Giovanno alias Gio sangat membenci Lisa yang merupakan istri muda ayahnya. Pria itu berpikir bahwa ibu tiri yang bahkan lebih muda dari usianya itu hanya mengincar harta kekayaan mendiang ayahnya. Nyatanya setelah Gio mengenal Lisa, dia malah jatuh cinta dengan ibu tirinya tersebut.
Bagaimana kisah Gio dan Lisa selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Di sebuah ruangan yang gelap hanya ada sedikit cahaya. Lisa dan Gio kembali duduk di kursi yang membuat mereka seperti orang lumpuh. Namun, ada satu hal yang membuat keduanya nampak tegang dan ketakutan, yaitu suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya.
"A-Ayah ...."
"P-Pak ...."
Lisa dan Gio mulia gemetar, wajah Tuan Ghani nampaknya sangat berbeda dari sebelumnya. Kali ini benar-benar sangat menakutkan bak pemeran hantu di film horor.
"Bukankah Ayah sudah pernah memperingati kalian, Ayah tidak akan berhenti datang ke mimpi kalian jika kalian masih belum juga setuju untuk menikah! Kenapa kalian berdua sangat keras kepala dan mesti meminta waktu 1 bulan pada pengacara Mark untuk memikirkannya?!" Tuan Ghani terlihat sangat marah dengan rahang yang mengeras. Matanya juga memerah. Dengan gerakan secepat kilat Tuan Ghani bergerak ke arah Lisa dan Gio membuat keduanya langsung berteriak bersamaan.
"Aaah!!!"
"Hosh ... hosh." Lisa dan Gio seketika terbangun dengan napas ngos-ngosan.
Lisa langsung meraih selembar tissu untuk menyeka keringat yang ternyata sudah membasahi dahinya. Melihat wajah marah Tuan Ghani dalam mimpi benar-benar membuatnya ketakutan hingga terbangun.
Lisa lantas melihat ke arah Gio. Pria itu nampaknya sama sepertinya. Habis mimpi buruk.
"Apa kau ... apa kau baru saja bermimpi?" Lisa bertanya pada Gio seraya bangkit dari sofabed kemudian berjalan mendekat ke arah pria tersebut.
Gio mengangguk. "Ayah terlihat sangat marah pada kita. Sangat menyeramkan."
"Ya, kau benar. Di mimpiku pun seperti itu. Benar-benar sangat menyeramkan, sampai-sampai rasa takutku terbawa sampai aku terbangun." Lisa lantas duduk di kursi yang ada di samping ran jang perawatan Gio.
"Dulu, saat aku masih kecil, sekali pun aku tidak pernah melihatnya semarah itu," ucap Gio.
Suasana seketika hening ketika keduanya sama-sama terdiam. Hingga pada akhirnya Gio yang lebih dulu kembali angkat bicara.
"Sepertinya ... kita berdua harus membahas masalah ini dengan serius. Jika ayahku terus-terusan saja muncul di mimpi kita berdua dan makin lama makin parah, lama-lama aku bisa gila dibuatnya."
"Kau benar. Sekarang saja aku masih merasa sangat ketakutan. Wajah Tuan Ghani tadi dalam mimpi benar-benar mengingatkanku pada hantu dalam film horor. Dia benar-benar membuatku takut. Rasanya sekarang, aku bahkan takut masuk ke dalam toilet sendirian," ucap Lisa.
Gio tersenyum tipis sambil menatap wanita itu. "Sepertinya kau sangat penakut. Jangan bilang nanti kau mau memintaku untuk menemanimu masuk ke dalam toilet untuk buang air."
"Ck, jangan mengejekku kalau kau pun sama penakutnya sepertiku," balas Lisa, membuat Gio tertawa untuk pertama kalinya di hadapan wanita itu.
"Kau tertawa?" tanya Lisa tidak menyangka. "Aku pikir kau bisanya hanya marah-marah dan mengatai orang," tambahnya sembari mengulum senyum.
Mendengar ledekan Lisa, Gio langsung menghentikan tawanya. Wajar jika wanita itu menganggapnya demikian. Sebab, kesan ketika pertama kali mereka bertemu, sikap Gio memang seperti itu terhadap Lisa.
"Ekhm. Lupakan soal itu. Anggap saja tadi kau tidak pernah melihatnya." Gio menjeda ucapannya sejenak. Jujur saja, saat ini dia merasa malu pada Lisa, makanya dia sengaja mengalihkan topik pembicaraan secepat mungkin. "Mm ... bagaimana kalau ... kita menikah saja?"
