Nayla saraswati, gadis jelek hitam dekil yang selalu dikucil kan oleh semua orang memiliki nasib baik dengan menikahi tuan muda arogant yang kaya raya bernama Erlangga raharja.
Tak di sangka, tuan muda itu menikahinya hanya sekedar ingin mengolok² dan menghinanya saja "wanita ini adalah mainan ku" Ujarnya di depan semua orang sembari menunjuk ke arah Nayla.
Mendengar kalimat itu, sontak saja membuat orang² yang tak punya hati nurani tersebut menertawakan Nayla, mereka semua menghina fisiknya karena di anggap menjijikkan.
"Orang tuanya pasti malu punya anak macam dia. Bahkan aku yang melihatnya saja ingin muntah. Dasar burik! ".
Begitu kejam orang² di sekitarnya, mereka semua mencibir Nayla dengan celaan yang menyakitkan hati.
Siapa sangka, saat Nayla melepas topeng buruknya, semua orang tercengang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R qiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Setelah pulang bekerja, Erlangga tak langsung kembali ke rumah. Ia pergi ke sebuah club terlebih dahulu bersama dengan sekretaris Ray.
Sekarang ini Erlangga tengah berada di ruang VIP, sebuah ruangan yang khusus di sediakan untuknya.
Pencahayaan nya tidak terlalu terang, Ia duduk di sebuah sofa besar dengan menyilang kan salah satu kakinya ke atas. Sedangkan sekretaris Ray berdiri kaku di sampingnya.
Selain mereka berdua, juga ada empat wanita malam yang menemani Erlangga di dalam ruangan tersebut, mereka semua terduduk di lantai. Tak dapat di pungkiri bahwa keempat wanita itu sangatlah cantik, kulitnya putih, bentuk tubuhnya proporsional, apalagi dalam balutan dress mini yang memperjelas bagaimana lekukan tubuhnya. Erlangga tak bisa mengelak bahwa sesungguhnya ia datang ke tempat itu hanya untuk menyejukkan mata dengan melihat wanita² cantik yang ia sewa, sebab ia merasa bosan melihat wajah jelek istrinya setiap hari.
Dia memang suka melihat pemandangan yang menarik, tapi walaupun begitu, Erlangga tak pernah menyentuh tubuh para wanita yang telah di sewanya, bahkan hanya sekedar memegang tangan pun ia tidak pernah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa dia memang tidak suka di sentuh oleh wanita manapun. Entah apa alasannya tapi dari dulu dia benci bersentuhan dengan orang lain. Aneh bukan? Dia suka melihat wanita² cantik tapi tidak mau di sentuh sedikitpun? ...
"Tuan, sudah lama anda tidak datang kemari, saya sangat merindukan anda" Ucap wanita penggoda satu dan hanya di balas senyuman menyeringai oleh Erlangga.
"Silahkan di minum tuan" Ucap wanita penggoda dua seraya meletakkan gelas berisi wine itu ke atas meja, sedangkan kedua tangannya terbungkus oleh sarung tangan. Bukan hanya dia, bahkan ketiga temannya juga memakai sarung tangan tersebut.
"Tuan, saya pernah melihat berita bahwa anda sudah menikah. Saya jadi patah hati" Kata wanita penggoda tiga dengan kepala yang ia sandarkan ke atas meja, wajahnya terlihat imut, dan Erlangga suka melihat itu.
Erlangga mengambil wine di atas meja, kemudian memutar²kan wine yang berada dalam gelas tersebut. Tiba² suara dari salah satu wanita itu membuat aktifitas tangannya terhenti.
"Tuan, anda sangat muda dan tampan. Walaupun anda sudah beristri, saya bersedia melayani anda dengan sepenuh hati. Bahkan jika anda menginginkan yang lebih, saya akan dengan senang hati melakukannya" Ucap wanita penggoda empat.
Ketiga temannya langsung tertegun mendengar kalimat itu, mereka semua memandang ke arahnya dengan wajah terkejut.
Wanita itu sudah gila, padahal sewaktu di luar tadi teman²nya sudah memperingatkannya bahwa tidak boleh mengatakan hal² konyol kepada Erlangga seperti berharap lebih untuk bisa melayaninya di atas ranjang.
