COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Fisik adalah ujian
Raihanah diam memperhatikan Zaenab yang menangis sesenggukan, Faiza terus menenangkannya tapi Raihanah hanya diam. Apa harus seperti itu, karena seorang lelaki? Dia merasa Zaenab terlalu berlebihan. Raihanah pernah beberapa kali pacaran, hanya iseng dan dua Minggu adalah waktu paling lama dia berpacaran. Dia tidak suka terlalu serius dengan lelaki, dia merasa langkahnya terhalang. Dia suka sendirian saja, dan sibuk menata masa depan.
"Sudah nab, jangan nangis" ujar Raihanah.
"Aku sakit Rai, sakit banget hiks...." Ucap Zaenab, air matanya terus menetes deras, dadanya begitu terasa sesak.
"Sabar ya, kita gak bisa apa-apa nab. Semoga Allah datangkan pria lain yang lebih baik dari Mirza" tutur Faiza dan Zaenab diam, karena dia hanya mau Mirza saja.
"Haduh, padahal si Mirza jelek. Mau-maunya kamu buang air mata buat laki-laki begitu, nungguin lama-lama, ditinggal kawin. Gak bener tuh laki" gumam Raihanah kesal sendiri, dia diam dan hanya menjadi penonton Zaenab yang sedang menangis.
"Yuk, pulang yuk. Kamu itu cantik nab, laki-laki masih banyak. Cukuplah nangisnya, jangan lagi. Sayang air mata kamu" tutur Raihanah, tatapan Zaenab berubah menjadi tajam.
"Kamu gak bakal ngerti Rai, jangan menganggap semua hal remeh. Kamu gak bakal paham" tegas Zaenab lantang, semua orang memperhatikan ketiganya. Faiza menenangkan Zaenab agar tenang, Raihanah diam membisu. Bisa-bisanya Zaenab meneriakinya, tidak sopan dan tidak pantas hanya karena lelaki.
"Aku tahu kamu galau, dilema. Tapi jangan berlarut-larut, seganteng apa sih si Mirza. Laki-laki banyak, yang baik dan bisa menghargai kamu. Sekarang kamu marah sama aku, teriak-teriak sama aku. Aku gak perduli, gak usah cengeng" tutur Raihanah tidak terima, terselip ejekan dalam ucapannya dan membuat Zaenab merasa terpukul." Salah kamu juga, mungkin ini akibat karena kamu mempermainkan perasaan gus Fashan, sudah tahu punya janji dengan pria lain. Malah menerima ajakan ta'aruf Gus Fashan, kamu ngerasa bener dengan seperti itu nab?" sambungnya kembali.
"Rai, diem dulu ya" ujar Faiza dan Raihanah mendelik sebal.
Zaenab marah, dia rampas tasnya dari Raihanah dan berlalu pergi. Faiza dan Raihanah diam.
"Tuh kan marah" ucap Faiza.
"Jadi orang jangan baperan!" teriak Raihanah dan Zaenab mendengarnya, Faiza panik dan membungkam mulut Raihanah yang akan berteriak lagi." Umm.. lepas za"
"Jangan gitu Rai" tegur Faiza.
"Dia yang mulai duluan" ketus Raihanah.
"Asstaghfirullah hal adzim" Faiza merasa frustasi. Dia rangkul tangan Raihanah." Ayo pulang" ajaknya dan Raihanah melangkah.
*****
Acara pernikahan Mirza dan Yuni tiba, Gus Fashan datang, berserta keluarganya yang menjadi tamu istimewa di acara tersebut. Fahira, dan Faiza tidak ikut. Hanya si bungsu Fara yang ikut. Gus Fashan membacakan surah Annisa ayat 1, surah Ar rum ayat 21. Dan surah surah yang lainnya, yang berhubungan dengan suami istri dan kehidupan rumah tangga. Dia juga menjelaskan secara rinci penjelasan dari setiap ayat yang dia lantunkan, supaya tidak ada kekeliruan yang terjadi. Umi Nailah dan abi Farhan diam, betapa bangganya mereka berdua melihat gus Fashan.
"Pak kyai, itu gus Fashan bukan ya?" tanya seorang pria paruh baya.
"Iya, itu Fashan" jawab abi Farhan, dia menoleh ke belakang.
