Nopita Anggraeni terlahir dari keluarga sederhana. Namun, berkat kerja kerasnya ia mampu membangun sebuah perusahaan untuk ayahnya hingga kini mereka hidup serba berkecukupan. Meski sekarang pita adalah anak orang yang berada namun tak menjadikannya bermalas-malasan menikmati harta orang tuanya. Namun, karna dihianati oleh hanif (pacarnya dulu) pita menjadi sedikit dingin terhadap laki-laki.
Seiring berjalannya waktu, pada saat ia ingin pulang ia menyermpet seorang kurir. Karna merasa bersalah pita akhirnya menolong kurir itu untuk mengantarkan paket.
Ariza Mahendra terlahir dari keluarga kaya raya di kota kelahiran. Namun, karna ia ingin hidup mandiri, ia memutuskan untuk bekerja sebagai kurir. Suatu ketika saat ia di ancam oleh ayahnya akan di kuliahkan di amerika. Tentu itu membuat ia merasa berat untuk meninggalkan indonesia, apalagi ariza sudah bertemu dengan gebetannya. Akhirnya Ariza memutuskan untuk mengurus perusahaan milik papahnya bersama adinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karmila puspita sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Malam hari sekitar pukul sepuluh malam Vita dan Hana sudah berada di halaman, tak lupa ada pula keluarga Hanan Ayah, Bunda dan kedua kakak laki-laki hana.
Halaman rumah sudah sedikit di dekor walaupun sederhana tapi membuat mereka sedikit terkesan, kue pun sudah jadi hanya menunggu pergantian waktu dan hari.
Menggelar tikar untuk bercerita atau sekedar bertanya kabar, sesederhana itu tapi menyenangkan bagi mereka.
"Bagaimana kabar kedua orang tua mu dan adikmu Vit?" tanya Ayah Hana, sebut saja namanya Hendrik.
"Alhamdulillah baik Uncel," jawab Vita tersenyum ramah pada laki-laki paruh baya tetangga ayahnya dulu, Vita cukup dekat dengan keluarga Hana bahkan kadang Ia menyebut ibu hana dengan sebutan mama itu semua juga permintaan mama hana, sebut saja namanya bu Rita.
"Kalau intuk pendidikanmu selanjutnya mau meneruskan di universitas mana?" tanya pak hendrik lagi.
"Belum kepikiran uncel, masih bimbang dengan keadaan." Jawab Vita malah cengengesan tak seperti biasanya yang cuek bila di tanya.
"Wah keadaan apa itu Vit? sudah mengenal cinta di sana ya samapi bimbang mau ninggalin takut ldr an." Bukan pak hendrik melainkan kak Fai, kakak pertama Hana Vita hanya menggeleng tersenyum kecut.
"Tidak, saya bimbang antara konveksi orang tua tapi vasilitas di sana juga tak bisa jadi jaminan karna keterbatasan dalam bidang." Ucap Vita menjelaskan alasannya.
"Iya juga, dulu aku malah sampai harus ke kota Bq untuk melanjutkan pendidikanku di sana. Di daerah di kota Pw memang kurang lengkap tapi juga mampu membuat kita nyaman apalagi sekarang dalam pengembangan kota bukan, tapi jika kamu menunggu sampai pengembangan udah tua duluan." Ucap Fatto ikut mengimbuhi ucapan Vita.
Vita mengangguk menanggapi omongan kak fatto, memang benar pemuda dan pemudi asal kota pw harus siap meninggalkan tempat kelahiranya demi pendidikan yang tidak bisa di tempuh di sana.
Tak terasa waktu sudah memasuki pukul sebelas empat lima, artinya lima belas menit lagi Hana akan memasuki umur barunya sembilan belas tahun.
Dan tanpa di undang juga dua orang laki-laki datang tanpa di undang.
"Assalamualaikum," salam dua laki-laki itu.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak menoleh ke sumber suara.
"Loh nak Pandu dan Ariza, sini nak duduk ikut makan-makan." Ajak bu Rita, Pandu Dan Ariza duduk melingkar dengan posisi vita duduk di samping kanan Bu Rita dan samping kiri bu Rita Hana.
Dan di samping kiri Vita malah lelaki menyebalkan itu, dan samping kanan Hana ada Pandu sudah seperti di atur ni.
Sedangkan para kakak hana hanya senyum-senyum melihat wajah kecut dari para adiknya, sungguh pemandangan yang menarik bagi mereka melihat wajah menyebalkan Hana dan Vita.
"Sudah pukul 00 ayo cepat nyalakan lilinnya," ucap Ayah Hendrik Ia paling girang jika menyalan lilin.
"Ayo tiup sayang, jangan lupa permintaan mu di umur yang ke 19th ini ya." Ucap Bu Rita, Hana bersiap untuk meniup lilinya tak lupa Ia juga membuat permintaannya di tahun ini.
