Gadis belia yang biasa di sapa Vio, jatuh hati pada seorang pengusaha sukses pemilik restoran didepan sekolah internasional tempat ia menimba ilmu.
Siapa sangka, pria sukses berstatus duda itu, pemilik tambak ikan gurami di kota mereka.
"Om gurami, nikah yuk!" tuturnya suatu sore.
Pria dingin itu hanya tertawa kecil, mendengar celotehan gadis belia berusia 17 tahun tersebut seraya berkata, "Kamu sekolah yang benar, nanti om biayain kuliah kamu."
Berhasilkah hubungan mereka berdua karena sang gadis tidak mengerti apa arti dari sebuah kata 'nikah' ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menganggap pernikahan
Suasana siang semakin terik. Entah mengapa, kedua wanita paruh baya itu tidak menghubungi putra-putri kesayangan mereka, melainkan langsung bertemu dengan ketua yayasan sekolah elite tersebut, atas keinginan Mutia sebagai donatur terbaik di sana.
Setiba di depan kantor ketua yayasan, Mutia menoleh kearah Alma yang tengah berjalan menuju kelas. Gegas ia menghampiri janda muda itu, hanya untuk memberi pelajaran, "Hei!" Ia menghardik sang mantan menantu yang belum dikenal oleh Inggit.
Dengan cepat Alma menoleh kearah Mutia, kemudian tersenyum kecut, karena tidak menyangka akan bertemu dengan mantan ibu mertuanya di sekolah. Ia bertanya dengan wajah sedikit pucat serta gugup, "Ma-ma! Ng-nga-ngapain mama kesini? Bawa-bawa wali murid Viona segala."
Mutia mengembangkan senyuman lebarnya, sengaja mengejek wanita yang tampak salah tingkah tersebut, "Ogh!" Ia menoleh kearah Inggit sambil berkata, "Jeng, kenalkan, dia ini mantan istri Juan. Dia yang telah memfitnah putraku, sehingga Juan tidak melanjutkan studinya ke London. Padahal, wanita sampah ini menikah dengan pria lain. Satu lagi jeng, dia juga yang telah mengirimkan kabar yang menjijikkan itu di sosial media. Jadi saat ini, dia harus tahu bahwa berurusan dengan Keluarga Felix itu tidak mudah!"
Mendengar penjelasan Mutia, dada Inggit sebagai seorang wanita yang sangat mencintai putri kecilnya, langsung menatap lekat kedua bola mata Alma yang tampak ketakutan, "Ogh, jadi Anda memiliki dendam pada Ibu Mutia dan melampiaskan kepada putri saya, begitu, hmm? Bisa jelaskan apa kesalahan Viona kepada Anda, Bu Alma?"
Entah mengapa, Alma tampak semakin gelisah, karena baru saja ia mendapatkan peringatan dari seseorang diseberang sana, membuat hatinya semakin gusar, kini harus berhadapan dengan dua wanita yang sangat mengenal dirinya.
"Ma-ma-maaf ma, bu, saya tidak tahu apa maksud kalian berdua. Kalau kalian mau membahas tentang kasus hangat yang tengah menerpa Viona, saya tidak ada sangkut pautnya, bu, ma."
Wajah Mutia tampak semakin garang, tangannya sudah mengepal kuat untuk meremas kuat bibir mantan terburuknya, "Katakan pada ketua yayasan cepat! Bahwasanya, kamu pelaku penyebar foto dan video murahan itu. Dasar guru tidak tahu etika kamu, seharusnya kamu bangga bisa saya bantu menjadi pengajar di sini, Alma. Tapi ternyata kamu membuat malu calon besan saya! Viona itu gadis lugu, dia tidak sama seperti kamu. Awas kamu!"
Mutia menarik lengan Inggit, meninggalkan Alma yang masih tampak kebingungan, kemudian mengetuk pintu ruangan ketua yayasan yang terletak disalah satu gedung berlantai dua tersebut. "Dasar wanita jahat, dia yang menjebak anakku, jeng. Wanita itu sengaja menggoda Juan waktu mau ujian akhir nasional. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kami, jeng. Ditambah beasiswa yang diberikan hangus karena terlambat datang untuk ujian satu mata pelajaran lagi!"
