NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 17: Amarah yang terpendam

Matahari mulai turun, menyisakan semburat warna lembayung di atas kubah emas Menara Alkimia. Di koridor sepi menuju barak, George berhenti dan bersandar pada pilar marmer, mencoba mendinginkan pikirannya yang terasa panas setelah rentetan pembicaraan penuh basa-basi tadi.

"George! Tunggu!"

Celestine datang mengejar, langkah kakinya terdengar terburu-buru di atas lantai batu. Ia berhenti tepat di depan George, napasnya sedikit tersengal.

"Apa lagi, Celestine? Aku harus memeriksa perlengkapan pasukanku untuk besok," kata George.

"Kau benar-benar tidak merasakannya?" tanya Celestine sambil mendekat, suaranya kini lebih rendah. "Bola kristal tadi, Orbis Aquaris itu. Begitu kau mendekat, air di dalamnya tidak hanya berputar, tapi berdenyut mengikuti detak jantungmu. Seraphina tidak hanya ingin meneliti, dia ingin mencoba menyinkronkan frekuensi mananya dengan manamu."

George mengerutkan kening. "Sinkronisasi? Untuk apa? Manaku terikat dengan manamu melalui cahaya matahari. Itu tidak bisa diganti."

"Memang tidak bisa diganti, tapi bisa dikacaukan," sahut Celestine serius. "Azure terkenal dengan sihir resonansi. Jika dia berhasil menemukan frekuensi yang tepat, dia bisa membuat esmu retak dari dalam atau bahkan membuatmu kehilangan kendali di tengah arena besok. Dia ingin mempermalukan Valley di depan para sekutu dagang."

George menatap tangan kristalnya yang putih bersih. "Jadi demonstrasi besok bukan sekadar persahabatan?"

"Tidak ada yang murni persahabatan jika menyangkut Azure, George. Mereka ingin membuktikan bahwa air lebih fleksibel dan lebih unggul daripada es padatmu. Jika kau kalah, mereka punya alasan untuk menekan Theodore agar mengalihkan kontrak pengawalan laut dari ksatria kita ke armada mereka."

George terdiam sejenak, lalu ia menegakkan tubuhnya. "Lalu apa yang kau sarankan? Kau ingin aku menggunakan teknik yang tidak biasa besok?"

Celestine meraih tangan George, menggenggamnya erat. "Malam ini, kita harus melakukan meditasi penyatuan lagi. Aku ingin menuangkan manaku lebih dalam ke inti kristalmu. Aku akan memberimu 'lapisan pelindung' cahaya yang tidak akan bisa ditembus oleh frekuensi resonansi apa pun yang dia coba gunakan."

"Di sini? Sekarang?" tanya George sambil melirik sekeliling koridor yang mulai gelap.

"Di paviliun mawar. Theodore sudah memastikan tidak ada pelayan yang masuk ke sana malam ini," jawab Celestine.

Mereka berjalan dalam diam menuju paviliun mawar yang kini sudah bermandikan cahaya bulan. Di tengah taman yang harum itu, mereka duduk berhadapan. Celestine meletakkan kedua tangannya di atas lengan kristal George, sementara George memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada kehangatan yang mulai mengalir dari ujung jari Celestine.

"Rasakan cahayanya, George," bisik Celestine. "Jangan biarkan ia hanya diam di permukaan. Tarik ia masuk ke sumsum tulang kristalmu."

George menarik napas panjang. Ia merasakan sensasi seperti aliran emas cair yang menyapu dinginnya es di dalam dirinya. Rasanya sangat kontras, namun anehnya sangat menenangkan.

"Kau terlalu tegang," tegur Celestine lembut. "Seraphina mungkin cantik dan bicaranya manis, tapi dia tidak memiliki apa yang kita miliki."

"Kau masih memikirkan soal pujiannya tadi?" George membuka satu matanya, menatap Celestine dengan sorot jenaka yang jarang terlihat.

"Aku hanya... aku hanya tidak suka dia menganggapmu sebagai spesimen laboratorium," potong Celestine cepat, wajahnya memerah di bawah sinar bulan.

