NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:35.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 10

HANYA BISNIS

Lampu-lampu keemasan memantul di permukaan laut yang tenang ketika kapal pesiar itu berlayar perlahan, membelah gelapnya malam. Musik berdentum pelan dari dalam kabin utama, bercampur tawa dan suara gelas beradu. Pesta kecil itu tampak mewah—penuh perempuan dengan gaun berkilau dan pria-pria berjas mahal yang berbicara dalam nada rendah namun penuh kepentingan.

Lorenzo melangkah masuk tanpa terburu-buru.

Kemeja hitamnya rapi, wajahnya datar, namun sorot matanya cukup untuk membuat dua penjaga di pintu menunduk memberi jalan. Di belakangnya, Fabio berjalan setengah langkah, waspada seperti bayangan yang tak pernah lepas.

Beberapa pasang mata memperhatikan. Beberapa mengenali. Yang lain hanya merasakan tekanan tanpa tahu dari mana asalnya.

Tanpa peduli pada pesta, Lorenzo langsung menuju lorong sempit di sisi kanan. Musik semakin meredam saat mereka menjauh, berganti dengan suara langkah sepatu yang tegas di lantai kayu.

Di ujung lorong, sebuah pintu dijaga dua pria bertubuh besar.

“Dia sudah menunggu,” ujar salah satu dari mereka dengan aksen berat.

Lorenzo tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu dan masuk.

Ruang VIP itu jauh lebih tenang.

Cahaya redup, sofa kulit mahal, meja kaca dengan beberapa botol minuman keras. Di salah satu sisi, seorang pria tua duduk santai, jasnya rapi, rambutnya memutih namun matanya tajam seperti predator tua yang belum kehilangan taringnya.

Di belakangnya, dua anak buah berdiri tanpa ekspresi.

Fabio berhenti di dekat pintu, sementara Lorenzo berjalan mendekat dan duduk di hadapan pria itu tanpa diminta.

“Hm… akhirnya kita bertemu,” ujar pria tua itu dengan senyum tipis. “Lorenzo de Santis.”

Lorenzo menyandarkan punggungnya, satu kaki disilangkan. “Aku tidak datang untuk basa-basi, Mr. Kozlova.”

Pria Rusia itu terkekeh pelan, tidak tersinggung. “Langsung ke inti. Aku suka itu.”

Keheningan sejenak. Hanya suara musik samar dari luar dan denting es di dalam gelas.

“Kau masuk terlalu jauh ke wilayahku,” lanjut pria itu, nadanya santai namun mengandung peringatan. “Distribusi senjata bukan permainan kecil.”

“Wilayah itu tidak lagi milikmu sepenuhnya,” balas Lorenzo datar. “Dan aku tidak mengambil sesuatu tanpa alasan.”

Tatapan mereka bertemu. Tegang, dingin, saling mengukur.

“Alasan?” pria itu mengangkat alis.

“Efisiensi.” Lorenzo mengambil gelas di meja, menuang sedikit tanpa bertanya. “Orang-orangmu terlalu lambat. Aku hanya mempercepat sesuatu yang seharusnya sudah berjalan.”

Salah satu anak buah pria Rusia itu bergerak sedikit, namun pria tua itu mengangkat tangan, menghentikannya.

Sangat menarik.

“Kau berani,” gumamnya.

“Aku realistis.”

Hening lagi. Lebih panjang kali ini. Lalu pria tua itu tertawa pelan.

“Baiklah. Kita tidak perlu memperpanjang ini.” Ia mencondongkan tubuh. “Aku tidak ingin perang. Kau juga tidak.”

Lorenzo tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.

“Kita bisa berbagi jalur distribusi. Kau ambil bagian selatan, aku tetap di utara. Keuntungan dibagi sesuai wilayah.”

Lorenzo memutar gelasnya perlahan, memperhatikan cairan di dalamnya. “Dan sebagai gantinya?” tanyanya singkat.

“Tidak ada pembunuhan. Tidak ada sabotase.” pria itu tersenyum tipis. “Kerja sama.”

