NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Penyamaran Daster Maut

​.. Tiga preman berbadan besar dengan tato di sekujur lengan masuk ke dalam warung. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di pipi, menyorotkan senter tepat ke wajah Genta yang kini sudah penuh coretan arang dan kumis palsu yang miring.

​.. "Woi, kakek kumis! Kamu lihat laki-laki tinggi atletis sama perempuan cantik pakai baju kantoran lewat sini nggak?" tanya si preman dengan nada membentak.

​.. Genta sengaja mengeluarkan batuk yang dibuat-buat, "Uhuk! Uhuk! Aduh Mas... saya ini sudah rabun. Jangankan orang ganteng, lihat nasi kucing di depan mata saja saya sangka kecoak. Sampeyan siapa ya? Mau bayar utang kopinya Cak Gentho?"

​.. Si preman mendengus kesal, lalu beralih menyorotkan senternya ke arah Clarissa yang sedang membelakangi mereka, pura-pura sibuk mencuci piring dengan daster kedodoran dan kerudung lusuh.

​.. "Heh, perempuan! Sini lihat saya!" perintah si preman. Clarissa gemetar hebat, tangannya yang halus kini penuh sabun cuci piring. Ia tidak berani menoleh, takut kecantikannya yang "berkelas" itu tetap terpancar meski pakai daster.

​.. "Anu Mas... itu asisten saya, si Lastri. Dia lagi sakit gigi parah, pipinya bengkak segede bakso urat. Kalau dia menoleh, nanti Mas-nya malah pingsan kena semburan bau naga!" sela Genta dengan gaya bicara yang sangat sengklek.

​.. Si preman tidak percaya begitu saja. Ia melangkah mendekati Clarissa. "Sakit gigi ya? Biar saya lihat, siapa tahu saya bisa jadi dokter dadakan!" Ia baru saja hendak menyentuh bahu Clarissa, namun Genta dengan sigap meletakkan sebuah piring berisi terasi bakar yang aromanya sangat menyengat tepat di bawah hidung si preman.

​.. "Waduh Mas! Jangan didekati, si Lastri ini belum mandi tiga hari gara-gara air sumur mati! Baunya lebih dahsyat daripada sampah pasar!" ucap Genta sambil nyengir lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang sengaja dihitamkan pakai kopi.

​.. Si preman langsung menutup hidungnya dan mundur teratur. "Ugh! Bau apa ini?! Sialan, baunya kayak bangkai tikus dicampur kaos kaki busuk!"

​.. "Itu aroma terapi khas warung ini, Mas. Biar pelanggan betah... betah untuk cepat-cepat pergi!" sahut Genta santai sambil terus mengipasi terasi bakar itu ke arah para preman.

​.. Dua anak buah preman itu mulai mual. "Bos, kayaknya nggak mungkin CEO cantik itu mau sembunyi di tempat kumuh dan bau begini. Ayo pergi, hidungku bisa rontok kalau lama-lama di sini!"

​.. Si pemimpin regu menatap curiga ke arah Genta sekali lagi. Ia melihat ke bawah meja dan menemukan sesuatu yang mengkilap. Matanya menyipit tajam. "Tunggu dulu... itu sepatu apa yang ada di pojokan sana?"

​.. Jantung Clarissa serasa berhenti berdetak. Ia lupa menyembunyikan sepatu hak tinggi (high heels) mahalnya yang tergeletak di dekat kaki meja!

​.. Si pemimpin preman itu melangkah maju, memungut sepatu high heels merah menyala yang tergeletak di pojok meja kayu. "Woi, kakek kumis! Sejak kapan tukang cuci piring sakit gigi pakai sepatu harga puluhan juta begini?!"

​.. Clarissa memejamkan mata rapat-rapat. Keringat dingin mengucur deras di balik dasternya. Ia sudah pasrah jika penyamarannya terbongkar sekarang juga.

​.. Namun, Genta dengan santainya malah tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di atas lincak bambu. "Hahaha! Waduh Mas... itu sepatu keramat! Sampeyan nemu barang antik itu ya?"

​.. Si preman mengernyitkan dahi, bingung melihat reaksi Genta yang tidak ada takut-takutnya. "Keramat apanya?! Ini sepatu asli, merk-nya saja luar negeri!"

​.. Genta bangkit berdiri, lalu merebut sepatu itu dengan gaya sok misterius. "Itu sepatu 'pesugihan' punyanya si Lastri, Mas. Dia itu kalau malam Jumat Kliwon suka berubah jadi penari ronggeng gaib di pasar induk."

​.. "Hah?! Penari ronggeng gaib?!" Para preman itu saling pandang, bulu kuduk mereka mulai merinding.

​.. "Iya, Mas! Si Lastri ini aslinya umur delapan puluh tahun, tapi kalau pakai sepatu merah itu, dia kelihatan kayak anak SMA!" bisik Genta sambil menunjuk Clarissa yang masih menunduk. "Mas mau coba pegang tumit sepatunya? Katanya kalau dipegang, nanti Mas-nya bisa ketempelan jin cantik penunggu selokan!"

​.. Si pemimpin preman langsung melempar sepatu itu kembali ke lantai seolah-olah benda itu baru saja menyengat tangannya. "Sialan! Pantesan aromanya tadi kayak bau kemenyan busuk! Ternyata markas dukun!"

​.. "Nah, mending Mas-mas sekalian cepat pergi sebelum si Lastri berubah jadi macan putih!" ancam Genta sambil memasang ekspresi wajah yang sangat mengerikan, matanya melotot tajam ke arah mereka.

