TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 23: Penghianatan Tersembunyi
Raka menarik mereka ke dalam pelukan yang liar namun penuh penderitaan.
Saat penyatuan itu dimulai, suara yang beradu." dan rintihan nikmat yang bercampur tangis," menggema di dinding gua."
Raka bisa merasakan racun hitam dari tubuhnya mulai mengalir keluar, berpindah ke dalam tubuh Sekar dan Vanya.
Rasa nikmat yang luar biasa meledak, namun diikuti oleh rasa sakit yang membakar. Napas mereka memburu, keringat bercampur dengan cairan energi yang bersinar.
Raka mencium bibir Sekar dengan sangat dalam, menghisap keberaniannya kuat, lalu beralih ke Vanya, mengambil kekuatannya. Di puncak penyucian yang sangat erotis dan emosional ini, ledakan cahaya merah keluar dari tubuh Raka dan diserap oleh kedua wanita tersebut.
Raka menggeram keras saat merasakan beban di jiwanya berkurang.
Namun, Sekar dan Vanya pingsan dalam pelukannya, tubuh mereka kini dipenuhi tanda-tanda hitam kecil, mereka telah mengorbankan diri untuk menampung racun Raka.
Sementara Raka sedang lemah, di luar lembah, Kardinal Silas ternyata bekerja sama dengan sisa-sisa pengikut Kekaisaran Kekacauan. Ia ingin mengambil kekuatan Raka untuk dirinya sendiri agar bisa menjadi "Dewa Cahaya" yang baru.
"Bawa dia padaku, dan aku akan berikan kalian wilayah untuk berkuasa," perintah Silas kepada pasukannya.
Bumi (anak Raka) mencoba menahan mereka di perbatasan lembah.
BOOOMMMM!
Bumi bertarung sendirian melawan ratusan ksatria Orde. "Kalian tidak akan menyentuh ayahku!" teriak Bumi sambil melepaskan teknik Matahari.
Namun, Silas menggunakan artefak kuno yang mampu menyerap energi matahari Bumi.
Tetapi Bumi terkapar, terkena bahunya terluka. Silas melangkah maju, pedang cahayanya siap melenyapkan Bumi.
Tetapi Di dalam gua, mata Raka terbuka. Ia merasakan putranya dalam bahaya. Meskipun tubuhnya masih sangat lemah dan sukmanya belum stabil, amarahnya memuncak kembali.
Ia melihat Sekar dan Vanya yang terbaring lemah. Ia mencium kening mereka, memberikan sedikit energi pelindung.
"Tunggu aku di sini. Aku akan kembali Setelah membasmi bajingan itu," gumam Raka dengan suara yang sangat dingin.
WUSSSSHHHH!
Raka melesat keluar dari gua. Ia tidak terbang dengan cahaya emas yang indah, melainkan dengan kabut hitam kemerahan yang menyeramkan. Ia mendarat tepat di depan Silas saat pedang itu hampir menyentuh Bumi.
CLANGGG!
Raka menangkap pedang cahaya Silas dengan dua jari. Pedang itu patah berkeping-keping.
"Si... Silas?" Raka menatap pria tua itu dengan mata yang sepenuhnya hitam.
"Kau ingin cahaya? Akan kuberikan kau cahaya yang akan membakar sukmamu selamanya."
Raka mencengkeram wajah Silas. Tangan Raka mengeluarkan asap hitam. Silas mencoba berteriak, tapi suaranya hilang. Kulit wajah Silas mulai meleleh karena panasnya energi Raka.
Tiba-tiba Suara... "Ini belum berakhir, Raka!" teriak salah satu letnan Silas sambil melepaskan panah beracun.
Wussh!
Raka menoleh, dan hanya dengan satu tatapan, panah itu berbalik arah dan menembus mata si letnan.
Namun, di tengah kemarahannya, Raka menyadari sesuatu. Di langit, ribuan kapal terbang asing yang berbeda dari sebelumnya mulai muncul.
Mereka bukan dari Kekaisaran Kekacauan, melainkan dari "Sektor Terlarang" wilayah yang bahkan ditakuti oleh para dewa.
Raka menyadari bahwa Silas hanyalah kecil. Ada konspirasi yang jauh lebih besar yang melibatkan seluruh benua di bumi. Raka kini harus bertarung dengan tubuh yang cacat, dikhianati oleh bangsanya sendiri, dan menghadapi invasi baru."
