Wan Yiran berjuang melepaskan rantai emas yang mengikat tangan dan kakinya. Kondisi Wan Yiran yang sedang tidak berdaya membuat Putra Mahkota Kong Welan segera membaca mantra Penghancur Jiwa hingga panah emas muncul dari tangannya, hanya butuh beberapa detik hingga panah itu melesat cepat menancap di Jantung Wan Yiran.
Wan Yiran terjatuh di tanah dalam kondisi sekarat, matanya hanya menatap pria yang dicintainya Jendral Muda Lin Haoran, namun sorot mata pria itu sama sekali tidak menunjukkan raut iba padanya.
Yiran kehilangan kedua orang tua dan kakaknya yang dihukum mati oleh kaisar karena kasus pembunuhan yang dilakukan keluarganya. Kini Wan Yiran juga harus mati mengenaskan karena rasa dendam di hatinya yang membawa dirinya menjadi wanita iblis.
~Wan Yiran terbangun dan menyadari semua yang ia lalui hanyalah mimpi. Mimpi yang membawa tekad Yiran untuk memperbaiki dirinya, merubah nasibnya dan melepaskan cinta serta ambisinya. Wan Yiran harus melalui perjalanan yang tidak mudah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Luzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Waktunya
Yiran turun dari kereta kudanya setelah sampai di bawah kaki gunung Wongge.
Yiran bisa melihat gerbang besar menuju kuil Sanja. Dibalik gerbang tersebut terdapat tangga besar yang cukup panjang hingga ke atas puncak gunung Wongge.
"Apa kuilnya ada di atas puncak gunung?" tanya Yiran pada Saji.
"Sepertinya begitu nona. Kita harus menaiki tangga ini untuk sampai di pintu kuil Sanja," jawab Saji.
Yiran segera berbalik menatap pengawal serta kurir yang mengantarnya, "kalian pergilah ke desa terdekat untuk mencari penginapan. Aku akan melakukan pemujaan di kuil ini, kalian bisa menjemput ku dua hari lagi".
"Baik Nona," ucap para pengawal dan kurir.
Mengikuti perintah Yiran, ketiga pengawal serta kurir yang membawa kereta kuda segera berjalan menuruni lereng untuk mencari desa terdekat.
Yiran kembali menatap ke arah tangga panjang yang harus dihadapinya untuk mencapai kuil Sanja.
"ayo Saji. Perjalanan kita masih panjang."
Saji mengangguk kemudian mengikuti Yiran berjalan menaiki tangga menuju puncak gunung wongge.
Yiran dan Saji mulai nampak kelelahan setelah berjalan hampir 30 menit lamanya.
"Kita sudah berjalan cukup jauh nona, tapi kenapa tangga yang kita naiki ini masih terlihat sangat panjang?" keluh Saji.
Yiran mengusap dahinya yang sudah bercucuran keringat. Ia berusaha mengontrol nafasnya sebelum membalas perkataan Saji.
"Kita tidak boleh menyerah Saji, sedikit lagi pasti kita akan mencapai puncak ."
"Apa perjalanan ini akan memakan waktu berjam-jam nona?" tanya Saji dengan suara terbata-bata karena rasa lelah.
"Jangan terlalu sering bicara, semakin kita berbicara kita akan semakin lelah. Teruslah melangkah."
Disaat Saji dan Yiran terus berjuang menaiki tangga menuju puncak Gunung Wongge, di depan pintu kuil Sanja di atas gunung Wongge berdiri dua orang pria yang tadi mengawasi Yiran bersama seorang Pria Tua.
"Guru, kenapa tidak membiarkan saja dia naik ke kuil Sanja?" tanya salah satu pria kepada pria tua tersebut.
Mendengar pertanyaan salah satu muridnya ini membuat Pria tua itu menghela nafasnya.
"Ini belum waktunya. Pikiran dan isi hatinya masih sangat rentan, masih ada sifat egois dan pendendam dalam dirinya. Tubuhnya tidak akan mampu menerima energi jika hatinya belum murni."
Kedua pria tersebut saling memandang dengan tatapan bingung saat mendengar jawaban guru mereka.
"Lalu apa yang akan terjadi jika dia berhasil mencapai kuil Sanja?" tanya pria muda yang satunya lagi.
"Kuil Sanja adalah tempat dimana inti energi miliknya berada, Jika inti energinya tersebut merasakan kehadiran tuannya itu akan sangat berbahaya bagi tubuhnya. Inti energinya tersebut harus diterima olehnya saat hatinya telah murni dan bersih, jika tidak tubuhnya akan merasakan sakit yang luar biasa dan tenaga dalamnya akan terkuras habis, itu tentu bisa membahayakan nyawanya."
