Nalendra Adiwijaya terpaksa menerima perjodohan dengan Kinan Artanegara, karena kekasih hatinya kabur di hari pertunangan mereka.
Kinan yang sudah lebih dulu jatuh cinta pada Nalen sejak usia remaja pun begitu bahagia saat bisa menikah dengan pria itu.
Sayang, indahnya pernikahan yang diimpikan oleh Kinan bertolak belakang dengan pernikahan yang dia jalani bersama dengan Nalen.
Karena sikap acuh Nalen, Kinan pun harus merasakan kesakitan dan kecewa yang teramat mendalam karena kerap di abaikan oleh suaminya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Kinan dan Nalen? Saat masa lalu Nalen kembali. Bahkan di saat Kinan belum bisa meluluhkan hati sang suami??
yukk simak kisah mereka di sini....
Bantu follow ya...
ig :author_triyani
tiktok :triyani_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAS.Bab 10
...🌸🌸🌸...
...*Happy Reading*...
*
"Tapi bukan begini caranya Nalen. Kamu salah besar jika seperti ini."
"Nalen tahu Pa, tapi Nalen tidak bisa terus begini. Nalen ingin hidup bahagia bersama orang yang Nalen inginkan bukan dengan orang yang kalian pilihkan,"
Seketika, hancur lebur sudah perasaan Kinan saat mendengar perdebatan antara suami dan mertuanya saat ini.
Bahkan kakinya mulai terasa lemas untuk melangkah. Kinan hanya bisa diam terpaku di tempat dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.
"Kalau begitu, ceraikan dia. Kembalikan dia kepada kedua orang tuanya secara baik baik. Bukan dengan cara yang menjijikan seperti ini. Ingat Nalen, Papa dan Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk jadi seorang bajingan."
Tidak sanggup mendengar semua ucapan yang di lontarkan lagi oleh Nalen. Kinan pun akhirnya memilih untuk pergi dari rumah mewah milik mertuanya nya.
Dengan langkah gontai Kinan berjalan keluar lalu memesan taksi online. Pikiran nya kacau saat ini, dan yang Kinan butuhkan saat ini hanya tidur agar semua beban yang ada di dalam hatinya sedikit menghilang.
"Loh, non. Nggak jadi masuk?" tanya Pak Suro, pria paruh baya yang sudah lama menjadi satpam di rumah keluarga Nalen.
"Tidak Pak, saya mau pulang saja. Tapi, bolehkan Pak kalau Bapak, jangan bilang kalau saya kemari." jawab Kinan.
"Loh, memang nya kenapa Non?"
"Tidak apa apa, tapi saya mohon. Tolong jangan bilang kalau saya kemari ya Pak,"
"Iya, baiklah non saya tidak akan bilang. Tapi, non pulang sama siapa?"
"Saya sudah pesan taksi, kalau begitu saya pamit ya Pak. Taksinya sepertinya sudah datang."
"Iya non, hati hati kalau begitu."
"Baik Pak, terima kasih."
Kinan pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke luar gerbang rumah besar dan mewah itu.
Di Depan rumah ternyata sebuah taksi online sudah menunggu nya. Setelah memastikan itu adalah taksi pesanan nya.
Kinan pun langsung masuk dan pergi ke alamat rumah nya bersama dengan Nalen. Setiba nya di rumah itu, Kinan pun langsung masuk kedalam kamarnya dan tidak terlihat keluar dari dalam kamar itu meski Bi Marsih sudah memanggilnya untuk makan malam.
Namun Kinan sama sekali tidak keluar dari sana. Sementara Nalen sendiri, memutuskan untuk pulang ke rumah setelah hari menjelang tengah malam.
Pria yang biasa nya disambut oleh sang istri kini berganti dengan Bi Marsih yang datang untuk membukakan pintu untuknya.
"Tuan baru pulang?" Tanya Bi Marsih pada tuan nya itu.
"Iya Bi. Apa Kinan sudah pulang?" Tanya tiba tiba.
Hingga membuat Bi Marsih mengerutkan dahinya. Pasalnya, ini pertama kalinya Nalen menanyakan Kinan.
"Sudah tuan, sepertinya sudah tidur juga." Jawab Bi Marsih apa adanya.
"Baiklah, sekarang. Lebih baik Bibi istirahat. Terima kasih sudah menunggu saya pulang,"
"Baik tuan, tidak apa apa. Itu sudah menjadi tugas saya."
Usai berbincang dengan Bi Marsih. Nalen pun langsung menuju ke lantai atas untuk mengistirahatkan tubuh lelah nya.
Setelah bergelut dengan pekerjaan yang sangat menumpuk. Nalen pun harus dihadapkan dengan masalah rumah tangga nya dengan Kinan.
Rasanya ingin sekali bertemu dengan kasur empuk miliknya agar malam ini Nalen bisa melupakan permasalahan nya dengan Kinan dan keluarga nya.
