NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Nenek tampak tak berdaya. Dia merasa Clara tak cukup kuat dan terlalu tunduk pada Edward. Banyak kesempatan yang Clara lewatkan dengan sia-sia. Akibatnya, selama bertahun-tahun hubungan mereka tak ada kemajuan.

Namun, Clara sudah membuat keputusan. Nenek pun enggan memaksanya.

Acara makan malam resmi dimulai. Semua orang mengobrol dan makan bersama. Suasanya cukup menyenangkan.

Clara tak banyak bicara. Dia hanya menundukkan kepalanya makan dengan tenang.

Sudah lebih dari sepuluh menit semenjak kedatangan Edward di kediaman Anggasta, tapi mereka berdua belum berbicara sepatah kata berdua belum berbicara sepatah kata pun.

Bahkan bisa dibilang, tidak ada komunikasi sama sekali saat acara berlangsung.

Yah, beginilah cara mereka bersikap sebagai pasangan suami-istri.

Sebenarnya, semua yang hadir sudah terbiasa dengan hal itu. Tidak ada yang aneh, semua tampak normal.

Dulu, saat Elsa ingin memakan sesuatu, semua Clara yang mengurusnya. Sekarang, Elsa sudah terbiasa meminta bantuan pada Edward, agar Edward menyendokkan makanan untuknya.

Hanya saja, saat ingin memakan udang, dia justru menatap Clara.

Bagaimana tidak! Dulu, tiap kali makan udang, Clara pasti akan langsung mengupas kulit udang untuknya dan Edward.

"Ma, aku pengen makan udang," ucap Elsa.

Clara memang ingin bercerai, dan tidak ingin berseteru dengan Edward tentang masalah hak asuh Elsa.

Meski begitu, Elsa tetaplah darah dagingnya. Dia masih punya tanggung jawab dan kewajiban untuk memperlakukannya dengan baik dan memenuhi kebutuhan semampunya.

"Ya," jawab Clara usai Elsa mengatakannya.

Dia lantas menaruh sendoknya dan mulai mengupas kulit udang. Tanpa sengaja, nenek melihat jari-jemari Clara dan langsung tersentak, berkata, "Clara, cincinmu ke mana?"

Begitu mendengar ucapan nenek, semua orang termasuk Edward melihat tangan Clara.

Meski kondisi pernikahannya dengan Edward tidak harmonis, Clara selalu memakai cincin kawin yang disiapkan nenek untuknya.

Sebaliknya, Edward justru tidak pernah sekalipun memakainya. Entah dibuang ke mana cincin kawinnya itu!

Ke manapun Clara pergi, dia selalu memakainya, enggan melepaskannya walau sebentar.

Semua orang juga sudah terbiasa akan hal itu.

Dan karena hal itulah Maya sering mencibirnya selama ini.

Awalnya, semua orang tidak inenyadari kalau Clara tidak memakai cincin pernikahannya. Bagaimanapun, mereka tak punya alasan untuk selalu mengamati Clara.

Kalau bukan karena perkataan nenek barusan, semua orang yang hadir tidak akan menyadarinya.

"Pagi tadi buru-buru ke kantor, Nek. Tertinggal di rumah," jawab Clara dengan tenang sembari berhenti sejenak dari mengupas kulit udang.

Faktanya, Clara sudah melepas cincin kawinnya saat mempersiapkan berkas perceraian.

Dia memasukkan cincin itu ke dalam amplop bersama berkas-berkas lainnya.

Namun, dirinya dan Edward belum resmi bercerai. Di sisi lain, dia tahu nenek pasti tidak akan setuju tentang perceraian mereka. Jika sekarang dia membahas perceraian, perceraian mereka tentu tidak akan pernah terjadi.

Oleh sebab itulah Clara berbohong pada nenek.

"Oh, begitu," sahut nenek sambil tersenyum.

Setelah itu, suasana kembali normal, semua orang makan seperti biasa.

Makan malam selesai disantap, semua orang pindah ke ruang tamu untuk makan hidangan penutup dan lanjut mengobrol.

Nenek selalu ingin menyatukan Clara dan Edward.

Jadi dia kembali meminta mereka untuk duduk bersama.

Edward sama sekali tidak memperhatikan Clara.

Sedangkan Clara, dia pribadi tidak ingin duduk di sana. Namun apa daya, susah untuk terus menolak permintaan nenek. Dia pun terpaksa duduk di sebelah Edward.

Ini pertama kalinya mereka duduk begitu dekat dalam beberapa bulan ini.

Clara bahkan bisa mencium dengan jelas aroma parfum maskulin milik Edward yang sangat familier baginya.

Untungnya, belakangan ini sikap Clara layaknya air yang tenang. Dia hanya duduk dalam diam sambil menikmati puding buah di depannya. Tak ada keinginan sedikit pun untuk mengobrol dengan Edward.

Nenek justru merasa sangat puas. Sungguh pasangan yang serasi," ucap nenek sambil menatap Clara dan Edward sambil tersenyum.

Si pria berwajah tampan dan tinggi, sedangkan si wanita terlihat pendiam, lembut dan cantik. Dengan tampilan seperti itu, mereka berdua memang terlihat seperti pasangan serasi.

