Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
"Azka!" Saat istirahat di sekolah, Amira menyusul langkah Azka karena dia memang belum punya teman yang dekat selama satu minggu bersekolah di sekolah itu. Dia menarik tangan Azka agar mengikutinya karena ada sesuatu hal yang ingin dia ceritakan pada Azka.
"Amira ada apa? Aku mau latihan basket," kata Azka sambil mengikuti langkah kaki Amira.
"Kamu sudah bisa main basket, gak perlu latihan lagi. Ada sesuatu yang lebih penting." Amira menghentikan kakinya di belakang sekolah bersama Azka. Dia melihat sekelilingnya sebelum berbicara dengan Azka. "Azka, Raka itu siapa? Kamu tahu gak?"
"Raka itu kapten basket dari SMA sebelah. Nadia juga berpacaran dengan dia dan sengaja memanfaatkan Azka untuk mencuri teknik bermain basket sekolah ini agar Raka bisa mengalahkan tim basket sekolah ini dengan mudah," jelas Azka. Jiwanya yang penasaran selama ini membuatnya bisa mengikuti siapapun yang dia mau meskipun pada akhirnya tetap kembali berada di dekat raga Azka.
"Licik sekali! Lagian bisa-bisanya Azka percaya gitu saja dengan Nadia. Tapi ada yang lebih penting dari itu lagi, aku dapat penglihatan tentang hantu misterius itu," kata Amira sambil menatap Azka dengan serius.
"Ada apa? Dia takut lihat aku jadi dia gak berani muncul di depan aku."
"Iyalah, kamu lebih nakutin dari dia," kata Amira tanpa basa-basi lagi.
Seketika Azka menyentil hidung Amira. "Entar malam aku datangi kamar kamu biar kamu semakin ketakutan."
"Enak aja. Di kamar aku sudah ada bawang putih sebagai penangkal," jawab Amira. Ternyata berdebat dengan Azka itu sangat menyenangkan. Andai saja jiwa itu asli milik Azka, dia pasti sudah jatuh cinta. Sayang sekali penggerak raga itu adalah seorang hantu gentayangan.
"Memang aku sejenis vampir?" Azka tertawa lalu menyeringai menunjukkan gigi ratanya.
"Haha, bercandanya om-om gini amat." Amira mendorong Azka agar menjauh. "Kembali pada apa yang kita bahas tadi, aku dengar hantu itu bilang minta tolong sama aku, lalu aku mendapat bayangan ada seseorang yang mengancam cewek itu dan sepertinya itu Nadia karena Nadia tadi juga mengancamku."
Azka terdiam sambil melipat kedua tangannya dan berpikir. "Maksud kamu Nadia yang bunuh cewek itu?"
Amira mengangguk pelan. "Ya, mungkin saja. Soalnya tadi dia ancam aku agar tidak mendekati kamu."
"Ayo, kita buktikan!" Azka menggandeng tangan Amira dan mengajaknya berjalan bersama menuju kantin.
"Azka, kalau Nadia mau bunuh aku juga gimana?"
"Ada aku."
"Memang kamu bisa diandalkan. Gak yakin!"
Lama-lama Azka merasa gemas dengan Amira. Sepertinya dia memang harus menjadikan Amira pasangan Azka yang sebenarnya.
Azka terus menggandeng tangan Amira dan mengajaknya ke kantin.
"Lo udah putus sama Nadia?" tanya Tio yang melihat kedekatan Azka dan Amira.
"Gue cari yang pasti-pasti saja, biar gak buat sakit hati," jawab Azka, lalu dia memesan dua mangkok bakso untuknya dan untuk Amira. Setelah itu mereka duduk berdampingan sambil memakan baksonya.
"Lo banyak berubah ya sekarang, lebih berani," kata Tio yang ikut duduk di depan Azka. "Apa karena efek kecelakaan? Jangan-jangan otak lo udah diganti sama Dokter dengan pentium yang lebih tinggi."
Amira dan Azka hanya tertawa. Bukan otaknya yang diganti melainkan jiwanya.
"Azka, kita kan belum putus," protes Nadia pada Azka. Dia kini berdiri di dekat Azka.
"Gue belum bilang ya. Oke, mulai sekarang kita putus!" kata Azka dengan entengnya.