*
*
Keesokan hari nya.
Kinan tampak menghela nafas panjang sambil menatap sebuah koper besar yang sudah siap untuk dia bawa.
Meski berat dan terasa menyakitkan, namun. Kinan pun akhirnya memutuskan untuk menepi sejenak.
Memikirkan kembali hubungan nya dengan Nalen. Namun dengan begitu, Kinan harus pergi dari rumah itu untuk menenangkan diri sejenak sebelum akhirnya mengambil keputusan final.
Akan kemana dia membawa hubungan pernikahan nya dengan Nalen. Setelah merasa cukup lama berpikir.
Akhirnya Kinan pun keluar kamar dengan menyeret kopernya. Kinan lebih dulu menghampiri Bi Marsih yang tampak sudah mulai sibuk menyiapkan sarapan.
"Bi, bisa bicara sebentar?" Tanya Kinan saat sudah ada di dapur.
"Iya nyonya. Bisa," bi Marsih pun langsung membalik tubuh nya dan alangkah terkejutnya Bi Marsih saat melihat Kinan membawa koper yang cukup besar.
"Loh, nyonya mau kemana? Kenapa bawa koper?" Tanya bi Marsih yang langsung menghampiri Kinan.
"Kinan mau pergi dulu sebentar. Tolong titip Mas Nalen ya. Jangan biarkan Mas Nalen berangkat kerja dalam keadaan belum sarapan." Pesan Kinan pada Bi Marsih.
"Memang nya nyonya mau kemana?" Tanya Bi Marsih lagi.
"Kinan hanya mau liburan sebentar Bi. Ya sudah, titip Mas Nalen ya. Dan satu lagi, jangan katakan apapun pada Mas Nales tentang kepergianku, terkecuali dia yang bertanya ya Bi."
"Loh, kenapa nyonya? Kenapa tuan tidak boleh tahu kepergian nyonya?"
"Bukan tidak boleh, tapi jangan bilang dulu kalau Mas Nalen tidak bertanya, ya?"
"Baiklah, nyonya akan saya lakukan seperti yang nyonya katakan."
"Terima kasih ya Bi, kalau begitu Kinan pergi dulu, ya."
"Iya nyonya, hati hati."
Kinan pun segera pergi meninggalkan rumah mewah milik Nalen. Sekilas Kinan menatap ke arah lantai atas dimana suaminya berada saat ini.
Lalu kemudian berlalu pergi, meninggalkan rumah yang sudah menyimpan sejuta kenangan pahit dirinya dan Nalen selama mereka menikah.
"Semoga setelah ini. Aku bisa melepasmu Mas, tapi aku mohon. Tolong beri aku waktu sedikit lagi saja ya. Biarkan aku menikmati statusku sebagai istrimu, sebentar lagi saja." Gumam Kinan sembari melangkah pergi meninggalkan rumah Nalen.
*
*
Sementara Nalen sendiri, saat ini tengah menatap bingung saat menemukan Bi Marsih yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuknya.
Biasanya Kinan lah yang setiap hari berdiri di sana dan tengah sibuk menyiapkan menu sarapan di setiap pagi nya meski tidak pernah Nalen makan sedikit pun.
Bahkan melirik makanan yang di buat istrinya saja tidak. Namun kini, sudah tidak ada lagi Kinan di sana.
"Sarapan dulu tuan, sebelum berangkat. Makanan nya sudah saya siap kan," ucap Bi Marsih saat menyadari jika majikan nya sudah turun dari lantai atas.
Tanpa menjawab, Nalen pun segera mendekat ke arah meja makan. Seketika selera makan nya mendadak hilang padahal Bi Marsih sudah memasakkan menu kesukaan nya.
Namun meski begitu, Nalen mencoba memaksakan diri untuk memakan menu yang sudah tersedia di meja makan.
Cuma udang saus padang dan juga cah kangkung dengan tambahan cabe rawit uang merupakan kesukaan nya menjadi menu di pagi ini.
Namun, seketika Nalen meras ada yang berbeda dari rasa masakan itu. Rasanya benar benar nikmat dan terasa lezat di lidahnya.
Bahkan yang tadinya Nalen tidak berselera pun akhirnya sampai nambah hingga 3x saking lezatnya kedua menu masakan itu.
"Ah, kenyangnya." ucap Nalen mengusap perutnya sendiri yang terasa penuh.
"Bibi makin pinter aja masak nya, saya sampai 3x nambah loh saking enaknya," seru Nalen yang seketika berwajah ceria setelah perutnya terisi penuh oleh makanan kesukaan nya.
"Itu, bukan saya yang masak tuan. Tapi nyonya Kinan, saya hanya membantu menyiapkan saja," jawab Bi Marsih yang berhasil membuat Nalen tersedak oleh minuman yang tengah dia tenggak.