Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.
Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Amatir
Pelarian mereka setelah kejadian di gang berlangsung dalam keheningan yang mematikan. Hanya langkah kaki terburu-buru, napas berat, dan sesekali erangan kesakitan dari Ningning yang pingsan di punggung Sungchan. Sungchan membawanya dengan hati-hati namun cepat, wajahnya berkerut konsentrasi, mengabaikan keringat yang bercucuran. Chenle, yang berlari di sampingnya dengan mata merah bengkak, sesekali melirik ke arah Sungchan dan Ningning. Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya-bukan cemburu romantis, tapi rasa iri karena bukan dia yang bisa membawa Ningning, dan rasa bersalah yang lebih besar karena Ningning terluka saat menyelamatkannya.
"Ningning... dia bakal baik-baik aja kan?" Chenle bertanya pada siapa pun, suaranya kecil dan penuh harap rapuh.
"Dia kuat. Dia bakal bertahan," jawab Minjeong, meski di dalam hatinya, dia melihat betapa parahnya luka di bahu Ningning.
Setelah sekitar dua puluh menit berlari, menyusuri jalan-jalan kecil yang sepi, mereka melihatnya: sebuah bangunan besar bertuliskan 'RSUD Seoul Selatan'. Sebagian kacanya pecah, tetapi struktur betonnya masih tampak kokoh. Gerbangnya terbuka lebar, seperti mulut yang menganga.
"Rumah sakit!" teriak Shotaro, suaranya penuh harapan yang terburu-buru.
"Mungkin ada obat obatan, peralatan steril!" timbul Sohee, naluri calon dokternya muncul.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka menuju ke dalam. Lobinya gelap dan berantakan, kursi tunggu berserakan, kertas dan sampah medis di mana-mana. Bau disinfektan yang kuat masih tersisa, bercampur dengan bau logam darah yang sudah mulai familiar.
"Cari ruang gawat darurat atau ruang perawatan! Cepat!" perintah Jimin.
Mereka menyusuri koridor yang hanya diterangi lampu darurat merah. Suasana horor rumah sakit yang ditinggalkan menambah beban ketakutan mereka. Sungchan langsung membawa Ningning ke sebuah ruang periksa yang relatif masih utuh. Dia dengan hati-hati membaringkannya di atas meja periksa.
"A-na! Sohee! Kalian bilang mau jadi dokter, ayo bantu!" panggil Jaemin.
A-na dan Sohee, dua siswa dengan nilai IPA terbaik dan cita-cita menjadi dokter, maju. Wajah mereka pucat, tangan mereka gemetar, tapi mereka adalah harapan terbaik mereka.
"Kita butuh cahaya lebih," kata Sohee, mencoba menyalakan lampu kepala di dinding. Tidak ada listrik.
"Di sini! Ada senter darurat besar!" teriak Jeno dari sudut ruangan, mengambil senter besar berbentuk pistol dari dinding.
jeno menekan tombolnya, dan seberkas cahaya putih terang menyorot ke langit-langit. Itu cukup. Tapi senter itu harus dipegang.
"Jeno, pegang itu. Arahkan ke sini," perintah A-na, sudah mengambil peran sebagai 'kepala tim medis darurat' dengan nada yang tak terbantahkan, meski tangannya gemetar.
Di bawah sorotan senter yang terang benderang, luka Ningning terlihat jauh lebih mengerikan daripada yang mereka kira. Robekan kulit dan otot di bahunya dalam, hampir sampai ke tulang. Di punggung, goresan cakar membentuk pola mengerikan yang masih mengucurkan darah segar.
"Oh Tuhan... ini parah," desis A-na, wajahnya pucat.
"Ini... ini perlu dijahit. Gak bisa cuma dibalut." lanjut sohee
"Tapi kita gak ada yang bisa jahit!" suara Hina panik.
"Gue... gue pernah lihat di YouTube, waktu persiapan ujian praktek," kata Sohee, menggigit bibirnya. "Tapi gue belum pernah coba beneran."
