Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Melihat kejadian itu membuat Tama langsung berlari ke arah Bundanya. Sementara Sinta tengah meradang dengan amarahnya. Setelah tadi mencari Ezar kemana-mana, rupanya kekasihnya itu malah sedang asik-asikan dengan keluarga Miranda.
"JELASKAN SAMA AKU, KAMU NGAPAIN SAMA DIA?" teriak Sinta kembali. Napasnya sudah terengah. Dadanya juga bergemuruh. Matanya nyalang ke arah Miranda.
Ezar mulai geram. Tanganya sudah mulai terkepal. Sekedar menjelaskan saja rasanya tak perlu. Ia memandang ke arah Sinta dengan kuat. Apalagi kekasihnya itu datang dan menghancurkan mood baiknya.
"Heh! Kamu sekertarisnya Ezar 'kan? Begini ya ternyata kelakuan kamu? Sudah ku duga sebelumnya. Kamu pasti sengaja 'kan buat godain Ezar?" Sinta bahkan sampai menunjuk wajah Miranda.
Tama ketakutan. Ia memeluk tubuh Bundanya dengan erat. Miranda terbelalak dengan semua tuduhan itu. Padahal, sejak tadi pun ia sudah berniat menjauhkan Tama dari Ezar.
"Maaf, semua tuduhan Anda tidak benar! Saya sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun menggoda suami Anda. Dan perlu Anda tahu, saya ini sudah berkeluarga!" balas Miranda. Suaranya bergetar, emosinya mulai menguar.
Sinta berdecih, "Cih! Wanita murahan seperti kamu-"
"SINTA, STOP!" sentak Ezar. Ia kemudian menatap kekasihnya dengan nyalang. "Kamu malu-maluin saja!" tangan Sinta sudah tercengkram, tak lama itu Ezar membawanya pergi menjauh dari tempat Miranda.
Hah... Tarikan napas itu terasa berat. Tama menatap Bundanya dengan hati terasa sesak. Tapi Miranda malah menyambutnya dengan senyum lembut. Miranda mencoba mengalihkan semuanya. Mencoba mengusir pikiran Tama mengenai masalah tadi.
Sementara pandangan Tama jatuh pada sisa wadah sabun yang sudah menyatu dengan rumput.
"Bunda... Wanita tadi jahat banget ya?! Itu mainannya kan sayang_tumpah," lirihnya. Hati kecil itu mencelos.
"Tama mau mainan tadi?" tanya Miranda.
Tama mengangguk kecil. Dan kebetulan penjual gelembung tadi juga berjalan ke arah mereka.
"Pak, saya mau satu," celetuk Miranda.
Pedagang tadi meletakan stand kecilnya. "Oh ya, ini... Silahkan, Mbak...."
Tama sudah menerimanya dengan bahagia. "Berapa, Pak?"
"Tidak udah, Bu! Tadi Masnya sudah bayar kok. Dan saya di suruh kesini tadi," ucap pedagang tadi.
Miranda mengernyit. Mas? Siapa yang di maksud pedagang di depanya itu?
"Apa orangnya pakai kemeja batik, Pak?" tanya kembali Miranda.
Pedagang tadi langsung mengiyakan. Berarti, Ezar yang sudah memesankan untuk Tama. Setelah kepergian pedagang tadi, Miranda masih tak percaya Ezar melakukan itu untuk Putranya.
Sementara Tama? Bocah kecil itu hanya bersikap riang. Wajah tanpa dosanya semakin membuat Miranda merasa bersalah, dosa di masalalunya kembali hadir.
"Sayang, kita ke sana yuk! Bunda belum bayar satenya," ucap Miranda. Tama hanya menurut dan masih asik mengibaskan gelembung tadi.
Lagi-lagi Miranda tertegun. Dua porsi makananya juga sudah di bayarkan oleh Ezar. Padahal, Miranda tidak ingin berurusan lagi dengan sang Mantan. Sebagai wanita yang selalu di rendahkan, Miranda tidak ingin hal itu membuat Ezar semakin mudah mencari celah. Apalagi di antaranya tumbuh Tama.
Mungkin, untuk di lain kesempatan yang akan datang, Miranda harus menjauhkan Tama dari mantanya itu.
Miranda kemudian mengajak putranya segera mungkin untuk pulang.
*
"Ezar, lepasin!" pekik Sinta.
Ezar menghempaskan tangan kekasihnya begitu saja. Di halaman gereja, dan hal itu sempat di lirik Dewa yang masih asik duduk dengan bukunya. Satu kata dalam hatinya_melelahkan!
Dewa menatap sangat malas.