"Masya Allah, sudah besar ya, pangling hehe. Sudah menikah?"
"Belum" Abi Farhan tersenyum.
Pria tersebut menoleh, menatap putrinya yang bercadar itu. Abi Farhan tersenyum dan menatap ke atas pelaminan kembali. Dia paham dengan ucapan dan tatapan pria di belakangnya, apalagi sampai melirik putrinya.
Setelah selesai, gus Fashan turun dari pelaminan. Menyerahkan mic, dan melangkah sambil menunduk menuju keluarganya. Para gadis menggigit jari melihat gus Fashan lewat di hadapan mereka, beberapa dari mereka yang awalnya merekam mempelai pengantin laki-laki malah beralih merekam Gus Fashan. Pria yang memakai baju Koko putih, peci hitam dan sarung hitam itu tidak terlalu perduli dengan tatapan di sekitarnya.
"Sini sama Fara" ujar Fara, saat melihat kursi yang tadi di duduki abangnya diambil orang. Gus Fashan mengambil kursi yang lain, lalu duduk di sebelah adiknya. Gus Fashan dan Ning Fara, di apit oleh umi dan abi mereka.
Gadis di belakang Gus Fashan diam-diam memperhatikan. Melihat punggung besar dan tengkuk jenjang itu begitu terlihat mempesona. Apalagi melihat wajahnya.
"Asstaghfirullah" ujar gadis itu dalam hati, menepis dan berusaha sadar dari halusinasinya.
Tangan umi Nailah tiba-tiba mengusap-usap punggung Gus Fashan, saat ini dia melihat Mirza. Dan entah kapan melihat putranya bersanding di pelaminan bersama istrinya.
****
Di pesantren, Raihanah sedang diceramahi oleh salah satu Ustadzah yang terkenal galak. Ustadzah Hana
"Saya minta kamu hafalin doa-doa dulu, gak di hafalin?" ustadzah Hana merasa lelah mengarahkan Raihanah, sudah dewasa tapi lebih sulit untuk diajari.
"Susah ustadzah" jawab Raihanah begitu jujur.
"Ya belajar, kan namanya juga belajar Raihanah"
"Tugas kuliah saya menumpuk, saya gak ada waktu hafalin ini"
"Inalillahi itu mulut, ini semua untuk kebaikan kehidupan kamu Raihanah"
"Ya susah, mau gimana lagi" Raihanah cemberut dan menunduk gemas. Ustadzah Hana menggeleng kepala, dia lebih baik mengajar 50 orang anak, ketimbang mengajar Raihanah.
"Hafalin ini semuanya, sampai benar-benar hafal. Nanti saya tambah ke doa-doa lain, yang rajin dong kamu ini. Bukan cuma kamu doang yang santri kuliahan. Hafalin ya" tutur ustadzah Hana, berusaha untuk sabar menghadapi Raihanah. Raihanah mengangguk lucu seperti anak kecil, Bu Hanna menggeleng kepala dan memberikan buku Raihanah. Raihanah pergi ke sudut lain aula, untuk menghafal.
Raihanah terus mencoba, tapi dia salah dan salah terus." Susah banget ya Allah!" teriak Raihanah. Semua santriwati menoleh padanya.
"Raihanah!" seru ustadzah Hana lantang.
"Maaf gak sengaja" ucap Raihanah, dia menutupi wajahnya dengan buku dan hanya matanya saja yang terlihat, memperhatikan mereka yang menatapnya kesal karena berisik.
"Si Raihanah bolot" maki Santi. Dan berbisik kepada teman di sebelahnya.
"Heh!" Tegur Fahira yang mendengar. Santi langsung tersenyum dan pindah tempat.
Di tempat lain, di rumah Robi dan Syifa. Atikah datang, Robi begitu susah ditemui. Dia paham kenapa Atikah terus meminta bertemu. Syifa meletakkan dua cangkir teh hangat, dan piring berisi biskuit. Hanya itu yang dia punya, Atikah tersenyum memperhatikan Ikhsan. Syifa mengajak ikhsan keluar dari rumah dan bermain di teras, untuk membiarkan Atikah dan Robi.
"Kamu harus teteh bawa ke psikiater kayaknya Rob" ujar Atikah tanpa basa-basi.
"Kenapa?" dengan polosnya Robi bertanya.