Tepuk tangan dari keluarga dan dua orang tamu sudah memeriahkan malam ini, Vita berdiri untuk memberikan selamat pada sahabatnya ini.
"Barakalla fii umrik Han, semoga yang kamu harapakan bisa tercapai dan jangan menjadi tua yang menyebalkan." Ucap Vita memeluk Hana pemandangan yang setiap tahun terlihat bagi keluarga tapi tidak dengan dua sajoli itu malah merasa terharu.
Pak Hendrik pun mengangkat kue tadi dan bersiap untuk di laburkan ke muka Hana, namun dengan cepat Vita menahannya.
"Eistt, bentar dong uncel jangan buru- buru ambil foto yang bagus dulu baru di tumplekin ke muka hana." Ucap Vita menahan, Hendrik hanya bisa pasrah kali ini.
Mereka pun bersiap untuk berfoto dengan formal dan tersenyum.
"Pak mamang tolong foto in," ucap Fatto menyuruh satpam itu untuk mengambil gambar mereka.
cekrek... cekrek.... cekrek...
Sudah beberapa foto mereka ambil dan hasilnya juga lumayan tak buruk juga.
"Yaaah ayah....." teriak Hana ketika sebuah kue tart mendarat di wajahnya, wajah hana yang bermula cantik sudah berubah menjadi seperti badut.
Ayahnya memang benar-benar absturd, mengucapan setelah mendaratkan kue tart ke mukanya. Dan setelah itu hendrik mengambil foto purtinya dengan muka cemongya itu sebagai kenang kenangan di tahun ini.
"Yahhh kena lagi Han, padahal aku tadi sudah cukup mengalihkan." Ucap Vita mengejek hana, Hana yang tak terima di ejek pun mengambil kue tart dan mendaratkan dengan sempurna di wajah Vita.
pemandangan langka hendrik mengambil gambar vita dengan muka cemongnya sebagai kenang-kenangan.
"Lumayan buat nakut-nakutin tikus," ucap Hendrik tertawa di susul tawa kedua kakak hana, Rita hanya geleng-geleng melihat tingkah suami dan anaknya selalu begitu tapi cukup menghibur.
"Sudah-sudah bersihkan muka kalian sebelum semut merayap nanti," ucap Bu Rita menggiring ke dua putrinya untuk ke cran yang tersedia di sana membantu mereka untuk membasuhnya.
"Sifatnya sangat beda saat bersamaku," gumam Ariza menatap Vita yang seperti tertawa lepas.
Setelah membasuh muka dengan bersih mereka kembali ke tempat acara, di sana sudah tidak ada ayah dan kedua kakak Hana. Maklum saja mungkin mereka lelah karna seharian ini sibuk di kantor dan di tambah lagi acara malam ini.
"Sudah kalian lanjut saja pestanya, mama ingin nyusul ayah istirahat sekalian." Ucap mama Rita setelah selesai membereskan keberantakan yang tercipta.
"Yah gak asik dong ma kalau berdua," seru Hana cemberut.
"Kalian lupa ada Ariza sama Pandu jadi berempat dong, itung itung double date gitu jangan kelamaan jomblo ya kalian." Ucap Mama Rita menggoda kedua putrinya, meski Vita bukanlah putrinya tapi Ia sudah menganggap Vita seperti putri kandungnya sendiri.
Vita hanya cuek ia tak persuli dengan ucapan mama Rita, sudah biasa baginya jika bertemu seperti mama Rita. Vita lebih memilih duduk diam sambil membalas pesan yang di kirim oleh Rangga dan Mira.
"Siapa?" tanya Ariza duduk bersilang di samping Vita.
"Bukan siapa-siapa,"
"Ta, Mira temen lo bakal kuliah di mana?" tanya Hana, meski Mira sahabat Vita tak bisa di pungkiri jika mereka tak bisa akrab karna keduanya jarang sekali bertemu.
"Entah, kenapa lo tiba-tiba tanya soal Mira?" tanya Vita bali.
"Enggak, cuma selama ini gua merasa gak bisa akrab sama Mira gitu." Ucap Hana, sebenarnya Hana ini memiliki sifat friendly jadi jika tak akrab dengan seseorang yang sudah lama kenal rasanya aneh saja begitu.
"Hmmm, kapan-kapan kita atur pertemuan aja saat pas waktu senggang." Jawab Vita simple semua bisa terjawabkan oleh Vita.
Jangan lupa dukunganya😍
next
salam dari KETABHAN ZULFA
mampir karya newe ku.
"Salah jodoh."
dady danzel mendukung dan g sabar kelanjutanya.
Mampir ya😅
Salam hangat dari The Gangster Boy🤗
Salam manis dari INSEPARABLE🌻
salam dari -ZEVANAYA-