Beberapa detik berlalu. Lalu Lorenzo mengangguk sekali.

“Setuju.” Sederhana dan tegas.

Kesepakatan tercapai. Namun pria tua itu belum selesai. “Ada satu hal lagi,” katanya, matanya menyipit sedikit, seolah menikmati bagian ini.

Lorenzo mengangkat pandangan saat pria tua itu menoleh ke arah pintu. “Masuklah.”

Pintu terbuka pelan dan saat itulah seorang wanita masuk.

Gaun merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, rambut pirang jatuh bergelombang di bahu, dan senyum yang… terlalu percaya diri.

Matanya langsung tertuju pada Lorenzo.

Menilai.

Tertarik.

Dan sedikit licik.

“Putriku,” ujar pria tua itu. “Svetlana Kozlova.”

Wanita itu melangkah mendekat, anggun, lalu berhenti di samping ayahnya.

“Senang bertemu denganmu, Tuan Loren,” ucapnya lembut, tapi nada suaranya mengandung sesuatu yang lebih dalam.

Lorenzo menatapnya sekilas. Singkat dan dingin. Namun itu justru membuat senyum Svetlana semakin lebar.

“Aku ingin memperkuat kerja sama ini,” lanjut pria Rusia itu. “Hubungan keluarga… selalu lebih kuat daripada sekadar bisnis.”

Hening sejenak tapi maknanya jelas.

Fabio sedikit menegang di belakang, tapi Lorenzo tetap tenang.

“Bicaralah dengannya,” tambah pria itu. “Kenali satu sama lain.”

Beberapa detik diam. Lorenzo menatap ke pria tua itu. “Itu hanya membuang waktu.”

“Satu kali saja, demi kerjasama ini, Mr. Lorenzo.”

Tak menjawabnya, Loren langsung berdiri sehingga wanita itu segera mengikutinya.

.

.

.

Udara malam terasa lebih dingin di dek luar.

Laut membentang luas, gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang memantul di permukaan air. Angin menerpa lembut, membawa aroma asin yang menenangkan sekaligus kosong.

Svetlana berdiri di samping Lorenzo, menatap laut.

“Pemandangan yang indah,” katanya pelan.

Lorenzo tidak menjawab.

Wanita itu meliriknya. “Kau selalu seperti ini?”

“Seperti apa?”

“Dingin.”

Lorenzo akhirnya menoleh. “Aku tidak datang untuk menghiburmu.”

Alih-alih tersinggung, wanita itu justru tersenyum.

“Aku suka pria yang jujur.”

Ia melangkah sedikit lebih dekat. Terlalu dekat.

“Ayahku jarang menawarkan sesuatu tanpa alasan,” lanjutnya. “Dan aku tidak keberatan menjadi bagian dari kesepakatan… jika itu denganmu.”

Lorenzo tetap diam.

Tatapannya datar, sulit ditebak.

Ia mengangkat tangan, menyentuh ringan dada Lorenzo, merasakan detak jantung yang tetap tenang.

“Aku bisa membuatmu melupakan segalanya malam ini,” bisiknya.

Tidak ada reaksi.

Tidak ada perubahan.

Hanya diam.

Itu justru memancingnya. Tanpa ragu, Svetlana menarik kerah kemeja Lorenzo sedikit dan mencium bibirnya. Singkat, lembut dan menggoda.

Tentu saja Loren membalas ciuman gratis itu. Namun saat ia melepaskan ciuman itu…

Lorenzo tidak bergerak, tidak marah, hanya menatapnya dengan dingin yang sama seperti sebelumnya.

Beberapa detik terasa panjang.

Untuk pertama kalinya, senyum Svetlana sedikit memudar. “…kau tidak tertarik?” tanyanya, nada suaranya lebih rendah namun santai.

Lorenzo menatapnya lurus. “Kau ingin aku jujur?”

Jawaban itu jatuh begitu saja. Tanpa emosi.

