Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 — Bertemu Xiao Nannan
Perjalanan dari Makam Kaisar Iblis ke ibu kota Kerajaan Yan memakan waktu empat hari. Li Yao melewati hutan pinus yang sunyi, menyeberangi dua sungai kecil yang airnya jernih, dan sekali memotong jalan setapak di sela-sela hamparan kebun teh yang luas. Di hari kelima, saat matahari mulai condong ke barat dan cahayanya berubah keemasan, ia akhirnya melihat gerbang kota di kejauhan.
Ibu Kota Yan bukanlah sebuah kota yang besar, tetapi sangat ramai. Kota Yan memiliki populasi lebih dari satu juta jiwa, meski kebanyakan dari mereka adalah manusia biasa yang tidak tahu apa itu Lautan Pahit atau Roda Kehidupan.
Mereka hidup bekerja untuk mencari nafkah, dan mati di usia tua maupun sakit sebagai manusia biasa. Li Yao berjalan masuk melewati gerbang tanpa halangan. Dua penjaga berseragam hanya melirik sekilas, tidak curiga pada seorang pemuda berjubah putih dengan wajah tenang dan tanpa senjata mencolok.
Li Yao mengangguk sopan sebagai salam, melempar satu koin emas kepada dua penjaga itu. Li Yao kemudian berjalan santai memasuki gerbang kota.
Di dalam, suara hiruk pikuk kota langsung menyambutnya. Pedagang berteriak menawarkan barang dagangan dari balik lapak-lapak kayu. Gerobak dorong melintas di depan mata dengan muatan penuh sayuran dan buah-buahan.
Anak-anak berlarian di sela-sela kaki orang dewasa, tertawa, kadang menabrak para penjual. Bau masakan dari warung-warung kecil bercampur dengan aroma keringat, debu jalanan, dan sesekali wangi dupa dari kuil kecil di tikungan.
Li Yao berjalan mengikuti arus, matanya menjelajahi sekeliling. Sesekali ia melihat praktisi dengan jubah khas sekte-sekte kecil dari Lingxu Dongtian atau Gua Surga lain dari Kerajaan Yan, tingkat kultivasi mereka hanya berada di Mata Air Kehidupan sampai Jembatan Ilahi.
Matanya tertarik ke sebuah lapak kecil di pinggir jalan. Seorang nenek tua duduk di belakang papan kayu, di atasnya berjejer tusuk-tusuk bambu manisan berwarna merah dan kuning mengkilap. Lapisan gula kristal di permukaannya terlihat renyah. Li Yao menghampiri lapak nenek tersebut.
"Berapa, nek?"
"Dua koin tembaga satu tusuk, Nak. Murah, manis, enak." Nenek itu tersenyum.
Li Yao mengeluarkan enam koin dari saku jubahnya—uang tembaga yang ia simpan sebelum pergi dari Lingxu Dongtian, tahu bahwa tidak semua tempat menerima batu sumber. Nenek itu menerima dengan senang hati, tersenyum tanpa gigi di bagian depan, dan menyerahkan dua tusuk manisan. Yang satu merah, yang satu kuning. Li Yao menggigit satu potong dari tusuk manisan merah.
Sensasi manis dan renyah menyerang. Rasanya membawa ingatan aneh pada masa Li Yao berada di Lingxu Dongtian, saat Wu Qingfeng kadang-kadang membawakannya camilan dari pasar. Tidak terlalu istimewa, tapi hati Li Yao terasa hangat ketika mengingat kenangan tersebut.
Li Yao berjalan lagi sambil memakan satu demi satu potongan manisan. Tusuk manisan satunya ia pegang di tangan kiri. Matanya melirik ke toko-toko pinggir jalan—ada yang menjual kain, besi, ramuan kering, bahkan beberapa pajangan artefak palsu.
