NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Rekan Bisnis Tak Terduga

Pagi ini, suasana kantor magangku terasa lebih sibuk dari biasanya. Kabar bahwa perusahaan pusat dari Kota K akan mengirimkan perwakilannya untuk meninjau proyek baru di Kota J membuat semua staf—termasuk aku yang hanya anak magang—jadi kalang kabut.

"Zal, tolong bantu siapin dokumen buat rapat di ruang utama ya. Tamunya sebentar lagi sampai," perintah Mbak Selly, seniorku, sambil sibuk merapikan meja.

Aku hanya mengangguk patuh. Dengan tumpukan map di tangan, aku melangkah menuju ruang rapat. Pikiranku masih sedikit linglung karena kurang tidur semalam, namun aku mencoba tetap profesional. Aku menata botol air mineral dan dokumen di meja besar itu dengan rapi.

Tepat saat aku meletakkan dokumen terakhir, pintu ruang rapat terbuka.

"Nah, ini dia perwakilan dari pusat. Pak Danendra Aditama," suara Pak Bram, kepala cabang di sini, terdengar penuh hormat.

Deg.

Tanganku membeku di atas meja. Nama itu. Nama yang semalam membuatku terjaga hingga fajar. Aku memberanikan diri untuk mendongak, dan seketika duniaku serasa runtuh untuk kedua kalinya.

Di ambang pintu, berdiri seorang laki-laki dengan kemeja navy yang pas di tubuhnya, tampak sangat berwibawa dan dewasa. Tidak ada lagi seragam putih abu-abu yang dulu sering kulihat. Danendra berdiri di sana, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ada keterkejutan yang singkat di matanya, namun ia dengan cepat menguasai keadaan.

"Selamat pagi," sapanya dengan suara bariton yang tenang.

"Pagi, Pak. Kenalkan, ini Azzalia, salah satu staf magang kami yang membantu proyek ini," Pak Bram memperkenalkanku tanpa tahu bahwa ada badai yang sedang mengamuk di dalam dadaku.

Danendra melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangannya di depanku. "Danendra," ucapnya singkat, formal, seolah-olah kami baru pertama kali bertemu.

Aku menatap tangannya yang terjulur, lalu perlahan membalas jabatannya. Telapak tangannya masih terasa hangat, sama seperti dulu saat dia menggandengku enam tahun lalu. Namun kali ini, ada tembok profesionalitas yang ia bangun dengan sangat rapi.

"A-azzalia, Pak," jawabku terbata.

Sepanjang rapat berlangsung, aku tidak bisa fokus. Aku duduk di pojok ruangan, mencatat poin-poin diskusi dengan tangan yang terus gemetar. Sementara itu, Danendra duduk di kursi utama, memaparkan presentasi dengan sangat cerdas dan tenang. Sesekali, matanya melirik ke arahku, namun ia segera memalingkan wajah kembali ke arah Pak Bram.

Sikapnya yang sangat profesional justru membuatku semakin tersiksa. Dia bersikap seolah aku benar-benar orang asing. Apakah ini caranya untuk membalas sikap dinginku selama ini? Ataukah dia memang sudah benar-benar mulai belajar untuk melepaskanku?

Rasa sesak itu kembali muncul. Di sini, di ruang rapat yang dingin ini, aku menyadari bahwa Danendra yang sekarang bukan lagi Danendra yang bisa kuusir dengan mudah. Dia kembali ke hidupku dengan posisi yang tak terelakkan. Takdir tidak hanya mempertemukan kami kembali, tapi memaksa kami untuk saling bersinggungan setiap hari sebagai rekan bisnis.

"Rapat selesai. Terima kasih semuanya," suara Danendra menutup diskusi.

Semua orang mulai meninggalkan ruangan, namun Danendra masih diam di kursinya sambil merapikan laptop. Aku bergerak secepat mungkin untuk keluar, namun suara beratnya menghentikan langkahku tepat di depan pintu.

"Azzalia, bisa tolong bawakan dokumen ini ke ruangan saya? Ada beberapa poin yang butuh penjelasan lebih detail dari kamu."