Nadia sangat kesal dengan Azka. Dia tidak akan terima dipermalukan seperti itu. Dia mengambil bakso Azka lalu menyiram Amira dengan cepat. "Dasar pelakor!"
Seketika Amira berdiri dan mengibaskan roknya yang basah dan panas karena kuah bakso.
"Nadia, lo apa-apaan! Dari awal, lo yang cuma main-main sama gue. Lo pikir, gue akan terus diam. Gue dulu memang bodoh percaya sama lo gitu aja. Mulai sekarang jangan pernah campuri urusan gue, kalau gak, gue akan bongkar semua rahasia lo!" ancam Azka. Kemudian dia menggandeng tangan Amira dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
Sekilas Amira melihat tatapan amarah dari Nadia yang mengerikan. Terbesit rasa takut di hatinya. Setelah sampai di toilet, Amira melepas tangannya dari Azka. "Aku bisa sendiri."
"Tapi rok kamu basah. Kamu tunggu sini, biar aku cari Vania dulu."
Amira hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia masuk ke dalam salah satu bilik di toilet itu. Dia membersihkan roknya dari mie bakso yang masih menempel.
"Tolong aku ...."
Lagi-lagi Amira mendengar suara itu. Dia berusaha sekuat tenaga agar tidak menoleh ke sumber suara itu meskipun bulu kuduknya kini mulai merinding.
"Ini salah Nadia. Dia harus mendapat hukumannya."
Detak jantung Amira semakin cepat. Dia mematung dan tak bisa bergerak. Dia tahu makhluk itu berada di belakangnya.
"Kamu cari rekaman cctv yang ada di sekolah Raka, maka kamu akan tahu siapa yang salah."
Amira menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Akhirnya hawa dingin yang mencekam itu hilang. Dia keluar dari bilik toilet saat mendengar suara Vania yang memanggilnya.
"Kak Amira."
"Iya, sebentar." Amira membuka pintu itu dan melihat Vania yang berdiri di dekat pintu.
"Kak Vania, nih aku pinjamkan rok. Dipakai saja tidak apa-apa."
"Makasih ya, Van. Kamu baik banget sih. Sebentar, aku mau ganti rok dulu." Amira kembali masuk ke dalam bilik toilet. Dia segera mengganti roknya dengan cepat, setelah itu dia kembali keluar dari bilik toilet dan melihat Vania masih setia menunggunya.
"Kak Amira, tadi yang numpahin bakso itu Kak Nadia ya?" tanya Vania sambil berbisik.
Amira menganggukkan kepalanya. Dia melipat roknya yang kotor lalu berkaca di dekat wastafel.
"Kak Azka apa sudah tahu kalau Kak Nadia selingkuh?" tanya Vania lagi dengan sangat pelan setelah melihat sekitarnya dan aman.
"Kamu sudah tahu soal ini?" tanya Amira.
Vania menganggukkan kepalanya. "Aku beberapa kali melihat Kak Nadia jalan sama Kak Raka. Sebelumnya aku sudah bilang sama Kak Azka tapi Kak Azka gak percaya. Setelah kecelakaan aku merasa Kak Azka berubah. Kak Azka yang sekarang lebih tegas, pokoknya beda banget sama Kak Azka yang dulu."
Amira hanya tersenyum kecil lalu menggandeng tangan Vania keluar dari toilet. "Ya mungkin karena efek dari kecelakaan itu."
"Tapi bukan hanya itu, Kak Azka ini manja banget sama Mama."
"Wah, bahaya! Azka jangan boleh dekat-dekat dulu sama Mama kamu ya."
"Kenapa, Kak?" tanya Vania tak mengerti.
"Pokoknya pantau saja kakak kamu kalau di rumah. Udah ya, aku mau ke kelas. Sekali lagi, makasih." Kemudian Amira berjalan jenjang masuk ke dalam kelasnya.
Sedangkan Vania hanya bingung mendengar apa yang dikatakan Amira. "Maksud Kak Amira apa sih?"
💞💞💞
Like dan komen ya...
😌 Entahlah, kenapa akhir2 ini aku merasa malas sekali untuk update di sini... 😮💨🥱 Lagi mengumpulkan semangat lagi seperti dulu.