Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kalah Lagi
Sebelum masuk ke pintu ruangan utama yang besar itu, Mei Huarin menahan Lu Yanzhi.
"Ada apa ibu?" tanya Gadis cantik dengan hanfu warna merah muda itu.
"Yan'er, apapun yang dikatakan nenekmu nanti. Jangan membantah! paham?"
Lu Yanzhi sedikit menghela nafas. Rasanya dia punya firasat tidak baik, ketika ibunya bicara seperti itu. Sejak dulu, dia juga tidak tahu kenapa neneknya seperti terang-terangan menunjukkan kalau neneknya itu tidak suka pada ibunya. Padahal dia sangat menyayangi kakaknya Lu Chengyan. Tapi selalu bersikap arogan dan ketus pada ibunya.
Namun, karena Lu Yanzhi memang anak yang sangat penurut pada Mei Huarin. Gadis cantik dengan sapu tangan bermotif bunga Begonia itu segera menganggukkan kepalanya.
"Iya ibu"
Setelah memastikan tidak akan ada masalah bagi anaknya. Mei Huarin masuk ke ruangan utama itu bersama Lu Yanzhi dan Xueyao.
Duk
Melangkah saja baru dua langkah, tapi sudah di sambut hentakkan tongkat yang keras di lantai oleh nyonya tua Wang.
Mei Huarin tetap berjalan mendekat ke barisan kursi yang tertata di dekat kursi utama. Kursi yang sebenarnya disiapkan oleh Kaisar hanya teruntuk Mei Huarin saja. Namun setelah nyonya tua Wang pindah ke kediaman Jinxi, kursi itu di hak paten oleh dirinya sendiri.
"Salam nyonya tua! ada..."
"Tidak usah berbasa-basi Mei Huarin!" sela nyonya tua dengan gaya bicara kian meninggi.
Mei Huarin menghela nafas panjang. Dia melihat jenderal Lu yang juga mengepalkan tangan dengan wajah merah padam. Sepertinya bukan hanya masalah Shen Meiren dipermalukan di pasar saja. Tapi, Mei Huarin menebak, kalau di pengadilan pagi ini. Suaminya itu mungkin mendapatkan banyak kritikan dari para pejabat dan perdana menteri.
"Putri Chenping ini tidak tahu maksud nyonya tua Wang! bisa tolong diperjelas!"
"Nyonya!" pekik jenderal.
Semua orang menoleh ke arah jenderal. Lu Yanzhi yang paling terkejut. Dia merasa heran, kenapa akhir-akhir ini ayahnya terus bicara dengan sangat kasar pada ibunya. Padahal yang jelas-jelas pulang membawa wanita simpanan yang bahkan sudah hamil adalah ayahnya. Yang berkhianat adalah ayahnya, kenapa ayahnya terus marah pada ibunya? Lu Yanzhi sungguh tidak mengerti.
Shen Meiren yang melihat jenderal Lu membantai Mei Huarin tersenyum senang. Tapi dia menyembunyikan senyumannya itu di balik sapu tangan yang dia pegang.
"Kecemburuan nyonya sungguh telah terlewat batas. Nyonya bahkan menyebarkan desas-desus di sekitar kediaman Jinxi. Apa nyonya merasa kalau nyonya adalah adik angkat kaisar, maka nyonya bisa berbuat seenaknya?" tanya jenderal Lu.
Sebenarnya, barusan setelah Shen Meiren mengadu pada nyonya tua Wang. Jenderal juga langsung masuk ke ruangan utama. Dia juga menceritakan apa yang terjadi padanya di pengadilan. Bahkan dia sudah menyelidikinya, kalau desas-desus itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Mei Huarin. Namun, wanita yang disebut genit oleh Lu Yanzhi itu malah memprovokasii jenderal.
Katanya, kalau bukan orang dari dalam kediaman Jinxi yang menyulut api, mana mungkin gosip panas itu bisa menyebar dengan begitu cepat.
Akhirnya, otak jenderal yang memang sudah mulai dangkal semenjak berkenalan dengan Shen Meiren itu. Malah percaya begitu saja pada Shen Meiren.
Tapi, alih-alih merasa sedih. Mei Huarin yang dengan jelas di tuduh itu malah terkekeh pelan.
"Jenderal mungkin sudah mulai tua, sudah mulai pikun itu wajar!"
"Apa maksudmu menyebut anakku pikun?" hanya nyonya tua Wang, sedikit membentak.
"Aku putri Chenping, tidak suka menyebar desas-desus. Aku bahkan tidak pernah membiarkan apapun yang terjadi di kediaman Jinxi keluar pintu gerbang. Jika pun ada, mungkin asalnya bukan dari orang lama!"
"Apa maksud nyonya bicara seperti itu, nyonya menuduh Meiren?" tanya Shen Meiren merasa teraniaya.
