Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma hujan dan kayu tua
Langit Jakarta berubah warna menjadi abu-abu pekat hanya dalam hitungan menit. Deru klakson dan decit rem beradu dengan suara guntur yang menggelegar di kejauhan. Bagi Aris, hujan berarti satu hal: sepatu basah dan kemacetan panjang. Namun, sore ini berbeda.
Saat ia berlari kecil mencari tempat berteduh di sebuah gang sempit di kawasan Cikini, Aris melihatnya.
Di antara dua ruko beton yang kusam, berdiri sebuah bangunan kayu bergaya kolonial yang nampak asing. Pintu kayunya yang berat berwarna hijau lumut, dengan sebuah papan kecil tergantung di sana: "Toko Kembali – Terbuka Bagi yang Kehilangan."
Aris tidak pernah melihat bangunan ini sebelumnya, padahal ia melewati jalan ini setiap hari menuju kantor. Karena dorongan rasa penasaran—dan fakta bahwa air hujan mulai merembes masuk ke kerah kemejanya—ia mendorong pintu itu.
Kring.
Suara lonceng kuno menyambutnya. Alih-alih bau apak khas gedung tua, ruangan itu justru beraroma tanah basah, melati, dan sesuatu yang sulit dijelaskan—seperti wangi kertas koran lama yang disimpan dengan baik.
"Selamat datang," sebuah suara rendah menyapa dari balik rak tinggi yang penuh dengan jam pasir.
Seorang pria berdiri di sana. Ia mengenakan rompi beludru marun dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tidak terlihat tua, mungkin awal tiga puluhan, tapi matanya memiliki kedalaman yang seolah-olah telah melihat ribuan tahun berlalu.
"Aku hanya... berteduh," gumam Aris sambil mengusap sisa air di lengannya.
"Tidak ada yang 'hanya' berteduh di sini, Aris," ucap pria itu tenang sembari meletakkan sebuah jam saku di atas meja counter.
Aris tertegun. "Bagaimana Anda tahu nama saya?"
Pria itu tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Di sini, nama adalah hal paling sederhana yang bisa kami ketahui. Yang lebih penting adalah, apa yang sedang kau cari? Detik yang terbuang, atau menit yang kau sesali?"
Aris menelan ludah. Ia menatap jam saku di meja. Jarumnya tidak berputar searah jarum jam, melainkan bergerak mundur dengan sangat cepat.
Aris terpaku menatap jam saku yang berputar mundur itu. Detak jantungnya mendadak berpacu, seirama dengan memori yang selama ini ia kunci rapat di sudut pikirannya.
"Jika benar tempat ini menjual waktu..." Aris menggantung kalimatnya, suaranya sedikit bergetar. "Berapa harganya? Aku ingin kembali ke lima tahun lalu. Hanya satu jam. Tidak, sepuluh menit saja cukup."
Pria di balik meja itu, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Elias, menyilangkan tangan di dada. Ia menatap Aris dengan tatapan menyelidik.
"Kembali ke masa lalu bukan seperti membeli kopi, Aris. Kamu tidak membayarnya dengan uang," ujar Elias dingin. "Di Toko Kembali, kami menggunakan sistem pertukaran yang setara. Untuk mendapatkan sepuluh menit di masa lalu, kau harus menyerahkan sepuluh tahun dari masa depanmu. Kau akan menua sepuluh tahun lebih cepat setelah keluar dari pintu itu. Masih berminat?"
Aris terdiam. Bayangan sebuah kecelakaan mobil, suara decit ban, dan genggaman tangan yang terlepas kembali menghantui benaknya. Sepuluh tahun adalah harga yang sangat mahal, tapi rasa bersalah yang ia pikul selama ini terasa jauh lebih berat.
"Aku terima," jawab Aris tegas.
Elias menghela napas panjang, seolah sudah sering mendengar jawaban itu. Ia mengambil sebuah botol kaca kecil kosong dan meletakkannya di samping jam saku.
"Tiupkan napasmu ke dalam botol ini sebagai tanda kontrak. Tapi ingat satu aturan absolut di sini: Kau hanya boleh melihat dan berbicara. Jangan pernah mencoba menyentuh dirimu di masa lalu, atau kau akan terjebak dalam celah waktu selamanya."
Aris mengangguk. Ia mendekatkan bibirnya ke mulut botol, mengembuskan napas panjang hingga botol itu berembun kebiruan. Begitu Elias menyumbat botol tersebut, ruangan toko mulai bergetar. Rak-rak buku seolah mencair, dan aroma melati berubah menjadi bau aspal panas di bawah terik matahari.
Transisi Waktu Dimulai...
Tiba-tiba, Aris berdiri di pinggir jalan raya yang sangat ia kenal. Lima tahun lalu. Di seberang jalan, ia melihat dirinya sendiri yang lebih muda sedang tertawa, memegang ponsel, dan tampak tidak waspada. Di sampingnya, seorang wanita dengan syal kuning—Sonia—sedang melangkah turun ke aspal.
Aris tahu, dalam hitungan detik, sebuah truk dengan rem blong akan muncul dari tikungan tajam itu.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor