Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaman
Teresia tiba-tiba saja menangis sesenggukan, dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan memendam begitu banyak luka selama ini dia sembunyikan.
David yang menyaksikan hal itu pun segera memeluk tubuh gadis yang sangat dia cintai itu, hatinya pun merasa terluka melihat sang kekasih dalam keadaan seperti ini.
"Maafkan saya karena telah membentak kamu tadi, saya cuma tidak mengerti dengan apa yang udah dilakukan oleh Kakak kamu itu, kenapa dia tega sekali berbuat hal keji seperti ini sama adiknya sendiri." Lirih David penuh penyesalan.
"Kak Larisa itu kakak tiriku, Dav."
"Hah? Kamu serius?" David seketika terkejut lalu mengurai pelukan.
"Iya, kedua orang tua kami udah meninggal beberapa tahun yang lalu, hanya tinggal kami berdua saja. Hanya dia keluarga yang aku punya saat ini."
"Tidak, kamu punya aku sekarang. Kalau kita sudah menikah nanti, kamu juga bakalan punya adik kembar yang cantik-cantik. Keluarga saya akan jadi keluarga kamu juga, sayang. Jadi, jangan pernah berpikir kalau kamu cuma sendirian di dunia ini."
Teresia seketika termenung, dia mengusap kedua pipinya lalu menatap pemuda yang telah tulus mencinta dirinya bahkan setelah dua tahun mereka tidak berjumpa.
"Apa kamu serius dengan perasaan kamu itu? Jika kita benar-benar menikah, bagaimana dengan kak Larisa? Dia akan sendirian di sini."
"Astaga, Teresia Anindya Putri. Sudah saya bilang tadi, kamu gak usah mengkhawatirkan wanita jahat itu. Harus berapa kali lagi saya bilang sama kamu?" David terlihat sedikit kesal.
"Tapi, Dav? Dia punya riwayat penyakit jantung."
"Hah? Hahahaha ... Wanita jahat kayak dia punya riwayat penyakit jantung? Gak, saya gak percaya. Orang yang punya penyakit mematikan seperti itu, cenderung bersikap lembut dan tidak boleh emosi apalagi sering marah-marah dan menyiksa orang. Sekali saja dia marah-marah seharusnya orang yang punya penyakit seperti itu langsung kambuh bahkan bisa meninggal seketika."
Teresia seketika terdiam. Dia memang tidak pernah melihat secara langsung saat kakaknya sedang sakit, dia hanya di beri amanah oleh mendiang ibu tirinya bahwa dia harus menjaga Larisa dan menuruti semua keinginannya karena Kakaknya itu memiliki penyakit jantung.
"Kenapa kamu diam? Apa selama ini kamu pernah melihat dia sakit?"
Teresia menggelengkan kepalanya.
"Apa selama ini emosi Kakakmu itu sering meluap-luap bahkan sering berteriak memarahi kamu?"
Tere pun mengangguk penuh keyakinan.
"Nah 'kan? Orang yang punya penyakit mematikan seperti itu tidak boleh emosi apalagi sampai berteriak kencang dengan emosi-emosi yang meluap-luap.''
Tere pun kembali diam tidak bergeming. Apa mungkin selama ini dia telah dibohongi oleh sang ibu tiri juga Larisa sang kakak? Jika benar, dirinya tidak akan pernah memaafkan wanita itu karena berkat wanita bernama Larisa itu dia terjebak selama dua tahun di rumahnya bahkan di perlakukan dengan kasar setiap harinya.
"Aku benar-benar bodoh, kenapa aku bisa dengan mudah di bohongi sama kak Larisa, astaga ..." Ucapnya kemudian.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, apa kamu masih mengkhawatirkan kakak tiri kamu yang jahat itu?''
"Aku akan membuktikan bahwa dia benar-benar telah berbohong, akan aku buat dia menyesal karena telah memperlakukan aku dengan kasar bahkan, ini bukan kali pertamanya aku di sekap di gudang itu."
"Astaga, Teresia. Kamu benar-benar bodoh, kamu selalu bersikap sok pintar di depan saya, bahkan kamu selalu tersenyum ceria setiap kali kita bertemu, tapi ternyata kamu hanyalah gadis bodoh yang telah di tipu mentah-mentah."