"Kamu bisa nggak sih, kontrol emosi kamu, Sinta?! Dia sekertarisku! Jika sampai gara-gara kamu dia keluar... Maka aku yang akan memutuskan kamu!" tekan Ezar. Tatapanya sangat kuat. Kali ini bicaranya tak main-main.
Sinta ingin tertawa. Ia barusan tidak salah dengar kan? Hanya karena sekertaris baru itu... Ezar rela menumbalkan hubunganya yang sudah berjalan 3 tahun lamanya?
"Apa? Kamu lebih milih sekertaris kamu ketimbang aku, calon Istri kamu, Ezar?! Kamu sadar nggak sih bicara kayak gitu?!" Sinta tak percaya. Kepalanya bergeleng pelan, antara cemburu dan kemarahan beradu memenuhi kepalanya.
Ezar mendesah kasar. Lalu segera masuk ke dalam mobil begitu saja. Sementara Sinta hanya mampu tertawa getir. Dadanya sesak, air matanya berhasil luruh.
Mobil pria tampan itu keluar dari halaman gereja tanpa kekasihnya. Sinta masih mematung, air matanya berlinang semakin rutin.
"Kamu jahat banget sih, Ezar... Padahal aku selama ini yang sudah selalu ada buat kamu. Aku yang sembuhin luka kamu! Tapi... Kenapa seperti ini balasan kamu," gumam Sinta.
Tapi, tiba-tiba dari samping ada sebuah sapu tangan menggantung.
Sinta mengerjab, lalu menoleh. "Mas Dewa?"
Dewa tak menjawab, namun tanganya lebih dekat menyodorkan sapu tangan tadi. Sikap aneh Dewa terkadang membuat Sinta merasa takut.
"Saya alergi melihat tangisan wanita. Jadi segeralah lap air matamu," ucapnya setelah Sinta menerima sapu tanganya. Dewa menghentikan langkahnya sejenak, lalu berjalan menuju depan.
Disana, sang sopir pribadi sudah membukakan pintu mobil.
"Makasih, Mas Dewa!" pekik Sinta. Ia cukup tertegun melihat sikap hangat calon Kakak Iparnya itu. "Pria gila itu rupanya juga bisa seperhatian ini," gumam Sinta menatap sapu tangan bewarna abu itu.
Di dalam mobilnya, Dewa tersenyum tipis. Dari balik kaca, ia dapat melihat kemaharan Sinta berganti senyum cerah ketika menerima sapu tangan darinya. Perasaanya tiba-tiba menghangat.
Dari dalam, Bu Ria keluar sambil mengernyit. Di sana, beberapa mobil keluarganya masih berjejer karena doa juga masih berlangsung. Akan tetapi, dua mobil putranya sudah tiada.
Selalu sama
Baik Ezar maupun Dewa, kedua pria itu tidak ada yang betah berlama-lama. Tapi, Sinta? Bu Ria mengernyit. Kenapa Ezar meninggalkan Sinta disana sendirian?
"Sinta, sayang...." panggilnya.
Sinta menoleh. Wajahnya kembali dibuat sesedih mungkin. "Tante...." lirihnya sambil menghambur dalam pelukan calon mertuanya.
"Sayang... Kamu kenapa di luar sendirian? Ezar mana?" tanya Bu Ria begitu pelukan terlerai. Ia masih memegang kedua lengan Sinta.
"Ezar tinggalin Sinta disini, Tan! Ezar marah, karena tadi Sinta mergokin dia lagi seneng-seneng sama Sekertarisnya di alun-alun."
Bu Ria penasaran. "Sekertaris? Siapa sayang? Sekertarisnya Ezar 'kan Ratna. Kamu juga sudah kenal 'kan?!"
"Bukan, Tante!"
Bu Ria syok. Yang dirinya tahu, selama hampir 5 tahun belakangan ini, sekertaris putranya itu hanya satu_Ratna. Lalu, siapa lagi yang dimaksud Sinta saat ini?!
"Siapa, Sinta? Apa orang baru?"
Sinta mengangguk cepat. Wajahnya kembali emosi jika teringat tadi. "Dia baru bekerja kemarin, Tante! Namanya... Miranda!"
Deg!
Mata Bu Dia hampir keluar. "Apa? Miranda?"
Dari keterkejutan itu, Sinta dapat menangkap sesuatu yang terpendam namun berusaha di tutup serapat mungkin.
"Tante kenal sama Miranda?" Sinta memicingkan matanya.
Bu Ria segera mengganti ekspresinya. "Ha, kenal? Ng-nggak, kok! Tante nggak kenal sama dia," dalihnya.