NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Roti Bakar, Impian Mall, dan Gang Sempit

Matahari sudah naik sepenggal ketika kereta kuda kerajaan yang membawa Melan mulai bergerak meninggalkan gerbang istana yang menjulang tinggi.

Melan tidak berhenti menempelkan wajahnya ke jendela kereta, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke pasar malam.

"Gila... ini beneran nyata ya," gumam Melan pelan. "Gue nggak tahu ini zaman apa, tapi asri banget."

Di luar sana, pemandangannya sungguh kontras dengan hiruk-pikuk kota besar di dunianya yang dulu. Tidak ada asap knalpot yang menyesakkan dada, tidak ada bunyi klakson yang bikin naik darah.

Sebagai gantinya, udara terasa sangat bersih dan sejuk. Pepohonan hijau rimbun berjejer di sepanjang jalan, dan di setiap sudut kota, bunga-bunga berwarna-warni ditanam dengan rapi, seolah-olah seluruh kota ini adalah sebuah taman raksasa.

"Yang Mulia Permaisuri, apakah Anda baik-baik saja? Sepertinya Anda sangat terpana melihat jalanan yang biasa kita lewati ini," tanya Lin yang duduk di hadapannya dengan ekspresi heran.

Melan menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke luar. "Lin, saya merasa seperti baru pertama kali melihat dunia. Lihat itu! Mereka sedang apa?"

Melan menunjuk ke arah sekelompok orang di pinggir jalan. Ada yang memetik kecapi, ada yang memukul gendang kecil, dan beberapa orang menari dengan gerakan yang sangat lincah.

Mereka terlihat sangat bahagia, tertawa bersama sambil menyanyikan lagu yang nadanya sangat asing tapi enak didengar.

"Itu hanya rombongan musik jalanan, Yang Mulia. Mereka memang sering menghibur warga di pusat kota," jawab Lin tenang.

"Itu keren banget! Semacam band indie zaman purba ya," komentar Melan. Dia memperhatikan wajah-wajah penduduk yang mereka lewati. Mereka terlihat makmur. Pakaian mereka bersih, wajah mereka tidak terlihat tertekan atau kelaparan.

Yah, biarpun Nolan itu kaku kayak kanebo kering dan dandanannya norak, ternyata dia beneran kerja ya jadi Raja. Rakyatnya kelihatan terjamin, batinnya.

Tiba-tiba, sebuah aroma harum yang sangat menggoda masuk melalui celah jendela. Baunya manis, gurih, dan ada sedikit aroma bakaran yang bikin air liur Melan hampir menetes.

"Berhenti! Pak Sopir, eh, Ksatria! Berhenti dulu!" teriak Melan.

Kereta kuda itu berhenti mendadak. Ksatria pengawal bernama Baron mendekati jendela. "Ada apa, Yang Mulia? Apakah ada bahaya?"

"Bahaya buat perut saya kalau saya tidak mencoba itu!" Melan menunjuk sebuah kedai kecil di pinggir jalan yang mengepulkan asap wangi.

"Itu apa?"

Baron melihat ke arah yang ditunjuk Melan. "Itu hanya roti bakar penduduk, Yang Mulia. Rasanya sangat sederhana, tidak pantas untuk lidah seorang Permaisuri."

"Ah, jangan banyak protes! Lin, ambilkan uang. Saya mau beli!"

Melan turun dari kereta, membuat para penduduk yang lewat langsung berhenti dan membungkuk hormat. Namun, Melan tidak peduli.

Dia melangkah menuju penjual roti yang sudah gemetaran melihat Permaisuri datang ke lapaknya.

"Paman, saya mau satu. Itu apa isinya?" tanya Melan dengan nada ramah yang membuat si penjual makin bingung. Biasanya Permaisuri tidak akan bicara pada rakyat jelata, apalagi tersenyum.

"I-ini roti gandum dengan selai ceri hutan, Yang Mulia," jawab si Paman gagap.

"Oke, satu ya! Yang banyak selainya!"

Setelah membayar dengan sekeping perak—yang sebenarnya nilainya bisa buat beli sepuluh gerobak roti itu Melan menerima roti panas yang dibungkus kertas kasar. Dia langsung menggigitnya tanpa ragu.

"Mmm! Enak banget!" Melan memejamkan mata. Rotinya kasar, tidak selembut roti di supermarket dunianya yang dulu, tapi rasanya sangat otentik. Manis asam selai cerinya benar-benar segar.

"Lin, coba deh! Ini lebih enak daripada kue-kue di istana yang kebanyakan gula."

Lin ragu-ragu mencicipi secuil. "Eh, benar, Yang Mulia. Rasanya unik."

Melan kembali masuk ke kereta sambil asyik mengunyah. Namun, setelah perutnya terganjal, otaknya mulai bekerja. Dia tidak keluar hanya untuk wisata kuliner. Dia punya misi besar.

"Lin, saya mau ke daerah yang paling... em, bagaimana bilangnya ya. Tempat yang paling kekurangan di kota ini. Lingkungan yang paling miskin," ujar Melan tiba-tiba.

Wajah Lin langsung pucat. "Yang Mulia? Untuk apa ke sana? Tempat itu sangat kotor dan bau. Banyak pengemis dan orang-orang kasar. Yang Mulia Raja pasti akan marah besar jika tahu Anda pergi ke sana."

