NovelToon NovelToon
Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Persahabatan / Slice of Life
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: MR. IRA

Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.

Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.

Namun Ivan tak menyerah.

Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.

Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...

Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Sebelum Impianku

Langkahku semakin cepat, karena hari ini aku akan latihan dengan Michel, Azzam, Andika dan Elena "Elena... Apa dia suka sama aku?!" batinku sambil terus berjalan.

Sesampainya di rumah. Aku meletakkan sepatuku, lalu masuk "Ibu, aku pulang!!" seruku sebelum masuk.

"Iya," sahut ibu.

Aku berjalan ke kamarku untuk mengganti baju. Setelah selesai, aku mengambil bola dan menyelinap keluar agar tidak diketahui ibu "Saatnya latihan," gumamku.

Aku keluar pelan mencoba tidak membuat suara saat berjalan, aku berhasil sampai di depan pintu tapi.

"Ivan, mau kemana?!" tanya ibu dari dapur yang mendengar suara langkahku.

Aku dengan cepat melemparkan bola ke luar rumah lalu menjawab pertanyaan ibu "A-aku mau main ke rumah Azzam, bu!!" seruku yang berbohong.

"Yaudah, hati-hati ya!!" ujar ibu dari dapur.

"Iya," sahutku.

Aku lalu bergegas keluar dan mengambil bola yang kulempar tadi "Aman!!" gumamku.

Setelah mengambil bola. Aku berjalan ke lapangan dengan lebih cepat.

Matahari sudah mulai meredup karena sekarang sudah sore hari. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai disana. Disana terlihat ada Azzam, Andika, Michel, dan Elena yang sudah menunggu.

"Van, cepat!!" teriak Azzam.

"Ayo kita latihan!!" seru Andika.

"Ivan, kamu kok lama?!" tanya Elena.

Aku tidak menanggapi pertanyaan dari Elena. Aku lalu melempar bola ke arah mereka dengan kencang, lalu berlari sekuat tenaga.

"Siap?!" teriakku.

"Pasti!!" jawab Michel.

Andika langsung ke gawang. Sementara itu Michel sebagai bek, dia mencoba merebut bola yang sedang aku kuasai.

"Nih, Van!!" teriak Michel.

Michel mencoba menekelku, tapi aku dengan lihai langsung melompat saat kaki Michel mendekat ke arahku.

"Van... Umpan!!" teriak Azzam yang berlari ke depan.

Begitu mendarat, aku langsung melepaskan umpan ke Azzam. Bola itu melesat cepat di rumput dan berhasil di pegang Azzam.

"Nice!!" teriak Azzam.

Begitu mendapatkan bola. Azzam berlari ke arah gawang, sementara aku ikut berlari sekuat tenaga.

Andika dalam posisi siaga, siap menghadang bola yang datang.

"Nggak bakal masuk!!" teriak Andika.

Azzam terus berlari ke depan, aku mengikutinya dari belakang.

"Van, maju!!" teriak Azzam.

Setelah mendengar itu, aku langsung berlari lebih cepat. Posisiku sudah sejajar dengan Azzam, lalu Azzam mengumpan ke arahku.

"Nih," ujar Azzam.

Aku menerima bola yang diumpan Azzam, kemudian aku berlari lebih cepat. Aku berhadapan satu lawan satu dengan Andika di depan gawang, aku mendekat ke gawang tapi Andika juga berlari ke arahku untuk menghalau bola.

"Nggak bakal lolos!!" seru Andika.

Aku melihat lurus ke tubuh Andika yang sedang mendekat ke arahku. Dia semakin dekat, tapi aku tetap tenang dan melihat titik kosong untuk mencetak gol "Tenang... Itu dia!!" batinku.

Andika mendekat. Aku menendang bola ke kanan tapi Andika juga menjatuhkan badannya ke kanan, bola mengenai tubuhnya lalu terpental ke belakang.

"Yahh," batinku.

"Gimana, Van?!" tanya Andika sambil berdiri perlahan.