Aku mematung. Tanpa menoleh pun, aku tahu ini adalah awal dari konfrontasi yang tidak bisa kuhindari lagi.

Aku menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungku yang menggila sebelum akhirnya memutar badan. Dengan langkah berat, aku menghampiri meja tempat ia berdiri dan mengambil tumpukan dokumen yang ia tunjukkan.

Aku mengikutinya dari belakang menuju ruangan kerja sementara yang disiapkan kantor untuknya. Setiap langkah kaki kami yang beradu dengan lantai marmer koridor terasa seperti dentuman jam dinding yang menghitung mundur kehancuranku. Punggung tegapnya yang dibalut kemeja mahal itu terlihat begitu kokoh, sangat berbeda dengan punggung remaja laki-laki yang dulu sering kutatap dengan rasa bersalah.

Begitu memasuki ruangan, ia menutup pintu. Suasana seketika menjadi kedap, hanya menyisakan suara AC yang menderu rendah dan aroma parfum wood-scent miliknya yang maskulin—aroma yang jauh lebih dewasa dibanding wangi sabun mandi yang dulu sering kukenali darinya.

"Silakan duduk, Azzalia," ucapnya datar tanpa menoleh, sambil berjalan menuju kursi kebesarannya.

Aku duduk di kursi di hadapannya, meletakkan dokumen itu dengan tangan yang sebisa mungkin tidak gemetar. Aku menunduk, tak berani menatap matanya.

"Bisa kamu jelaskan progres di poin ke empat? Saya rasa datanya masih belum sinkron dengan pusat," ia mulai bicara, jarinya menunjuk pada baris angka di kertas.

Aku mencoba menjelaskan sesingkat dan seprofesional mungkin. Suaraku terdengar kaku di telingaku sendiri. Selama beberapa menit, kami benar-benar hanya bicara soal angka, target, dan proyek. Ia mengoreksi beberapa bagian dengan ketegasan seorang atasan. Tak ada senyum, tak ada binar cinta yang kulihat di taman kemarin. Hanya ada Pak Danendra yang dingin dan perfeksionis.

Sikapnya ini justru membuat ulu hatiku nyeri. Bukankah ini yang kuinginkan dulu? Agar dia menjauh, agar dia berhenti menganggapku ada? Namun saat ia benar-benar melakukannya, rasanya seperti dihantam kenyataan bahwa aku telah kehilangan "kehangatan" yang selama enam tahun ini diam-diam menjadi jangkar dalam hidupku.

"Sudah jelas, Pak? Ada lagi yang perlu saya perbaiki?" tanyaku lirih saat penjelasan selesai.

Danendra tidak langsung menjawab. Ia meletakkan pulpennya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Keheningan yang mencekam menyelimuti kami selama beberapa detik. Ia menatapku intens, membuatku merasa seolah sedang ditelanjangi oleh rasa bersalah.

"Zal," panggilnya pelan. Suaranya berubah. Bukan lagi suara bariton atasan yang tegas, melainkan suara Danendra yang kukenal.

Aku tetap bungkam, meremas ujung rok kerjaku di bawah meja.

"Di sini saya atasan kamu, dan kamu staf magang saya. Saya akan bersikap profesional selama jam kantor," ia menjeda kalimatnya, matanya menatapku lurus. "Tapi jangan pikir dengan bersikap seperti ini, saya sudah menyerah. Saya hanya memberikan kamu ruang untuk bernapas di tempat kerja."

Ia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja. "Jangan lari lagi. Karena sekarang, ke mana pun kamu lari di kantor ini, kamu akan tetap menemukan saya sebagai tujuanmu."

Aku mendongak, menatap matanya yang kini kembali memancarkan binar tajam namun penuh luka yang sama. Lidahku kelu. Aku ingin marah karena sikap "pemaksaannya" yang dulu sangat kubenci, tapi di saat yang sama, ada rasa lega yang aneh di sudut hatiku karena tahu dia masih menjadi Danendra yang sama.

"Saya... saya permisi kembali ke meja saya, Pak," ucapku cepat. Aku berdiri, nyaris menyenggol kursi karena terburu-buru.