Kedua pria tersebut mengangguk mendengar perkataan guru mereka. Mereka kembali menatap ke arah Yiran yang saat ini masih berjuang menaiki tangga menuju puncak Gunung Wongge.
...****...
Kong Welan menghentikan laju kudanya tepat di dengan gerbang besar di bawah kaki Gunung Wongge, disampingnya juga ada Liyang yang menemani. Setelah kuda mereka benar-benar berhenti, Kong Welan dan Liyang turun dari kuda mereka masing-masing.
"Yang Mulia, lihat disana?"
Kong Welan menatap ke arah yang ditunjuk Liyang. Ia menatap bingung saat mendapati Wan Yiran putri Perdana Mentri Wan yang sedang menaiki tangga menuju puncak Gunung Wongge.
"Yang Mulia, kenapa Nona Muda Wan dan pelayannya hanya berjalan di tempat?"
"Mereka terjebak sihir ilusi," jawab Kong Welan sambil matanya terus menatap ke arah Yiran yang sedang berjuang menaiki tangga.
Kenapa guru membuat sihir ilusi untuk mencegah Wan Yiran pergi ke kuil Sanja? batin Kong Welan kebingungan.
"Sihir ilusi? Siapa yang melakukannya?" tanya Liyang kebingungan.
"Tentu saja guruku yang pasti melakukannya. Hanya saja aku tidak tahu apa alasannya," jawab Kong Welan, "Sebaiknya kita tunggu di sini dan lihat sampai kapan mereka berdua akan bertahan," ujar Kong Welan sambil mencari sebuah batu kemudian duduk.
Melihat Kong Welan yang sudah duduk sambil memperhatikan Wan Yiran dan pelayannya, Liyang juga memutuskan mencari tempat duduk.
Di tangga Gunung Wongge Yiran masih berjuang menaiki satu persatu anak tangga. keringat makin deras bercucuran dari tubuhnya, wajahnya bahkan sudah memerah karena rasa panas akibat kelelahan.
"Nona, saya benar-benar sudah tidak sanggup berjalan," ujar Saji
Yiran menatap Saji yang saat ini sudah jatuh terduduk di tangga dengan wajah yang terlihat sangat pucat karena kelelahan. Mereka sudah berjalan hampir dua jam menaiki tangga ini, namun ujung tangga sama sekali belum terlihat bahkan tangga ini terasa makin panjang.
"Kita istirahat sebentar kalau begitu," jawab Yiran sambil mengikuti Saji untuk duduk.
Yiran memijat betisnya yang terasa sangat kebas karena digunakan untuk bekerja keras menaiki tangga ini. Ia kembali menatap ke arah Saji yang terlihat lebih mengenaskan darinya. Mungkin karena Yiran sedikit menguasai ilmu sihir tingkat tiga, walau tidak begitu kuat tapi tubuhnya tentu memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik dari Saji yang sama sekali tidak menguasai ilmu sihir.
"Setelah istirahat lebih baik kamu turun saja Saji. Biar aku yang melanjutkan perjalanan menuju Kuil Sanja."
Saji segera menggeleng kuat, "bagaimana mungkin saya meninggalkan nona? Jika nona mau melanjutkan perjalanan saya akan ikut, jika nona mau turun saya juga akan turun. Kita tidak akan berpisah nona".
Yiran menghela nafasnya, "jangan membantah Saji, kamu sudah sangat kelelahan. Jika terus dipaksakan kamu bisa terluka."
Saji menatap Yiran ragu. Sejujurnya ia memang sudah tidak sanggup jika harus memaksa naik, namun ia tidak ingin meninggalkan Wan Yiran naik sendiri ke Gunung Sanja.
"Nona, bagaimana jika kita turun saja bersama? Nona juga sudah sangat kelelahan."
Yiran menggeleng, "Aku harus menemui ketiga master."
"Untuk apa nona?" tanya Saji.
Yiran terdiam. Sejujurnya rencana awal ia ingin pergi ke Gunung Sanja untuk mengawasi Putra Mahkota Kong Welan sekaligus menemui Master Wu, berharap Guru Putra Mahkota itu mau menerimanya juga sebagai murid. Namun, saat Yiran menemukan bahwa ternyata jalan yang ia lalui di dalam mimpi menuju kerajaan Huo benar-benar ada dalam ingatannya bahkan lubang dari segel pembatas cakrawala pun ternyata ada, hal ini membuat keinginan Yiran untuk bertemu Master Wu semakin besar.
