Aku dapat telfon dari ibu dan katanya itu hal penting ibu meminta ku pulang, terpaksa aku pulang. Aku tidak menyangka aku mendadak di suruh menikah sampai aku tidak menyangka wanita yang akan aku nikahi bukanlah wanita tipe ku, bahkan melainkan jauh dari tipe ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur dzakiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Bersama
Setiba Aktar di depan kediamannya ia melihat ada mobil, mobil yang sangat ia kenali. Aktar masuk kedalam dan saat melewati ruang makan Aktar di cegah ibunya. Dengan kesal ia berhenti dan berbalik melihat ibunya.
"Aktar kemari-lah makan bersama. Ibu sudah memanggil paman mu. Ini adalah kesempatan untuk makan bersama." Kata Natri sedikit berteriak, karena meja makan dan pintu sedikit jauh.
Aktar melihat semua orang yang duduk di meja makan hingga matanya terhenti melihat wanita yang ia tak sukai, dimana Najwa ada di sana. Bagaimana mungkin ia mau ikut makan bersama sedangkan wanita itu berada di sana.
"Tidak bu' aku tidak lapar." Aktar menolak karena ia tidak ingin makan malam jika di situ ada Najwa. Saat ia ingin pergi dia lagi-lagi di cegah dan itu ayahnya yang mencegahnya.
"Aktar! kau jangan seperti itu! duduk di samping istri mu sekarang." Kata Ikrar sedikit marah. Entah kenapa Aktar bertingkah anak kecil lagi, apakah ia tidak melihat mereka sedang kedatangan tamu dan tidak lain keluarga dekatnya sendiri. Apa kata mereka jika melihat Aktar seperti itu.
Aktar mengerti maksud Ayahnya ia kembali melihat semua orang yang juga melihatnya, dengan terpaksa dan hati berat Aktar berjalan menghampiri mereka dan mengambil tempat dan ia ikut makan bersama, meski ia duduk di samping Najwa ia tidak pernah berbalik ke Najwa sedikit pun itu.
"Kak Aktar mau makan apa? biar aku ambilkan." Tanya Najwa sudah mengambil piring untuk Aktar, Irna melihatnya kesal.
"Tidak usah, Aku bisa melakukan itu sendiri." lagi-lagi Aktar menolak dengan wajah datar, pandangannya lurus ke depan tanpa melihat Najwa. Najwa tertunduk sambil menenangkan hatinya yang mulai terasa perih.
Irna yang menyaksikan suasana dimana kedua suami istri itu tidak akur, dan dimana Aktar yang cuek kepada istrinya. Apa lagi dia tidak mau di layani Istrinya. Irna merasa senang melihat keadaan itu, karena dengan begitu ia lebih mudah menyingkirkan Najwa. karena sebenarnya dia sangat mencintai Aktar sepupunya.
"Kak bagaimana kalau aku yang ambilkan?" Tanya Irna mengambil kesempatan.
"Baiklah." Kata Aktar dengan melihat irna.
Najwa diam melihat itu, sedangkan Irna dengan hati senang ia mengambilkan makanan untuk Aktar kemudian ia berikan.
Najwa tidak merasa cemburu karena ia tidak menyukai Aktar sama sekali, tapi Najwa merasa sakit karena di perlakukan cuek oleh Aktar. Najwa melihat gadis yang berada di hadapannya gadis cantik menggunakan pakaian terbuka. Tampak terlihat sexy, lekuk tubuhnya terlihat jelas, dia adalah sepupu Aktar juga sepupu iparnya.
"Aktar bagaimana dengan perusahaan mu tahun ini?" Tanya paman Torik, mengalihkan suasana canggung tadi.
"Baik-baik saja."Jawab Aktar dingin.
"Ku dengar kau akan membuka hotel?" Tanyanya dengan sedikit ada maksud di belakangnya.
"Ya,"
"Wah! itu adalah proyek besar. Semoga proyek mu cepat selesai." Katanya ada rasa bangga.
"Bagaimana kita akan mulai makan. Kalau selalu saja berbicara." Kata Ikrar Ayah Aktar.
"Sudahlah. Ayo makan sebelum makanannya dingin. Apa lagi kata Natri semua makanan ini di buat oleh Najwa sendiri." Lanjut Ikrar.
"Benarkah? ternyata menantu mu sangat hebat dalam memasak." Puji paman Torik.