"Celestine, dengarkan aku," George memegang balik tangan Celestine. "Aku sudah melalui badai di Utara Jauh dan melawan kegelapan meteor hitam. Seorang putri dari Azure tidak akan bisa menggoyahkan apa yang sudah kau bangun di dalam diriku. Besok, aku akan menunjukkan padanya kenapa es ini tidak bisa retak."

Celestine menatap mata kelabu George dan perlahan-lahan kekhawatirannya memudar, digantikan oleh rasa percaya yang kuat. "Baiklah. Aku akan memegang kata-katamu, Jenderal."

"Bagus. Sekarang, lanjutkan penyatuan ini. Aku ingin memastikan manaku cukup kuat untuk membuat kejutan besok," ujar George.

Sepanjang malam itu, di bawah perlindungan taman mawar, dua energi yang berbeda itu kembali menyatu, menciptakan aura platinum yang samar namun sangat padat. George menyadari bahwa ancaman dari Azure mungkin jauh lebih halus daripada serangan fisik, namun dengan Celestine di sisinya, ia merasa memiliki perisai yang jauh lebih kuat daripada zirah mana pun yang pernah ia kenakan.

"Sudah cukup," kata Celestine beberapa jam kemudian, tampak sedikit lelah namun puas. "Kapasitas manamu sekarang sudah di atas batas normal. Besok, biarkan dia mencoba apa pun yang dia mau. Dia akan terkejut."

"Terima kasih, Celestine," George berdiri dan membantu Celestine bangun. "Sekarang pergilah istirahat. Aku tidak mau penasihat utamaku terlihat mengantuk di tribun besok."

"Siap, Jenderal," goda Celestine sambil memberikan hormat kecil sebelum berjalan pergi menuju kamarnya.

George berdiri sendirian di taman sejenak, menatap bulan yang bersinar terang. Ia mengepalkan tangan kristalnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kehangatan yang stabil berdenyut di dalamnya. Besok bukan hanya tentang demonstrasi kekuatan, tapi tentang membuktikan bahwa persatuan antara Valley dan ksatria esnya adalah sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh politik atau sihir dari kerajaan mana pun.

Malam di istana Valley tak pernah benar-benar gelap. Lentera-lentera alkimia yang tergantung di sepanjang koridor memancarkan cahaya keemasan yang stabil, namun di paviliun mawar, suasana terasa lebih sunyi dan intim. George berdiri di tepi kolam kecil, menatap pantulan dirinya di air yang jernih. Tangan kristalnya sesekali berkilau saat terkena sinar rembulan, mengingatkannya bahwa ia bukan lagi manusia biasa, melainkan entitas yang berdiri di ambang dua dunia.

"Kau masih di sini?" suara Celestine memecah keheningan. Ia berjalan mendekat, kali ini tanpa jubah kebesarannya, hanya mengenakan gaun tidur sutra yang dilapisi jubah tipis. "Kupikir kau sudah kembali ke barak untuk tidur."

"Pikiranku terlalu penuh, Celestine," jawab George tanpa menoleh. "Kedatangan Seraphina... itu membangkitkan sesuatu yang sudah lama kupendam. Rasa tidak percaya diri bahwa aku bisa benar-benar menjadi bagian dari tempat yang sehangat ini."

Celestine berdiri di sampingnya, bahu mereka hampir bersentuhan. "Jangan biarkan kata-katanya masuk ke kepalamu, George. Dia memang ahli dalam menemukan celah di hati orang lain. Itu adalah cara Azure bernegosiasi—mereka membuatmu merasa tidak stabil, lalu mereka menawarkan diri sebagai penyeimbang."

"Tapi dia benar soal satu hal," George menoleh, menatap mata Celestine dengan serius. "Es ini bisa retak. Aku merasakannya saat mesin baja itu hancur kemarin. Ada tekanan besar yang menghantam inti kristalku. Jika dia tahu frekuensi yang tepat melalui bola kristal itu, dia bisa saja menghancurkanku tanpa perlu mengangkat senjata."

