Aderald Brixton, pengusaha ternama yang tiba-tiba saja dicegat mobilnya oleh seorang wanita hamil dengan pakaian berlumuran darah.
Raut ketakutan dari wanita itu membuat aderald mau tak mau harus membawa si wanita demi menyelamatkan dua orang nyawa sekaligus.
"Tolong bawa aku Tuan!! Bayi ku harus selamat...!"
Apakah yang terjadi? Dan siapakah wanita tersebut? Akankah peristiwa itu membawa mereka kedalam sebuah kehidupan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima Keadaan
Untuk yang kedua kalinya Dona menginjakkan kaki di mansion Aderald, namun kali ini bukan untuk beristirahat sementara melainkan menetap di rumah pria tersebut dengan kurun waktu yang lama.
Akankah bangunan megah ini menjadi tempat yang aman untuk Dona? Akankah pria itu memperlakukan Dona dengan baik? Atau akankah terjadi suatu peristiwa selama ia tinggal disana? Semua pertanyaan itu mengelilingi otak Dona.
Jika saja ia tak memiliki masalah keluarga, mungkin rumah orang tuanya sudah menjadi tempat pertama yang Dona cari. Namun kini, ia tak bisa meski hanya sekedar memberitahu kabar. Lagipun entah mereka akan peduli atau tidak, Dona tak yakin akan hal itu.
Kemana lagi ia harus mengadu? Jarvis adalah satu-satunya orang yang ia punya setelah mereka memutuskan untuk menikah, keduanya meninggalkan segala hal demi hubungan mereka selama ini, tapi takdir pun seolah menolak apa yang telah mereka bangun.
Tapi kenapa harus sekejam ini? Disaat dirinya tengah mengandung benih dari orang yang ia cintai. Jika saja ia tak sedang berbadan dua mungkin Dona akan memilih mati bersama Jarvis saat itu juga, tak peduli kalau sang suami menyuruhnya pergi Dona akan tetap disisinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara bariton itu memecahkan lamunan Dona, ternyata Jarvis sudah berdiri di depannya tanpa Dona sadari.
"Ayo masuk, sebentar lagi gelap. Atau ada yang ingin kau bicarakan sebelum kita berdua masuk?" Tanya Aderald berpikir jika Dona masih ragu memasuki mansion miliknya, namun dugaan Aderald salah.
"T-tidak ada! A-aku hanya melamun tadi" kilah Dona.
"Jangan terlalu banyak melamun, tidak baik! Jika ada yang mengganggu pikiranmu kau bisa ceritakan padaku"
"B-baik" balas Dona patuh.
Dona dan Aderald masuk terlebih dahulu, sedangkan Aksa mengambil koper milik Dona di bagasi.
Seperti biasa para pelayan menyambut Aderald pulang, mereka kembali dibuat kebingungan kala melihat Dona yang kembali ke mansion ini lagi.
"Selamat datang, Tuan" sambut ketiga pelayan itu, mereka tak berani bertanya langsung pada sang majikan, tentu saja karena takut dianggap lancang.
"Hmm... Kalian bertiga antar kembali Dona ke kamar yang kemarin ia tempati, nanti malam ada yang aku ingin bicarakan dengan kalian semua" balas Aderald yang langsung diangguki tanpa protes apapun.
Seusai memberi petuah Aderald beralih pembicaraan pada Dona.
"Jika ada yang kau butuhkan katakan saja pada mereka, tidak usah sungkan-sungkan. Aku harap mansion ku bisa membuatmu nyaman disini, kau boleh ke kamarmu sekarang. Setelah makan malam dokter kandungan akan datang kemari, jadi persiapkan dirimu" tutur Aderald.
"Baik, aku akan mencoba senyaman mungkin selama berada di mansion mu. Ini sudah lebih dari cukup, aku akan baik-baik saja. Kau bisa mengerjakan kegiatan mu lagi, hari ini kau dan asisten mu sudah menemaniku seharian penuh. Aku tak mau merepotkan mu lebih banyak" ungkap Dona yang sudah mulai menerima keadaan, ia tak enak terus-terusan menolak bantuan Aderald sedangkan dirinya selalu meminta yang lain.
"Hmm... Kau tak perlu mengkhawatirkan aku, khawatirkan saja bayi dalam kandungan mu, dia lebih penting" ucap Aderald terdengar tulus.
Spontan Dona langsung menunduk dengan kedua tangannya yang perlahan menyentuh perut buncit itu, Dona menarik sudut bibirnya membuat senyuman samar yang hampir tak terlihat.
"Ya, tentu saja. Dia satu-satunya yang aku miliki saat ini, aku akan selalu menjaganya, aku harap dia baik-baik saja"
"Aku pun berharap demikian" Yang disetujui oleh Aderald.
"Nikmati malam mu, aku akan kembali ke kamar" lanjutnya.
Aderald lantas naik ke lantai dua begitupun dengan Dona dan tiga para pelayan lainnya yang mengantar Dona ke kamar tamu.
***
Jam tujuh malam di ruang keluarga Aderald meminta semua pelayan menghadap kepadanya.
Lelaki itu duduk di sofa dengan posisi yang terlihat sangat berwibawa, sedangkan ketiga pelayannya berdiri berjejer dihadapan Aderald.
