Kini berbagai pertanyaan muncul ketika Raelynn terbaring di atas meja operasi. Mempertaruhkan nyawa, berjuang untuk bisa melahirkan bayinya dengan selamat … sendirian. Ya, dengan tubuhnya yang kurus, Raelynn menandatangani surat pernyataan untuk dilakukan operasi untuk dirinya sendiri.
Apakah semua kemalangan ini bermula ketika dia menerima pernikahan di atas kerta yang pria berikan? Ataukah semua ini berawal saat dia mengetahui tentang kehamilannya sekaligus penyakit mematikan yang tidak dia sadari sebelumnya? Atau semenjak malam itu … di saat keluarganya sendiri menyiksa dan menjadikannya pelayan dan bahkan menjualnya demi kepentingan bisnis mereka?
Raelynn rasa, tidak! Bahkan sebelum semua itu terjadi kemalangan mulai menjadi hari-harinya sejak saat itu. Ya … Raelynn ingat sekarang. Semenjak hari itu, dimana dia menolak perjodohan yang di atur oleh keluarga demi untuk mengejar cinta pertamanya.
Mampukah Raelynn bertahan dengan semua kemalangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Dijebak Keluarga Sendiri
Di Bandara Internasional Malpensa di Milan—Italia. Seorang Pria tampan mengenakan setelan jas mewahnya tengah bersiap untuk menaiki pesawat pribadinya. Di sampingnya sang asisten pribadi dengan setia menemani kemana pun kepergiannya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Logan Asher Dominic beserta Asisten setia, Gavino Hudson.
Ilustrasi tokoh!
Gimana? Beneran pria tampan nan menawan, bukan?
Ya, setelah mabuk berat karena patah hati ditinggal menikah oleh wanita yang dicintainya sejak kecil. Keesokan paginya Logan langsung kembali ke Italia untuk membereskan masalah di kantor pusat perusahaan miliknya. Dia bahkan tidak memiliki banyak waktu untuk bersedih dan patah hati karena pekerjaannya yang begitu sibuk.
“Kalau tahu begini kemarin kita langsung berangkat saja!” gerutu Logan, sebab dia sudah merencanakan kunjungan ke kantor cabang barunya yang berada di Kota H.
“Maafkan aku, Boss! Seharusnya saya mengecek jadwal anda lebih awal. Maafkan, atas kelalaian yang aku lakukan ini,” ucap Gavin sembari membungkukkan tubuhnya dihadapan Logan sebagai bentuk pengakuan salahnya.
“Sudah ‘lah! Mungkin ini salahku juga yang memberimu banyak pekerjaan belakangan ini.” Logan memakluminya untuk kali ini.
“Tumben sekali anda sadar diri, Boss?” celetuk Gavin tanpa sadar, sontak saja membuat Logan langsung melotot ke arahnya.
“Maafkan aku, Boss! Keceplosan tadi.” Gavin pun segera tersadar akan kesalahannya dan segera meminta maaf.
“Aish … Kau ini benar-benar!” geram Logan yang ingin sekali memarahi asistennya itu, tapi percuma memang seperti itulah kelakuan asisten pribadinya yang laknat.
“Kapan kita akan berangkat?” tanya Logan mengalihkan topik pembicaraan, daripada dia benar-benar menelan asisten pribadinya yang laknat itu hidup-hidup.
“Seharusnya dalam 20 menit lagi kita akan berangkat, Boss.” Gavin menjawab dengan cepat, sebab dia tak ingin memancing emosi tuannya lagi.
“Hmm … Kalau begitu aku akan masuk ke dalam pesawat sekarang.” Logan langsung saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam pesawat pribadi miliknya itu.
“Baiklah, Boss! Aku akan memberitahu Kapten Jordan untuk mempercepat jadwal penerbangannya.” Gavin dengan setia mengikuti Tuannya.
“Hmm!”
Hanya dehaman yang terdengar dari Logan sebagai jawaban. Sementara Logan langsung menempati tempat duduk favoritnya, Gavin langsung beralih menuju pilot berada. Dimana Kapten Jordan sedang memeriksa ulang setiap mesin pesawat sembari menunggu para kru pesawat yang lainnya bersiap. Seperti yang Logan inginkan, Gavin meminta pada Kapten Jordan untuk mempercepat jadwal penerbangan mereka jika memungkinkan.
...****************...
Beralih pada Risha dan kedua orang tuanya, dimana mereka sudah mempersiapkan dengan sangat matang rencana yang sudah mereka susun sebelumnya. Kini hanya tersisa tugas untuk membawa Raelynn ke Hotel LC sesuai yang telah disepakati. Rencana yang begitu sempurna untuk mencegah mereka berakhir menjadi orang miskin, meskipun harus mengorbankan Raelynn pada pria hidung belang seperti Tuan Jhon.
Kini Raelynn bahkan sudah didandani dengan sangat cantik. Dimana dia mengenakan gaun malam berwarna putih yang senada dengan riasan wajahnya yang tidak berlebihan, terkesan natural tapi membawa penampilan yang sangat mempesona.
Rambut panjangnya di curly, lalu dibiarkan terurai dengan indahnya. Wajahnya terlihat sangat cantik bagaikan malaikat yang meneduhkan siapapun yang memandangnya, bibir ranumnya seperti bunga sakura yang tengah bermekaran di musim semi.
