Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....
Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.
Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Sesampainya di rumah, kulihat simbok sudah berdiri di teras, dengan menenteng kranjang seperti biasa. Aku mempercepat langkahku.
"Sudah mau berangkat ke sawah, Mbok?"
"Iya, Nduk. Oh ya, tadi simbok sudah siapkan sarapan, tapi Genduk belum pulang, jadi simbok simpan lagi."
"Oh, maaf Mbok, tadi aku ke balai desa, liat kampanye Mbok."
"Owalah ... pantesan pulangnya agak siangan. Ya sudah, simbok mau berangkat dulu."
"Tapi ... Simbok sudah sarapan kan?"
"Sudah, Nduk."
Simbok sudah berangkat dan aku mulai mengambil makan untuk mengganjal perutku yang sudah mulai menjerit-jerit minta diisi. Setelah merasa kenyang, aku kembali ke kamar membawa secangkir teh dan beberapa makanan kecil khas pedesaan. Membuka laptopku, meskipun aku juga belum tahu untuk apa melakukannya. Huft! Aku menghembuskan napas keras-keras.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pada pintu depan terkadang masih saja mengejutkanku. Aku beringsut dari ranjang untuk membukanya. Seorang wanita, eh gadis, tersenyum ketika pintu sudah kubuka. Bukankah ini gadis yang tadi di balai desa?
"Ma-maaf, simbok sudah berangkat ke sawah tadi, " kataku.
"Saya ndak nyari simbok kok mbak, saya nyari sampean,"
Aku terkejut, tak percaya.
"Ada apa, ya? "
Gadis itu tersenyum. Aku hampir saja lupa, membiarkannya berdiri terlalu lama di depan pintu.
"Eh maaf ... maaf, silakan duduk," aku mempersilahkannya masuk ke ruang tamu. Gadis itu pun mematuhiku, dan kami duduk berhadapan. Parasnya manis, senyumnya juga. Aku yakin, dia pastilah kembang desa di sini. Bahkan, kalaupun dia berkuliah di kampusku, bisa jadi termasuk deretan mahasiswi cantik nan populer. Dia mulai salah tingkah, kupandangi dengan mata menyelidik.
"Mbak ...." Panggilannya menyadarkanku.
"Eh iya ... iya Mb—Mbak?" aku tergagap, malu rasanya tertangkap basah sedang memelototi seseorang penuh selidik dan orang itu sendiri yang memergokiku. Rasanya seperti aku ingin menggali lubang dan cepat-cepat menceburkan diri. Kemudian, aku berusaha berpura-pura biasa saja dan tersenyum.
"Gini lho Mbak Dyah, langsung saja, saya Murni. Tadi sebenernya sudah ketemu Mbok Minten di jalan dan meminta ijin beliau untuk mengajak sampean ke pertemuan Karang Taruna nanti malam."
"Oh begitu, tapi kan saya bukan orang sini Mbak, apa gak apa-apa? "
"Ndak apa-apa Mbak, Mbak Dyah kan cucunya Eyang Gantari, ya Mbak Dyah ini masih termasuk orang sini juga, kan? Biar Mbak Dyah juga lebih kenal sama pemuda dan pemudi di desa ini."
"Oh, begitu. Jangan panggil Mbak, panggil saja Dyah, hehe," kataku basa basi.
"Oh iya, ini Mbak, eh Dyah ... ini surat undangannya." Gadis itu mengulurkan kertas yang sedari tadi dibawanya.
"Terima kasih." Aku menerima dan membaca surat itu sekilas.
"Oh iya, kalo boleh, minta nomer telpon yang bisa dihubungi." Ia mengeluarkan handphone dari sakunya dan bersiap menulis nomorku.
"Oh, 085xxxxxxxxx ...."
"Sudah saya simpan, nanti kalo ada apa-apa lagi, saya hubungi, ndak apa-apa kan Dyah? "
"Iya, gak apa-apa."
"Ya sudah, saya pamit dulu, maaf lho sudah mengganggu."
"Oh gak, gak mengganggu kok. "
Murni bangkit dari duduknya mengulurkan tangan, aku membalasnya. Dan mengantarkannya sampai teras. Kulihat dia berjalan menjauh.
Eh tunggu, kenapa aku seperti melihat wanita berkebaya itu? Berdiri di depan rumpun tanaman Mawar! Ia seperti sedang memperhatikan Murni dari kejauhan. Aku mengucek mataku. Wanita itu menghilang!
Yang benar saja! Apa maksud semua ini?
Aku kembali lagi ke kamar. Handphone-ku berbunyi, aku meraihnya. Oh ada pesan masuk. Aku membuka dan membacanya.
"Woy, gila lu! ngilang di kutub mana lu? atau terjebak di lautan mana lu? kagak ngasih kabar, kagak telpon. Apa lu udah nemu cowok kece badai, sampe lu lupa sama sohib lu yang merana ini?"
Aku tersenyum, ternyata pesan dari teman kampusku, Thalia. Kubalas pesannya,
"Gue pulang ke rumah nenek gue, Simbah Putri, lu mana mau gue ajak, ya udah, gue berangkat sendirian. Gue belum sempet ngehubungin lu, soalnya gue sibuk, lu mah daridulu merana mulu ngeluhnya, sono lu kejar terus si pujaan hati lu, Ardian, siapa tau hatinya udah luluh. "
"Sialan lu, yah. Ngeledek gue, ntar kalo lu dah balik, gue cubit pipi lu sampe bengkak! Btw, lu mau ngabisin libur akhir semester lu disitu? "
"Jangan ih, ntar pipi gue tak seempuk bapao mamang-mamang yang ngider di depan kampus itu! iye, gue pengen menyepi aja, bosen di ibukota mulu. Dont miss me ye! 😘"
"Eleeehh. Palingan juga lu mau ngumpet dari si Reno kan? yaudin, ati2 ye, kalo udah dapet cowok kece, sisain gue satu, gue juga mau! "
"Dih, gak lah. Gue gak ngumpet, lu mah Thal, Ardian mau lu kemanain ? "
Aku berbalas pesan dengan Thalia, untuk mengusir kebosananku, tanpa sadar, aku mulai terkantuk-kantuk. Dan jatuh tertidur.
*****
Wanita berkebaya itu, sudah duduk di depanku, di ranjang, dengan tersenyum seperti biasa. Aku beringsut mundur, menjauh.
"Jangan takut, Cah ayu jangan takut, saya ndak bakal mencelakakanmu. Sebaliknya, saya ingin selalu menjaga dan melindungimu." Suaranya begitu lembut dan berwibawa.
"Siapa? Siapa kamu?"
"Nanti juga cah ayu bakal tahu."
Wanita itu menghilang. Aku membuka mata. Ternyata, hanya mimpi!
Bersambung ....