Kisah yang menceritakan tentang Zay Aditya, Dia terpaksa harus pergi meninggalkan kekasihnya. Dari London, Inggris, Zay Aditya kembali ke kota kelahirannya meninggalkan masa lalu, dan bertemu Akira, perempuan ceria yang bekerja sebagai reporter.
Sejak itu masa lalu Zay Aditya mulai terungkap satu per satu. Akira jatuh cinta pada Zay.
Apakah Zay akan membuka hati untuk Akira?
Atau Zay masih berharap Tuhan akan mengalah dan mengirimkan Mira, kekasih masa lalu kepada nya?
Pastikan subscribe agar tidak ketinggalan cerita nya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon idaa_nafishaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Ibu
Zay Aditya menjalani kesehariannya dengan perasaan yang tidak menentu, Zay Aditya benar-benar tidak mengerti akan ada orang seperti Mira. Menyiksa dirinya sendiri dengan melakukan perjanjian terhadap Tuhan.
Sementara Mira, seperti mendapatkan kembali semangat hidupnya setelah dia melakukan perjanjian terhadap Tuhan.
Mira kembali fokus menjalani kehidupannya dan berpikir seolah-olah bahwa kejadian di mana dia melakukan perjanjian ala London dengan Zay Aditya tidak pernah terjadi.
Mira baru saja tiba di kantor saat seorang resepsionis memberikan paket untuk nya.
Mira menerima paket itu, dan membukanya di ruang terbuka yang ada di lantai 17 kantornya.
Mira terkejut karena isinya adalah kain sari yang sangat indah dan halus.
Mira mengambil kain itu kemudian secarik kertas terjatuh dari dalam sana.
Mira membuka nya..
Dear Mira, I heard the multimedia wedding news and I could no longer hold myself back from giving you a gift. If all this time I could only buy you a gift and put it in the corner of the cupboard, today I know that you will get married soon. Mom couldn't hold back anymore and sent you this.
(Mira sayang, Ibu mendengar berita pernikahan multimedia dan Ibu tidak dapat lagi menahan diri untuk memberikan kamu sebuah Hadiah, jika selama ini Ibu hanya bisa membelikan kamu sebuah hadiah dan meletakkannya di pojokan lemari, hari ini begitu mengetahui bahwa kamu akan segera menikah. Ibu tidak bisa menahan diri lagi dan mengirimkan kamu ini.)
When parents give their blessing to their child to get married, there must be a feeling of happiness and sadness. Happy because finally the baby can tread a new life with his soulmate. Sad to have to part with a child who has been raised wholeheartedly.
(Saat orang tua memberi restu pada anaknya untuk menikah pasti ada rasa bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena akhirnya sang buah hati bisa menapaki kehidupan baru bersama belahan jiwanya. Sedih karena harus berpisah dengan anak yang telah dibesarkan sepenuh hati.)
This is the saree that you used when you left the house and came to your father's house for the first time. Mother kept this there and still looks stunning to this day, Mother knows what mother has left a deep wound in your heart. But I hope you will wear this saree on your wedding day.
(Ini adalah kain sari yang Ibu gunakan saat ibu meninggalkan rumah dan datang ke rumah ayahmu untuk pertama kalinya. ibu menyimpan ini ada tetap terlihat mempesona sampai hari ini, Ibu tahu ibu sudah meninggalkan luka yang apa dalam di hati kamu. Tapi Ibu berharap kamu akan memakai Sari ini di hari pernikahan kamu.)
Greetings, Mother
(Salam rindu, Ibu)
Mira yang tidak tahu harus melakukan apa, memilih untuk bertemu dengan Zay Aditya.
Mira menunjukkan hadiah dan surat yang dikirimkan Ibu kepadanya.
"Sungguh, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," lirih Mira.
"Mira tidak tahu, tapi Zay Aditya tahu," Zay Aditya tersenyum.
Kemudian di keesokan harinya, Zay Aditya mengajak Mira menggunakan sepeda motor menuju suatu tempat terpencil yang sejuk dan asri..