Wanita penggoda yang tak tau malu tadi langsung berdiri, ia berjalan menghampiri Erlangga. Dengan sigap, sekretaris Ray langsung menghalangi langkah wanita itu. Jelas saja dong si wanita malam itu langsung marah "siapa kau menghalangi jalanku, minggir! " Bentaknya. Tapi sekretaris Ray tidak bergeming sama sekali, ia masih tetap dalam posisinya "anda di larang mendekat" Tegasnya.
"Tak apa Ray, aku ingin bicara dengannya sebentar" Seperti mendapatkan lampu hijau, wanita itu langsung berjalan menghampiri Erlangga, bahkan ia berani duduk di sebelah tuan muda tersebut.
"Apa kau pekerja baru di sini? Aku baru melihatmu sekarang" Tanya Erlangga dengan suara agak serak.
"Iya tuan, saya bekerja di sini baru dua hari yang lalu. Anda datang kemari pasti karena istri anda membosankan, saya dapat memuaskan anda tuan" Jari²nya yang masih tertutup sarung tangan itu dengan liarnya merayap di dada bidang Erlangga.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh ku" Suaranya begitu dingin, bahkan terdapat ekspresi kekesalan dalam raut wajahnya.
Tapi wanita itu malah tersenyum dan menghiraukan perkataan itu, dia terlalu percaya diri akan kecantikannya hingga beranggapan bahwa laki² manapun tidak akan bisa menolak pesonanya.
"Tuan... Ak" Belum wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Erlangga menyelaknya lebih dulu "berdiri! " Ujarnya mendominasi.
Mau tidak mau wanita itu menuruti perintah Erlangga, kemudian Erlangga berkata lagi "berlutut lah! " Titahnya dengan tatapan menghujam.
"Hah?? ".
Tanpa menunggu perintah, Sekretaris Ray langsung menekan pundak wanita itu. Mendapat tekanan keras di pundaknya sontak saja membuat wanita itu langsung bertekuk lutut.
Erlangga langsung menyiramkan wine yang ia pegang ke wajah si wanita " Kau pikir kau itu siapa seenaknya menyentuh ku?, apa kau kira aku akan jatuh hati padamu karena kau cantik?. Ingat satu hal, kau tidak lebih hanya seorang wanita kotor yang suka menjajakkan tubuh pada sembarang laki². Jadi, jangan merayu ku dan jangan bersikap melampaui batas" Ternyata Erlangga memang mempunyai mulut setajam pisau.
Mendengar hal tersebut, wanita itu hanya diam saja, seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya menunduk basah karena siraman wine tadi. Tak dapat ia pungkiri bahwa sekarang ini dia sedang ketakutan "ma.. Maaf tuan, sa sa.. Saya, saya tidak bermaksud membuat Anda marah. Saya hanya ingin menghibur anda saja tuan... " Ucapnya menyangkal, melihat tatapan Erlangga yang begitu mengintimidasi membuatnya ketakutan setengah mati.
"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, enyah lah dari hadapanku. Seret dia keluar! " Erlangga menyuruh Ray untuk membawa wanita itu pergi dari hadapannya.
"Baik tuan" Tanpa rasa kasihan, sekretaris Ray langsung menyeret wanita tersebut.
"Ti, tidak tuan. Saya masih ingin berada di sini. Saya mohon maafkan saya" Pintanya memberontak. tapi sayangnya tuan angkuh itu tak menggubris, mau bagaimanapun kata yang telah terucap dari mulutnya tak akan ia tarik kembali.
Melihat salah satu temanya di seret keluar dari sana, mereka bertiga yakin bahwa temannya itu akan kehilangan pekerjaannya. Siapa suruh sok²an mau menggoda Erlangga, bahkan mereka yang sudah lama mengenal laki² arogant itu saja masih tidak berani. Bagi mereka, hanya sekedar menemani seperti ini saja sudah lebih dari cukup, tak ingin berharap lebih karena uang tip yang di berikan Erlangga lebih banyak ketimbang harus menghangatkan ranjang untuk para lelaki tua.