Devan Pramudya, pemuda tampan ini harus terpaksa menyaksikan perbuatan tak senonoh calon istrinya tepat di depan mata. Pernikahan yang beberapa hari lagi akan digelar terancam batal.
Rina yang tak ingin anaknya mendapatkan reputasi buruk dan mencoreng nama perusahaan itu, mendesak Devan untuk tetap melanjutkan pernikahan.
Arabella Maharani, gadis penjual susu kedelai ini tak sengaja menabrak mobil Devan. Alhasil, mobil tersebut memiliki kerusakan membuat Arabella harus bertanggung jawab.
"Menikahlah denganku!" seru Devan.
"Apakah kau gila? Aku menabrak mobilmu. Apakah otakmu juga ikut mengalami kerusakan?!" ketus Bella.
"Bukankah ini tawaran yang langka, Nona? Banyak wanita yang ingin mendapatkan tawaran ini. Lagi pula jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau bawa," ucap Devan sinis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kesalahpahaman
Devan tengah menyantap makan malamnya bersama dengan Rina. Terdengar suara sendok serta piring yang beradu memecah keheningan di ruang makan.
"Kau yakin dengan keputusanmu untuk menikahi gadis itu?" tanya Rina.
"Yakin. Bukankah ini kemauan mama? Aku hanya tidak ingin membuat nama keluarga ataupun perusahaan tercemar," timpal Devan dengan santainya seraya memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.
Rina meletakkan garpu dan sendoknya. "Setidaknya kau memilih gadis yang sedikit berwibawa, Devan."
"Untuk apa? Dia juga hanya dijadikan sebagai pengganti saja. Lagi pula aku sudah memikirkannya," cecar Devan.
Rina menghela napasnya. "Apakah kau pikir pernikahan bagimu itu lucu? Jika aku tahu yang akan menjadi pengganti Nadia adalah gadis penjual susu itu, lebih baik aku menikahkanmu dengan anak dari sahabatku. Dia lebih berwibawa dan anggun ketimbang gadis itu!" cerca Rina.
Tinggg...
Devan sedikit menghempaskan garpu dan sendok di piringnya. "Kapan keputusanku dianggap benar?" tanya Devan.
Rina langsung mendelik menatap anaknya. "Kau memang selalu begitu! Membuat keputusan tanpa berpikir panjang dulu! Apakah kau akan menyalahkanku? Jika saja kau tidak mendadak membuat keputusan untuk membatalkan pernikahanmu dengan Nadia, mungkin tak akan menjadi serumit ini," ketus Rina.
Devan memilih beranjak dari tempat duduknya. Ia merasa mulai bosan dengan semua ocehan Rina yang ia lontarkan kepadanya.
"Kau mau kemana?" tanya Rina menatap tajam anaknya.
"Keluar, untuk menjernihkan pikiranku," timpal Devan.
"Mama belum selesai berbicara, Devan!" tukas Rina.
"Lanjutkan besok saja, Ma. Lagi pula semuanya sudah terlanjur terjadi. Menyesalinya pun percuma," ujar Devan melangkah pergi meninggalkan Rina di ruang makan.
Wanita paruh baya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingkah Devan membuat ia naik darah.
....
Devan masuk ke dalam mobilnya. Pria tersebut mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya, dan kemudian mencari kontak Ferdy lalu kemudian mencoba menghubungi kontak tersebut.
"Ada apa?" ujar suara dari seberang telepon.
"Kau di mana?" tanya Devan.
"Di hotel. Ada perlu apa?"
"Aku akan menyusulmu ke sana," ujar Devan yang kemudian mematikan sambungan teleponnya. Pria itu pun menghidupkan mesin mobilnya, melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke hotel.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Devan pun tiba di hotel. Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkiran khusus.
Devan turun dari mobilnya. Pria itu segera berjalan memasuki hotel.
"Di mana Ferdy?" tanya Devan pada resepsionis hotel yang sedang berjaga.
