Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Panggilan Yang Mengubah Rasa
Dalam kehidupan terkadang ada hal-hal kecil yang sering dianggap sepele, padahal itu adalah hal penting yang akan menjadikan hidup lebih berarti.
Salah satunya dimana cara kita memanggil seseorang, mungkin itu terkesan hal yang sangat kecil tapi itu adalah salah satu bentuk penghargaan diri kita kepada seseorang.
Siang ini suasana hati Nayara terasa cukup berbeda, jantungnya berdetak cukup cepat membuat debaran yang semakin terasa saat ini menjadikan dirinya tidak fokus saat bekerja.
" Mas..."
Sangat sederhana tapi terdengar sejuk dan sopan ditelinga.
Sejak aku mengubah panggilanku untuk Adrian, rasanya seperti ada garis yang bergeser secara otomatis. Dari yang awalnya terasa asing kini menjadi lebih dekat. Bahkan kami hanya sekedar " dua orang yang dikenalkan melalui perjodohan" menjadi seseorang yang mulai saling memanggil dengan tambahan rasa.
" Mas Mahen, apa sudah sampai dirumah?"
Sore itu, Nayara berdiri tepat didepan cermin kamarnya, kedua tangannya kini tengah menggenggam ponsel yang sejak tadi berada dalam room chat Adrian.
Tangan itu sudah mengetik, lalu menghapusnya kembali... Mengetik lalu menghapusnya kejadian itu terus terjadi berulang.
" Haduhh kenapa sih, padahal cuma mau kirim chat singkat tapi jadi ribet gini" Nayara kini menggumam salam hatinya.
Nayara akhirnya mengirimkan pesan dengan disertai tarikan nafas, menatap layar itu beberapa detik dengan detak jantungnya yang kini berdetak lebih cepat.
Trrriiiinnng....
" Mas?"
Notifikasi pesan kini terdengar sebagai tanda balasan pesan, Nayara langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan saat membaca balasan pesan dari Adrian.
" Ya Tuhan, kenapa aku jadi malu sendiri sih"
Trrriiiinnng....
" Coba ulangi lagi, boleh?"
Begitulah isi pesan dari Adrian yang kembali datang, padahal Nayara belum sempat membalas pesan pertama yang diterima.
" Mas Mahen, sudah sampai rumah?"
Nayara mengirimkan kembali pesan, dengan gerakan dimana bibirnya digigit kecil menahan senyum dan salah tingkah.
" Araa..."
Balasan pesan itu kini kembali diterima dengan cepat oleh Nayara, setelah membaca balasan pesan dari Adrian tubuh Nayara kini menegang.
Ara? belum pernah ada yang memanggilku seperti itu, meskipun pendek tapi kenapa rasanya begitu hangat dan terasa lebih dekat?
Trrriiiinnng...
" Boleh kan, aku panggil kamu Ara?"
Nayara menatap layar ponselnya yang masih menyala di room chat bersama Adrian, rasanya panggilan itu terasa lebih lembut dan... Tepat.
" Boleh, Mas"
Pov Adrian
Ara .... Aku bahkan tidak tahu sejak kapan nama itu terlintas di pikiranku, mungkin dari cara aku melihatnya, bagaimana cara ia kembali belajar membuka diri atau mungkin karena aku punya cara sendiri untuk memanggilnya?. Dan ketika ia memberikan izin entah mengapa rasanya seperti ada ruang yang menyatukan hati kami untuk menjadi lebih dekat.
" Mas Mahen, lagi ngapain?" Suara Nayara terdengar diseberang telpon lebih tenang.
" Mas baru selesai bekerja, Ara. Kamu lagi ngapain?" Adrian tersenyum lembut meksipun tidak terlihat.
" Aku lagi tiduran, capek banget hari ini" jawab Nayara jujur terdengar seperti sebuah keluhan manja.
" Sini bagi ke Mas capeknya, kan Mas udah bilang apapun yang kamu rasakan bagi ke Mas libatkan Mas dalam setiap proses yang kamu lewati" Jawaban Adrian semakin membuat Nayara merasa aman.
Malam ini Nayara dan Adrian berbicara lebih lama dengan suasana yang hangat dan intens dari biasanya. Bukan tentang hak besar saja, tentang hal-hal sederhana yang entah kenapa kini terasa lebih berarti.
Pov Nayara
Aku tidak tahu ini bisa dinamakan cinta atau bukan, mungkin terlalu cepat untuk disimpulkan. Tapi, aku yang tahu dimana aku mulai menunggu pesan dari Adrian, menunggu obrolan kecil diwaktu tertentu dan menunggu hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah berarti bahkan aku melupakannya.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak takut dengan perasaan ini, Aku tidak tahu akan sampai sejauh mana ini akan berjalan.
Tapi satu hal yang aku tahu, bahwa aku mulai menyukai cara ia memanggilku dan lebih dari itu aku mulai menyukai orang yang memanggilku dengan cara seperti itu.