Dayuh sigadis Indigo atau supranatural, dia memiliki kelebihan itu semenjak umur batita, Yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Terutama Ibu Dayuh yang memiliki kelebihan yang cukup istimewa itu dari keturunan sebelumnya. Jika Ibunya memiliki anak atau keturunan, dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur anak tersebut maka kelebihan Ibunya akan berkurang. Maka tugas selanjutnya adalah anaknya yang melanjutkan. Jika tidak memiliki penerusnya maka kelebihan tersebut akan terus dimilikinya dan berkembang.
.
Ibu ingin menceritakan pengalaman yang Ibunya alami selama ini. Mungkin nanti Ibunya akan menceritakan secara pelan-pelan.
Akan kah Dayuh menerima semua kelebihan nya atau sebaliknya melepaskannya?
Yuk simak cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
" Nanti malam kami akan melakukan nya lagi Bu. Ya kan kak." Ajak Dayuh sambil tersenyum.
Sitara pun menjawab denga santai dengan penuh kasihan jika teringat." Iya bu, kasihan dia bu. Nama dia siapa Dek.?"
" Namanya Kamala Putri Bu." Sahut Dayuh dengan nada semangat.
" Hem... Kamala Putri cantik namanya." Sahut Ibu Dayuh lalu memuji namanya.
Dayuh pun menceritakan separuh dari mimpi mereka." Namanya cantik orang pun cantik Bu, Kayak Bule gitu bu. Tapi sayang orang tuanya jahat Bu."
Disaat mereka bercerita tak lama kemudian datang lah kedua orang tua Sitara ikut bergabung untuk diteras depan rumah mereka. Sitara dan Dayuh pun melanjutkan cerita mereka secara bergantian.
Kurang lebih setengah jam mereka menunggu nasi goreng yang dipesan oleh Ibu Dayuh akhirnya selesai juga.
Paklek pun menyodorkan nasi goreng saty persatu." Ini nasi gorengnya sudah siap."
" Ya pak, terima kasih. Berapa semuanya?" Sahut Ibu Dayuh lalu bertanya.
" Delapan puluh lima ribu saja Bu." Sahut paklek nasi goreng dengan nada ramah.
" Ini paklek kembaliannya ambil saja." Ucap Ibu Dayuh sambil menyodorkan uang satu lembar berwarna merah.
" Oh... Terima kasih banyak bu, murah rezekinya, selalu dalam lindungan sekeluarga." Balas Paklek sambil mendoakan mereka semuanya.
" Alamiin, terima kasih." Balas semuanya.
Dan mereka pun makan bersama-sama menggunakan kerupuk yang dibawak dari pondok. Untuk menambahkan cita rasa yang gurih dan enak.
" Hem... Enak ya." Ucap Dayuh sambil menikmati nasi goreng nya.
Kurang lebih satu jaman mereka makan bersama-sama sambil bercanda gurau. Waktunya untuk istirahat dan melepaskan penat-penat ditubuh.
Sitara dan Dayuh pun segeran membereskan piring kotor dan gelas yang mereka bawak dari dapur.
" Kak, ayok.." Ajak Dayuh.
" Ayok dek." Sahut Sitara.
Ibu Dayuh, Bi mirah dan Bapak Jayadi pun berdiri.
" Ayok waktunya kita istirahat." Ucap Ibu Dayuh dengan nada ramah.
" Kami duluan ya Bu kedalam." Balas Bi Mirah pada Bu Dayuh.
" Silahkan Bu." Balas Bu Dayuh kembali yang sedang menutup pintu.
(Klikkk)
Ibu Dayuh pun menutup pintu sambil berdoa."Alhamdulillah sudah aman waktu sekarang istirahat."
***
Malam pun tiba, Seperti malam Sebelum-sebelumnya gangguan itu muncul. Tapi kali ini Dayuh tidak akan takut dan pergi begitu saja. Karna Dayuh sudha mengetahui siapa nama gadis tersebut.
Gadis itu memanggil-manggil nama Dayuh." Dayuh...Dayuh... Tolong aku..."
Dayuh pun sudah berada dialam gaib. Dia pun mengikuti super suara tersebut lalu bertanya."Haiii... Kamu dimana?"
Tak kemudian datanglah Sitara menghampiri Dayuh lalu mengajak Dayuh mengikuti super suara tersebut." Dek ayok kesana."
Baru beberapa menit kemudia posisi mereka langsung berubah berada dalam ruangan kumuh dan sempit. Disana ada Kamala yang sudah bak-bak belur dihajar oleh kedua preman tersebut.
Dayuh dan Sitara yang melihatnya pun merasa kasihan. Preman itu datang kembali untuk membunuh Kamala dengan cara dikuburkan hidup-hidup. Kamala yang dalam keadaan pingsan pun tak sadar kalau dia sudah diseret oleh mereka berdua.
" Bram, ayok cepat seret dia. Aku sudah siapkan kuburannya disini." Ucap Anton pada temannya.
" Sabar, ini sudah aku seret." Sahut Bram dengan wajah kesal dan marah.
