Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu Vanilla
Shilla yang duduk didepan diam-diam telah memperhatikan mimik wajah sepupunya itu. Ingin mengetahui apakah dia masih pria yang sama seperti sebelumnya? Akankah dia masih ikut menggoda guru baru itu? Mengikuti sahabat nya yang yang laknat itu?
Sepertinya tidak! Ekspetasi nya malah sebaliknya. Shilla tersenyum sinis, 'huh! Mungkin lu sekarang udah sadar diri kali ya?' fikir nya dalam hati.
"Sudah pernah, Tom!" Ucap Maya singkat. Menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Tomi. Pada kata pernah itu dia tak mengeluarkan suara nya. "Apa ada pertanyaan yang lain?" Lanjut nya sambil kembali bertanya.
Jay mencoba mengartikan jawaban pertanyaan yang di ucapkan guru baru nya itu. Walaupun tak mengeluarkan suara, matanya yang jeli, menangkap kata pernah itu. 'Janda dong?' fikir nya dalam hati menyimpulkan jawaban singkat dari sang guru cantik.
"Umur nya sekarang berapa, bu Maya?" Lagi Tomi bertanya, mewakili teman-teman pria nya. Karena dia tahu, teman pria sekelasnya ini tak ada yang akan mau untuk menanyakan hal-hal seperti itu. Selain Jay. yang sekarang entah mengapa jadi siswa nan jaim.
"Tomi! Nggak baik seorang pria menanyakan usia seorang wanita. Jadi maaf! Ibu nggak bisa memberikan jawabannya." Jawab Maya lembut sambil menutup mulutnya yang sudah terlanjur terkekeh.
"Huuu...!" Kali ini kaum pria lah yang bersorak. Seakan kecewa menerima jawaban yang di ungkapkan guru nya itu.
Berbeda dengan Jay, pemuda itu begitu terpesona ketika melihat ekspresi wajah Maya saat malu-malu itu.
Tanpa sadar Maya menangkap keterpesonaan siswa nya itu terhadap nya. Awal nya dia hanya cuek, dan masih disisa kekehannya memalingkan wajah nya kearah lain. Kemudian kembali melihat ke wajah siswa nya itu lagi.
Degh.
Semburat merah kembali memenuhi wajah nya. Degupan jantung nya jadi tak stabil. Baru kali ini dia di tatap seperti itu oleh seorang siswa. Padahal udah ketahuan mencuri pandangannya, malah nggak berpaling juga.
'Menarik!' fikir nya dalam hati. Ada getaran aneh yang menjalar di sekujur tubuh nya melihat cara siswa itu memandang nya.
"Ekhem! Sudah ya. Tidak ada pertanyaan lagi. Sekarang, kita kembali ke pelajaran." Ucap Maya dengan lembut, namun nada tegas juga terpancar dengan kata-kata nya.
Selama dua jam pembelajaran Bahasa Nasional itu diikuti oleh siswa-siswi di dalam kelas. Pelajaran Bahasa Nasional jadi sangat menyenangkan ketika di bimbing oleh Bu Maya yang begitu supel. Yang tidak kaku seperti Pak Choky sebelumnya. Sepertinya siswa-siswi jaman sekarang memang butuh pembimbing handal yang lebih muda lagi menarik. (Betul nggak? Hahahaha)
"Kantin yuk, Jay!" Ajak Tomi setelah beberapa menit yang lalu bel jam istirahat berbunyi.
"Nggak lah, Tom! Ribet. Lu aja deh. Lagian, tadi gue udah sarapan kok." Tolak Jay.
"Nggak apa-apa nih, gue tinggal? Gue laper banget nih." Tanya Tomi ragu-ragu. Sedikit merasa bersalah akan meninggalkan sahabatnya itu sendiri di dalam kelas. Yang biasanya mereka selalu bersama.
Jay menggeleng pelan. "It's okay! Sono gih!" Ucap Jay. Tidak mempermasalahkan hal itu.
Setelah Tomi pergi, Jay mengeluarkan ponselnya. Dia menekan icon galeri pada ponselnya itu. Melihat gambar-gambar foto orang tua nya sebelum kejadian naas itu terjadi. Cukup lama dia menggulirkan layar ponsel itu untuk melihat potret-potret di masa lalu.
"Nih, bekal buat, lu! Tadi mamah yang beliin." Tiba-tiba sekotak makanan disodorkan oleh Shilla diatas meja dengan suara ketusnya.
"Makasih, La." Ucap Jay sambil menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Jay menatap makanan itu. Jika dia makan. Setelah makan, nggak mungkin kan dia nggak minum air? Fikir nya. Lalu di lihatnya Shilla masih berdiri disana sambil memangku tangannya didada menampilkan raut kesal.
"Apa lagi?" Tanya Shilla dengan misuh-misuh. Melihat Jay sekarang malah menatapnya, bukannya langsung menikmati makanan di hadapan nya itu.
