Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!
*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.
Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.
"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.
Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menata Hati Kembali.
Luna terdiam mendengar ucapan sahabatnya, ingatannya langsung melayang pada sosok pria paruh baya yang sudah hampir satu tahun tidak ditemuinya. Ya, Luna memang sengaja menghindari Ayahnya karena ia sangat marah saat tahu pria itu selingkuh dan mengkhianati Ibunya.
Satu tahun lalu memang menjadi hari terburuk Luna, dimana ia harus kehilangan Ibunya karena wanita itu sakit-sakitan setelah bercerai dari sang Ayah. Sejak kejadian itu juga Luna memutuskan untuk pergi dari rumah dan memilih tinggal sendiri.
"Untuk apalagi dia mencari ku? Apa istri barunya tidak menjaganya dengan baik?" Tanya Luna dengan senyum sinisnya.
"Dia mau kau pulang Lun, berkumpul sama-sama lagi. Udah hampir setahun loh, kau tidak merindukannya?" Ujar Vinda menghela nafas panjang, tahu bagaimana marahnya Luna saat tahu Ayahnya berselingkuh.
"Aku tidak akan pulang sebelum dia meninggalkan keluarga barunya. Untuk apa? Toh Ayah sendiri yang sudah memilih mereka," sahut Luna memasang wajah enggannya.
"Terserah kau sajalah, tapi aku dengar kemarin dia sakit dan sempat dirawat," ujar Vinda.
Luna menegakkan tubuhnya, berbohong kalau ia tidak khawatir mendengar Ayahnya sakit. Mau sekuat apapun dia membenci Ayahnya, hatinya tidak bisa berbohong kalau ia masih menyayangi pria itu.
"Vin, aku beneran lagi nggak mau bahas dia. Kepalaku sangat pusing dan aku ingin makan," ujar Luna mengambil sendok dan memulai makan malamnya.
"Pusing kenapa? Bukannya kerja jadi sekretaris enak? Mana bosnya ganteng lagi," celetuk Vinda.
"Yang terlihat belum tentu sama seperti apa yang terjadi." Luna menyahut dengan malas, seketika saja ia langsung ingat sosok Gamma, pria itu sudah membuatnya kesal hari ini.
"Hahaha, yah sayang banget bosmu itu sudah punya istri. Mana mesra banget lagi," celetuk Vinda seraya menatap seseorang yang terlihat baru saja datang dengan pasangannya itu.
"Kenapa sih bicarakan dia terus, aku lagi bete nih!" seru Luna semakin geram saja dengan sahabatnya ini.
"Bete kenapa? Jangan bilang kau menyukainya?" Tanya Vinda dengan tatapan penuh selidik.
"Vin, bisa nggak sih nggak bahas orang yang buat mood aku makin ancur," kata Luna benar-benar kesal sekali, ia mendorong piring makanannya pertanda ia sudah kehilangan nafsunya.
"Gimana nggak dibahas? Tuh orangnya datang sama bininya," ujar Vinda menunjuk Gamma yang kini terlihat duduk satu garis dibelakang mereka.
Luna mengerutkan dahinya, ia menoleh untuk melihat apa yang Vinda maksud. Begitu melihat sosok Gamma bersama Clarissa wajah Luna langsung berubah terkejut. Ia menatap Gamma yang hanya diam saja meski Clarissa sedang bergelayut manja di lengannya.
"Sayang, kamu mau pesan apa?" Terdengar suara Clarissa memanggil Gamma dengan begitu manja.
"Terserah," sahut Gamma dengan nada cueknya, ia sebenarnya enggan bertemu dengan Clarissa, tapi wanita ini selalu saja memaksanya. Kalau di rumah pun yang ada dia akan habis di ranjang karena Clarissa terus mengajaknya bercinta.
"Salmon aja ya, kesukaan kamu. Minumnya kopi matcha latte," ujar Clarissa lagi.
Gamma hanya mengangguk singkat, ia mengalihkan pandangannya kearah lain untuk mengalihkan pikirannya yang berkecamuk. Namun, disaat itu juga tatapannya justru tertuju pada Luna yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Luna ..." batin Gamma terkejut melihat Luna berada di restoran yang sama dengannya.
Luna membuang mukanya, ia kembali menekuni piringnya setelah melihat pemandangan menyakitkan itu. Tanpa sadar air matanya menetes karena hal itu.