"Ada di ruangannya, Pak." resepsionis itu menimpali.
Devan pun segera berjalan memasuki lift, untuk mengantarkannya ke lantai empat, di mana tempat Ferdy berada.
Setibanya di lantai empat, Devan itu langsung berjalan menuju ke ruangan yang paling ujung. Devan beberapa kali mengetuk pintu, tak lama kemudian Ferdy pun muncul dari balik pintu dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Kenapa kau mengganggu ketenanganku malam-malam begini?" tanya Ferdy.
"Apakah kau tidak mempersilahkan ku untuk masuk terlebih dahulu?" Devan menimpalinya dengan sebuah pertanyaan lagi.
Tak mendapat jawaban dari Ferdy, pria itu pun langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Dilihatnya ruangan tersebut tampak berantakan.
"Kau ...." ujar Devan penuh selidik.
"Sudah pergi beberapa menit yang lalu," timpal Ferdy seraya membereskan beberapa dokumen yang ada di atas meja yang berserakan.
"Apakah kau tidak takut akan reputasimu, Kawan?" tanya Devan seraya menepuk pundak Ferdy.
"Aku pastikan tidak ada yang berani menuliskan satu artikel pun tentang diriku," timpal Ferdy seraya mengendikkan bahunya.
Devan tertegun, lalu pria itu tergelak mendengar ucapan temannya itu. "Sebaiknya nikahi saja! Agar kau tak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi," tutur Devan.
"Ya, mungkin beberapa orang menganggap seperti itu. Namun, tidak untukku. Aku tidak ingin terlalu dipusingkan oleh wanita. Jika aku menginginkannya, aku bisa memakainya selama aku ingin, setelah itu aku membuangnya," sahut Ferdy dengan sangat santai.
Devan hanya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Ferdy. Temannya itu memang memiliki ketampanan bak pangeran berkuda putih. Namun, satu yang sangat disayangkan. Ferdy terlalu menganggap rendah martabat seorang wanita, berbeda dengan Devan yang bahkan takut menyentuh kekasihnya sendiri.
Devan mendaratkan bokongnya ke sofa yang ada di ruangan tersebut. Ferdy berjalan menuju ke lemari pendingin. Pria itu mengambil dua kaleng minuman bersoda yang ada di dalamnya dan meletakkan minuman tersebut di atas meja.
"Aku sempat membaca berita tentangmu kemarin," ucap Ferdy duduk di samping Devan.
"Keputusanmu membuatku sedikit terpukau, karena dapat mendapatkan wanita dengan mudahnya," tukas Ferdy sembari membuka kaleng minumannya dan menenggaknya.
"Ya, anggap saja bahwa itu adalah keberuntunganku karena telah dikhianati oleh orang-orang sekitar," timpal Devan yang juga membuka kaleng minumannya.
Ferdy menaikkan alisnya sebelah mendengar ucapan Devan. "Berapa banyak kau membayar gadis itu?" tanya Ferdy.
Seketika mata Devan menatap pada Ferdy. "Berapa pun yang ku mau. Lagi pula aku bisa memanfaatkannya sejenak untuk menyingkirkan artikel-artikel yang menuliskan tentang keburukanku," balas Devan tersenyum remeh.
Ferdy hanya tersenyum getir sembari menggengam erat kaleng minumannya.
"Pastikan kau hadir di pernikahanku nanti. Kau adalah tamu undangan yang paling spesial bagiku," celetuk Devan sembari mengerlingkan matanya ke arah Ferdy.
Ferdy pun memalingkan wajahnya seraya tersenyum. "Tentu saja aku akan hadir," ujar pria itu.
....
Di lain tempat, Joko sedang berada di kontrakannya. Pria itu tengah menyetrika pakaian kerjanya sembari bersenandung.
Oh Tuhan,
Ku cinta dia...
Ku sayang dia...
Rindu dia...
Dianya tidak...