Tidak ada yang benar-benar menarik perhatian. Pasar para praktisi pasti ada di suatu tempat, tapi itu urusan nanti. Untuk sekarang, Li Yao hanya ingin berbaur dalam suasana keramaian, beristirahat, menikmati suasana kota yang tidak ia temui selama bertahun-tahun di Lingxu Dongtian.
Tusuk manisan pertama habis. Li Yao mengambil tusuk kedua. Sebelum melahap manisan lainnya, ia melihat seorang gadis kecil di depan lapak penjual bakpao.
Pakaiannya compang-camping. Bajunya lusuh, warnanya pudar, dengan tambalan kain yang tidak rapi. Ada lubang di siku dan di ujung rok pendeknya. Sepatu yang ia pakai sudah bolong di bagian jempol, memperlihatkan jari-jari kaki kecil yang kotor.
Wajahnya kumal—bukan karena kotor, tapi seperti tidak pernah dibersihkan dengan benar. Rambutnya kusut, diikat asal dengan tali rapuh yang hampir putus. Usianya mungkin sekitar tiga atau empat tahun. Mata besarnya mendongak ke arah penjual bakpao, ada kelelahan di sana yang tidak biasa untuk anak seusianya.
Gadis kecil itu menengadah ke arah penjual, seorang pria kekar dengan celemek putih yang kusam karena tepung dan minyak.
"Tolong, Pak," suaranya kecil, hampir tenggelam oleh hiruk pikuk jalanan. "Nannan lapar. Satu saja."
Penjual bakpao itu mendengus. "Pergi sana pengemis, kamu hanya akan menghalangi pelanggan!"
"Nannan tidak mengemis, Nannan ingin membeli bakpao," gadis itu cepat-cepat berkata. Tangannya yang kecil terulur, memperlihatkan dua koin tembaga reyot di telapak tangannya yang tipis. "Aku bayar. Ini pak."
Penjual itu melirik koin di tangan gadis itu, lalu ke bakpao di kukusan. "Dua koin tembaga mana cukup. Harga satu bakpao sepuluh koin tembaga. Pergi sana, jangan ganggu aku lagi."
"Tapi Nannan lapar, Pak..."
Penjual itu mendorong bahu gadis itu dengan punggung tangannya. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat tubuh mungilnya mundur beberapa langkah. "Sadar diri pengemis kecil. Kalau tidak pergi sekarang juga, aku akan panggil penjaga."
Gadis kecil itu terhuyung, kakinya tersandung batu kecil. Ia tidak terjatuh, tapi tubuh kecilnya membungkuk. Dan kemudian tangis pelan pecah. Bukan tangisan keras untuk mencari perhatian. Ini tangis pelan—terisak-isak tertahan, bahu kecilnya naik turun, air mata mengalir di pipinya yang tidak bersih.
Li Yao melihat sekeliling. Beberapa orang melirik sekilas. Ada yang merasa kasihan, ada yang jijik, ada yang tidak peduli. Ada yang bergumam "pengemis", ada yang menggeleng kepala. Tapi tidak ada yang peduli. Tidak ada yang mendekat. Penjual bakpao itu sudah berbalik dan melayani pembeli lain.
Li Yao berjalan menghampiri. Ia berjongkok di hadapan gadis itu, membuatnya tingginya sejajar dengan wajah gadis kecil itu.
"Hei," kata Li Yao pelan.
Gadis kecil itu mendongak. Matanya basah, wajah imutnya terlihat bingung, air mata masih menggantung di sela-sela bulu matanya.
Li Yao mengulurkan tusuk manisan yang masih ia pegang. "Kamu mau ini?"
Gadis kecil itu buru-buru mengusap air matanya. Menatap tusukan manisan, lalu menatap Li Yao, kemudian menatap manisan itu lagi.
"Rasanya manis," kata Li Yao sambil tersenyum. "Aku sudah makan satu tadi, dan tentu saja rasanya lezat."