Kemudian suasana berubah menjadi hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara karena semuanya dalam menikmati santapan makanan masing-masing. Aktar mengakui makan malam yang ada di atas meja ini berbeda, semuanya lezat. Tapi Aktar tidak bisa menunjukkan kalau dirinya sedang menikmati makanan yang di masak Najwa.
"Aku sudah selesai," Kata Aktar sambil mengelap mulutnya dengan tisu, bahkan hanya dengan itu dia terlihat sangat tampan.
"Kamu cepat sekali selesainya Nak. Cobalah makan kuenya dulu pasti kamu suka." Kata Natri karena ia sudah mencicipi kue yang di buat Najwa, Kue penutup yang bernutrisi. Bahkan baik untuk lambung yang tidak bisa makan makanan bercampur-campur.
"Tidak Bu, aku tidak bisa makan sesuatu yang manis." Kata Aktar menolak.
Najwa mengambil piring kecil kemudian mengambil sepotong kue.
"Makanlah kak, tidak akan terjadi apa-apa karena baik untuk lambung." Kata Najwa lembut sambil menyodorkan sepotong kue.
Aktar melihat kue yang di pegang Najwa memang terlihat lezat. Karena sudah di ambilkan Najwa Aktar tidak bisa lagi menolak ia kemudian mengambil kue itu. Aktar sedikit ragu untuk memakannya.
"Wow! kue ini sangat enak." Kata Irna, bahkan ia pun menyukai kue buatan Najwa.
Tanpa ragu lagi Aktar langsung mencobanya.
jujur saja kue basah tapi memiliki rasa yang gurih, bahkan tidak terlalu manis tapi tetap terasa sangat enak, Aktar sangat suka dengan rasanya karena kue ini memiliki rasa yang pas.
"Sangat enak!" ucap Aktar dalam hati. Najwa melihat Aktar yang makan dengan sangat lahap.
Apa dia menyukai kue itu ?
Najwa tak ada hentinya melihat Aktar. Hingga Aktar sadar kalau Najwa terus melihatinya, dengan cepat Aktar menyimpan piringnya.
"Kenapa berhenti Kak? kuenya belum habis loh." Ucap Najwa melihat masih ada sedikit kue yang belum di makan Aktar.
"Aku sudah kenyang." jawabnya tanpa melihat Najwa. Ia melihat semua orang yang sangat menikmati tiap makanan yang tersaji di atas meja, Aktar hanya dapat menelan Saliva nya. Seandainya Najwa tidak terus melihatnya ia tidak akan sungkan memakan semua makanan yang ada karena ia akui setiap makanan yang tersaji itu benar-benar enak, semua rasanya pas. Makanan yang berminyak tetapi tidak terasa berminyak saat di makan.
Aktar penasaran dengan wanita yang menjadi istrinya, kenapa bisa membuat makanan begitu enak sampai semua orang pun senang memakannya.
"Aku jujur saja, aku ingin sekali menghabisi makanan yang ada di meja ini. Menantu mu benar-benar pintar membuat makanan yang sangat enak. Najwa apa paman bisa datang lagi memakan masakan mu?" Tanya paman Torik. Najwa merasa tersanjung karena di puji terlalu berlebihan.
"Boleh saja paman, kapan pun paman mau." Jawab Najwa sambil tersenyum tipis.
"Atau bagaimana kalau kau ajari Irna? biar dia bisa memasak makanan enak setiap hari untuk ku." Katanya lagi. Irna langsung terdiam, sendok yang di tangannya ia simpan.
Bukannya itu ide bagus, Irna melihat Aktar juga sangat menikmati makanan yang di buat Najwa. Jika ia bisa membuat makanan yang seperti di buatnya. Ia bisa membuatkan Aktar tiap hari dengan begitu ia bisa bertemu setiap dia ingin. Jadi tidak ada ruginya kalau ia belajar masak dengan Najwa.
"Iya kak Ipar, aku ingin di ajari masak oleh mu. Biar ayah bisa selalu senang memakan masakan ku."
"Boleh saja, kamu bisa datang kapan pun kamu punya waktu."
"Benarkah? kalau begitu aku sangat berterimakasih ." Kata Irna sambil melirik Aktar dengan maksud lain. Karena tujuan sebenarnya dia ingin belajar masak hanya untuk Aktar bukan untuk Ayahnya.
Bersambung....
outhor ya kemana ya🤔
Lanjut lagi kak