Lantai dan tanah pun penuh dengan darah berceceran. Kamala tiba-tiba terbangun karna merasa badan nya berguncang dan meringis kesakitan." Aaaww.. sakit... lepas kan aku.."
Pukulan pun mendarat diwajah Kamala."Dhuak."
(Gedebuuk)
Tanpa rasa kasihan mereka pun melanjutkan menghajar tubuh Kamala habis-habisan. Kamala pun pingsan kembali, lalu lanjut menjatuhkan tubuh Kamala kelubang yang telah dibuat oleh Anton.
(Bruuk)
Anton dan Bram bercakap-cakap." Sehabis ini kita pulang."Ucap Anton yang sedang menggali tanah untuk menimbun tubuh Kamala.
" Ayok cepat, aku sudah lelah." Sahut Bram yang sedang menunggu Anton.
" Kamu yakin tidak ada orang akan menemukan mayat Kamala." Ucap Anton khawatir akan hal itu.
" Yakin, Karna disini hutan terlarang dan tak ada yang berani kesini." Sahut Bram untuk menyakinkan Anton.
" Ya sudah, ayok kita pulang." Sahut Anton kembali lalu menaikin mobil.
(Bbruummmm)
Mereka berdua pun pergi, Dayuh dan Sitara pun mencari-cari petunjuk yang lainnya. Ketika sudab ketemu akhirnya mereka pun bertemu dengan Kamala.
" Kamala, maksud mu ini ya." Ucap Dayuh lirih.
" Iya, tolong kubur jasad ku dengan layak." Sahut Kamala dengan wajah sedihnya.
" Kami akan membantu Kamala, Agar kau tenang dialam baka." Ucap Sitara.
" Terima kasih semuanya." Sahut Kamala lalu pergi meninggalkannya.
Dayuh tak sadar jika Sitara sudah tidak ada disampingnya." Lah kak Sitara mana?"
Ternayata Sitara sudah kembali kealam nyata, Lalu menguncang tubuh Dayuh."Dek...dek bangun cepat."
Jam pun menunjuk pukul tiga dini hari. Sitara mengajak Dayuh untuk kelokasi tersebut sambil membawa polisi.
" Apa kak?" Sahut Dayuh matanya masih berat untuk dibuka.
" Ayok kita kesana." Ajak Sitara menarik tubuh Dayuh.
" Bentar kak kita pamit sama Ibu Dulu." Ucap Dayuh sambil mengambil kunci mobilnya.
" Bentar kakak pamit sama Ibu dan Bapak juga." Sahut Sitara bergegas kekamar kedua orang tuanya.
Ibu Dayuh pun terbangun, lalu Dayuh menjelaskan secara singkat. Ibu pun langsung mengerti, begitu juga dengan kedua orang tua Sitara.
Mereka berdua pun mencium tangan orang tua. Lalu bergegas untuk pergi kekantor polisi.
" Assalamualaikum." Ucap Dayuh dan Sitara.
" Walaikumsalam, Nak hati-hati dijalan." Ucap Ibu Dayuh pada keduanya.
Dayuh pun masuk kedalam mobil begitu juga Sitara.
" Disaat diperjalanan menuju kantor polisi, mereka berdua pun menjelaskan panjang lebar. Polisi yang mendengarnya pertama tidak percaya lalu ada salah satu polisi muda yang merespond penjelasan mereka berdua.
" Saya saja yang akan cek kelokasi." Ucapnya pada temannya.
" Oke." Sahut teman polisi tersebut.
" Biar aku aja yang mengemudikan mobilnya." Ucap Polisi muda dengan nada ramah.
" Ya sudah aku duduk dibelakang Dek, Kamu didepan sama dia." Sahut Sitara lalu masuk kedalam mobil.
" Ya kak." Sahut Dayuh dengan nada santai.
Akhirnya mereka bertiga berangkat kelokasi yang dimaksud oleh Dayuh dan Sitara. Polisi itu yang mengemudikan mobil Dayuh. Sitara pun duduk dibelakang sedangkan Dayuh didepan bersama polisi muda tersebut.
Dayuh pun membuka membicaraan, lalu bertanya." Namanya siapa mas?"
" Nama ku Sagantara, Panggil saja Saga Neng." Sahut Saga dengan nada ramah.
" Kok kamu percaya sama kami?" Tanya Sitara dengan wajah heran.
" Hem... Aku bisa merasakan keberadaan mereka tapi tidak bisa melihatnya." Sahut Saga sambil tersenyum ramah.
" Oh... Pantasan saja." Sahut Dayuh sambil mengangguk kepalanya.
Sitara pun izin tidur sebentar kepada mereka berdua." Aku tidur dulu ya, Ngantuk banget."
" Ya kak, silahkan." Sahut Dayuh.
" Silahkan saja mbak." Sahut Saga dengan nada ramah.
Dayuh pun iseng-iseng bertanya umur Saga." Umur mas berapa?"
" Hem... Mungkin seumuran kakak mu Dek." Sahut Saga dengan nada santai.