Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tekad Putih di Ambang La Masia
Gema kemeriahan turnamen peringatan HUT RI di kota Bau-Bau perlahan memudar seiring berlalunya bulan Agustus. Bagi sebagian besar anak-anak di pemukiman pesisir itu, kehidupan kembali normal: bersekolah, bermain layang-layang di sore hari, atau membantu orang tua mereka menjemur ikan. Namun, bagi Riski, sebuah babak baru yang jauh lebih berat baru saja dimulai. Di dalam benaknya, sebuah misi jangka panjang telah terpampang jelas, memberikan tekanan sekaligus gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
[Ding! Misi Jangka Panjang Terdeteksi!]
[Nama Misi: Disiplin Sang Calon Maestro]
[Tujuan: Teruslah berlatih secara konsisten setiap hari hingga akhir tahun 2006]
[Hadiah Misi:]
Seluruh Stats meningkat +5 Poin
Uang Cash Rp 500.000 (Disimpan di Inventory)
Item Khusus: Tiket Pesawat Bau-Bau - Jakarta (Kelas Ekonomi)
Riski menatap layar transparan itu dengan tatapan tak percaya. Matanya terpaku pada hadiah ketiga. Tiket pesawat ke Jakarta? Mengapa sistem ingin ia pergi ke ibu kota? Penjelasan tambahan segera muncul di bawah rincian misi, seolah sistem mampu membaca kebingungan dalam pikiran bocah berusia enam tahun itu.
[Info Tambahan: Pada awal Januari 2007, sebuah ajang seleksi nasional bertajuk 'Talenta Emas Nusantara' akan diadakan di Jakarta. Pencari bakat dari La Masia, akademi resmi FC Barcelona, akan hadir secara rahasia untuk memantau potensi pemain muda di Asia Tenggara.]
Jantung Riski berdegup kencang. Nama "La Masia" bergema di kepalanya seperti lonceng gereja yang megah. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang Madridista sejati. Ia tumbuh dengan memuja keanggunan Zinedine Zidane, keganasan Ronaldo Nazario, dan semangat pantang menyerah Raul Gonzalez. Baginya, warna putih Real Madrid adalah simbol kemuliaan sepak bola. Namun, ia bukan orang bodoh. Ia tahu betul bahwa di era tahun 2006-2007, La Masia adalah kiblat sepak bola dunia dalam hal pembinaan pemain muda. Tempat di mana Lionel Messi, Xavi Hernandez, dan Andres Iniesta ditempa menjadi dewa lapangan hijau.
"Aku memang mencintai Real Madrid," gumam Riski pelan sambil menatap bola kulit yang baru saja ia beli. "Tapi jika jalan menuju puncak dunia dimulai dari seragam Blaugrana, aku akan menelan ego ini. Aku akan tetap menjadi Madridista di dalam hati, namun di lapangan, aku akan menjadi profesional terbaik yang pernah mereka lihat."
Bulan September menjadi awal dari penderitaan yang ia nikmati. Riski mulai membagi waktunya dengan sangat ketat. Sebagai seorang anak yatim piatu di rumah pengasuhan sederhana, ia tidak memiliki banyak fasilitas. Namun, ia memiliki uang Rp 200.000 hasil hadiah turnamen sebelumnya. Uang itu ia gunakan dengan sangat bijak. Setiap pagi, sebelum anak-anak lain bangun, Riski sudah berada di pasar tradisional Bau-Bau untuk membeli susu segar dan telur. Ia tahu bahwa tubuh mungilnya membutuhkan nutrisi tambahan untuk mendukung latihan berat yang diperintahkan sistem.
Latihannya dimulai pukul lima pagi. Saat kabut tipis masih menyelimuti perbukitan di sekitar benteng Keraton Buton, Riski sudah melakukan lari menanjak. Ia memanfaatkan kontur tanah Bau-Bau yang berbukit untuk melatih kekuatan otot jantung dan kakinya. Statistik fisiknya yang semula hanya di angka 13 (Phy: 13) menjadi fokus utamanya. Ia berlari naik-turun tangga di sekitar area publik, mengabaikan tatapan aneh dari para nelayan yang baru pulang melaut.
Sore harinya, ia akan menghabiskan waktu di Pantai Kamali. Bukan untuk bermain air, melainkan untuk berlatih giringan bola di atas pasir pantai yang berat. Pasir adalah guru yang kejam; ia membuat setiap gerakan menjadi dua kali lebih berat. Riski menyusun cangkang kerang sebagai pengganti cone latihan. Ia berkelok-kelok, melatih kelincahan kakinya yang kecil. Di sana, ia mengasah Dribbling-nya yang sudah berada di angka 15 agar menjadi lebih lengket dan sulit ditebak.