"Kecemburuanmu sungguh sudah keterlaluan, nyonya. Meiren bahkan baru saja mengalami ketidakadilan. Karena gosip buruk itu, dia tidak bisa membeli kain di toko di pasar ibukota!"
Mei Huarin sama sekali tidak mendengarkan ucapan jenderal.
"Kamu memang putri Chenping, tapi di kediaman jenderal kamu tetap hanya seorang istri dari jenderal Lu yang merupakan kepala keluarga di rumah ini. Sekarang juga, kamu antar Meiren ke toko kain yang ada di pasar ibukota. Atau berlutut di kuil leluhur sampai besok pagi!"
"Nenek..."
Lu Yanzhi nyaris membantah dan tidak terima. Namun Xueyao menarik lengan Lu Yanzhi dari belakang.
"Nona.." katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wajah Shen Meiren yang mendengar itu langsung terlihat lebih senang dari sebelumnya.
'Heh, apa ku bilang! memangnya kenapa kalau kau adalah putri Chenping. Di rumah ini, tetap jenderal dan nyonya tua yang berkuasa!' batinnya penuh percaya diri.
Di jaman ini, suami adalah langit bagi seorang istri. Ibu mertua adalah Dewi. Perintah keduanya sama sekali tidak boleh dilanggar. Jika tidak, pasti langit dan para dewa akan murka. Bisa mati di sambar petir katanya.
Tapi, sayangnya Mei Huarin sungguh bukan berasal dari jaman ini. Bukan orang yang di doktrin sejak kecil dengan ajaran seperti itu. Mei Huarin hanya tahu, jika benar maka dia akan berjalan terus tanpa ragu. Jika salah dia akan berhenti dan memperbaiki.
"Nyonya tua mengatakan apa tadi?"
"Mei Huarin!" pekik nyonya tua Wang sambil memukulkan tongkatnya ke lantai dengan keras.
"Aku akan perbaiki kalimat nyonya tua barusan. Meskipun aku putri Chenping, tapi di kediaman jenderal. Jenderal Lu lah yang menjadi kepala keluarga! aku rasa nyonya tua benar tentang hal itu!"
'Dia bahkan tidak memanggil ibu, dengan sebutan ibu lagi. Dia benar-benar keterlaluan!' batin jenderal.
"Kalau begitu cepat antar Meiren ke toko kain. Lalu jelaskan pada semua warga, kalau kamu terlalu cemburu dan merusak nama baik jenderal!" perintah nyonya tua dengan sangat tegas.
Lu Yanzhi yang berdiri di belakang ibunya benar-benar tidak tahan untuk menyela. Tapi, Xueyao terus menahannya.
"Nyonya tua masih belum paham apa yang aku katakan ternyata?" tanya Mei Huarin.
"Kau..."
"Aku bilang, aku membenarkan ucapan nyonya tua yang mengatakan jenderal Lu adalah kepala keluarga di kediaman jenderal. Bukan di kediaman Jinxi!"
Mata nyonya tua terbelalak.
"Kediaman Jinxi, aku Mei Huarin lah kepala keluarganya. Jika Nyonya tua tidak suka dengan pengaturan ku. Aku tidak akan melarang Nyonya tua meninggalkan kediaman ini!"
"Kau.... kau...!"
Nyonya tua memegang dadanya, dan mendadak jatuh dari kursi.
"Ibu... ibu"
"Nyonya tua!"
Mei Huarin mendengus pelan. Dan segera meninggalkan tempat itu. Lu Yanzhi dan Xueyao pun segera mengikuti.
'Aku Mei Huarin, kalian siapa ingin beradu pilihan denganku?'
***
Bersambung...
nanti aku pula lama naik tensi🤦🏻♀️🤦🏻♀️
kayaknya dia pengen mepet sawah terus🤭
Siapa yang mau di paksa..?
Mei Huarin yg bersujud pada kalian semua..?
Yang benar saja.. 🤭
Meski kalian yg bersujud pada nya, Mei Huarin tak kan luluh dengan air mata buaya.. 😏
Karena Mei Huarin sangat tau, kalian adalah orang² yg bermuka dua..
Jadi, buang jauh² mimpi mu Nyonya Tua.. 😝😏
Apalagi kalian memanjakan nya dgn manja² gak menentu, gak terdidik adab & akhlak nya.. habislah.. 🤣🤣
Karena apa yg kau tanamkan sejak dini, seperti itulah kelak anak² akan mencontoh perilaku orang tua nya..
Dan kau lu Yansheng, ortu mu itu ada kurang²nya kalau kulihat.. Seperti orang gila harta, makanya anak lelaki mu punya prinsip yang sama dengan nyonya tua.. 🤦🏻♀️