Li Yao saat ini terlihat seperti seorang kakak yang sedang membujuk adik kecilnya.
Perlahan, tangan mungilnya bergerak. Ada sedikit keraguan di sana, seperti takut dibohongi oleh orang asing. Tapi akhirnya jari-jari yang tipis menggenggam tusukan bambu erat-erat. Ia tidak langsung makan. Ia memandangi manisan itu sebentar, seperti tidak percaya ada yang memberinya makanan tanpa diminta.
"Kakak siapa?" suaranya lirih, parau, seperti tenggorokan yang jarang tersentuh air.
"Orang yang kebetulan lewat," jawab Li Yao santai. "Dan punya manisan lebih."
Gadis kecil itu tidak lagi ragu, menggigit satu potong manisan. Matanya berbinar. Rasa manis di lidahnya membuat raut wajah kecil itu berubah, dari muram menjadi cerah, seperti langit setelah hujan yang mulai menampakkan secercah kehangatan.
Setelah menelan satu potong manisan, Gadis kecil itu berkata, "Aku Nannan. Xiao Nannan."
Li Yao mengangguk. "Namaku Li Yao."
Nannan mengangguk mengulangi namanya, mengingat keras dibenaknya, seperti takut lupa nama Li Yao. "Kakak Li Yao." Panggil Xiao Nannan lalu menggigit manisan lagi.
Li Yao berdiri. Ia melihat ke arah penjual bakpao, lalu kembali ke Nannan. "Kamu masih lapar?"
Xiao Nannan ragu sejenak, kemudian mengangguk kecil.
"Ayo ikut kakak."
Li Yao mengulurkan tangannya. Xiao Nannan menatap tangan itu, lalu menggenggamnya dengan jari-jari mungilnya yang kotor.
Mereka berjalan berdua menyusuri jalanan ibu kota. Xiao Nannan menggenggam erat tangan Li Yao, sesekali melompati genangan air atau batu di jalan. Tusuk manisan masih ia pegang di tangan satunya, digigit sesekali, matanya berbinar setiap kali rasa manis menyentuh lidahnya.
Li Yao membawanya ke toko besar di ibu kota. Seorang ibu-ibu gemuk di balik meja langsung tersenyum, tapi senyumnya sedikit kaku saat melihat pakaian Xiao Nannan yang compang-camping.
"Ada baju untuk anak seusianya?" tanya Li Yao.
Ibu-ibu itu mengangguk, dengan cepat mengambil beberapa helai dari rak. Baju warna biru muda, merah muda, krem. Bahannya mengkilau seperti kain sutra, tidak kalah mewah dengan pakaian seorang bangsawan.
Xiao Nannan berdiri diam saat Li Yao mendekatkan baju-baju itu kepadanya, untuk mengira-ngira ukuran. Matanya berkedip-kedip melihat warna-warna cerah yang mungkin belum pernah ia lihat dari dekat.
"Yang mana?" tanya Li Yao.
Xiao Nannan sedikit ragu, kemudian menunjuk warna merah muda.
Li Yao mengangguk. Meminta Ibu-ibu penjual pakaian membersikan Xiao Nannan. Li Yao membayar dengan sepuluh koin emas. Lalu Xiao Nannan mengikuti ibu penjual pakaian untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Ketika keluar, Xiao Nannan memutar-mutarkan badannya, melihat ujung lengan dan rok yang berkibar.
"Seperti seorang putri," bisiknya pelan, hampir tidak percaya.
"Ya," kata Li Yao tersenyum, membenarkan perkataan Xiao Nannan. "Seperti seorang putri."
Selanjutnya ke toko sepatu. Xiao Nannan memilih sepatu kecil berwarna merah dengan tali di pergelangan. Ia duduk di bangku kecil sambil mengayunkan kedua kakinya saat penjual memasangkan sepatu baru.