Memasuki bulan Oktober, tantangan alam mulai menguji tekadnya. Musim hujan tiba lebih awal di Sulawesi Tenggara. Lapangan Lembah Hijau yang biasa ia gunakan berubah menjadi rawa lumpur yang pekat. Banyak teman-temannya yang memilih berdiam diri di rumah sambil bermain kelereng, namun Riski tetap konsisten. Dengan mengenakan kaos oblong yang sudah lusuh, ia berlatih menendang bola di tengah guyuran hujan lebat. Ia berlatih bagaimana cara melepaskan tembakan (Sho) yang tetap akurat meskipun bola menjadi berat karena air.
"Satu lagi... satu lagi..." ia terus berbisik pada dirinya sendiri setiap kali merasa paru-parunya seolah akan meledak karena kelelahan.
Bulan November adalah titik terendah secara mental. Riski mulai merasa jenuh. Tubuh enam tahunnya sering kali memberontak dengan rasa pegal yang luar biasa. Ia merindukan masa-masa santai tanpa target. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, ia membuka Inventory dan menatap bayangan tiket pesawat virtual yang menanti di akhir tahun. Ia juga membayangkan panggung megah di Jakarta, di mana para pencari bakat dari Eropa akan duduk dengan buku catatan mereka. Ia tidak ingin menjadi sekadar "anak berbakat dari daerah"; ia ingin menjadi "fenomena" yang memaksa mereka untuk segera memesan tiket pesawat ke Spanyol untuknya.
Memasuki bulan Desember, hasil dari kerja keras itu mulai terlihat secara fisik. Meski tetap bertubuh mungil, otot-otot kaki Riski menjadi sangat terdefinisi. Gerakannya tidak lagi terlihat seperti anak-anak, melainkan seperti atlet yang sudah terlatih. Ia mampu melakukan juggling tanpa menjatuhkan bola selama tiga puluh menit tanpa henti. Akurasi tendangannya juga meningkat drastis; ia bisa mengenai tiang gawang dari jarak lima belas meter dengan konsistensi yang mengerikan.
Malam puncak pun tiba. 31 Desember 2006. Seluruh kota Bau-Bau bersiap merayakan malam pergantian tahun. Kembang api sudah mulai bersahutan di atas Pelabuhan Murhum, mewarnai langit malam dengan warna-warna cerah. Riski berdiri di tengah lapangan Lembah Hijau yang sepi. Ia baru saja menyelesaikan sesi latihan terakhirnya untuk tahun ini. Keringat mengucur deras dari dahi dan dagunya, menguap di udara malam yang dingin.
Tiba-tiba, suara denting mekanis yang sangat merdu bergema di seluruh kesadarannya.
[Ding! Misi 'Disiplin Sang Calon Maestro' TELAH SELESAI!]
[Mengkalkulasi Totalitas Latihan Selama 4 Bulan...]
[Hasil: Sempurna! Bonus Tambahan Diberikan!]
Seketika, Riski merasakan sensasi panas yang menjalar dari tulang ekornya hingga ke ubun-ubun. Rasanya seolah-olah setiap serat otot, saraf, dan sel di tubuhnya sedang ditarik dan diperkuat. Ia merasa tubuhnya menjadi jauh lebih ringan, sementara indranya menjadi jauh lebih tajam.
[Statistik Riski Telah Diperbarui:]
Pac: 13 (+5)
Sho: 20 (+5)
Pas: 17 (+5)
Dri: 20 (+5)
Def: 15 (+5)
Phy: 18 (+5)
[Overall Baru: 17.1]
Riski terengah-engah menatap angka-angka itu. Shooting dan Dribbling di angka 20! Untuk anak usia enam tahun, angka ini hampir tidak masuk akal. Ia kini memiliki teknik menendang dan mengontrol bola yang setara dengan pemain profesional di liga lokal, meski kekuatan fisiknya masih terbatas oleh usia.
[Hadiah Fisik Terwujud...]
Dalam sekejap, di dalam Inventory-nya muncul tumpukan uang kertas rupiah edisi lama. Lima lembar seratus ribuan yang masih kaku dan mengkilap. Dan yang paling penting, sebuah amplop putih berisi tiket pesawat Lion Air dengan rute Bau-Bau menuju Jakarta, tertanggal 5 Januari 2007.
Riski terduduk di atas rumput lapangan yang basah. Ia menatap kembang api yang meledak di langit, merefleksikan cahaya di matanya yang penuh tekad. Uang Rp 500.000 adalah jumlah yang sangat besar di tahun 2006 bagi seorang anak yatim piatu. Itu adalah jaminan kehidupannya selama di Jakarta nanti.
"Madridista yang pergi ke La Masia..." Riski tersenyum tipis. "Lucu sekali. Tapi dunia akan segera tahu, bahwa dari kota kecil bernama Bau-Bau ini, seorang pemain yang akan mengubah peta sepak bola dunia telah lahir."
Ia bangkit, memeluk bola kulitnya erat-erat, dan berjalan pulang menuju rumah pengasuhan. Tahun 2006 telah usai, dan bersamanya, masa kecilnya yang biasa saja telah terkubur. Tahun 2007 menantinya dengan panggung yang jauh lebih besar dan lawan yang jauh lebih tangguh.