Inggit hanya mengangguk-angguk, namun tidak memikirkan apa yang diucapkan oleh Mutia, karena saat ini dirinya justru tengah memikirkan bagaimana psikologis Viona yang belum mengerti sama sekali tentang dunia-dunia aneh seperti itu.
Gadis cantik itu, memang masih sangat muda. Usianya yang baru genap 17 tahun dua bulan lalu, membuat ia belum mengerti apa itu kehidupan, karena semua diatur oleh Inggit juga Danu sebagai orang tua.
Pergaulannya hanya sebatas sekolah, rumah, dan beberapa ajang kontes model jika itu menyangkut kepentingan sekolah. Tidak lebih, karena cara Inggit sangat berbeda dari orang tua lainnya.
"Selamat siang Bu Mutia, apa kabar?" sapa ketua yayasan bernama Benet. Wanita lebih tua dari Mutia dua tahun itu, berdarah Filipina-Singapura merupakan salah satu partner bisnis sang suami.
Mutia dan Inggit tersenyum sumringah, menjabat tangan Benet, kemudian duduk di sofa yang telah tersedia.
Gegas Mutia memperkenalkan Inggit kepada Benet, "Kenalkan ini wali murid dari Viona, bu."
Benet menjabat tangan Inggit sekali lagi, kemudian menoleh kearah Mutia, "Jangan bilang kalau kedatangan kalian berdua, ada sangkut pautnya dengan Alma? Barusan Pak Felix sudah menghubungi saya untuk mencari informasi penyebar foto juga video itu. Tenang saja, Viona tidak akan dikeluarkan dari sekolah, tapi hanya di skors satu minggu karena dia bolos terobosan sudah lebih dari dua minggu."
Kedua bola mata Inggit membulat besar ketika mendengar Viona bolos dua minggu. Jantungnya berdebar tak menentu, seraya bertanya dengan nada tidak percaya, "Dua minggu? Dia seminggu memang sakit, bu. Tapi seminggu lagi Vio masih sekolah seperti biasa. Kenapa dia dinyatakan bolos?"
"Sebentar." Benet berdiri mendekati meja kerjanya, kemudian mengambil hasil laporan dari Alma, tentang siswa yang bolos dalam bulan itu. Kembali ia meletakkan berkas absen siswa diatas meja ruangannya, kembali duduk sambil menjelaskan, "Yang di beri lambang merah itu jadwal siswa alfa, Bu."
Entah apa yang membuat Inggit semakin naik darah, karena berani-beraninya sang putri bolos terobosan sementara sang supir selalu menjemput tepat pukul empat sore. "Berani sekali anak itu bermain-main keluar sana, pada jam sekolah, awas kamu Vio ...!"
Tanpa menunggu lama lagi, Inggit langsung merogoh tas kecilnya, menghubungi Viona yang telah ia ketahui dimana keberadaannya, "Angkat telepon ibu, anak nakal ...!"
Kedua wanita itu memberikan ruang, karena sangat mengerti apa yang dilakukan oleh orang tua, jika anaknya bolos sekolah.
[Kamu dimana ...]
[Hmm, aku sama eee, anu bu. Sama om gurami]
Mendengar ucapan Viona yang terdengar gugup diseberang sana, membuat Inggit langsung menghardik sang putri.
[Kamu kembali ke sekolah sekarang juga, atau ibu seret kamu dari hotel itu. Ibu di ruangan Bu Benet. Pintar kamu berbohong sama ibu, ya ...]
Gawai pipih itu seketika terputus. Membuat Inggit semakin murka, dan langsung menuliskan pesan singkat whatsApp ke nomor telepon sang putri.
[Cepat kamu ke sekolah, atau kamu kirim kamu ke pondok pesantren tempat Abah Anom]
***
Viona yang baru selesai menikmati makan siangnya bersama ketiga pria dewasa, yang kini ia sapa 'om', kembali tampak berubah setelah mendapatkan telepon dari sang bunda.
Bagaimana tidak, dadanya kini berdebar-debar membuat Vio tidak dapat mengerti apa yang baru diucapkan sang mama. Kembali kedua bola matanya mendelik tajam, ketika membaca pondok pesantren yang berada di Tasikmalaya.
Lagi-lagi tangan mungil itu, kembali menarik-narik jas Juan, "Om, om, ibu marah-marah sama aku. Apa ini ada hubungannya dengan video itu, ya? Aku harus gimana, om? Aku takut," ia kembali merengek meminta pendapat pada pria yang duduk disebelahnya.