“No.” jawab singkat wanita itu yang melenggang masuk, diusul oleh Lorenzo dibelakangnya.

Mereka kembali ke ruang VIP. Pria tua itu mengangkat alis, masih menunggu dengan sedikit harapan.

Svetlana kembali duduk, kali ini diam.

Lorenzo berdiri di hadapan mereka, lalu mengambil segelas minumannya dan meneguknya habis.

“Aku suka cara putrimu,” katanya akhirnya. “Cerdas. Licik.”

Senyum pria Rusia itu kembali muncul.

“Tapi…” lanjut Lorenzo, suaranya tetap datar. “Sayangnya aku sudah menikah.”

Ruangan mendadak lebih sunyi.

“Dan istriku sedang hamil.”

Kali ini, bahkan udara terasa menegang. Mereka menatapnya, tidak percaya.

Pria tua itu menyipitkan mata, mencoba membaca sesuatu di balik kalimat itu. Namun Lorenzo tidak memberi ruang.

“Itu tidak mengubah kerja sama kita,” tambahnya singkat. “Selama kau tetap pada kesepakatan. Senang bertemu denganmu.”

Lorenzo langsung pergi, diikuti oleh Fabio yang selalu setia menemaninya.

1
Rahmi Mamimima
Hilang sudah selera makan
Tiara Bella
wah Monica dpt apaan tuh....kynya ky yg dulu lagi hal yg menjijikan....
vnablu
anak kecilll?? sangat mencurigakan sihhh apa jangan-jangan anak kecil itu adalah musuh yang sebenarnya 🤔
Kinara Widya
apakah kejutan...untuk Monica...kira2 apa isinya
Kinara Widya
semoga Loren memahami keputusan Aria..
Rahmi Mamimima
Baru di tinggal bentar udah oleng kamu loren. Salah sendiri g jujur sjk awal sm aria
Four.: soalnya bukan rencananya /Grimace/
total 1 replies
Kinara Widya
semoga Loren yg datang...bukan musuh apalagi Monica...jangan Monica ya kak
Kinara Widya: kagak ya kak...najis tralala...
total 2 replies
Mia Camelia
apakah loren yg ketuk pintu ????
Four.: mohon bersabar 😁
total 3 replies
Mia Camelia
lagian sih loren ,gak jujur dari awal🤔🤔🤔klo bgini kan aria ngambek. 🤣
Four.: ho,oh tuh
total 1 replies
Tiara Bella
Fabio lah yg dtng....
Tiara Bella: akhirnya ketemu kan
total 2 replies
Tiara Bella
ehhhh blm ketemu jg.....Aria nya
Tiara Bella: wkwkkwkw....
total 2 replies
vnablu
😔😔siapa lagi ini yang datang semoga bukan musuhhh bahaya kalau musuh bisa habis semua mereka nanti
Four.: bukan kokk gak bahaya
total 1 replies
Eci Rahmayati
duhhhh siapaa itu apa secepat itu ketauan nya 😔
Four.: ho,oh harus cepat2 biar gak penasaran mulu /Chuckle/
total 1 replies
Eci Rahmayati
jirrrrrr serem bang bang neeakaaaa GK tuh🤣
Four.: mungkin tuuhhhh
total 1 replies
sleepyhead
Sepertinya sistem NT sedang problem 😂🤭 ya tor
Four.: iya /Grimace/
total 1 replies
sleepyhead
Senorita 🤭🤭🤭
sleepyhead: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
sleepyhead
Hahahaa... mereka tidak sadar kalau mereka sedang diadu domba 🐑🐑🐑🐑🐑😁
Four.: betull tuhh
total 1 replies
sleepyhead
Seharusnya moment tadi jadi celah utk kamu berkata jujur sejujur jujurnya Lorenz...
Four.: ho,oh
total 1 replies
sleepyhead
Kejam banget, Monica
Four.: enggak dia baik 😁
total 1 replies
🌸UmmiMasPutro🌸
trs siapa yg bunuh andriana thor
Four.: ihh masak sih
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!