Yiran tidak mungkin membocorkan masalah lubang segel pada semua orang, ia takut hal itu akan menggemparkan ketiga kerajaan lainnya dan menimbulkan masalah yang besar. Yiran hanya perlu memberitahukan hal ini pada ketiga Master, berharap mereka memiliki cara untuk menutup lubang segel pembatas cakrawala agar tidak membesar.
Hal ini karena, walau Yiran merasa dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan pergi menuju kerajaan Huo, tapi jika lubang itu membesar dan roh Iblis berhasil keluar maka bisa saja Roh iblis itu datang pada Yiran dan membuat dirinya menjadi Raja Iblis seperti di dalam mimpi. Bukankah mimpi tersebut seperti gambaran takdirnya, Yiran sedang berjuang untuk mengubah takdirnya jadi ia harus mencari cara untuk mencegah takdir yang paling ditakutinya itu terjadi.
Sudah 15 menit Yiran dan Saji beristirahat. Yiran segera bangun dari duduknya sambil menatap Saji.
"Aku merasa istirahat sudah cukup. Kamu turunlah ke bawah, biar aku yang melanjutkan perjalanan."
"Taa..Pi Nona," ujar Saji ragu.
Yiran menatap Saji penuh ancaman, "jangan membantah perintahku Saji!" tegas Yiran.
"Baik Nona. Saya akan datang bersama Pengawal untuk menjemput anda lagi nanti."
Yiran mengangguk sebagai jawaban.
Saji segera berjalan turun dari tangga membiarkan Yiran melanjutkan perjalanan menuju puncak sendirian. Hari sudah semakin siang, terik matahari terasa begitu panas menyerang. Namun Yiran tetap berjuang dan optimis bisa mencapai puncak Gunung Wongge.
...****...
Saji tiba kembali di gerbang besar Yang ada di kaki Gunung Wongge. Wajahnya tampak kebingungan sambil terus berkali-kali menatap ke arah tangga yang dilewatinya tadi.
"Bukankah aku dan Nona Wan Yiran berjalan sangat jauh tadi. Kenapa terasa sangat cepat bagiku untuk sampai di sini?"
Mengabaikan rasa bingungnya, Saji segera berjalan menjauhi gerbang tersebut. Namun saat berjalan sekitar 20 meter ia menemukan Putra Mahkota dan pengawalnya sedang duduk sambil menatap ke arah Gunung Wongge.
Saji segera berjalan menuju ke arah Putra Mahkota dengan wajah bingung.
"Yang Mulia," ucap Saji sambil memberi hormat, "bagaimana bisa Yang Mulia berada di sini, bukankah anda sedang berada di kuil Sanja?" tanya Saji ragu.
"Saya sedang ada urusan," jawab Kong Welan, "Kenapa kamu turun sendirian dan meninggalkan majikanmu?" tanya Kong Welan penuh intimidasi.
Saji sedikit merinding, namun ia juga bingung kenapa Putra Mahkota sama sekali tidak kaget melihat kehadirannya, ia bahkan tahu bahwa Saji bersama majikannya Wan Yiran.
"Ampun Yang Mulia, Nona Wan Yiran menyuruh saya turun karena saya sudah sangat kelelahan. Ia memilih melanjutkan perjalanan sendiri menaiki puncak gunung menuju kuil Sanja," jawab Saji.
Kong Welan mengangguk paham.
"Lihatlah kebelakang"
Saji segera melakukan perintah Putra Mahkota. Betapa terkejutnya Saji saat melihat di tangga yang dilaluinya tadi ada majikannya Wan Yiran yang terlihat berjalan di tempat, Saji sama sekali tidak menyadarinya dari tadi.
"Bagaimana bisa?"
"Kau dan Majikanmu dari tadi terjebak sihir ilusi. Kalian merasa sudah berjalan cukup jauh tapi ternyata hanya berjalan di tempat."
"Siapa yang melakukan sihir itu?" tanya Saji dengan nada khawatir.
"Sepertinya guruku yang melakukannya."
Dengan wajah khawatir Saji berteriak kencang memanggil Wan Yiran, "Nona berhentilah menaiki tangga itu, anda tidak akan sampai ke puncak" teriak Saji khawatir.
"Dia tidak akan mendengarkan mu. Sepertinya majikanmu sangat ingin menuju kuil Sanja, mungkin saja saat ini guruku hanya sedang mengujinya. Tunggulah di sini bersama kami dan lihat sampai kapan dia akan bertahan," ucap Kong Welan.
Saji terus saja menatap Yiran khawatir. Ia sangat tahu bagaimana rasa lelah yang dirasakan untuk menaiki ratusan tangga. Saji tentu sangat sedih menyadari Yiran saat ini sedang berjuang tapi hasil akhirnya akan sia-sia saja.
tapi bagus si ceritanya 👍