Namun, keduanya hanya cocok dalam penampilan luar saja.

Dalam banyak hal, Clara inasih memiliki banyak kekurangan.

Meski tidak setuju, Maya dan Sinta tidak ingin merusak kebahagiaan yang terpancar di mata nenek.

Malam itu, mereka semua menginap di kediaman Anggasta sesuai dengan keinginan nenek.

Sekitar jam delapan malam, Edward dan nenek pergi ke ruang kerja membicarakan bisnis keluarga. Sedangkan Elsa, dia tanpa ragu mengajak Clara ke atas untuk mandi lalu tidur.

Clara pun menurutinya.

Saat duduk di bak mandi, Elsa menatap Clara. Ada keinginan untuk mengetes Clara di dalam hati gadis kecil itu.

"Ma, besok pagi, Mama sibuk nggak?" tanya Elsa sedikit ragu.

Meski bisa mengalah dan membiarkan ibunya mengantar ke sekolah besok pagi, di dalam hatinya tetap lebih berharap ditemani Tante Vanessa.

Alangkah baiknya jika besok pagi ibunya sibuk.

"Nggak, kenapa?" jawab Clara menggelengkan kepalanya.

Saat mendengar jawaban ibunya, Elsa tampak mengerutkan bibirnya dengan kecewa, lalu berkata, "Nggak apa-apa kok, Ma."

Yah, apa boleh buat, karena Elsa tidak ingin mengatakannya, Clara pun tidak bertanya lebih lanjut.

Selesai Elsa mandi, Clara lanjut membantunya mengerikan rambut.

Namun, belum lama mengeringkan rambut, Elsa berkata kalau dia ingin langsung tidur.

Clara melihat Elsa terus menatap ponselnya. Dia tahu kalau Elsa sebenarnya ingin bermain ponsel.

"Mainnya HP-nya bentar aja, jangan terlalu lama. Langsung tidur loh, ngerti?" ucap Clara.

"Iya, Mama."

Bagaimanapun, besok ibunya punya waktu untuk mengantarnya. Dia harus memberitahukan masalah ini pada Tante Vanessa.

Elsa khawatir Tante Vanessa akan sedih dan kecewa saat mengetahuinya. Gadis kecil itu pun terus berpikir bagaimana cara mengatakannya pada Tante Vanessa.

Sejak awal dia sudah merasa kesal. Ditambah mendengar omelan ibunya barusan, suasana hatinya semakin dongkol. "Mama cepat keluar, gih. Jam setengah sepuluh aku matikan HP-ku," ucap Elsa sembari mendorong Clara agar cepat keluar dari kamarnya.

Elsa memang sudah terbiasa bersikap disiplin pada dirinya sendiri.

Clara lantas mengucapkan selamat malam baru kemudian keluar kamar.

Elsa langsung menutup dan mengunci pintu.

Baru saja berjalan beberapa langkah, Clara mendengar suara Elsa mengunci pintu.

Clara tahu, satu-satunya yang Elsa waspadai hanyalah dirinya, bukan orang lain.

Alasan kenapa Elsa sangat mewaspadai dirinya, mungkin ada suatu hal yang ingin didiskusikan putrinya bersama Vanessa.

Faktanya memang seperti itu.

Elsa langsung membuka ponselnyasaat selesai mengunci pintu. Dia langsung mengirim pesan Whatsapp pada Vanessa.

[Tante Vanessa...]

Clara tidak tahu tentang apa yang mereka bicarakan.

Dia tidak ingin memikirkannya dan juga malas memedulikannya.

Dia pun memilih pergi ke kamarnya.

Di mata nenek, Clara adalah wanita yang baik. Tidak heran nenek sering meminta Clara datang sekadar untuk makan bersama.

Jadi selama ini, ada begitu banyak barang kebutuhan sehari-hari milik Clara di kediaman Anggasta.

Clara mengambil baju tidurnya dan pergi mandi.

Selesai mandi, dia terduduk di bagian tempat dirinya biasa tidur. Waktu terasa masih belum larut, Clara lantas mengambil buku yang ditaruhnya dalam tas dan mulai membacanya.

Entah berapa lama waktu sudah berjalan, mata Clara mulai terasa perih. Saat menutup buku dan melihat arlojinya, barulah dia sadar waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.

Namun, Edward masih belum kembali.

Awalnya, Edward selalu merasa kalau Clara sengaja menjebaknya dalam pernikahan. Namun, setelah usia pernikahan menginjak tiga tahun, hubungan antara mereka telah membaik dibandingkan sebelumnya. Yah, meski belum terlalu dekat.

Hanya saja, segera setelah itu, Vanessa muncul.

Edward jatuh cinta pada Vanessa dan mulai lagi menjaga jarak.

Setelah itu, Edward hampir tak pernah menyentuhnya lagi.

Jadi, entah Edward memang tidak ingin kembali ke kamar meski sudah selarut ini, atau mungkin masih ada hal yang harus dikerjakannya.

Saat memikirkannya, Clara tanpa sadar langsung meninggalkan kamar dan turun ke bawah.

Tepat ketika hendak turun, terdengar suara obrolan tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Semuanya sudah tidur, kenapa belum ke kamar? Apa karena ada Clara, kamu nggak mau ke kamar?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!