NovelToon NovelToon
Hubungan Terlarang

Hubungan Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cintapertama
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalah

Malam datang dengan sangat cepat. Acara pernikahan sudah berakhir sejak sore hari. Namun Leya sudah masuk ke kamarnya, sesaat setelah mereka foto keluarga. Dan tentu saja setelah status Angkasa sudah berubah menjadi Ayah tirinya.

Air mata kembali membasahi pipi Leya sejak beberapa jam yang lalu. Saat ia masih berada di bawah, Leya sekuat tenaga berusaha mati-matian untuk menahan air mata yang ingin tumpah. Ternyata rasanya sangat sakit luar biasa, hingga tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata... saat menyaksikan pernikahan Angkasa dengan ibunya.

"Sakit sekali rasanya!" entah untuk yang ke berapa kalinya, Leya memukul dadanya sendiri.

Saat ini ia sedang berbaring dengan posisi meringkuk seperti bayi, di atas ranjangnya yang berantakan dalam keadaan kamar yang gelap gulita. Ya, keadaan yang gelap gulita seperti ini... sedikit memberikan rasa tenang dalam dirinya.

"Non Leya, dipanggil Nyonya untuk makan malam?" suara Mbak Imas kembali terdengar. Entah untuk yang keberapa kalinya, asisten rumah tangga itu datang memanggil dirinya.

"Aku gak lapar Mbak!" sahut Leya tanpa membuka pintu.

Dalam keadaan seperti ini, jangankan makan malam. Hanya sekedar untuk turun dari ranjang saja ia sudah sangat enggan untuk melakukannya.

"Tapi kata Tuan besar, Mbak harus ikut makan malam." kata Mbak Imas lagi.

"Iya Mbak aku turun sekarang!"

Dengan sangat terpaksa Leya setuju. Bukan karena ingin, tapi karena ia tidak mau menimbulkan masalah baru terhadap kakeknya. Pria tua itu paling benci dibantah. Mau sesibuk apapun dan dalam keadaan apapun, jika ia sudah memanggil... maka semuanya wajib datang tanpa bantahan sama sakali.

Dengan kedua mata yang terasa berat dan kepala yang pusing karena kebanggaan menangis, Leya akhirnya turun dari ranjang. Ia sempat beberapa kali menabrak saat akan menghidupkan saklar lampu. Tapi sakitnya sama sekali tidak terasa, karena hatinya juga lebih sakit.

Saat cahaya putih itu menyala, kedua mata Leya otomatis menyipit. Rasanya sedikit tidak nyaman, saat kornea matanya terkena cahaya lampu. Namun, ia tidak boleh berlama-lama ada disana. Ia harus segera keluar, jangan sampai membuat mereka menunggu terlalu lama. Agar sang kepala keluarga Hardiman tidak kembali mengeluarkan taringnya.

"Maaf aku terlambat!" ucap Leya, ketika dimeja makan semua anggota keluarga sudah hadir.

"Duduk!" tatapan sinis langsung Hardiman layangkan padanya.

Harleya menunduk. Ia tidak berani menunjukkan secara terang-terangan matanya bengkak. Meski ia sudah berusaha untuk menutupinya dengan make-up. Namun bekas air mata itu masih tetap terlihat.

"Dia menangis!" Angkasa memegang dadanya. Sakit rasanya, melihat wanitanya yang biasanya selalu ceria... kini murung bahkan sampai mengeluarkan air mata.

"Leya, kamu baik-baik saja? kamu seperti habis menangis?" tanya Sukma, baru memperhatikan wajah putrinya.

Leya gelagapan. "Aku baik-baik aja kok Ma! aku tadi abis nonton film sedih, jadi kebawa suasana sampai nangis!" hanya itu, alasan paling masuk akal yang bisa Leya pikirkan saat ini.

Hardiman menghentikan suapannya. "Berhentilah membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting. Fokus belajar, buat keluarga Hardiman bangga. Jangan tahunya hanya jadi sampah yang tidak berguna!"

Kata-kata Hardiman selalu tajam, pedas dan menyakitkan saat bicara padanya. Tetapi Leya yang teramat sudah terbiasa dengan kata-kata itu hanya mengiyakan. Karena hatinya sudah terlalu tebal untuk merasakan, atau mungkin sudah mati rasa.

Jika Leya terlihat santai mendengarkan kata-kata pedas itu. Berbeda halnya dengan Angkasa. Pria itu melotot dan terkejut mendengar betapa kejamnya perkataan yang tidak seharusnya diucapkan oleh seorang kakek pada cucu perempuannya.

"Astaga... tega sekali Paman Hardiman berkata seperti itu?" batin Angkasa. Tak menyangka pria tua yang terlihat baik, dan ramah saat diluar. Ternyata memiliki sikap yang kejam seperti itu.

Angkasa mengepalkan tangannya. Tanpa sadar, sendok yang ada di dalam genggamannya sampai bengkok karena saking marahnya.

"Kamu gak membela Leya?" Angkasa melihat istrinya yang tetap terlihat santai menikmati makanannya.

"Biarkan saja. Dia sudah dewasa dan tidak seharusnya dia terus bermain-main!" sahut Sukma.