"Lun, kau menangis?" Vinda menatap Luna bingung.
"Enggak, aku mau pulang aja Vin. Kepalaku pusing banget sekarang," ucap Luna mencubit hidungnya yang pengar karena menahan tangisnya.
Tanpa menunggu jawaban Vinda, Luna langsung bangkit dari duduknya. Ia tidak mau lagi berada ditempat yang sama dengan Gamma. Ya Tuhan, hatinya kenapa sakit sekali? Padahal biasanya ia bisa menahannya meski sering melihat Gamma dan istrinya bermesraan.
"Lun, tunggu lah, aku bayar dulu." Vinda ikut buru-buru bangkit dan ia membayar makanan mereka terlebih dulu.
Luna tidak menghiraukan sahabatnya, ia tetap melanjutkan langkahnya dengan sangat cepat. Ia tahu jika Gamma saat ini juga terus menatap dirinya.
"Luna ..." Gamma hampir saja bangkit untuk menyusul Luna, tapi teringat akan Clarissa yang ada bersamanya, ia mengurungkan niatnya.
"Kau mengatakan sesuatu, Sayang?" Tanya Carissa seperti mendengar suara Gamma.
"Tidak, aku hanya ingin ke toilet sebentar," ucap Gamma melepaskan tangan Clarissa dari lengannya.
"Jangan lama-lama, makanannya udah mau dateng," ucap Clarissa sembari mengernyitkan dahinya.
Gamma tidak menyahut, ia buru-buru pergi untuk mengejar Luna. Ia tahu wanita itu sepertinya salah paham. Sesampainya diluar, ternyata ia tidak menemukan Luna ada disana.
"Sial, aku harus menyusulnya ke ruko," ucap Gamma mengumpat kesal lalu masuk kembali untuk mengajak istrinya pulang.
*****
"Cerita sama aku Lun, apa hubunganmu dengan bosmu? Jangan bilang dugaan aku benar kalau kau menyukainya?"
Sesampainya di ruko, Vinda langsung mencerca sahabatnya itu. Ia bisa melihat tatapan yang tidak biasa saat Luna melihat Gamma.
"Aku memang salah Vin, harusnya aku tidak ada di posisi ini. Aku sangat membenci wanita yang telah menghancurkan keluargaku, tapi sekarang aku justru menjadi wanita seperti itu," kata Luna menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Kepalanya benar-benar pusing memikirkan hidupnya ini, ia sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.
"Astaga Lun, banyak pria diluar sana tapi kenapa harus bosmu sendiri?" Vinda rasanya langsung lemas mendengar jawaban sahabatnya.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk merebut Tuan Gamma dari istrinya, apa aku salah jika mencintainya?" Ucap Luna menatap sahabatnya itu.
"Aku nggak tahu harus ngomong apa, orang bilang repot kalau udah urusan cinta. Aku mau pulang aja, lagian aku juga nggak jauh beda sama kamu, nggak bisa kasih masukan apapun," ujar Vinda menghela nafas panjang, ia juga bukan manusia suci yang bisa menyalahkan orang lain. Sejauh ini karena pekerjannya, entah sudah berapa rumah tangga yang sudah ia rusak.
Luna memejamkan matanya singkat, cinta memang membuat orang lupa segalanya. Seharusnya waktu itu dia menolak saat Gamma mengajaknya melakukan dosa itu, bukan malah menerimanya dengan alasan cinta.
Kenapa aku harus sedih melihat Gamma dengan istrinya? Wanita itu yang lebih berhasil dariku. Mulai sekarang aku benar-benar harus mulai menata hatiku kembali. Aku tidak mau menjadi wanita yang ingin merebut kebahagiaan wanita lain.
Luna meyakinkan hatinya sendiri untuk tidak lagi memakai hatinya, hubungannya dengan Gamma murni hanya kebutuhan yang saling menguntungkan. Tidak lebih dari itu.
Tok Tok Tok Tok
Tiba-tiba terdengar pintu yang diketuk dari luar membuat Luna membuka matanya. Dengan malas ia menyeret langkahnya untuk membukakan pintu tersebut.
"Tuan?" Luna begitu kaget melihat sosok pria yang berdiri di depan pintu itu.
Happy Reading.
TBC.
eh awal bab so 🔥🔥🔥