NovelToon NovelToon
Suara Hati Aluna

Suara Hati Aluna

Status: tamat
Genre:Pembaca Pikiran / Si Mujur / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:230.8k
Nilai: 5
Nama Author: samudra lee

Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.

Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.

"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.


Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?



Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Chika tiba-tiba menangis tersedu-sedu.

"Kak Andi, maafkan aku. Aku... aku menjebak Kak Luna karena takut kalian semua tidak akan menyanyangiku lagi. Maafkan aku, Kak."

Suara tangis Chika semakin kencang. Gadis itu memeluk lengan kakak pertamanya.

"Iya-iya. Kakak paham. Jangan menangis ya," ucap Andi berusaha menenangkan Chika. Ia mengusap lembut rambut Chika.

"Sudah, kan? Sekarang aku mau istirahat di kamar," pamit Aluna.

Dia sudah terlalu malas melihat drama kasih sayang adik kakak di keluarga ini. Entah karena muak atau... iri.

Aluna kembali menghela napas. Dia menatap nanar Andi yang sedang berusaha membuat Chika tenang.

"Apa di kehidupan ini, aku juga tidak akan merasakan bagaimana rasanya disayangi keluarga sendiri?" batin Aluna.

Armand yang sedang berdiri tidak jauh darinya dan Andi yang sedang sibuk menenangkan Chika tiba-tiba melihat ke arah Aluna. Andi bahkan sampai menghentikan aktivitasnya. Tangannya yang tadi begitu ringan mengusp rambut Chika, tiba-tiba terasa berat.

Aluna memejamkan matanya kemudian menggeleng cepet.

"Sudahlah. Lagian tujuanku tetap berada disini hanya untuk bisa merubah nasib seluruh keluargaku. Jika semua sudah selesai, mungkin aku akan pergi menjauh dari mereka semua," batin Aluna.

Sejak sadar dirinya terlahir kembali, Aluna bertekad untuk merubah nasib buruk seluruh keluarganya. Tak peduli jika nantinya sikap seluruh keluarganya tetap sama seperti di kehidupan sebelumnya.

"Aku mau istirahat di kamar. Permisi," pamit Aluna.

Gadis itu mulai menaiki anak tangga satu per satu menuju ke lantai dua.

"Nanti malam ikut kami ke perjamuan!" seru Andi.

Aluna menghentikan langkahnya. Memutar tubuh lalu menatap kakak pertamanya.

"Bukankah perjamuan itu acara perusahaan?" tanya Aluna.

"Benar. Selain itu juga acara untuk presentasi dengan calon investor baru," jawab Andi masih dengan tatapan dingin. "Kamu putri keluarga Anggara, kamu juga harus mulai belajar mengelola perusahaan," tambahnya.

Aluna mengangguk. "Oke."

"Aku harap kamu punya rencana lain di proyek barumu, Kak," batin Aluna lagi.

Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua.

"Bagas adalah sahabatku. Tidak mungkin dia akan menipuku,, Aluna pasti salah paham," batin Andi.

"Kak?"

"Aku tahu apa yang harus aku lakukan," jawab Andi. Dia tentu paham hal yang dikhawatirkan oleh adik laki-lakinya itu.

"Tapi, Kak, soal Luna, kamu serius mau mengajaknya?" tanya Armand.

Dia tidak menyangka kalau kakak pertamanya itu akan mengajak Aluna juga.

"Hanya agar kamu dan yang lainnya yakin bahwa hal-hal yang terjadi sebelumnya hanya sebuah kebetulan. Tidak akan terjadi apa pun nanti malam," jawab Andi.

Armand hanya menghela napas panjang. Ia pun berharap demikian.

"Kak Andi, Kak Armand, kalian sedang membicarakan soal apa?" tanya Chika.

Ia menatap dua kakak angkatnya itu dengan tatapan penasaran.

Andi tersenyum.

"Tidak ada," jawabnya. "Kamu juga kembalilah ke kamar. Nanti malam kamu juga ikut bersama kami," seru Andi.

"Apa ini berarti Kak Andi tetap percaya padaku? Tapi, kenapa dia juga mengajak Luna?"

Chika membatin. Tapi, setelahnya ia tidak begitu peduli.

***

Andi, Armand, Aluna, dan Chika sudah berada di tempat perjamuan. Selain perwakilan dari Perusahaan Anggara Grup ada beberapa perwakilan dari perusahaan lain, termasuk Domitri Grup–rival dari Anggara Grup.

"Kak, kenapa Bagas belum datang?" tanya Armand setengah berbisik.

Dia sungguh khawatir kalau semua yang didengarnya dari suara hati Aluna itu menjadi kenyataan. Apalagi Armand tahu kalau Andi sudah mempertaruhkan semua kekayaan keluarga Anggara pada proyek ini.