"Azzalia," panggilnya lagi sebelum aku mencapai pintu.

Aku berhenti, namun tidak menoleh.

"Makan siang nanti, temani saya. Sebagai rekan bisnis. Ini perintah, bukan tawaran," ucapnya dengan nada final yang tak bisa didebat.

"Maaf pak,saya tidak biasa makan bersama dengan rekan bisnis,karena saya karyawan magang,jika makan siang nanti anda ingin di temani,saya akan bilang pada mbak Selly senior saya untuk menemani anda,permisi"

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar meski dadaku terasa ingin meledak. Penolakanku tadi sangat jelas dan formal, setidaknya itu yang kupikirkan. Aku sudah hampir menyentuh gagang pintu ketika suaranya kembali menghentikanku, kali ini dengan nada yang lebih dingin sekaligus menusuk.

"Azzalia, apakah saya sedang meminta pendapat kamu?"

Aku mematung. Dinginnya gagang pintu di tanganku merambat ke seluruh tubuh.

"Saya memesan waktu kamu, bukan Selly. Sebagai rekan bisnis pusat, saya berhak menentukan siapa staf lokal yang harus mendampingi saya untuk membahas teknis di luar jam rapat. Jadi, saya tidak menerima saran, apalagi penolakan."

Dia berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang berat perlahan mendekat ke arahku. Aku tetap memunggunginya, menatap kayu pintu dengan saksama seolah ada jawaban di sana.

"Kenapa, Zal? Kamu takut?" bisiknya tepat di belakang bahuku. Hembusan napasnya membuat tengkukku meremang. "Takut kalau makan siang ini akan mengingatkan kamu tentang bagaimana kita dulu? Atau takut kalau kamu tidak bisa lagi memakai topeng profesional ini di depan saya?"

"Saya hanya menjaga etika kerja, Pak," sahutku cepat, akhirnya memberanikan diri menoleh sedikit meski tatapanku tetap tidak sejajar dengan matanya.

Danendra terkekeh pelan, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata. "Etika kerja? Bagus kalau kamu sudah mulai peduli soal itu. Karena menurut etika kerja yang saya tahu, perintah atasan harus dijalankan. Jam dua belas tepat, saya tunggu di lobi."

Ia melangkah mundur, kembali ke mejanya dan mengambil ponselnya seolah pembicaraan ini sudah selesai dan dia memenangkan telak argumennya.

"Silakan kembali ke meja kamu. Dan sampaikan pada Selly, dia tidak perlu repot-repot menyiapkan makan siang untuk saya. Saya sudah punya 'pendamping' sendiri."

Aku menarik napas panjang, menahan diri agar tidak membalas kalimatnya yang penuh otoritas itu. Tanpa kata lagi, aku membuka pintu dan keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Begitu pintu tertutup, aku bersandar sejenak di dinding koridor, mencoba meredakan debaran jantung yang tak karuan.

Sifat keras kepala dan pemaksanya tidak berubah. Enam tahun lalu, dia mungkin seorang remaja laki-laki yang memohon perhatianku. Tapi pria di dalam sana? Dia adalah seseorang yang tahu cara menggunakan kekuasaannya untuk membuatku tetap berada di jangkauannya.

Aku kembali ke meja kerjaku dengan perasaan campur aduk. Mbak Selly langsung menoleh dengan wajah penuh selidik.

"Gimana, Zal? Pak Danendra galak ya? Kok muka lo pucat banget?"

Aku hanya bisa tersenyum kaku. "Nggak apa-apa, Mbak. Cuma... Pak Danendra minta saya mendampingi makan siang nanti buat bahas detail proyek."

Mbak Selly melongo, namun sedetik kemudian ia tersenyum lebar. "Wah, bagus dong! Kesempatan langka itu, Zal. Pak Danendra itu orang penting di pusat. Siapa tahu setelah magang lo langsung ditarik ke sana."

Aku hanya bisa terdiam membayangkan apa yang akan terjadi di jam dua belas nanti. Jika di kantor saja dia bisa seberani itu, apa yang akan dia lakukan saat kami hanya berdua di meja makan?

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!