Celestine terdiam sejenak, menatap tangan George yang kini ia genggam. "Itulah sebabnya aku di sini. Es yang berdiri sendiri memang bisa retak, tapi es yang diselimuti oleh cahaya matahari akan terus meleleh dan membeku kembali, menjadi lebih kuat setiap detiknya. Kita tidak akan membiarkan dia menemukan frekuensi itu."

"Aku tidak ingin melibatkanmu lebih dalam jika ini menjadi konflik diplomatik, Celestine," bisik George. "Theodore sudah cukup banyak berkorban untuk melindungiku."

"Melibatkanku?" Celestine tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting perak. "George, akulah yang menyeretmu ke sini. Akulah yang memberimu manaku. Jika ada yang harus bertanggung jawab atas 'anomali' ini, itu adalah aku. Dan aku tidak akan membiarkan Seraphina atau siapa pun mengambil hasil kerja kerasku begitu saja."

Percakapan mereka terhenti sejenak saat angin malam bertiup, membawa aroma mawar yang manis. George merasa ketegangan di bahunya perlahan meluruh. Kehadiran Celestine selalu memiliki efek menenangkan yang tak bisa dijelaskan oleh logika alkimia mana pun.

"Ceritakan padaku tentang Seraphina," kata George tiba-kira. "Kenapa kau begitu waspada padanya? Bukankah kalian pernah berteman?"

"Kami adalah rival," jawab Celestine sambil menatap bulan. "Di akademi alkemis, dia selalu menjadi yang terbaik dalam manipulasi energi cair, sementara aku lebih unggul dalam sintesis energi padat. Dia selalu menganggap bahwa segala sesuatu harus mengalir, sementara aku percaya pada struktur yang kokoh. Konflik kami bukan hanya soal kepribadian, tapi soal filosofi dasar sihir kami. Dan sekarang, melihatmu... baginya kau adalah subjek eksperimen yang sempurna untuk membuktikan teorinya."

"Jadi, aku adalah medan tempur baru bagi kalian berdua?" George menaikkan alisnya.

"Kurang lebih begitu," Celestine tersenyum tipis. "Tapi kali ini, medan tempurnya memiliki kehendak sendiri. Kau bukan sekadar alat, George. Kau adalah jenderalku. Dan besok, aku ingin kau menunjukkan padanya bahwa 'fleksibilitas' air tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keteguhan es yang memiliki tujuan."

George menatap tangan kristalnya lagi, kali ini dengan tekad yang lebih kuat. "Aku mengerti. Aku akan memberikan pertunjukan yang tidak akan pernah dia lupakan."

"Bagus," kata Celestine. "Sekarang, mari kita selesaikan sesi meditasi ini. Aku merasa ada sedikit ketidakseimbangan di aliran manamu dekat pergelangan tangan. Jika kita tidak memperbaikinya sekarang, itu bisa menjadi celah bagi resonansi Seraphina besok."

Mereka duduk bersila di atas rumput yang lembut, saling berhadapan. Celestine meletakkan kedua tangannya di atas tangan George, menutup mata dan mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno Valley. George merasakan aliran energi yang hangat, hampir seperti sinar matahari yang meresap ke dalam kulitnya, mengalir melalui pembuluh darah kristalnya, dan menetap di jantungnya.

"Fokus, George," bisik Celestine. "Jangan biarkan pikiranmu melayang ke Azure atau utara. Tetaplah di sini, di Valley, bersamaku."

George mengikuti instruksi itu. Ia membayangkan setiap inci kristal di tubuhnya menjadi satu dengan cahaya Celestine. Ia bisa merasakan denyut nadi Celestine, merasakan kekhawatirannya, namun juga merasakan kepercayaan yang luar biasa besar yang diberikan gadis itu kepadanya.

Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Ketika mereka selesai, fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memberikan warna ungu dan oranye pada langit Valley. George merasa tubuhnya jauh lebih ringan, dan pendaran di tangan kristalnya kini lebih stabil, memancarkan cahaya platinum yang murni dan berwibawa.

"Kau siap?" tanya Celestine, wajahnya tampak sedikit pucat karena kelelahan, namun matanya bersinar penuh kemenangan.