Di tempat lain,
Seorang wanita terlihat berjalan di tengah perkebunan anggur, sesekali dia membenarkan rambatan pohon anggur yang melenceng jauh dari kawat yang sudah di siapkan.
"Ada apa?" tanya wanita itu, pada pria yang membawa gelas anggur.
"Langit cerah, kenapa aku masih melihat mendung di wajah mu."
"Berhentilah mengatakan hal hal gombal, Imran."
"Desi, apa kamu tidak tahu betapa aku sangat mencintai kamu sehingga aku tidak bisa untuk berhenti mengatakan sesuatu yang tiba-tiba saja ada di dalam pikiranku."
Desi memutar malas bola matanya sehingga ada seorang anak kecil berlari-lari namanya.
"Ibu Desi, Ini Desi."
"Hei Raju, apa yang membuat kamu berlari sambil terus memanggil namaku seperti itu?" tanya Desi.
"Di depan ada orang yang ingin bertemu dengan Ibu Desi."
"Benarkah? tapi aku tidak merasa sedang membuatmu janji dengan seseorang pada hari ini."
"Mereka adalah orang-orang yang datang dari restoran ternama di London, mereka ingin mencicipi secara langsung aku yang ada di perkebunan. Karena mereka sangat membosankan seperti kamu, Aku meminta mereka untuk datang ke sini dan bertambah langsung dengan kamu. Aku paling cocok karena kalian sama-sama membosankan."
Desi makanan apa saja kemudian memilih untuk pergi dari sana untuk menemui orang-orang yang datang dari restoran.
"Hei, aku mencintaimu," ucap Imran pada gelas anggur merah yang ada di tangan nya.
"Aku tahu." ucap Desi sambil berlalu pergi.
"Hehe..." Raju ketawa, seperti seolah-olah sedang mengejek Imron yang tidak mendapatkan balasan menyenangkan dari Desi.
"Hei nak, apa yang membuatmu tertawa seperti itu? apa kamu belum pernah mengatakan cinta kepada seorang gadis sebelumnya?"
...----------------...
Mira berjalan lurus ke depan dengan perasaan ragu sambil sesekali melihat Zay Aditya yang duduk di atas motor sambil terus memberikan kode agar Mira berjalan ke depan.
Mira menghentikan langkahnya saat melihat wanita baru bayar yang baru saja keluar dari area perkebunan berjalan semakin mendekatinya.
Mira kembali menoleh ke arah Zay Aditya, setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah ibunya.
Desi tentu saja terkejut saat melihat putrinya yang dulu berusia 12 tahun sekarang sudah berumur 21 tahun.
"Anakku..."
Desi segera memeluk dan menciumi Mira, Desi menangis karena tidak menyangka jika hari ini akan benar-benar tiba.
Hari di mana dia selalu memimpikan bisa bertemu dengan Mira.
Ibu kemudian membawa Mira untuk melihat berbagai macam kado yang dia kumpulkan mulai dari tahun pertama dia meninggalkan Mira hingga saat ini.
Banyak sekali kado mulai dari boneka hingga alat tulis dan berbagai hadiah lainnya yang masih tersimpan rapi di dalam kotak.
Ibu mulai bercerita tentang dirinya sebelum memutuskan untuk pergi bersama dengan Imron.
"Usia kamu saat itu baru 4 tahun saat aku bertemu dengan Imron. Ayahmu yang dingin dan cuek serta terlalu sibuk dengan pekerjaannya, membuat Ibu merasa tidak tahan lagi. Namun, Ibu menahan diri agar tidak pergi bersama dengan Imron sampai kamu berusia 12 tahun."
"Denger nak, jika kamu tidak bisa membuat diri kamu sendiri merasa bahagia. Kamu tidak akan pernah bisa membuat orang lain bahagia."
"Kamu boleh membenciku karena aku memilih untuk pergi bersama laki-laki lain, ketimbang berada di sisi kamu dan ayahmu."
.....
Mira berjalan mendekati Zay Aditya dan berbisik
"Zay Aditya, aku mencintaimu.."
"Mira, kamu melewati batas."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...