Raka berdiri di atas tumpukan mayat ksatria Orde Cahaya Suci yang ia bantai dalam hitungan detik. Napasnya berat, uap hitam keluar dari pori-pori kulitnya. Ia menoleh ke arah Bumi, putranya, yang mencoba bangkit dengan bahu yang terluka.
"Ayah... jangan biarkan kegelapan itu menguasaimu," rintih Bumi.
Raka tidak menjawab. Ia mengangkat tubuh Sekar dan Vanya yang masih pingsan, kulit mereka kini dihiasi urat-urat hitam yang berdenyut. Ia tahu, tinggal di Lembah Wening hanya akan membawa kehancuran bagi penduduk desa yang kini membencinya akibat provokasi Silas.
Wusssshhh!
Dengan satu loncatan besar, Raka membawa keluarganya menuju Lembah Naga Tidur, sebuah zona terlarang di pegunungan salju abadi yang dikelilingi oleh badai mana yang kacau. Di sana, terdapat sebuah kolam air raksa alami yang mampu menetralkan racun kosmik.
Di dalam gua kristal yang tersembunyi di balik air terjun beku, Raka membaringkan Sekar dan Vanya. Suhu di sana sangat dingin, namun tubuh kedua wanita itu justru membara karena racun "Chaos" yang mereka serap dari Raka.
"Vanya... Sekar... maafkan aku," bisik Raka.
Untuk menyelamatkan mereka, Raka harus melakukan Alkimia Sukma. Ia harus menarik kembali racun itu, namun bukan untuk disimpan, melainkan untuk dimurnikan di dalam "tungku" hasrat murni.
Raka melepaskan sisa-sisa zirahnya yang hancur. Ia menarik tubuh Sekar yang lemas dan Vanya yang merintih ke dalam dekapannya. Di bawah cahaya kristal biru yang berpendar,"
tung... tung..., raga mereka bersatu kembali.
Suara napas yang berat," mulai memenuhi gua yang sunyi.
Raka memulai ritualnya. Ia mencium bibir Sekar dengan yang dalam, sementara tangannya membelai tubuh Vanya yang gemetar.
Penyatuan ini jauh lebih dari sebelumnya. Suara yang beradu." dan rintihan nikmat yang serak menggema, menciptakan getaran energi yang mulai memurnikan udara.
Raka merasakan racun hitam itu mengalir kembali ke tubuhnya, namun kali ini ia tidak melawannya. Ia membiarkan hasrat menjadi bahan bakar untuk membakar racun tersebut menjadi energi murni."
Raka bergerak dengan irama yang menuntut, menghujamkan cintanya ke dalam diri mereka berdua.
Keringat mereka bercampur dengan cairan suci yang bersinar keemasan. Di puncak penyatuan yang sangat panas, dan penuh kasih ini, sebuah ledakan energi murni berwarna putih perak keluar dari tubuh Sekar dan Vanya, menyelimuti tubuh Raka dan menyembuhkan luka-lukanya secara instan.
Raka menggeram rendah, membenamkan wajahnya di antara dada mereka berdua. Racun hitam di kulit mereka memudar, berganti dengan kilau kesehatan yang baru. Mereka telah melewati ambang maut melalui kenikmatan yang sakral."
Setelah semua membaik, tetapi Ketenangan itu hanya bertahan beberapa jam. Tiba-tiba, suhu di dalam gua turun secara drastis hingga air terjun di luar membeku seketika menjadi kristal hitam.
KRAKKKKKK!
Dinding gua hancur berkeping-keping. Muncul sesosok makhluk dengan tinggi empat meter, mengenakan jubah mekanis yang melayang. Wajahnya tidak memiliki mata, hanya ada satu lensa besar yang berputar-putar di tengah keningnya.
"Subjek nomor 13... Target ditemukan," suara makhluk itu datar, seperti suara mesin yang bergesekan dengan logam."
Ia adalah Sang Kolektor, utusan dari Sektor Terlarang.
Faksi ini adalah para ilmuwan kosmik yang menciptakan benih Matahari yang ada di dalam tubuh Raka. Mereka menganggap Raka sebagai properti yang harus diambil kembali karena dianggap "rusak" oleh emosi manusia.
"Istri dan anakmu... akan menjadi spesimen tambahan yang menarik," ucap Sang Kolektor.
Raka berdiri, ia menutupi tubuh Sekar dan Vanya dengan jubah energinya. Matanya kini tidak lagi hitam atau merah, melainkan jernih seperti berlian.
"Kalian menyebutku subjek?" tanya Raka. "Maka bersiaplah merasakan amarah dari subjek yang kalian ciptakan sendiri."
Bersambung....