​.. "Ayo Bos, cabut! Tempat ini nggak bener! Mending kita cari ke hotel sebelah saja!" ajak salah satu anak buahnya yang sudah ketakutan setengah mati.

​.. Para preman itu lari kocar-kacir keluar dari warkop, bahkan salah satu dari mereka sampai tersandung tempat sampah di depan pintu. Suara deru motor mereka menjauh dengan sangat cepat.

​.. Begitu keadaan benar-benar sunyi, Clarissa langsung terduduk lemas di lantai. Ia melepaskan kerudungnya dan mengusap keringat di wajahnya yang masih cantik meski berlepotan tepung.

​.. "Genta... kamu benar-benar gila! Penari ronggeng gaib? Jin penunggu selokan? Bisa-bisanya kamu mikir alibi seaneh itu?!" omel Clarissa, tapi kali ini suaranya terdengar penuh rasa syukur.

​.. Genta hanya nyengir lebar sambil membersihkan kumis palsunya yang hampir lepas. "Yang penting selamat kan, Mbak Bos? Lagian, Mbak Bos memang kayak jin cantik kok... cantiknya bikin saya pengen ketempelan terus!"

​.. Clarissa melempar sepatu high heels-nya ke arah Genta, tapi Genta dengan tangkas menangkapnya. "Dasar bodyguard sengklek! Tapi... terima kasih ya. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah diseret mereka sekarang."

​.. Genta terdiam sejenak, tatapannya beralih ke pintu yang terbuka sedikit. "Sama-sama, Mbak. Tapi kita belum benar-benar aman. Cak Gentho bilang, ada pengkhianat di rumah Wijaya. Dan saya rasa, orang itu baru saja mengirimkan lokasi kita ke bos besarnya."

​.. Clarissa terbelalak mendengar ucapan Genta. "Pengkhianat? Kamu serius, Genta? Siapa yang tega melakukan itu pada keluargaku?"

​.. Genta tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju jendela warkop yang sudah retak, mengintip ke arah jalanan yang sunyi senyap. "Orang yang paling tahu jadwal Mbak Bos. Orang yang tahu jalur mana yang akan Mbak Bos lewati setiap hari."

​.. Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel satelit di meja berbunyi nyaring. Ting! Genta segera menyambar ponsel itu dan membaca pesan yang masuk. Wajahnya yang tadinya santai mendadak mengeras, otot rahangnya menonjol tajam.

​.. "Lokasi terdeteksi. Warkop pinggir kali. Kirim tim pembersih segera. Jangan ada saksi mata."

​.. "Sialan! Mereka sudah tahu kita di sini!" umpat Genta. Ia langsung menyambar tangan Clarissa, menariknya bangkit dari lantai dengan gerakan cepat.

​.. "Tapi Genta... kita mau lari ke mana lagi? Mobil hancur, jalanan dikepung!" Clarissa mulai panik lagi, air matanya hampir tumpah melihat situasi yang semakin terjepit.

​.. Genta menatap lekat mata Clarissa, memberikan rasa tenang yang aneh di tengah badai. "Mbak Bos percaya sama saya kan? Meskipun saya bodyguard sengklek begini, saya nggak akan membiarkan seujung kuku pun dari Mbak Bos terluka."

​.. Genta memungut jaket kulitnya yang

sobek-sobek, lalu ia menyerahkan helm tua milik Cak Gentho kepada Clarissa. "Kita pakai motor bebek bututnya Cak Gentho. Musuh nggak akan nyangka CEO Wijaya Group kabur naik motor yang suaranya mirip mesin selep padi!"

​.. "Apa?! Naik motor itu?!" Clarissa menunjuk motor Astrea butut yang parkir di samping warung. "Genta... motor itu saja sudah batuk-batuk, mana mungkin bisa lari dari kejaran mobil mereka!"

​.. "Halah, jangan meremehkan 'Besi Tua' ini, Mbak Bos! Motor ini punya jimat dari Gunung Lawu!" canda Genta sambil menyalakan mesin motor dengan sekali engkol. Breng... breng... teteretttt! Knalpotnya mengeluarkan asap putih yang pekat.

​.. Baru saja Genta hendak menarik gas, sebuah lampu sorot mobil yang sangat terang menyambar dari kejauhan. Suara ban mobil yang mengerem mendadak terdengar sangat keras di depan gang.

​.. Dari balik kaca mobil SUV yang gelap, Genta melihat sesosok pria yang sangat ia kenal sedang memegang ponsel, menatap dingin ke arah warkop. Pria itu adalah asisten pribadi kepercayaan ayah Clarissa sendiri!

​.. "Pak Baskoro?!" pekik Clarissa yang juga melihat sosok itu dari kejauhan. "Tidak mungkin... dia sudah bekerja untuk ayahku selama sepuluh tahun!"

​.. Genta mendengus dingin, mripat emasé mulai menyala samar di balik kegelapan malam. "Sepuluh tahun bukan jaminan kesetiaan, Mbak Bos. Satu miliar rupiah jauh lebih menggoda daripada sekadar gaji bulanan."

​.. "Pegangan yang kuat, Mbak Bos! Kita akan melakukan atraksi sirkus malam ini!" teriak Genta sambil menghentakkan giginya. Ia memutar gas sedalam mungkin, membuat motor butut itu melesat membelah kegelapan, tepat saat segerombolan orang bersenjata mulai keluar dari mobil SUV tersebut.

​.. Kejar-kejaran maut kembali dimulai, namun kali ini taruhannya bukan lagi sekadar nyawa, melainkan terbongkarnya konspirasi besar yang bisa menghancurkan seluruh kekaisaran bisnis Wijaya.

​.. BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!