"Kasihan Nida sama Ikhsan, jangan menambah saudara beda ibu atau saudara tiri. Keduanya bahkan gak dekat, kamu tenang melihat kedua anak kamu begitu? Jangan menikah lagi Rob, kasihan Syifa sama Hafshah" tutur Atikah, matanya sayu dan khawatir.
"Aku hanya mau membantu, aku sayang sama Risma"
"Kalau mau bantu, bantu aja. Seorang janda pasti kesulitan dalam ekonomi, beri dia uang semampu kamu. Bisa begitu? Membantu tanpa harus terikat ikatan apapun" tegas Atikah, dia kesal dan takut. Robi sudah sangat terkenal karena beristri dua, dan sekarang mau menambah lagi?.
"Aku gak bisa" jawab Robi.
"Berarti cuma karena nafsu doang kan?"
Robi diam.
"Lepas Hafshah dan Syifa kalau kamu mau menikah lagi, mereka berhak bahagia. Bisa kamu melepas keduanya?"
Robi menggeleng kepala, bagaimana bisa dia melepas keduanya, dan seumpama keduanya menikah dengan pria lain, mana dia rela.
"Bertahan perbaiki kekeliruan kamu, atau lepaskan untuk kebaikan bersama." Tegas Atikah dan Robi diam, keduanya saling menatap lekat. Seketika, Robi berpaling dan Atikah merasa diabaikan.
*****
Keesokan harinya, Faiza kuliah sampai sore. Abi Farhan meminta gus Fashan menjemput Faiza, takut karena sudah sore dan angkot biasanya susah menjelang malam. Gus Fashan menyenderkan punggungnya di pintu mobil, melipat kedua tangannya di dada dan menunggu Faiza.
Raihanah melangkah sendirian, menatap layar ponselnya begitu serius.
"Ini anak punya masalah hidup apa sih?" ketus Gus Fashan, saat melihat Raihanah sama sekali tidak memperhatikan jalan.
"Aaa...." Jerit Raihanah saat kakinya tak menapak, dia akan terjebur ke got dan gus Fashan menarik tas ranselnya. Raihanah di tarik dan dia kaget." Untung saja" imbuhnya.
"Bikin repot aja kerjaannya" cibir gus Fashan dan Raihanah mendongak. Raihanah mendelik sebal.
"Terima kasih" ucapnya begitu terpaksa.
"Apa?" Gus Fashan memegang telinganya, bibirnya tersenyum tipis.
"Terima kasih" ucap Raihanah lagi.
"Gak kedengaran"
"Terima kasih!!" teriak Raihanah kesal dan gus Fashan merasa puas.
Faiza diam dan memperhatikan keduanya, gus Fashan melangkah mendekat dan meraih tangan adiknya itu.
"Masuk" titah gus Fashan setelah membuka pintu mobil.
"Rai, ayo barengan" ajak Faiza.
"Enggak usah, bukan mahram" timpal gus Fashan.
"Apaan sih, kan ada aku. Bukan Abang sama Raihanah berdua" ujar Faiza dan gus Fashan tidak perduli, dia masuk lebih dulu membiarkan dua gadis itu.
"Ayo Rai" ajak Faiza.
"Enggak ah, supir kamu galak" seru Raihanah dan gus Fashan meradang.
"Sembarangan" ucap gus Fashan.
"Aku yang bakal mukul supir aku kalau dia galak lagi, ayo. Udah sore nih" tutur Faiza dan gus Fashan mendengus sebal. Raihanah mengangguk, Faiza masuk di depan dan Raihanah di belakang.
Sepanjang perjalanan, kedua gadis itu terus mengobrol. Faiza sampai terus berbalik. Gus Fashan menyetir dan memijat keningnya berulangkali, dia benar-benar seperti supir untuk keduanya. Setibanya di pesantren, Raihanah berpamitan. Hanya kepada Faiza, dan Gus Fashan pun tidak perduli.
Keesokan harinya, Zaenab memberanikan diri untuk menemui gus Fashan. Gus Fashan sudah menghindar, dia tidak ada niat sama sekali untuk menanyakan prihal ta'aruf nya dengan Zaenab, walaupun tahu Mirza menikah dengan gadis lain.
"Assalamu'alaikum Gus" seru Zaenab.