"Coba? COBA? Ini bukan praktek, Sohee! Ini Ningning!" Chenle nyaris berteriak.
"Terus lu punya pilihan lain, LE?!" balas Sohee, kali ini suaranya tegas, meski matanya berkaca-kaca. "Mau biarin lukanya terbuka dan infeksi? Dia bakal mati pelan-pelan! Atau lo sendiri yang mau coba jahit?"
Chenle terdiam, air matanya meledak lagi. Dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Lakuin aja, Sohee. Gue percaya lo," kata Jaemin, meletakkan tangan di pundak Sohee. "A-na, bantuin dia. Cari alat jahit di lemari sini."
Chenle yang melihat langsung, berbalik dan muntah di lantai. "Ning... oh tidak..."
"Keluarin yang gak perlu! Cepet!" Sungchan membentak, bukan karena marah, tapi karena panik. Dia masih memegang tangan Ningning yang semakin dingin.
"Kita butuh antiseptik kuat, jahitan bedah, gunting, klem, dan OBAT BIUS!" Sohee berbicara cepat, membuka lemari-lemari logam di sekeliling ruangan dengan brutal. "Bantu cari! Semua bantu cari!"
Mereka berpencar seperti orang gila, membuka setiap laci, setiap lemari. Barang-barang berjatuhan, suara logam dan kaca berdentangan memecah kesunyian rumah sakit yang mencekam.
"Gue nemu alkohol 70%!" teriak Stella.
"Sumpit bedah dan gunting di sini!" tambah Renjun.
"Benang jahit! Tapi banyak jenisnya, gue gak tau yang mana!" lapor Haechan.
"Ambil yang paling kecil angkanya! Yang untuk kulit!" teriak A-na sambil terus memeriksa luka. "OBAT BIUS! YANG PALING PENTING OBAT BIUS LOCAL ANAESTHETIC!"
Setelah satu menit pencarian yang terasa seperti satu jam, Minjeong menemukan sebuah troli kecil yang belum terjamah. Di dalamnya, ada vial kecil berlabel 'Lidocaine' dan beberapa syringe steril.
"Ini! Ini obat bius!" teriak koeun.
"Bawa sini! Cepat!" Sohee meraihnya.
sohee membaca label dengan cepat. "Oke... oke... dosisnya..." Matanya berkaca-kaca. "gue gak pernah lakuin ini... injeksi ke jaringan...gue takut..."
"Harus ada yang lakuin ini, Sohee!" desak Jaemin, berdiri di sampingnya. "Kita percaya sama lo dan A-na."
Sohee menarik napas dalam-dalam, tangan gemetar mengambil syringe, menarik cairan bening dari vial. "A-na, bersihin area sekitar luka dengan alkohol. harus Bersih banget."
A-na melakukan perintah dengan tangan yang juga tak stabil. Alkohol dituangkan ke kapas, digosokkan ke kulit Ningning yang pucat dan berkeringat dingin. Ningning mengerang, setengah sadar.
"Ning, ini dibius... biar gak sakit," bisik Sungchan di dekat telinganya. "Tahan ya."
Sohee mendekatkan ujung jarum ke kulit di pinggir luka yang menganga. Napas semua orang tertahan. Chenle menutup matanya, berdoa.
A-na dan Sohee membuka lemari-lemari dengan gugup. Mereka beruntung. Rumah sakit ini sepertinya dievakuasi terburu-buru. Mereka menemukan kit jahit luka steril, lengkap dengan jarum, benang, penjepit, dan antiseptik.
"Oke... oke..." Sohee menarik napas panjang, mencuci tangan dengan cairan disinfektan yang mereka temukan. Tangannya masih gemetar. "A-na, kamu jadi asistenku. Pegang senter tetap fokus di sini. Yang lain... mungkin lebih baik keluar."