Kaki mungil yang sebelumnya memakai sepatu bolong kini hangat terbungkus sepenuhnya. Xiao Nannan berdiri, melompat-lompat di tempat, lalu tersenyum lebar.
Kemudian mereka berdua pergi ke kedai makan. Bakmi ayam dengan pangsit goreng. Xiao Nannan duduk di kursi kayu tinggi, wajahnya hampir sejajar dengan meja. Li Yao memesan dua porsi. Xiao Nannan menghabiskan semangkuk penuh tanpa sisa, sesekali menyuap pangsit ke mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya yang tadinya pucat mulai terlihat sedikit merona.
"Kenyang?" tanya Li Yao.
Xiao Nannan mengangguk, tangannya mengusap perutnya yang sedikit membuncit. "Nannan kenyang, kak."
Kemudian mereka mencari penginapan. Li Yao memilih losmen sederhana tapi cukup mewah di gang yang tidak terlalu ramai, jauh dari pusat keramaian. Kamar kecil dengan dua kasur tipis, meja kayu, dan lampu minyak di atas meja.
Harga semalam satu koin perak. Xiao Nannan masuk ke dalam mengikuti Li Yao, matanya mengamati sekeliling ruangan—langit-langit kayu, dinding dari anyaman bambu, jendela kecil dengan tirai kain tipis. Mungkin ini pertama kalinya ia tidur di dalam ruangan dalam waktu yang lama.
Xiao Nannan duduk di tepi kasur, kakinya bergoyang sambil bersenandung pelan, sepatu merahnya masih ia pakai. Mungkin ini adalah puncak kebahagiaan Xiao Nannan rasakan sejak bertemu dengan Li Yao.
"Besok kakak ada urusan," kata Li Yao tiba-tiba. "Xiao Nannan tunggu di sini ya."
Xiao Nannan menggigit bibir bawahnya. "Kakak Li Yao akan pergi, apakah Nannan membuat kakak kecewa?" Suara Xiao Nannan sedikit terisak. "Nannan bisa mencuci baju untuk kakak, mengepel dan memasak, tapi tolong jangan tinggalkan Nannan sendiri."
Xiao Nannan berkata dengan sedih, kedua mata besarnya berair, air mata gadis kecil itu bisa jatuh kapan saja membasahi pipi mungilnya.
"Pergi, tapi kakak pasti akan kembali." Li Yao membersihkan noda air mata Xiao Nannan, ia tersenyum lalu mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji?"
"Janji."
Dua jari kelingking anak kecil bertemu. Li Yao seperti seorang kakak yang baik, menjanjikan sesuatu besar kepada adik kecilnya.
Xiao Nannan tersenyum. Ia merebahkan diri di kasur, menarik selimut tipis ke atas dagu. Matanya masih menatap Li Yao.
"Selamat malam kakak Li Yao," katanya pelan.
Li Yao tersenyum. "Selamat malam Xiao Nannan." Kemudian ia memejamkan mata. Angin malam berhembus di luar jendela, membawa suara jangkrik di malam yang tenang. Tak lama, napas Xiao Nannan terdengar teratur. Ia tertidur.
Li Yao membuka mata. Ia menatap langit-langit kayu di atasnya. Besok ia harus mencari pasar tempat para praktisi berkumpul, membeli perlengkapan, dan menyusun rencana perjalanan ke Wilayah Utara. Tapi untuk malam ini, ia hanya ingin beristirahat.
Di kasur sebelah, Xiao Nannan berguling dalam tidurnya, satu tangannya keluar dari selimut, menggenggam ujung bantal. Wajahnya yang tenang terlihat sangat imut, sangat mungil dan kecil menutup.
Tidak lama kemudian. Li Yao juga memejamkan mata, energi spiritual langit dan bumi berkumpul. Dalam tubuh Li Yao energi spiritual masuk dan keluar begitu saja, dan sedikit demi sedikit energi kekacauan keluar dari Lautan Kepahitan.