"Ssst! Jangan bawa-banyak nama Raja. Dia lagi sibuk dengerin suara kejepit Nona Bedak Tembok itu," sahut Melan ketus.

"Lin, dengar. Saya punya rencana. Saya mau membangun sesuatu yang besar di sini. Semacam... pasar raksasa yang isinya lengkap. Ada baju, ada makanan, ada salon, ada tempat main. Saya akan menyebutnya Mall."

"Mal? Apa itu Mal?"

"Pokoknya tempat orang buang-buang uang dengan senang hati," jelas Melan singkat. "Tapi untuk membangun itu, saya butuh tenaga kerja. Dan saya ingin memberikan pekerjaan kepada orang-orang yang benar-benar butuh. Jadi, antar saya ke pemukiman kumuh itu sekarang."

Babon, sang ksatria, sempat menolak keras. Namun, setelah Melan mengancam akan bilang ke Raja kalau Babon sudah mengintip kakinya saat turun dari kereta, Babon akhirnya menyerah.

Perjalanan mulai berubah. Jalanan yang tadinya indah dan penuh bunga mulai berganti dengan gang-gang sempit yang becek.

Bangunan yang tadinya megah berganti menjadi gubuk-gubuk kayu yang miring. Aroma bunga berganti dengan bau sampah dan air selokan yang menggenang.

"Buset, jauh banget bedanya sama pusat kota tadi," gumam Melan prihatin.

Begitu kereta berhenti, suasana menjadi sunyi. Orang-orang di sana melihat ke arah kereta mewah itu dengan tatapan takut sekaligus curiga. Melan turun, kali ini dia mengangkat rok gaunnya tinggi-tinggi agar tidak kena lumpur.

"Yang Mulia, tolong jangan jauh-jauh dari saya," Baron menghunuskan tangannya di gagang pedang, waspada.

Melan berjalan menyusuri gang sempit itu. Dia melihat anak-anak kecil dengan baju compang-camping sedang bermain tanah.

Dia melihat para pria yang duduk melamun dengan wajah kusam, dan para wanita yang mencuci baju di ember yang airnya keruh.

ini dia sumber daya manusia yang gue cari, batin Melan. Gue punya emas di gudang, tapi gue nggak bisa gerak sendiri. Gue butuh orang-orang yang lapar akan perubahan.

Dia berhenti di depan sekelompok pemuda yang sedang duduk di depan sebuah rumah yang hampir roboh. Mereka menatap Melan dengan pandangan menantang.

"Permisi," suara Melan lantang, membuat semua orang di gang itu menoleh.

"Ada yang mau ikut saya dan dapat makan enak tiga kali sehari plus koin emas setiap minggu?"

Hening sebentar. Salah satu pemuda yang badannya paling tegap berdiri. "Anda bercanda, Nyonya Besar? Kami ini orang buangan. Tidak ada yang mau mempekerjakan kami kecuali untuk kerja paksa."

Melan tersenyum tipis, senyum yang sangat berwibawa. "Saya tidak butuh budak. Saya butuh pekerja. Saya adalah Permaisuri kerajaan ini, dan saya sedang mencari orang-orang yang ingin membangun masa depan mereka sendiri. Siapa yang berani bertaruh dengan saya?"

Lin gemetar di samping Melan. Aduh, Permaisuri benar-benar gila! Kenapa dia malah merekrut orang-orang pasar ini?

Tapi Melan tidak gentar. Dia tahu, di dunia bisnis, loyalitas paling tinggi lahir dari orang-orang yang diberikan kesempatan saat mereka berada di titik terendah.

"Anda... Permaisuri?" Pemuda itu menatap Melan tak percaya.

"Iya, saya Permaisuri yang kalian bilang tidak dicintai itu. Tapi saya kaya, dan saya punya rencana untuk membuat kalian semua kenyang," Melan mengeluarkan satu koin emas dari sakunya dan melemparkannya ke arah pemuda itu.

Hap!

"Itu uang muka. Besok pagi, datang ke gerbang belakang istana. Bilang kalian mencari Permaisuri Melan. Ada yang berani?"

Pemuda itu menatap koin emas di tangannya, lalu menatap teman-temannya. Matanya yang tadi redup kini mulai menyala.

"Saya akan datang," ucapnya mantap.

"Bagus," Melan berbalik. "Lin, ayo pulang. Saya harus mulai menggambar denah Mall saya. Saya butuh toko yang lebih besar dari toko Indofebruari!"

"Yang Mulia... apa itu Indo-februari?" tanya Lin lelah.

"Nanti saya jelaskan! Sekarang, kita mampir beli roti bakar lagi ya, saya lapar lagi!"

Melan naik ke kereta dengan perasaan puas. Nolan boleh punya selir, boleh punya ksatria, tapi dia? Dia bakal punya Mall pertama di dunia ini.

Dan kalau Mall itu sudah jadi, dia yakin bahkan Nolan pun harus mengantre untuk masuk.

Liat aja nanti, Nolan. Gue bakal jadi Permaisuri paling kaya, paling berpengaruh, dan paling nggak butuh perhatian lu sama sekali! batinnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!