Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.
Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.
Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.
simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Sisi lain yang kau rindu, mungkin telah jauh tertinggal. Kenapa sesal itu hadir, ketika malam menjelang?"
Aku berjinjit masuk kamar, pelan kututup kembali pintu kamar agar tak membangunkan, Reny, yang telah tertidur pulas. Kuganti kemejaku dengan kaus oblong yang tergantung di balik pintu.
Lalu kurebahkan tubuhku di sisi Reny. Aku baru pulang ke rumah menjelang tengah malam. Sepulang dari rumah ibu tadi, aku mampir ke cafe. Akibat perkataan Reny, menjelang makan malam tadi. Aku pamit keluar rumah, dengan alasan ada teman kantor yang menelepon.
Padahal awalnya aku sudah bilang mau ke rumah, ibu. Agar aku bisa lekas pergi, aku kembali membohongi mereka. Kulihat raut kecewa di wajah ke dua anakku karena tidak bisa makan malam, bersama. Ucapan mama merekalah, yang membuat papanya tak merasa nyaman.
Reny, tak banyak bicara. Dengan wajah yang sengaja dia stel dengan senyum semanis mungkin. Istriku mengiyakan langsung, tanpa kata.
Sampai di rumah, ibu, aku juga ketularan tak banyak bicara. Malah aku mendadak tak tenang. Jadi saat ibu mengajakku makan, aku benar-benar tak selera makan. Padahal menu yang di masak, ibu , adalah makanan favoritku.
"Kamu, kenapa Bram? Sakit, ya? " tanya ibu penuh perhatian.
"Gak kok, Bu. Cuma lagi gak doyan, saja," kilahku. Padahal ucapan istrikulah yang telah memengaruhi pikiranku.
"Kamu berantam dengan, Reny, ya?" aku gegas menggeleng. "Anak-anakmu, berulah lagi?" kejar ibu.
"Bukan, Bu. Bukan soal mereka," bohongku. Entahlah, aku engan berbagi dengan ibu, kali ini. Malas membicarakan perkataan istriku. Aku, yakin ibu akan menggoreng masalah itu dengan bumbu micin hingga makin enak untuk dibahas.
Tapi sudahlah, aku tidak ingin tambah bingung dan stres mengahadapi kedua wanita yang paling berpengaruh dalam hidupku.
Karena ibu merasa aku tidak berbohong, jadi tak ingin memaksaku. Ibu tak banyak bertanya lagi. Akhirnya makan malam kami sudahi dengan pikiran masing-masing.
Lalu aku pamit sama ibu lebih awal. Meski heran, ibu, mengiyakan saja. Aku berniat mampir di sebuah cafe hanya untuk sekedar, menyegarkan pikiran. Meneguk satu dua gelas, minuman beralkohol, yang dihidangkan dengan
pesanan khusus.
Jadi saat pulang ke rumah, jelas tubuhkuku telah terkontaminasi alkohol. Walau tak sampai mabuk.
Tubuh Reny menggeliat. Dasternya, tersingkap hingga ke pahanya. Aku menelan salivaku, dengan susah payah. Darahku yang tadi telah bercampur dengan alkohol, membuat gejolak di hatiku mulai kehilangan kontrol.
Kuelus paha mulus istriku. Dengan napas tersenggal kusingkapkan daster itu. Entah kapan aku terakhir menyentuh tubuhnya, aku sudah lupa. Napasku makin memburu, membuat Reny terjaga dari tidurnya.
"Abang sudah pulang, ya?" serunya mencoba mengumpulkan kesadarannya akibat bangun tidur. Dia nampak terkejut saat melihatku ada di atas tubuhnya.
"Dek," ucapku dengan sorot mata sayu. Memohon padanya. Istriku melengoskan wajahnya karena mencium aroma tak sedap dari mulutku.
"Abang mabuk, ya?" serunya berusaha menghindar dari ci****ku. Bahkan aku lihat dia menahan mual. Tapi aku tak peduli semua itu. Kadung nafsuku naik, dan butuh pelampiasan. Reny meronta sekuat tenaganya. Semakin dia meronta semakin aku bergairah menaklukkannya.
Akhirnya istriku tak berdaya menolakku. Tepatnya tak berdaya melawan kekuatanku. Malam itu, aku menuntaskan hasratku. Aku merasakan ada yang hambar dari penyatuan itu. Sepertinya ada rasa yang hilang, dari pelayanan istriku. Bahkan, menjelang aku terlelap aku mendengar isak tangisnya. Aku melihat tubuhnya berguncang halus. Tapi mataku terlalu berat, tubuhku terlalu lelah untuk sekedar ingin tau apa yang terjadi.
Ketika, paginya aku terjaga. Aku terlambat bangun. Hari sudah siang. Matahati sudah tinggi. Aku merasakan kepalaku agak pusing. Mungkin pengaruh alkohol yang kuminum semalam.