Tapi tidak ada yang pergi. Mereka semua tetap di sana, menyaksikan, memberikan dukungan diam-diam. Sungchan berdiri di dekat kepala Ningning, memegangi tangan Ningning yang dingin. Chenle berdiri di seberang, wajahnya hancur.
Prosesnya mengerikan. Sohee, dengan bimbingan ingatan teoritis dan instruksi singkat A-na (yang lebih banyak membaca), membersihkan luka dengan antiseptik. Ningning, meski pingsan, mengerang kesakitan. Lalu, Sohee mengambil jarum jahit.
"Tuhan, tolong bantu," bisiknya, sebelum menusukkan jarum ke kulit Ningning yang terkoyak.
Ningning menggeliat, menjerit lemah. Sohee dengan perlahan menyuntikkan lidocaine di beberapa titik di sekitar luka. Prosesnya lambat, menegangkan. Setelah beberapa saat, Sohee menusuk kulit di area yang sudah disuntik dengan ujung penjepit. Ningning tidak bereaksi.
"Kerja... kerjanya," kata Sohee, melepas napas yang tidak disadari dia tahan.
Sekarang, bagian yang paling mengerikan: membersihkan dan menjahit.
"A-na, lu pegang penjepit dan kaitkan ujung benang. Gue yang jahit," bagi tugas Sohee. "Jeno, cahaya jangan sampe goyang! Jaemin, pegangin kepala Ningning. Sungchan, pegangin tangannya yang ini."
Mereka membentuk tim darurat yang tidak sempurna. Sohee, dengan bibir menggigit, mulai menjahit. Jarum bedah menembus kulit Ningning yang sudah kebas, menarik benang hitam tipis. Jahitan pertamanya berantakan, terlalu longgar.
"Sial," kutuknya.
"Tenang, ambil napas. Pelan-pelan," bimbing A-na, meski suaranya juga gemetar.
Jahitan kedua sedikit lebih baik. Ketiga, lebih buruk lagi. Sohee berhenti sejenak, tangannya gemetar tak terkendali. Air mata menetes ke masker darurat yang mereka temukan dan pakai.
"Gue gak bisa... gue gak bisa..." isak sohee.
"Lu BISA, Sohee!" hardik Minjeong dari samping. "Lihat dia! Ning percaya sama kita! lu satu-satunya harapannya!"
Kata-kata itu menyentak Sohee. Dia mengangguk, mengusap air matanya dengan punggung tangan, dan melanjutkan. Jahitan demi jahitan, meski tidak rapi, mulai menutup luka yang menganga di bahu. Darah masih mengalir, diisap dengan kasa oleh A-na. Suasana ruangan panas, pengap oleh bau antiseptik, darah, dan keringat ketakutan.
Proses di punggung lebih singkat karena lukanya lebih luas tapi tidak sedalam. Setelah sekitar tiga puluh menit yang merupakan ujian mental terberat dalam hidup mereka, akhirnya selesai. Dua luka utama tertutup oleh deretan jahitan yang jelek, berantakan, tapi berhasil.
Sohee membalut semuanya dengan perban steril, lalu terjatuh lelah di kursi, tubuhnya diguncang oleh tangisan kelegaan. A-na memeluknya, juga menangis.
Ningning masih pingsan, tapi napasnya lebih teratur. Wajahnya masih pucat, tapi bukan lagi pucat kematian.
"Kita butuh antibiotik infus, atau dia bisa infeksi," kata A-na, mencoba berpikir jernih.
"Cari di ruang farmasi atau bangsal," usul Jimin.
Tapi sebelum mereka bergerak, dari koridor jauh, terdengar suara.
Bukan suara manusia.
Bukan suara mereka.
Itu adalah suara gesekan logam di lantai keramik, dan suara decitan yang sangat familiar.
Semua orang membeku.
Mereka di sini.
Di rumah sakit.
Operasi darurat mereka baru saja selesai. Tapi pertarungan untuk bertahan hidup, baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya. Mereka terjebak di sebuah rumah sakit gelap, dengan pasien yang tidak bisa bergerak, dan para pemburu mungkin sudah mengendus-endus darah segar yang mereka tinggalkan sepanjang koridor.