Tanpa pikir panjang, Juan membaca pesan singkat dari wanita paruh baya itu, hanya tersenyum tipis kemudian berkata pelan, "Tuh, kan ... seharusnya kamu dengerin nasehat saya tadi pagi. Sekarang masalahnya semakin runyam. Oke, kita jalan sekarang ke sekolah." Ia menoleh kearah kedua sahabatnya sambil berkata, "Gue jalan dulu, bro. Nanti malam kita ngopi ditempat biasa!"
"Siap bro ..." Petra dan Al memberikan kepalan tinjunya, sebagai salam persahabatan mereka bertiga selama ini.
Sementara itu Viona tampak semakin gelisah, kemudian langsung mengikuti langkah kaki Juan yang jalan lebih dulu. "Kalau ibu kirim aku ke pesantren, tidak apa-apa deh. Daripada harus menjadi bahan omelan setiap hari ..." sungutnya sepanjang jalan menuju parkiran mobil si om tampan.
"Om, kalau ibu marah-marah, nanti malam kita langsung nikah, ya? Karena kalau kita nikah, kata ibu kemaren, ibu tidak akan marah-marah sama aku. Jadi ada baiknya aku nikah sama om. Kalau kita nikah, ibu akan mikir-mikir buat omelin aku. Karena yang aku lihat seperti itu, sih. Oma jarang marah-marah sama ibu, karena katanya orang yang sudah menikah tidak perlu di marahin lagi."
Juan tidak menghiraukan celotehan Viona, karena gadis kecil itu benar-benar tampak ketakutan dan sangat gelisah atas apa yang tengah menimpanya. "Kamu tenang ya?"
***
Mobil berwarna merah menyala itu terparkir di parkiran halaman sekolah, keduanya turun tanpa mau bercerita sepanjang perjalanan.
Akan tetapi, ketika memasuki ruangan ketua yayasan yang berada dilantai dasar, tiba-tiba Vio menoleh kearah Juan seraya bertanya, "Om, kalau ibu marah-marah kita kabur, ya?"
Ingin sekali Juan tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan putri kesayangan Pak Danu tersebut, akan demikian ia hanya mengusap lembut kepala gadis itu, membuat poni welcome yang menghiasi wajah cantiknya berantakan.
"Om gurami, jangan acak-acakin rambut aku terus, deh! Rusak ni poni aku!" Viona melirik kesal kearah Juan, disaksikan Alma yang berjalan menuju ruangan ketua yayasan setelah mendapatkan panggilan dari sang ketua.
Tiba-tiba saja wanita berusia 27 tahun itu menghardik siswinya tersebut tanpa perasaan sungkan dihadapan Juan, "Hei Viona, kamu bolos malah bermesraan dengan pria dewasa ini. Mau jadi apa kamu, hmm?"
Pertanyaan Alma membuat rahang Juan menggeram penuh amarah, dadanya bergemuruh ingin mencekik wanita itu, "Jaga mulutmu, Alma. Aku dan Viona hanya bertemu dengan Al juga Petra. Apa kau tidak melihat Petra di sana, hah?"
Alma justru melenggang mendekati Viona, menarik lengan gadis yang berusaha berlindung dibalik punggung Juan, "Kamu tahu siapa pria ini, hmm? Pria ini merupakan mantan suamiku yang masih mengharapkan agar aku kembali padanya! Jadi jangan banyak berharap, karena kamu hanya anak ingusan yang tidak berarti apa-apa bagi Juan!"
Gadis belia yang tidak mengerti apa-apa tentang pernikahan itu, seketika menoleh kearah Alma dan Juan bergantian. Ia tampak tertawa kecil seraya berkata, "Ogh, om gurami sudah putus sama Bu Alma?" kembali ia menyeringai kecil mencolek lengan pria gagah itu. "Pantas saja Bu Alma tidak suka sama saya, ternyata ibu pernah nikah sama om gurami. Kalau sudah putus, ya putus saja, bu!"
Dada pria dan wanita itu awalnya bergemuruh, saling memaki dan menatap penuh dendam, tiba-tiba saja ingin kembali tertawa, namun keduanya tersenyum simpul, "Emang Vio menganggap pernikahan itu apa, sih ...?"