelan. Langkahnya terasa canggung dan tidak nyaman, seolah ia bukan bagian dari tempat ini. Dari kejauhan, cahaya mushola masih terlihat hangat. Shaka berjalan mendekat. Namun semakin dekat ia ke mushola, semakin aneh perasaannya. Ia merasa tidak pantas berada di sana.

Saat sampai di pintu mushola, langkah Shaka langsung melambat. Kedua matanya menatap lantai mushola yang bersih. Karpet hijau yang rapi.

Suasana terasa tenang di dalam ruangan itu.

Semuanya terasa suci. Sedangkan dirinya kotor dan penuh dosa.

1
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Jodoh adalah bagian dari takdir Allah, namun ikhtiar menjemputnya tetap menjadi bentuk ketaatan.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
sakura
..
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh apakah Hanindiya itu anak ustadz Haidar.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Thor harusnya di tulis jga bawahnya surah mana atau hadis doa mana biar tahu para pembaca gitu.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bukan doa kak, tapi sholawat.
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tanda hati Shaka mulai terenyuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lagi dakwah kaya gini terus di bawahnya ada iklas dramashot mana tokohnya Hb lagi nggak etis banget ih 🤦
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
apakah ustadz Ilyas tau soal ini🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
"Maula ya sholli wasallim daiman abada" adalah adalah sholawat yang termasuk bagian dari Qasidah Burdah.
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!