"Dia pasti datang sebentar lagi," jawab Andi.

Aluna menghela napas. Dia bosan berada di acara resmi seperti ini.

"Bagas tidak akan datang! Sebentar lagi dia akan menelponmu kalau dirinya mengalami kecelakaan dan tidak bisa kesini. Padahal dia sedang bersenang-senang di klub menikmati uang pemberian dari Doni," ucap Aluna.

Andi memeloti Aluna.

"Kenapa sih dia? Hobi banget melotot. Padahal bukannya terlihat nyeremin, malah terlihat aneh kayak ikan koki, apalagi hidungnya selalu megap-megap saat emosi," cibir Aluna dalam hati.

Armand yang mendenger hal tersebut mengatupkan bibir guna menahan tawa.

"Mand!" tegur Andi.

Armand mengangkat kedua tangannya sebagai tanda kalau dia menyerah dan tidak akan tertawa lagi.

"Kak, kenapa asisten Kakak belum datang? Padahal giliran Kakak untuk presentasi segera tiba?" tanya Chika.

Gadis itu ingin terlihat peduli.

"Ck, ck, ck, pintar juga dia ikut berakting. Padahal dia sendiri ikut andil membocorkan kata sandi brankas di kantor Kak Andi dan membuat Bagas berhasil mendapatkan file rencana proyek itu. Bahkan tas limited edition sudah dia terima dari Bagas semalam," batin Aluna lagi.

Dia bersedekap sambil menatap Chika.

"Luna, kamu jangan–"

Andi tidak jadi melanjutkan kalimatnya saat ponsel miliknya berdering.

"Bagas, kamu dimana? Sebentar lagi giliran perusahaan kita?" tanya Andi begitu tertera nama Bagas di layar ponselnya.

"Maaf, Pak Andi. Saya baru saja mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju ke tempat perjamuan. Saat ini saya sedang di rumah sakit untuk menjalani perawatan. Maafkan saya, Pak."

Armand menatap Andi seolah berkata 'lihat! Aluna benar lagi!'

"Kalau begitu kamu kirim saja file itu ke email!" suruh Andi. Dia masih berusaha menyangkal bahwa hal yang ia dengar dari suara hati Aluna itu benar adanya.

"Maaf, Pak, laptop saya rusak parah dan harus di perbaiki. Dan itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Saya benar-benar menyesal atas kejadian ini, Pak," jawab Andi. "Maaf, Pak, saya tutup teleponnya dulu, saya harus ke ruang operasi sekarang. Kaki saya perlu dioperasi karena patah."

Bagas menutup panggilannya.

"Kak, bagaimana ini?" tanya Armand.

"Kamu jangan khawatir, meski tanpa file aku bisa menjelaskannya dengan rinci karena proyek itu adalah hasil kerja kerasku sendiri. Aku sudah menghafal semuanya di luar kepala," jawab Andi yang masih terlihat tenang.

Namun, ketenangan itu menguap saat mendengar presentasi dari perusahan Domitri Grup dan file yang nampak di layar.

"Sial! Kita tidak bisa menggunakan rencana proyek itu lagi karena mereka sudah memaparkanya terlebih dulu," umpat Andi.

"Permisi!"

Andi menginterupsi Doni yang sedang memaparkan rencana proyeknya di atas panggung. Semua orang yang hadir menatap ke arah Andi.

"Rencana itu·–"

Andi menggantung kalimatnya saat mendengar suara hati Aluna.

"Bodoh! Jika kamu mengatakan kalau proyek yang mereka paparkan adalah proyekmu, mereka malah akan menggunakan ini untuk mengirimu ke penjara dengan alasan tuduhan palsu. Apalagi kamu tidak memiliki bukti."

Armand melihat ke arah Andi dan menggeleng.

"Ada apa Tuan Andi?" tanya Doni wajah meremehkan.

"Tidak ada," jawab Andi.

Doni kembali menjelaskan rencana proyeknya di atas panggung.

"Kak, bukankah sudah aku bilang untuk membuat rencana lain. Kenapa Kakak tidak melakukannya?" protes Armand.

"Kamu kira membuat proyek baru bisa dalam waktu 3-4 jam doang?" jawab Andi dengan nada kesal.

"Bukan begitu maksudku, Kak. Maksudku, kenapa Kakak tidak membuat rencana pencegahan agar file itu tetap berada di tangan Kakak?"

Andi mendengkus. Tentu dia sudah melakukannya. Hanya saja, Bagas sudah membawanya sejak kemarin. Bahkan saat tadi ia meminta file itu, dia memiliki banyak alasan untuk menghindar.