Ketiganya bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya ingin Aderald sampaikan, mereka menebak-nebak jika ini ada kaitannya dengan Dona.
"Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian, ini penting!" Seru Aderald bernada serius.
"Ini tentang Dona" tambahnya.
Ketiga pelayan itu saling lirik, ternyata benar ini berhubungan dengan wanita yang dibawa oleh sang majikan.
"Kemarin sudah aku jelaskan siapa dia, jika kalian lupa Dona adalah wanita yang aku selamatkan kemarin malam. Tadi pagi kami mendapat kabar jika suaminya meninggal karena dibunuh"
Sontak ketiga wanita itu terbelalak tak percaya! Bahkan sampai ada yang menutup mulut karena terkejut.
"Sampai saat ini pelaku belum ditemukan, polisi masih menyelidiki kasus tersebut"
"Dona memiliki hubungan yang tak baik dengan keluarganya, ia tak punya siapa-siapa dan tempat untuk berlindung. Seluruh hartanya diambil oleh penjahat itu" jelas Aderald.
"Dari penjelasan ku mungkin kalian sudah mengerti inti dari cerita ini"
"Aku akan membiarkan Dona tinggal di mansion ku sampai pelaku pembunuhan ditemukan atau ketika dia sudah melahirkan, dan selama dia tinggal disini aku tidak mau ada satupun keluarga ku yang tau"
"Dan kalian tidak boleh memberi tahu hal ini, apapun itu! Cukup diam dan bersikap biasa, jika keluarga ku datang tiba-tiba kalian harus sembunyikan Dona dan kunci kamarnya jangan ada yang membiarkan siapapun masuk. Kalian mengerti?"
"Mengerti, Tuan!"
"Kalian tenang saja, aku akan memberikan bonus pada kalian semua. Tapi jika diantara kalian ada yang menyebarkan hal ini maka kalian akan tau akibatnya"
***
Pukul delapan malam Dona masih sibuk membereskan barang-barang, ia merapikan pakaian serta dokumen-dokumen yang Dona bawa di dalam koper.
Wanita itu mengeluarkan isi koper sampai dimana ia mengeluarkan sebuah figura dengan foto dirinya dan Jarvis yang tengah tersenyum senang.
Ia ingat foto itu diambil ketika Jarvis melamar Dona saat mereka berlibur di Paris, sebelum akhirnya Dona pulang ke tanah air dan saat itulah senyum keduanya memudar karena suatu masalah.
Kelopak mata Dona nampak berkaca-kaca, jari lentiknya mengusap lembut figura itu, seketika hatinya seolah dihantam ribuan anak panah. Sangat perih!
"Aku tau ini tak mudah, tapi aku berharap kau tenang disana. Aku berjanji akan menemukan pembunuh itu! Aku janji....!!" Lirih Dona bergetar.
Tok Tok Tok!
Suara ketukan pintu membuat Dona tersentak keget, ia pun lantas menyimpan figura tersebut di dalam laci setelah itu cepat-cepat Dona membuka pintu kamar.
Disana sudah berdiri seorang pelayan.
"Maaf mengganggu waktunya, Nona. Saya diperintahkan Tuan Aderald untuk menyusul anda makan malam. Tuan Aderald sudah menunggu di meja makan" tutur pelayan itu menyampaikan maksud kedatangannya.
"Makan malam? O-oh.. baiklah, aku akan kesana sekarang"
"Mari, Nona"
Pelayan itu mengantar Dona menuju ruang makan, disana Aderald sudah duduk dengan rapi. Dona menghampiri pria tersebut.
"Selamat malam" sapa Dona.
Aderald menoleh dan mendapati Dona beserta pelayan yang ia suruh tadi.
"Selamat malam juga, duduklah... Kita makan malam bersama"
Dona menurut dan menduduki tubuhnya berhadap-hadapan dengan Aderald, disana hanya ada mereka berdua, pelayan tadi sudah pergi menyisakan Dona beserta pemilik rumah di ruangan besar itu.
"Ambilah makanan yang kau mau, aku tidak tau apa yang kau suka, para pelayan hanya memasak makanan kesukaan ku saja. Mungkin salah satunya ada yang cocok dengan lidahmu, tapi kalau tidak ada yang kau suka aku bisa perintahkan pelayan untuk membuat makanan yang kau inginkan. Emm.... Biasanya selera ibu hamil suka berubah-ubah, jangan sungkan meminta sesuatu yang kau inginkan, mungkin itu kemauan bayinya" pria dengan tinggi badan 185 cm itu menyampaikan apa yang ia tau seputar kehamilan, hal-hal lazim yang terjadi pada seorang wanita hamil.
"Tidak perlu, aku akan memakan yang ada saja. Malam ini aku kurang berselera, tak banyak yang aku mau" tolak Dona sopan.
"Aku paham, makanlah meskipun sedikit. Setelah ini dokter akan segera tiba"
Dona mengangguk dan keduanya mulai menikmati hidangan makan malam tersebut, tak ada yang bersuara keduanya fokus pada santapan masing-masing.
•
•
•
Yuk Vote Karya Ini 🥰 Dukung Karya Mamie Masuk Top Besar Ya😘