Bola terpental ke tengah lapangan, Azzam melihat bola lalu mengejarnya. Dia berhasil mendapatkan bola, dia mengayunkan kakinya dengan cepat, bola melesat ke arahku dari atas.

"Van!!" teriak Azzam.

Aku melihat bola yang datang ke arahku dengan cepat dari atas. Dengan sigap aku melompat ke atas, kepalaku lalu menyundul bola dengan keras. Sementara Andika yang belum kembali ke posisinya, dia tidak bisa menghalau bola untuk masuk dan bersarang di gawangnya.

Aku mendarat ke tanah, dan melihat bola melesat ke gawang dengan indah. Andika hanya bisa pasrah karena dia sudah di pastikan tidak akan bisa menghalau bola untuk masuk.

"Pasti gol!!" seruku.

Bola berhasil masuk ke gawang, membuat jaring gawang bergerak.

"Yes!!" ujarku yang senang.

Kemudian Andika mengambil bola yang sudah masuk ke gawangnya, dia lalu menendang bola ke tengah lapangan.

"Mulai lagi!!" teriak Andika.

Bola ditendang lagi ke lapangan, artinya latihan akan dimulai lagi.

Kami berlatih sampai sore menjelang malam hari "Oi... Udahan yuk!!" ajakku.

"Iya," sahut Azzam.

Kami lalu menepi ke pinggir lapangan untuk duduk dan beristirahat sejenak.

"Capek?!" tanya Elena.

"Pasti!!" sahut Michel.

"Apaan sih, aku kan tanyanya ke Ivan bukan ke kamu!!" seru Elena ketus.

"Iya, capek!!" jawabku.

"Oh, oke. Aku pulang dulu ya!!" seru Elena sebelum pulang.

"Iya," sahut Andika.

"Aku juga pulang dulu ya!!" ujarku sebelum pulang.

"Iya," sahut Michel.

Aku berjalan pulang di bawah langit yang berwarna jingga. Aku terus berjalan sambil membawa bolaku, tapi aku juga bingung jika ibu bertanya kepadaku "Kalau ibu bertanya, gimana ya?!" gumamku.

Setelah beberapa menit berjalan di bawah langit yang indah di sore hari, akhirnya aku sampai di rumah. Tapi aku khawatir jika ibu bertanya kepadaku.

Aku berhenti sejenak di depan pintu untuk melepaskan sepatuku. Aku masuk dengan cara mengendap-endap, agar ibu tidak tahu jika aku latihan di lapangan.

"Apa aman?!" batinku sambil terus berjalan menuju kamar.

Aku berhasil mencapai kamar, tapi tiba-tiba terdengar suara ibu dari kamar mandi.

"Ivan... Udah pulang?!" tanya ibu dari kamar mandi.

Tubuhku membeku sejenak saat mendengar suara ibu, tapi aku bergegas menjawab agar ibu tidak curiga "I-iya, bu!!" jawabku.

"Setelah ibu mandi, kamu mandi ya!!" seru ibu dari kamar mandi.

"Iya," jawabku.

Aku lalu masuk ke kamar untuk menyembunyikan bolaku. Kali ini aku bisa berlatih dari siang sampai ke malam hari.

"Ivan, cepet mandi!!" seru ibu yang baru keluar dari kamar mandi.

"Iya," sahutku dari dalam kamar.

Aku berdiri lalu berjalan ke kamar mandi, langkahku kini menjadi ringan karena sudah tidak ada beban yang kusembunyikan di hari ini.

Aku lalu mandi. Setelah mandi, aku kemudian menuju ke dapur untuk makan malam.

Tanganku menarik salah satu kursi untuk kududuki. Aku lalu membuka tudung saji yang menutupi makannya, di sana terlihat hanya ada tempe dan sayur kangkung.

"Makan dulu," suruh ibu.

"Iya," sahutku.

Aku lalu makan sambil berpikir untuk esok hari "Besok pasti latihan, dan besok adalah latihan terakhir untuk turnamen!!" batinku.