Lisa langsung mendongak dan menatap Gio tidak percaya. "Hah, kau yakin?"
"Sudah tidak ada pilihan lain."
Keduanya lantas sama-sama terdiam.
"Sepertinya besok pagi aku harus mengabari pengacara Mark," ucap Lisa setelah terdiam sesaat sambil memikirkan sesuatu.
"Apa itu artinya kau juga sudah siap untuk menikah denganku?" Gio menatap wajah Lisa dengan lekat.
Sebelum menjawab, Lisa terlebih dahulu menghembuskan napasnya panjang. "Bukankah kau sendiri yang bilang tadi kalau sudah tidak ada lagi pilihan lain."
Keduanya lantas sama-sama tertawa.
"Entahlah. Pernikahan macam apa nanti yang akan kita jalani ke depannya." Gio berkata setelah menghembuskan napas panjang. Pernikahan yang terjadi tanpa cinta dan hanya dilakukan karena unsur keterpaksaan tentu bukan sesuatu yang baik. Gio tidak yakin rumah tangganya dengan Lisa nanti akan berjalan normal seperti rumah tangga pada umumnya.
Lisa juga kembali mendengus. "Entahlah. Kita jalani saja seperti air mengalir."
"Atas nama ayahku, aku meminta maaf karena sudah membuat rencana hidupmu menjadi kacau," kata Gio. "Sebagai seorang wanita karir, kau pasti memiliki rancangan untuk hidupmu sendiri, 'kan? Tapi sayangnya ayahku malah mengacaukan semuanya."
"Jujur saja, yang kau katakan itu memang benar adanya, karena sejak lama aku memang sudah memiliki rancangan tersendiri untuk masa depanku. Tapi kau tidak perlu minta maaf, karena perlahan-lahan aku pasti akan bisa menerimanya. Positif thinking saja, mungkin garis kehidupanku memang sudah diatur oleh Tuhan begini adanya," ujar Lisa.
Gio tersenyum tipis mendengar ucapan bernada pasrah yang keluar dari mulut Lisa. "Apakah biasanya kau memang selalu bijak seperti ini?"
"Maksudnya?"
"Sudah, lupakan saja. Mungkin sebaiknya kita membahas hal yang jauh lebih penting dari ini. Misalnya ... bagaimana kita akan menjalani status pernikahan kita ke depannya?"
"Menurutku ... mungkin ada baiknya jika kita merahasiakan saja. Sebab, orang-orang di perusahaan sudah banyak yang tahu bahwa aku ini istrinya mendiang tuan Ghani. Kalau mereka sampai tahu kalau aku juga menikah denganmu yang merupakan putra tunggal ayahmu, mereka pasti akan berpikir bahwa aku ini perempuan gila."
"Ya, kau benar. Sebaiknya pernikahan kita nanti cukup kita berdua dan pengacara Mark saja yang mengetahuinya, serta orang-orang yang terlibat dalam kelangsungan pernikahan kita nanti. Selebihnya, tidak perlu ada lagi yang mengetahuinya."
Ya, keduanya telah sepakat untuk menikah diam-diam tanpa perlu ada resepsi pernikahan yang wah. Toh pernikahan ini juga mereka lakukan karena terpaksa karena takut terus mendapatkan teror dari Tuan Ghani dalam mimpi yang semakin lama semakin menyeramkan.
B e r s a m b u n g...
...__________________________________________...
...Sorry banget Bestie kemarin akak Otor gak up dikarenan kurang enak badan🙏🏼...
*istri bersahabat dengan lelaki lain
*istri begitu perhatian pada pria lain bahkan didepan suaminya
*istri lebih mementingkan perasaan pria lain daripada perasaan suami
*istri menjaga perasaan pria lain daripada suami
*istri kawatir pada pria lain sampai susul ke rumahnya
*istri merasa bersalah pada pria lain tapi tidak pernah merasa bersalah pada suaminya
*istri berkali meminta maaf pada pria lain tapi tidak pernah meminta maaf pada suaminya
*istri merayu pria lain karena merajuk didepan suaminya
*istri gampang kontak fisik dengan pria lain didepan suami
*istri lebih peduli pada pria lain daripada suaminya
begitu banyak hal menjijikan yang dilakukan lisa tapi dengan munafik author membenarkan semua kelakuan menjijikan lisa
cap novel ini novel munafik dan menjijikan
tapi heran di novel sang istri menghawatirkan dan pergi mencari pria lain kalian anggap hal biasa dan malah kalian benarkan
sifat munafik kayak ini lah yang selalu aku protes saat kalian berkarya novel