"Aku siap," jawab George. Ia berdiri dan membantu Celestine bangun. "Terima kasih, Celestine. Untuk semuanya."

"Jangan berterima kasih sekarang. Simpan itu untuk setelah kau memenangkan ujian di arena nanti," kata Celestine sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Sekarang, kembalilah ke barak. Mandilah, dan pastikan kau memakai zirah barumu. Aku ingin kau terlihat seperti jenderal yang tak terkalahkan saat Seraphina masuk ke arena."

George mengangguk. Ia berjalan pergi, namun berhenti sejenak di pintu keluar paviliun.

"Celestine?"

"Ya?"

"Jika suatu saat aku benar-benar retak... apakah kau masih akan tetap di sini untuk menyatukanku kembali?"

Celestine tersenyum, sebuah senyuman yang paling tulus yang pernah George lihat. "Aku tidak hanya akan menyatukanmu kembali, George. Aku akan membuatmu lebih bersinar dari sebelumnya. Sekarang pergilah."

George berjalan menuju barak dengan langkah mantap. Di sepanjang jalan, ia melihat para pelayan istana mulai sibuk mempersiapkan arena untuk demonstrasi sore nanti. Ia tahu bahwa mata seluruh kerajaan, dan mungkin kerajaan tetangga, akan tertuju padanya. Namun, rasa takut yang ia rasakan semalam telah hilang. Ia bukan lagi ksatria yang kesepian; ia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Di dalam barak, ia menemukan zirah barunya sudah tertata rapi. Zirah itu adalah perpaduan antara desain fungsional utara dan estetika mewah Valley. Logam hitam yang ditempa dengan garis-garis emas, dengan pelindung bahu yang diukir menyerupai sayap elang. Saat ia mengenakannya, ia merasakan kekuatan baru mengalir melalui dirinya.

"Jenderal," seorang ajudan muda masuk dan membungkuk. "Putri Seraphina sudah tiba di tribun kehormatan bersama Raja Theodore. Mereka menunggu Anda di arena dalam satu jam."

"Beri tahu mereka aku akan segera datang," kata George sambil memasangkan pedang hitamnya di pinggang.

Ia keluar dari barak, berjalan melewati lapangan latihan di mana beberapa prajurit muda menatapnya dengan kekaguman. Udara pagi Valley terasa hangat, namun di sekitar George, suhu tetap sejuk dan terkendali. Ia sampai di gerbang arena, di mana ia bisa mendengar suara riuh penonton yang sudah tidak sabar melihat aksi sang jenderal.

Di tribun kehormatan, Seraphina duduk dengan anggun, memegang kipas sutra berwarna biru. Di sampingnya, Celestine tampak tenang, namun matanya yang tajam langsung menangkap sosok George yang muncul dari lorong gelap arena. Theodore berdiri, memberikan isyarat agar terompet penyambutan dibunyikan.

"Mari kita mulai," gumam George pada dirinya sendiri.

Ia melangkah masuk ke tengah arena, di mana sebuah kolam air besar telah disiapkan untuk demonstrasi kekuatan Azure. Seraphina berdiri dari kursinya dan berjalan menuju tepi balkon tribun.

"Jenderal George," suaranya bergema melalui alat pengeras suara alkimia. "Hari ini, kita tidak akan bertarung dengan pedang. Kita akan membiarkan elemen kita yang berbicara. Di hadapanmu adalah Aqua Vitalis, air yang telah diberikan kesadaran oleh sihir Azure. Cobalah untuk menaklukkannya tanpa menghancurkan wadahnya."

George menatap kolam air di depannya. Air itu mulai bergerak, membentuk sosok naga air raksasa yang menggeram sunyi. George menghunus pedangnya, namun ia tidak menyerang. Ia hanya berdiri diam, membiarkan cahaya matahari menyinari tangan kristalnya.

"Tunjukkan padaku apa yang bisa dilakukan oleh airmu, Putri," tantang George.

Naga air itu melesat maju, namun George sudah siap. Ia tahu bahwa ini bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi soal frekuensi dan jiwa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!