Suara dari koridor itu seperti air es yang disiramkan ke tulang punggung mereka. Segala kelegaan setelah berhasil menjahit Ningning langsung menguap, digantikan oleh ketakutan yang membeku.
"Diam. Semua diam," bisik Jaemin, suaranya lebih rendah dari napas. Matanya membelalak ke arah pintu ruang gawat darurat yang setengah terbuka.
Semua membeku. Jeno mematikan senter darurat besar itu, menjerumuskan ruangan kembali ke dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya remang-remang dari lampu darurat merah di koridor. Ningning terbaring tak berdaya di atas meja. Sohee dan A-na masih duduk lemas di lantai, menahan napas. Chenle merangkak mendekati meja, melindungi Ningning dengan tubuhnya sendiri.
Skritch... skritch...
Suara itu semakin jelas. Bukan hanya satu. Ada beberapa. Gesekan kaki di lantai keramik yang halus, dan sesekali decitan pendek yang mengomunikasikan sesuatu antar mereka.
"Mereka lagi patroli... atau nyari sisa-sisa," bisik Haechan, telinganya menempel di pintu.
"Tapi mereka pelan... kayak lagi mengendus." kata juun
Mereka semua tahu apa yang 'dikendus' itu. Jejak darah Ningning yang mungkin menetes di lantai sepanjang perjalanan mereka ke ruang ini, dan bau darah segar yang kuat di udara.
"Kita harus pindah. Dari sini. Sekarang," desis Jimin, matanya mencari jalan keluar lain selain pintu utama.
"Tapi Ningning belum sadar dan belum bisa jalan!" protes Chenle dengan berbisik keras.
"Kita gendong lagi. Tapi kita butuh rute yang aman. Gak bisa asal keluar," jawab Sungchan, sudah bersiap mengangkat Ningning lagi.
Jaemin dengan cepat merogoh peta denah rumah sakit yang terpampang di dinding dekat pintu. Dengan cahaya HP-nya yang ditutupi tangan, dia mempelajarinya. "Ada pintu darurat di belakang ruangan ini. Menuju ke tangga servis. Tangga itu bisa ke lantai atas atau ke basement."
"Basement? Gila? Itu pasti gelap total!" gerutu Renjun.
"Atau ke lantai atas. Tapi atas lebih terbuka, jendela besar. Kalo mereka ada di luar, kita keliatan," timbul Minjeong.
Pilihan yang buruk dan yang lebih buruk.
"Suara mereka masih di koridor utama. Kita lewat tangga servis. Ke atas. Cari ruang isolasi atau kamar operasi yang tanpa jendela," putus Jaemin. "Sungchan, bawa Ningning. Yang lain, siapin barang. Jangan tinggalin apa pun yang berisik."
Dengan gerakan hati-hati yang dipoles oleh ketakutan murni, mereka mengumpulkan peralatan medis yang tersisa (antiseptik, perban, beberapa vial antibiotik yang berhasil mereka temukan), dan bersiap pindah. Sungchan dengan lembut mengangkat Ningning yang masih setengah sadar. Chenle dengan patuh membantu mengatur posisinya di punggung Sungchan.
"Gue yang buka pintu. Kalo aman, gue kasih kode. Satu jentikan: bahaya. Dua: aman, jalan," bisik Haechan, merayap ke arah pintu belakang yang bertuliskan 'PERSONEL ONLY'.
Semua menahan napas. Haechan mendekatkan telinganya ke pintu, mendengarkan. Sepi. Dengan sangat pelan, dia memutar gagangnya. Klik. Pintu terbuka sedikit. Dia mengintip ke dalam: sebuah tangga beton sempit yang naik dan turun, diterangi lampu darurat hijau yang menyeramkan. Kosong.
haechan memberi isyarat: dua jentikan jari.