Gus Fashan yang sedang sibuk dengan paku dan palu menoleh." Wa'alaikumus Salaam" jawabnya, betapa terkejutnya gus Fashan melihat Zaenab datang ke belakang rumahnya. Gus Fashan sedang di atas tangga besi, memperbaiki penutup jendela kamarnya Fahira. Semua jendela kamar di pasang tralis dari dalam dan di ganjal dengan kayu dari luar, karena kejadian Fahira mendapatkan surat cinta yang di masukan lewat lubang jendela, abi Farhan menutup lubang dengan kayu. Dan tidak suka dengan sikap tersebut.
"Kamu ngapain disini?" ujar Gus Fashan, dia tidak turun dan malah duduk di bagian atas tangga lipat tersebut.
"Saya mau bicara"
"5 menit pasti cukup, silahkan"
"Saya minta maaf, apa semuanya bisa diulang dari awal? Proses ta'aruf kita yang belum lengkap. Saya minta maaf, sudah mengecewakan Gus. Saya menolak pria yang salah, tampan, mapan, dan saya menyesal" tutur Zaenab dan Gus Fashan diam, dia tidak melihat Zaenab tapi melihat ke arah lain.
"Lalu?" singkat gus Fashan.
"Iya maksud saya, saya mau melanjutkan proses ta'aruf kita gus" ujar Zaenab, dia mendongak sekilas menatap pria tampan rupawan itu. Gus Fashan menyeringai, lalu mengusap wajahnya yang berkeringat.
"Saya dan Mirza berteman sejak lama, saya gak masalah saat tahu pria yang kamu pilih adalah sahabat saya sendiri. Tapi ternyata Mirza memiliki keputusan lain, setelah dia memutuskan untuk mengakhiri janjinya dengan kamu, kamu balik ke saya hanya karena saya mapan dan tampan? Inalillahi Zaenab." Tutur Gus Fashan, di akhir kalimatnya dia terdengar jelas sangat kecewa.
"Gus, maksud saya...."
"Cukup" ucap gus Fashan lemah." Jika benar kamu menyukai saya, sukai saya karena Allah. Ketampanan saya bisa saja lenyap dan rusak kapanpun itu, ini ujian buat saya. Semuanya hanya titipan, semuanya bisa hilang diambil sang pencipta nya. Jika itu terjadi, seumpamanya kita bersama bukan gak mungkin kamu bakal ninggalin saya" Ucap gus Fashan dan Zaenab terus menunduk.
Kedua mata Zaenab berkaca-kaca." Saya beneran suka sama gus Fashan" suaranya berat.
"Hanya takdir Allah yang bisa menentukan, kita bersama atau enggak. Jangan menilai seorang pria hanya karena kaya dan rupa. Semua itu hanya sementara" tutur gus Fashan dan Zaenab tidak bisa lagi berkata-kata. Gus Fashan turun dan Zaenab menjauh. Gus Fashan menggenggam perkakasnya dan mengangkat tangga yang sudah dia lipat dengan tangan kanannya." Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumus Salaam" jawab Zaenab, gus Fashan pergi begitu saja. Tanpa berkata mau melanjutkan proses ta'aruf dengan Zaenab, Zaenab hanya bisa meneteskan air matanya. Mewakili semua rasa sesalnya karena sudah membuat gus Fashan kecewa.
Kebodohan terbesar sebelum berumah tangga adalah, gegabah dalam memilih pasangan. Yang mapan selalu terdepan, dan yang berilmu sering dilupakan. Ilmu yang tak akan pernah lenyap sampai kapanpun, ilmu yang menjadi dasar kehidupan sesungguhnya. Ilmu yang dimanfaatkan dengan baik, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Ya Allah, hamba takut salah melangkah. Siapapun takdir jodoh hamba, keislamannya saja sudah sangat berharga untuk hamba"
Gus Fashan bergumam, dia tidak terlalu memikirkan seperti apa isterinya kelak. Asalkan seiman, dan mencintai Allah dengan sebaik-baiknya. Dia tidak mau dicintai karena ketampanannya, sehingga mereka para gadis lupa itu bisa saja sirna. Gus Fashan merasa miskin dalam hal apapun, dia hanya berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik. Untuk kehidupannya yang baik-baik saja seperti yang dia harapkan.