"Setelah makan kamu segera belajar ya!!" seru ibu sambil mencuci piring.

"Iya," sahutku.

Setelah selesai makan, aku kemudian kembali ke kamar untuk belajar "Belajar... Besok latihan terakhir, lalu!!" gumamku pelan sambil berjalan ke kamar.

Aku lalu belajar di dalam kamar. Aku semangat belajar sampai larut malam "Udah larut, tidur dulu aja!!" ujarku.

Aku lalu tidur.

Ivan tertidur pulas di malam hari ini. Lalu keesokan harinya.

Sinar matahari sudah menyinari dunia, tapi sinarnya belum ingin masuk ke kamar Ivan.

"Ivan... Bangun!!" panggil ibu dari dapur.

Aku bangun dengan rasa sakit di kakiku, tapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dengan perjuanganku untuk menjadi pemain sepak bola profesional "Iya," sahutku.

"Cepat makan!!" panggil ibu.

"Iya," sahutku.

Aku mulai beranjak dari kasurku, aku berjalan menuju dapur untuk sarapan sebelum berangkat sekolah.

Sesampainya di dapur, aku lalu duduk.

"Ini," seru ibu sambil menyodorkan sepiring nasi.

Aku mengambil sepiring nasi itu, kemudian aku mengambil lauk yang sudah disediakan.

Aku lalu makan. Setelah beberapa menit makan, akhirnya selesai.

"Ibu, aku berangkat dulu!!" ujarku sebelum pergi ke depan.

"Iya," jawab ibu.

Aku lalu berjalan ke depan rumah, kemudian aku memakai sepatuku lalu mulai berjalan ke sekolah.

"Hari baru, semangat baru!!" batinku sambil berjalan.

Ivan lalu berjalan ke sekolah. Bagaimana dia di sekolah, dan bagaimana juga dengan turnamen yang dia ikuti?

Bersambung...

1
Khunaiv Mumtaz
Kasian Ivan, sampai pingsan. Pak Slamet tegas banget
IRAWAN
Sabtu
Protocetus
kapan min kejuaraannya?
aurel
hai Thor aku sudah mampir, yuk mampir juga di karya aku " istriku adalah kakak ipar ku"
Protocetus
min up spesial Agustus 😁
IRAWAN: Ehm... Iya, tamat chapter 1 di bab 20 nanti. Chapter 2 menunggu
total 5 replies
IRAWAN
Maaf bang, masih sibuk ngurusin proker
Protocetus
min up
Khunaiv Mumtaz
Ehem... Ternyata Ivan lahir di keluaga pesepak bola/Shy/
Khunaiv Mumtaz
Makin kesini, ceritanya makin bagus. Semangat Thor/Determined//Determined/
Protocetus
up lagi bang
IRAWAN: Sabar kak, bisanya perhari satu bab. Kalau lagi ada kegiatan mungkin dua-tiga hari baru up, Maaf ya kak/Pray/
total 1 replies
IRAWAN
/Smile//Sleep/
Crimson
Min walau aku gak terlalu suka bola tapi aku support hehe
IRAWAN: makasih dukungannya kak, tapi ini bukan cuma tentang bola
total 1 replies
Protocetus
Anda terlalu percaya diri 😂
IRAWAN: Ehem... Bisa aja kak, siapa tau Elena sama Nadia suka Ivan/Smile/
total 1 replies
Protocetus
No System2, Only Hard Work 🔥
Protocetus: Of Course Work Hard 👍
total 2 replies
Protocetus
udah ikutin aja karir 🔥
Protocetus
Aku kira idolanya Gareth Bale 😂
IRAWAN: Juara tiga, ya sama aja nggak juara. Soalnya nggak dapet piala, cuman dapet medali
total 5 replies
IRAWAN
Masih enjoy?
Jinki
bagus kak .. smgt .. mampir ya
IRAWAN: Siap kak
total 1 replies
iqbal nasution
oke
Protocetus
ini gak ada sistem kan?
Protocetus: sip 🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!