“Risha, Mamah! Sebenarnya kita mau kemana? Sampai aku harus berdandan seperti ini?”
Sungguh Raelynn dibuat penasaran dengan sikap baik ibu dan adiknya. Karena jujur saja, Raelynn selalu menanti masa ini. Dimana dia kembali diperlakukan dengan baik oleh keluarganya seperti dulu, lebih tepatnya sebelum dia melakukan kesalahan yang berakhir sia-sia.
“Kita harus menemui seorang klien yang akan memberikan investasi pada perusahaan kita dan kau perlu ikut hadir agar pertemuan itu bisa berjalan dengan lancar. Kau mau ‘kan keluarga kita bisa bangkit seperti dulu lagi dan Papah kembali menyayangimu?” Sang Ibu menjelaskan dengan sangat baik, sehingga wanita malang itu bisa mempercayai ucapannya dengan mudah.
“Iya, aku juga ikut bersama Kakak. Papah dan Mamah juga akan berada disana, jadi Kakak tak perlu mengkhawatirkan apapun.”
Risha menambahkan agar semakin terdengar menyakinkan dan membuat Raelynn tidak curiga dengan rencana mereka yang sebenarnya.
Namun, Raelynn tetap saja merasa ada yang salah dengan sikap mereka. Apalagi, tadi pagi mereka sama sekali terkesan tidak peduli dengan luka yang dialaminya. Namun, sekarang dan secara tiba-tiba mereka berbuat baik seperti dulu.
Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang keluarganya sendiri sedang rencanakan dibelakangnya. Akan tetapi, Raelynn mencoba menepis pikirannya itu mengingat bagaimana pun mereka adalah keluarga kandungnya sendiri, kedua orang tua yang membesarkan dan merawatnya sampai detik ini dan Adik yang selalu dia sayangi.
“Mungkin hanya perasaanku saja ‘kan?” Dalam hatinya Raelynn mencoba menyakinkan, meski keraguan itu semakin besar dia rasakan.
“Sudah! Ayo, kita pergi sekarang. Nanti malah terlambat!” Emma segera menyudahi pembicaraan itu, karena Tuan Jhon pasti sudah menunggu mereka.
“Ayo, Kak! Kenapa kakak malah diam saja?” imbuh Risha ketika melihat Raelynn masih berdiam diri di tempatnya.
“Lalu dimana Papah sekarang?” tanya Raelynn dengan ragu.
“Tentu saja Papahmu sudah berada di sana lebih dulu untuk memastikan tempat pertemuannya nyaman atau tidak. Jadi kita juga harus segera bergegas pergi sekarang.” Emma menjawabnya dengan raut wajah sedikit ketus, tapi segera tergantikan dengan senyuman palsunya.
“Baiklah, Ayo pergi!”
Begitu menyadari perubahan raut wajah ibunya, Raelynn pun segera masuk kedalam mobil di ikuti Risha dan ibunya. Ya, Raelynn tidak ingin sang ibu semakin membencinya, karena keraguan yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Mungkin … kata itu kembali terngiang dan berputar di kepala Raelynn di sepanjang perjalanan.
...****************...
Sesampainya di hotel LC, Raelynn langsung dibawa ke sebuah Restaurant yang berada di dalamnya. Emma segera menyuruh kedua putrinya untuk duduk di sebuah meja yang sudah ada makanan yang tertata rapi dengan berbagai hidangan mewah. Dan tidak lupa segelas wine yang sudah tertuang di gelasnya.
Entah mengapa firasat buruk Raelynn semakin terasa begitu dia duduk di sana. Raelynn sejenak menatap ke sekeliling ruangan tersebut, mencari sosok ayahnya di sana. Bukan tanpa alasan dia mencari keberadaan sang ayah, sebab dia benar-benar merasa sangat gugup karena mengira sang ayah mungkin akan marah begitu melihat dirinya di sana.
“Ada apa, Raelynn?” tanya Emma ketika melihat wajah Raelynn yang terlihat mulai gelisah.
“Emm … Papah ada dimana, Mah?” Dengan perasaan ragu Raelynn pun menanyakan keberadaan ayahnya.
“Papah pasti sedang menjemput kliennya sekarang. Bukankah begitu, Mah?” Bukan sang ibu yang menjawab, melainkan Risha yang jelas membantu ibunya memberikan jawaban yang tepat.
“Iya, benar apa yang dikatakan adikmu! Papah kalian mungkin sedang menjemput klien yang akan kita temui hari ini.” Emma dengan cepat membenarkan perkataan Risha. Sementara, Raelynn hanya mengangguk pertanda dia sudah mengerti atas jawaban ibunya.
“Ada apa, Kak? Sepertinya Kakak sedang merasa sangat gugup, lebih baik kakak minum saja dulu agar merasa lebih tenang,” ujar Risha yang bersikap seolah sedang peduli pada Raelynn. Padahal dia sebenarnya sedang memasang umpan untuk di makan oleh Raelynn.
Bersambung ….
Lagian Gavin ngga bilang sih, siapa anak Edwin Cameron yang dimaksud...
Masa Suho ngga tahu sih, kalo Edwin punya 2 anak perempuan 🤔
next kk