Aku berusaha duduk, dan mengumpulkan kesadaranku. Istriku sudah tak ada dikamar. Seperti biasa, mungkin dia sibuk di dapur. Untunglah hari ini libur panjang, akhir pekan.
Aku mengambil handuk, dan keluar dari kamar. Aneh, kok rumah terasa sepi. Aku melihat ke teras, kalau saja Devan dan Mitha main di sana. Tidak ada.
Lalu aku ke dapur. Suasana juga sepi. Tak ada Reny, istriku. Tempat biasa, dirinya menghabiskan waktu. Aku segera masuk ke kamar mandi, untuk menyegarkan tubuhku. Kemana anak istriku, pergi?
Hingga aku telah selesai mandi dan salin pakaian. Juga, duduk manis di ruang tamu sambil minum kopi, yang barusan kuseduh. Walau tak senikmat kopi buatan Reny, istriku. Aku menyalakan televisi dan bermaksud menghubungi istriku via whatshaap. Ketika ponselku tiba-tiba berdering.
Ternyata nomor ibu.
"Halo, Bu," sapaku perlahan. Ibu menyahut ucapanku di seberang.
"Hari ini 'kan kamu libur, nak? Temani ibu dulu, ya," bujuk ibu.
"Kemana, Bu," ucapku agak berat. Karena aku berencana menghabiskan waktu seharin dengan anak-anak.
"Menemani, ibu, belanja. Besok ada arisan di rumah ibu. Sekalian minta tolong, supaya Reny, bantu-bantu, Ibu masak."
"Gak tau, Bu. Aku baru bangun. Lagi ngopi ini. Reny dan anak-anak entah ke mana."
"Jadi, istrimu pergi keluar rumah, tanpa pamit ya. Istri macam apa itu, gak ada hormatnya sama, suami sendiri," cerocos ibu.
"Mungkin pamit, Bu. Tapi aku gak tau, soalnya aku habis minum semalam, Bu. Jadi susah di bangunkan," jelasku. Tak enak juga ibu asal marah pada Reny, padahal belum tau apa persoalannya.
"Apa sudah kau hubungi mereka."
"Barusan mau kuhubungi, Bu. Keburu ibu telpon, Bram."
"Ya, sudah. Coba telepon Reny. Bilang kamu mau menemani ibu, belanja. Jangan lupa, pesan ibu. Supaya Reny bantu ibu, masak," telepon terputus. Aku menarik napas panjang. Lalu kucoba menghubungi nomor istriku. Telah berkali-kali aku hubungi, tapi nomor yang aku tuju tidak aktif.
Aku jadi bingung, pada kemana anak dan istriku pergi.
Aku keluar dan berdiri di teras. Mencoba mencari info kepada tetanggaku siapa tau mereka dititipi pesan oleh istriku.
"Eh, nak Bram, udah bangun toh?" ucap bu Rani tetanggaku sebelah.
"Eh, iya, Bu," sahutku agak gugup. Aku memang jarang bersosialisasi dengan tetanggaku. Jadi ada rasa segan saat bertegur sapa seperti ini.
"Cariin anak istrinya ya, nak Bram?" seru Bu Rani lagi. Seolah tau isi hatiku.
"Egh, iya, Bu. Saat aku bangun tidur, mereka tak ada," ucapku sambil garuk kepala yang tidak gatal.
"Reny dan anak-anak tadi pamit sama, Ibu. Mereka pergi dengan keluarga Pak Seno, liburan ke pantai. Rombongan dengan ibu-ibu yang lain. Harusnya nak Bram, ikut juga. Bawa keluarga, secara nak Bram 'kan ada mobil. Jadi, anak istri gak numpang di mobil tetangga," jelasnya panjang kali lebar. Sekalinya menyindir juga. Membuat wajahku merah.
"Maaf, Bu. Saya sangat sibuk kerja dii kantor," aku mencoba mencari celah untuk menyudahi percakapan itu.
"Alah, sibuk apaan nak Bram. Semua orang juga sibuk. Tapi hasilnya untuk keluarga. Tapi kok aneh, kalau nak Bram ini, sama sekali gak peduli sama keluarga. Jangan pikir, Reny curhat sama, ibu, ya. Reny itu anaknya tertutup. Ibu bukannya kepo, cuma aneh saja suami seorang manajer di BUMN, tapi anak istri tidak ikut menikmati fasilitasnya." cibir Bu Rani. Ucapan sarkasnya membuatku seolah dikuliti hidup- hidup.
Aku tau Bu Rani ini orangnya memang tukang gosip, wanita kepo yang suka ngurusin orang lain. Tak kusangka tiba juga giliranku di kepoinnya. Semua gegara istriku, Reny. Agrhhhh!....******