Tak lama kemudian ponselnya pun berdering. Joko meraih benda pipih yang ada di sampingnya. Tangannya sebelah kanan memegang setrikaan sedangkan sebelah kiri memegang ponselnya.
Namun, saat ia hendak menempelkan benda pipih itu ke telinganya, Joko lupa jika ponselnya berada di tangan sebelah kiri. Setrikaan tersebut mendarat sempurna di daun telinganya.
"Awww...." Joko meringis kesakitan.
"Sialan! Anak setan!" berbagai umpatan kotor pun keluar dari mulutnya.
Joko kembali mengambil ponselnya yang sempat terjatuh dan kembali menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.
"Kau ... mengataiku anak setan?" ujar suara dari seberang telepon.
"Bukan, Pak. Saya tidak bermaksud mengatai Pak Devan," timpal Joko gelagapan.
"Buka pintumu," ujar Devan.
"Pintu ...," gumam Joko.
Ia pun berjalan menuju pintu. Dan benar saja, bosnya sudah berdiri di depan pintu tersebut.
"Ada apa bapak malam-malam kemari?" tanya Joko.
"Saya numpang tidur di rumahmu," ujar Devan berjalan masuk.
Joko kembali menutup pintunya. Menatap Devan dengan wajah yang heran.
"Kenapa tidak tidur di rumah saja, Pak."
"Apakah aku tidak boleh numpang tidur di sini?" tanya Devan mendapati wajah Joko yang tampak keberatan.
"Bukan begitu, Pak. Hanya saja rumah saya tidak senyaman di rumah bapak," tutur Joko.
"Tidak masalah, saya orangnya mampu beradaptasi."
Devan mengedarkan pandangannya di sekitar rumah. Ia melirik tumpukan baju yang belum Joko setrika.
"Kau sedang menyetrika baju?" tanya Devan.
"Iya, Pak."
"Kenapa tidak di bawa ke loundry saja? Kau tak perlu repot lagi," ujar Devan.
"Saya menghemat pengeluaran, Pak" Joko menimpali ucapan bosnya. Ia pun kembali melanjutkan setrikaan bajunya.
"Bukankah gajimu cukup besar? atau aku perlu menaikkan gajimu lagi?"
"Tidak, Pak."
"Ehmmm... maksud saya, tidak menolaknya Pak." Joko terkikik.
Devan menggelengkan kepalanya. "Saya akan tambah bonus untuk kamu, tapi izinkan saya bermalam di sini," ujar Devan.
Biasanya jika ada masalah di rumah, Ferdy lah tempat pelariannya. Kali ini, Ferdy tampaknya tidak ingin di ganggu. Maka dari itu, Devan memilih untuk bermalam di tempat asistennya.
"Silahkan, Pak Devan beristirahatlah," tawar Joko dengan mata yang berbinar setelah mendengar bahwa ia akan mendapatkan bonus.
Devan pun berjalan ke arah kamar Joko. Pria tersebut merebahkan dirinya di tempat tidur yang berukuran dua orang tersebut.
Setelah selesai menyetrika baju, Joko masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan dirinya di sebelah Devan yang tengah terlelap. Namun, Joko kembali membuka matanya. Ia baru teringat bahwa Devan memiliki ketertarikan pada pria.
Seketika Joko bergidik ngeri, ia langsung beranjak dari kasur.
"Mau kemana? tidurlah bersamaku di sini," ujar Devan membuka matanya.
"Sa-saya tidur di luar saja, Pak."
"Kenapa?" tanya Devan heran.
"Tidak apa-apa, Pak. Silahkan lanjut tidur," ujar Joko yang mengambil bantal, lalu kemudian berjalan menuju ke luar.
"Dan pada akhirnya kesalahpahaman itu pun berbuntut panjang. Ah sudahlah! terserah dia saja mau menganggapku apa," gumam Devan yang kembali memejamkan matanya.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya (jika ada)
Yang belum favorit, yuk difavoritkan supaya mendapatkan notifikasi update terbarunya~
ig : ayasakaryn24