Satu per satu, mereka menyelinap masuk ke tangga servis, menutup pintu pelan-pelan di belakang mereka. Mereka memilih naik. Langkah kaki mereka yang berusaha senyap mungkin bergema di lorong tangga yang sempit. Setiap derit beton, setiap desahan napas, terasa seperti teriakan.
Mereka berhenti di setiap pintu keluar tangga, mendengarkan. Lantai dua: terdengar suara pecahan kaca dan geraman jauh. Mereka terus naik. Lantai tiga: lebih sunyi.
"Coba di sini. Cari ruang yang bisa dikunci dari dalam," bisik Jaemin.
Mereka mendorong pintu keluar tangga menuju koridor lantai tiga. Koridor ini lebih gelap, lebih banyak pintu tertutup. Terlihat seperti area rawat inap. Dengan cepat mereka memeriksa beberapa kamar. Kebanyakan kosong, berantakan.
Akhirnya, Giselle menemukan sebuah ruang persediaan linen besar. Tidak ada jendela. Hanya ada rak-rak tinggi berisi seprai dan handuk. Ada kunci di pintu dalamnya.
"Di sini! Cepat!"
Mereka menyelinap masuk, tiga puluh orang memenuhi ruangan yang pengap itu. Jaemin mengunci pintu dari dalam, lalu mendorong sebuah rak besi berat untuk menahan pintu. Mereka aman. Untuk sementara.
Di dalam kegelapan ruang linen yang berdebu, mereka akhirnya bisa bernapas. Ningning dibaringkan di atas tumpukan seprai bersih. Sohee segera memeriksa denyut nadinya dan perban.
"Dia stabil. Tapi butuh istirahat beneran dan antibiotik rutin," lapor Sohee, suaranya masih gemetar.
"Kita ambil air dan makanan yang kita bisa dari troli tadi. Mungkin cukup untuk semalam," kata Mark, membagi-bagikan botol air dan beberapa biskuit energi.
Di dalam kegelapan ruang linen yang berdebu, mereka akhirnya bisa bernapas. Ningning dibaringkan di atas tumpukan seprai bersih. Sohee segera memeriksa denyut nadinya dan perban.
Suasana di ruangan itu berat. Keberhasilan menyelamatkan Ningning tercoreng oleh kenyataan bahwa mereka sekarang terkunci di sebuah ruangan tanpa jalan keluar yang jelas, dikepung oleh Klepek-Klepek yang berkeliaran di rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat aman.
"Jiwoo... Wonbin..." bisik Stella tiba-tiba, di keheningan. Air matanya menetes lagi. "Dan sekarang kita di sini... seperti tikus."
"Kita bukan tikus," sahut Minjeong, suaranya tegas meski lelah.
"Tikus lari tanpa tujuan. Kita masih punya tujuan. Masih punya rencana. Kita selamatkan Ningning. Sekarang kita istirahat, kumpulkan tenaga, lalu besok kita cari jalan keluar dari rumah sakit ini dan lanjut ke fasilitas karantina."
"Masih percaya sama fasilitas itu?" tanya Hina, suaranya datar. "Setelah semua ini?"
Jaemin menatap mereka semua di kegelapan. "Percaya atau nggak, itu satu-satunya petunjuk yang kita punya. Dan selama kita masih bernapas, selama kita masih bersama, kita harus punya sesuatu untuk diperjuangkan. Kalo nggak, ya kita memang cuma tikus yang nunggu dimakan."
Kata-katanya menggantung di ruangan yang pengap. Tidak ada yang membantah. Mereka terlalu lelah untuk berdebat. Mereka duduk, berbaring di tumpukan handuk, berbagi kehangatan tubuh, dan mencoba memejamkan mata. Di luar pintu yang terkunci, di koridor rumah sakit yang gelap dan sunyi, dunia baru yang kejam terus berjalan. Dan mereka, tiga puluh siswa SMA-yang sekarang berkurang menjadi dua puluh delapan-harus menemukan cara untuk bertahan di dalamnya, satu malam lagi.
....