Tersisa pun seketika tersenyum kecut.
"Dih, suruh siapa kamu jatuh cinta sama gadis bodoh kayak aku? Cari saja sana wanita cantik yang lebih pintar dan punya pendidikan yang lebih tinggi aku." Ketusnya memalingkan wajah.
"Hahahaha ... Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa jatuh cinta sama gadis bodoh dan songong kayak kamu.'' Celetuk David lalu seketika langsung mendaratkan kec*pan di kening wanitanya itu seraya memeluk tubuhnya erat.
"Dih, dasar ..." Ketus Tere lagi diiringi dengan senyuman bahagia.
Tenang, itulah yang dirasakan oleh Teresia saat dia berada di dalam dekapan pemuda bernama David Gabriel, rasa sakit, gundah, gelisah bahkan tubuhnya yang semula merasa lemas pun kini tergantikan dengan rasa tenang.
Aroma tubuh maskulin yang tercium begitu menyegarkan, membuat gadis itu seketika memejamkan kedua matanya.
"Kamu yakin udah baik-baik saja?" Tanya David kemudian.
Tere hanya menganggukkan kepalanya dengan kedua mata yang terpejam.
"Apa perlu kita ke Rumah Sakit?"
Tere pun menggelengkan kepala semakin merekatkan lingkaran tangannya kini.
"Biarkan aku seperti ini sebentar saja, Dav. rasanya tenang sekali berada di sini."
David pun tersenyum lebar lalu balas memeluk tubuh Teresia seraya mengecup pucuk kepalanya lembut dan penuh kasih sayang.
"Lakukan sebanyak yang kamu inginkan, dada saya ini selalu siap untuk menjadi tumpuan kepala kamu, sayang."
"Dih gombal banget si.'' Tere sedikit terkekeh, hatinya merasa berbunga-bunga.
"Tapi suka 'kan?"
"Nggak ..."
"Bohong, coba liat muka kamu?'' David seketika mengurai pelukan lalu menatap wajah Tere yang saat ini terlihat memerah.
"Nah 'kan, muka kamu merah lho ini, hahahaha ...''
"Memangnya kenapa kalau muka aku merah kaya gini?"
"Itu tandanya kamu lagi berbohong, mulut kamu mengatakan tidak. Tapi, hati kamu mengatakan iya."
Tere seketika mengerutkan kening semakin lekat menatap wajah tampan seorang David, setelah itu dia pun memalingkan wajahnya menatap ke arah samping.
"So tau kamu." Ucapnya singkat.
David meletakkan kedua tangannya di kedua sisi pipi tirus gadis itu lalu menghadapkannya kembali tepat di depan wajahnya kini.
Sedetik kemudian ....
Cup ....
Satu kec*pan kecil pun mendarat di bibir mungil Teresia membuat wanita itu seketika merasa terkejut.
"Kamu--"
Tere tidak meneruskan ucapannya karena bibirnya kembali di bungkam oleh bibir David dan seketika ciu*an panas pun tercipta.
♥️ ♥️
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Larisa nampak duduk dengan bersilang kaki dengan sebatang rokok di sela jarinya kini. Asap rokok pun nampak membumbung tinggi di udara.
Sampai akhirnya, dia pun bangkit lalu menatap sekeliling rumahnya yang terlihat berantakan, baju kotor miliknya pun nampak memenuhi mesin cuci, juga piring kotor yang memenuhi tempatnya.
"Sial, gara-gara gak ada si Tere berantakan deh nih rumah." Gerutunya kesal.
Dia pun berjalan ke arah dapur dan hendak mengisi perutnya dengan makanan yang ada. Namun, lagi-lagi dia pun menelan rasa kecewa karena tidak ada makanan apapun di sana.
"Astaga ...! Apa-apaan ini, gak ada makanan sedikitpun? Heuh ...! Aku bisa mati jika setiap hari kayak gini. Tere, aku harus membawa dia pulang. Apapun yang terjadi akan membuat dia kembali ke rumah ini.'' Gumamnya lagi kemudian.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Promosi Novel untuk hari ini ya Reader. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya Reader.