"Kak, aku keluar sebentar ya," pamit Chika.

Gadis itu bergegas beranjak dari sana bahkan sebelum Andi mengatakan apa pun.

"Ck, ck, buru-buru sekali dia pergi. Pasti karena takut ikutan malu saat Kak Andi tidak bisa mempresentasikan proyeknya," cibir Aluna.

Armand menatap ke arah Andi dan menyuruh kakaknya untuk meminta bantuan dari Aluna.

"Kak, ayo!" suruh Armand dengan suara lirih. Dia menyenggol bahu sang kakak agar segera berbicara.

"Ehem."

Andi berdeham.

"Ada apa?" tanya Aluna dengan suara ketus.

"Apa kamu memiliki rencana agar perusahaan kita tidak malu?" tanya Andi.

"Kenapa bertanya padaku?"

"Luna, kamu kan juga anggota Keluarga Anggara, memang kamu tega melihat perusahaan kita dipermalukan?" tanya Armand dengan nada lebih lembut.

"Kalau bukan karena ingin merubah takdirku, aku tidak akan mau membantu kalian, terutama Kak Andi. Sudah jelek, suka marah-marah lagi." Aluna membatin.

Andi mendelik mendengar umpatan Aluna tentang dirinya.

"Kak Andi bisa mengetik cepat?" tanya Aluna.

Andi ingin memarahi adik perempuannya itu. Namun, urusan perusahaan jauh lebih penting. Jadi, ia menunda hal tersebut.

"Aku bisa mengetik 100 lembar dalam waktu kurang dari satu jam," jawab Andi menyombongkan diri.

"Kalau begitu bagus. Aku akan memaparkan rencana proyek kita secara lisan, Kak Andi yang membuat kalimatnya sekaligus mengetik dan Kak Armand, kamu bagian menggambar grafik atau tabel jika diperlukan. Kalian bisa, kan?" tanya Aluna.

Gadis itu manatap dua kakak lelakinya. Kedua kakak lelaki Aluna itu mengangguk mantap.

"Kalau begitu kita cari tempat untuk melakukannya sebelum mereka selesai presentasi!" ujar Aluna.

Aluna dan kedua kakaknya langsung menyewa sebuah kamar untuk mengerjakan pekerjaan mereka karena hanya kamarlah tempat yang aman dan terbebas dari gangguan.

***

Pemaparan dari perwakilan.Domitri Grup sudah selesai. Kini giliran perusahaan Anggara Grup. Sang pembawa acara sudah mempersilakan perwakilan dari Anggara grup untuk maju ke atas panggung guna memaparkan rencana proyek mereka.

"Anggara Grup," panggil Sang Pembawa Acara.

"Mereka mungkin sudah pulang karena tidak memiliki rencana," cibir Doni.

Pria itu sudah sangat yakin kalau proyek kali ini akan jatuh ke perusahaannya. Semua yang hadir ikut menertawakan.

"Baiklah, kalau dalam hitungan ketiga tidak ada perwakilan dari Anggara Grup yang maju untuk mempresentasikan proyek ini, maka kami akan menganggap kalau Anggara Grup mengundurkan diri dari tender ini," ujar Sang Pemandu Acara.

"Satu... Dua... Ti–"

"Tunggu!"

Semua orang menatap ke arah sumber suara.

1
Sulati Cus
👍🏻
Siti Solikah
wah Luna disekap semoga bisa ketemu
Siti Solikah
bagus
Siti Solikah
bagus banget
Siti Solikah
bagus
Siti Solikah
bagus banget
Siti Solikah
bagus
Siti Solikah
mampus kau
Siti Solikah
wah gimana ini
Siti Solikah
bagus
Siti Solikah
ayo kamu bisa lun
Siti Solikah
apa yang terjadi
Siti Solikah
mampir baca thor
Siti Solikah
bagus
bakpao
baguss, tapi si klara atau kiara gitu ga ada lanjutannya
naura✨
👍👍👍👍
Indy Metta
armand to Andi sih???🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Indy Metta: la kan pulang dari RSkan sama armand bukan Andi,Andi saja masih di RS Lo.
dan yang loncat loncat sapa juga,baca kok loncat loncat... santai kagak jatuh iya 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🫪🫪🫪
total 2 replies
Asrina
kacang😱bukan tdi waktu Andi baru balik rumah dia makan kacang keee
Chella
sejauh ini ceritanya bagus, tapi sayang hukuman bagi para penjahat di cerita ini masih kurang
Nia Risma
ya kalo udh punya perusahaan sendiri ngapain juga masih mau di masukin ke perusahaan yg adiknya pegang,,
ini si nenek" rada" oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!