Angkasa mengangakan mulutnya. Tak menyangka jika sebagai seorang ibu, ternyata Sukma sama teganya seperti sang ayah. Tidak terlihat rasa kasihan apalagi simpati terhadap putrinya yang saat ini hanya menunduk sambil mengaduk-aduk makanannya.

"Aku sudah selesai!" Leya beranjak tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.

"Pergilah. Jangan lupa belajar!" sahut Hardiman, tanpa tahu dan tanpa peduli jika Leya tadi sama sekali tidak menyentuh makanan.

Angkasa langsung kehilangan selera. Belum ada satu hari ia bergabung bersama keluarga keluarga Hardiman. Ia sudah melihat sendiri bagaimana wanitanya diperlakukan.

"Tenyata seperti ini kehidupan kamu selama ini sayang?" Angkasa menatap punggung Leya, yang sudah hampir menghilang di anak tangga.

"Angkasa, kamu gak makan?" tanya Sukma, melihat Angkasa diam tanpa menyentuh makanannya lagi.

"Sudah selesai!" angkasa beranjak, "aku ke kamar dulu!"

Sukma ingin menghentikan. Karena ia tahu suaminya belum sempat menyentuh makanannya. Tetapi peringatan dari sang ayah menghentikannya.

"Biarkan! Dia pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Nanti kamu tinggal bawakan makanan untuknya!" ucap Hardiman.

Sukma mengangguk. Iaa bersama ayahnya lanjut makan malam berdua, tanpa peduli dengan apa yang terjadi di lantai atas.

 

Angkasa yang katanya akan pergi ke kamar, nyatanya kakinya melangkah ke arah yang berbeda. Bukan menuju ke kamarnya, melainkan menuju ke kamar Leya yang pintunya lupa mengunci atau mungkin sengaja tidak dikunci.

Angkasa membuka pintu perlahan. Ia bisa melihat kekasihnya sedang berdiri di pintu balkon yang tertutup, sambil menatap ke arah luar jendela.

Angkasa masuk. Tak lupa ia mengunci pintu dari dalam lalu melangkah perlahan, menghampiri Leya yang sama sekali tidak menyadari jika sosok yang tengah menguasai hati dan pikirannya sedang berjalan menuju ke arahnya.

"Jangan sedih! Mas ada di sini untukmu?" Angkasa memeluknya dari belakang.

Leya terkejut, tubuhnya hampir limbung. Namun Angkasa dengan cepat membawa ke pelukannya.

"Hati-hati sayang?" ucap Angkasa.

Leya melepaskan pelukan itu, lalu mundur beberapa langkah. "apa yang kamu lakukan di sini, Mas? sebaiknya kamu keluar, kembali ke kamarmu... aku nggak mau mama dan kakek marah padaku? Kalau mereka tahu kamu ada disini!" Leya panik, ia sekuat tenaga mendorong tubuh Angkasa yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

"Ini kamarku!" jawab Angkasa dengan mudahnya menarik tubuh Leya agar duduk di atas pangkuannya.

Lea memberontak.

"Jangan seperti ini, Mas. Kamu membuat semuanya semakin bertambah rumit?" Leya makin frustasi.

Menerima kenyataan Angkasa yang sudah menjadi ayah tirinya saja belum bisa ia lakukan. Sekarang, pria itu malah terang-terangan masuk ke kamarnya dan memeluknya seperti ini.

"Mas, tolong keluar dari kamarku?" Leya sampai memohon. Tapi sepertinya Angkasa masih enggan untuk melakukannya.

"Mas ingin menemani kamu, sayang! Mas gak mau kamu sendirian. Kamu punya Mas... pacar kamu!" Angkasa menatap dalam kedua mata Leya. Mata indah, yang menunjukkan berbagai perasaan dan keputusan yang sangat rumit untuknya.

Leya diam selama beberapa detik.Lalu di detik berikutnya, ia berhambur memeluk tubuh Angkasa.

"Aku mencintaimu Mas? Aku gak mau kamu jadi ayah tiriku?" ucap Leya, yang pada akhirnya mampu dikalahkan oleh perasaannya sendiri.

"Aku lebih mencintai kamu sayang!" Angkasa makin memeluk Leya. "Mas janji tidak akan pernah menyentuh ibu kamu dan berusaha untuk secepatnya mengakhiri pernikahan ini!"

Ucapan Angkasa bukan sekedar bualan atau kata-kata manis penenang. Tetapi perkataan itu keluar dari dalam dasar lubuk hatinya yang terdalam. Di mana seluruh isinya, hanya dipenuhi oleh satu nama wanita yang saat ini ada dalam pelukannya.

"Bener ya kamu gak akan menyentuh Mama?" pinta Leya.

Angkasa mengangguk cepat. "tentu sayang! karena aku hanya akan menyentuh wanita yang aku cintai!"

Leya tersenyum. Kini, ia benar-benar sudah dikalahkan oleh perasaannya sendiri. Ia tidak lagi peduli lagi dengan logika dan perkataan orang diluar sana. Seumpama mereka tahu jika ia menjalin hubungan dengan ayah tirinya sendiri. Karena pada kenyataannya, cinta mereka lebih dulu hadir daripada pernikahan paksa akibat keegoisan orangtua.

1
Jhesika Cika
bagus cta ny
Dew666
👑👑👑
Dew666
💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!