"Hehehe, nggak apa-apa, La. Nunggu Tomi dulu. Buat beli air." Jawab Jay cengengesan. Mengusap lehernya yang tiba-tiba saja berkeringat dingin.
Dia sadar diri dengan perubahan sikap semua sepupunya itu. Dulunya Shilla sangat baik memperlakukan nya. Terkadang mereka seperti sepasang kekasih ketika berada di sekolah. Gadis itu selalu bergelayut mesra padanya, dan Tomi akan menjadi obat nyamuk kalau mengikuti mereka berdua. Sesekali Shitta juga ikut nimbrung dengan kebersamaan mereka.
Selama dia tinggal bersama, kebersamaan mereka berubah. Entah itu di karenakan paman Simons di penjara, atau karena kamarnya yang di ambil alih.
Tiga minggu tinggal dirumah bibi Aida terasa begitu lama. Perlakuan mereka bertiga juga tidak mengenakkan. Sangat berbanding terbalik saat orang tua nya masih hidup dulu. Didepan Aida mereka selalu menampakkan wajah ketus, namun lebih sering menampilkan raut wajah datar.
Mendengar ucapan dari Jay, Shilla pun melangkah menuju tempat duduk nya. Mengambil botol minuman dari dalam tasnya. Yang sudah menjadi kebiasaan nya.
Dengan masih menampilkan wajah jutek nya, Shilla meletakkan botol minuman itu di meja Jay. "Nih, pakek air gue aja! Gue lupa beli air nya tadi!" Ucapnya. Setelah itu dia pun berlalu meninggalkan Jay yang masih membisu.
Jay melongo melihat botol minuman yang bisa menampung air satu liter itu. Terlihat air nya hanya meninggalkan separuh dari botol nya.
"Eh, Jay. Susu vanilla tuh? Kayaknya enak tuh, pengen dah. " Tiba-tiba suara Tomi mengagetkan lamunan Jay. Dan tangan itu bersiap untuk mengambil botol yang berdiri diatas meja.
Langsung saja Jay merebut botol itu sebelum jatuh ke tangan Tomi. "Nggak boleh, sob." Larang Jay memeluk botol itu dengan erat.
"Lu kenapa, Jay? Biasanya juga nggak apa-apa kan? Malah kita pernah minum kopi segelas berdua." Ujar Tomi keheranan.
"Itu kan dulu! Sekarang gue lagi sakit, ya beda lah." Keukeuh Jay semakin mengeratkan pelukannya pada botol, karena Tomi masih mencoba meraih nya.
"Oh, jadi lu takut ketularan nih, ceritanya? Nggak apa-apa Jay, gue sebagai sahabat lu, gue rela kok!" Bujuk nya sambil mencoba merebut botol itu.
"Tomi Hendrawan!" Jay menyebut nama lengkap sahabat nya itu dengan geraman.
Tomi terdiam sejenak. "Uhmm. Gue tau nih, sekarang. Itu susu, punya pacar lu ya.?" Goda Tomi kemudian. Akhirnya dia pun menyerah. Tak lagi mau merebut susu vanilla itu.
Tanpa sadar Jay menganggukkan kepalanya.
Shilla yang masih didalam kelas itu mendengar dan menyaksikan percakapan Tomi bersama Jay. Tiba-tiba saja dia merasa malu dengan tuduhan nggak jelas itu.
"La! Lu liat nggak, siapa yang ngasih bekal sama si Jay tadi?" Tanya Tomi pada Shilla. Karena hanya gadis itu yang berada di dalam kelas selain mereka berdua saat ini.
Shilla yang ditanya seperti itu, hanya mengendikkan bahunya. Dan buru-buru memunggungi mereka berdua. Agar tak memperlihatkan wajah nya yang sudah memerah.
"Idih, kenapa tuh cewek." Heran Tomi. "Oh iya, gue lupa. " Seakan teringat sesuatu, dia pun menepuk jidatnya. Mengingat telah terjadi sesuatu pada keluarga mereka.
"Napa, lu?" Kini, Jay yang jadi keheranan.
"Nggak apa-apa, tiba-tiba aja gue jadi kebelet." Ujar Tomi, segera dia melangkah tergesa-gesa keluar kelas.
"Aneh." Gumam Jay.
Kemudian, dia pun mulai membuka kotak makanan pemberian Shilla tadi. Perlahan dia mulai menyantap nya. Suap demi suap, akhirnya makanan itu pun habis. Tanpa fikir panjang, dia pun meneguk susu vanilla itu. Walaupun dia tau, itu adalah bekas dari Shilla.
Karena, saat pergantian jam pelajaran biologi tadi, dia melihat Shilla meneguk susu vanilla ini dengan cara yang serupa. Dia tak peduli, dianggap berciuman secara tidak langsung pun nggak apa-apa.
*****