Reinkarnasi pasti tak asing di telinga kalian, hanya saja akan asing jika kalian mengalaminya. Tidak untukku, empat kali kesempatan hidup terbuang percuma.Yang aku dapatkan hanyalah warna hitam dan putih.
Reinkarnasi mungkin sudah menjadi hal yang wajar bagiku. Klasik. TAPI KENAPA AKU BISA ADA DI TUBUH ANTAGONIS DALAM SEBUAH NOVEL!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estellaafseena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.10
"Jelaskan" Devian mendesak.
"Se.ka.rang!" Kini Alvin.
Aku lelah. Sudah tiga jam mereka seperti ini. Sudah tiga jam juga aku mengatakan 'tidak' pada mereka.
Mereka tidak malu ya? Mereka mendesakku di depan keluarga kerajaan?!. Batinku geram.
Sekarang ini, detik ini juga, kami berada di ruang makan istana.
...| Anda bertemu Character lain |...
...Hendrik zen Helga (Raja)...
...Laura zen Helga (Ratu)...
...Tiara zen Helga (Selir pertama)...
...Maya zen Helga (Selir ke dua)...
...Leo zen Helga (Pangeran kedua, anak kedua dari Ratu)...
...Aurora zen Helga (Putri pertama, anak dari Selir pertama)...
...Sean zen Helga (Pangeran ke tiga, anak pertama dari Selir kedua)...
...Chelsea zen Helga (Putri kedua, anak kedua dari Selir kedua)...
Jendela gameku muncul saat melihat orang-orang penting di ruangan yang belum aku ketahui.
Baginda raja mengundang kami untuk makan siang bersama keluarga kerajaan lain.
Awal aku masuk ke ruangan ini, mereka menatapku. Tatapan mereka sama tajamnya dengan tatapan saat aku pertama kali diundang makan siang dengan trio curut. Tentu saja aku mengabaikan tatapan mereka.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan sebelumnya?" Duke bertanya dengan nada tak senang, semua menatap ke arah ku. Aku tak berkomentar, melipat secarik kertas yang aku dapat di atas meja entah nongol darimana tu kertas.
"Saat kami ada ditaman.." Alvin hendak menjelaskan.
Ah, si bocil satu ini tukang ngadu ya. Aiu tersenyum jahil.
"..lalu yang mulia putra mahkota datang, tak lama, ada sebuah pana-Ak!"
Aku melempar, bukan melempar sih, lebih tepatnya menyentil kertas yang sudah ku lipat kecil ke arah Alvin. Kertas itu tepat mengenai dahinya. Dia langsung memegang dahinya. Dahinya merah karena lipatan kertas itu sangat padat. Semua yang ada di ruangan itu sekilas terkejut.
Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, menahan tawa. Bahkan pangeran kedua ikut menahan tawanya. Devian yang ada disebelah Alvin diam-diam menahan tawa.
Alvin menatapku. "Dasar kau.." Ujarnya kesal. Aku hanya senyum tak bersalah, ringan mengangkat bahu.
"Kalian sangat akrab ya." Pangeran kedua bicara. Aku menatapnya.
"Tidak sama sekali pangeran. Hanya untuk pengingat, adikku ini sangatlah penakut. Dia takut pada..." Ucapanku terjeda, melihat dua pelayan yang salah satunya membawakan nampan berisi teko air minum di atasnya untuk ratu. Dia menuangkan minuman itu pada cangkir teh yang ada di depan ratu.
"... Serangga." Lanjutku. Pelayan itu pamit pergi melewati barisanku.
"Benarkah? Bagaima-"
Aku berdiri dari kursi sebelum pangeran kedua menyelesaikan bicaranya. Aku tahu itu tidaklah sopan.
Aku menatap punggung pelayan yang menjauh.
"Permisi, kau." Langkah kaki mereka terhenti, lalu balik badan. Salah satu dari mereka dengan gelisah, berusaha mengubah ekspresi. Semua menatapku bingung.
"Y-ya? S-saya?" Ujar salah satu pelayan gugup.
"Iya, Nona?" Ujar pelayan yang membawa nampan, bingung.
Ha.. banyak sekali serangga di sini. Pikirku sebal.
"Siapa nama kalian?" Tanyaku wajar.
Salah satu dari mereka terlihat ragu. "S-saya Mia, dan d-dia Karin." Jawabnya Gugup.
"Minuman apa yang kalian berikan pada yang mulia ratu?" Tanyaku lagi.
Tatapan mereka beralih ke cangkir berisi minuman itu. Mia entah kenapa berusaha keras untuk menyembunyikan ekspresi khawatirnya.
"I-itu hanya teh herbal yang sering diminum oleh yang mulia ratu." Jawabnya. Aku menghela nafas. Menoleh ke arah ratu.
"Permisi yang mulia, bisa saya memeriksanya?" Ujarku sopan. Ratu mengangguk dengan bingung. Menyerahkan cangkir itu padaku.
Aku berdecak pelan. Dari baunya saja sudah pasti ini racun. Beberapa hari ini, seluruh indraku sangat peka terhadap apapun jadi aku bisa mendeteksi dengan cepat tanpa menunggu jendela gameku muncul.
Aku kembali menatap Mia, memberikan cangkir berisi teh itu padanya. "Minum"
"Apa yang kau lakukan?" Devian berdiri dari kursinya geram. Aku mengabaikannya.
Mia meraih cangkir yang aku berikan. Karin menatap bingung. Tangannya gemetar, namun ekspresinya masih sama. Aku menatapnya datar.
Hening di sini. Semua menatap Mia. Dia hendak meminumnya, namun.
Prang!
Klasik. Pikirku datar.
"M-m-maafkan saya, t-tangan saya licin." Ujarnya membereskan pecahan cangkir yang jatuh itu. Dia sengaja melakukannya. Itu pikirku. Karena dia terburu-buru membersihkannya, tangannya terluka terkena pecahan cangkir itu.
"Tidak perlu terburu-buru. Kau bisa terluka" Ratu bicara dengan lembut.
Aku tersenyum tanggung. "Minum itu" Ujarku lagi.
Seseorang memegang erat pergelangan tanganku. Saking eratnya rasanya panas.
"Sudah cukup, Clea Luxia." Devian bicara.
"Dia benar-benar iblis, sesuai dengan rumornya." Ujar pelan putri kedua, Chelsea.
"Sekali pembuat onar, tetap pembuat onar" Tambah putri pertama, Aurora.
"Maafkan dia baginda. Sepertinya memang seharusnya saya tidak membawa dia kemari."
Aku terdiam. Mendengar ucapan Duke. Aku menarik paksa tanganku dari Devian. Berjalan mendekat ke arah pelayan yang membawa nampan berisi teko dan beberapa cangkir tadi.
"Apa yang anda-"
"Sebentar." Aku tersenyum padanya. Dia terlihat terkejut.
Aku meraih teko minuman itu, menuangkan minuman ke salah satu cangkir. Aku letakan kembali, mengambil cangkir yang sudah ku isi. Aku meminumnya. Aku sedikit mengernyit karena rasanya sangat pahit. Aku meletakkan cangkir itu kembali.
"Sudah saya dug-"
...| Peringatan |...
...Kondisi tubuh berkurang karena adanya zat berbahaya dalam tubuh. Lakukan Healing segera....
Sebentar, secepat ini? Sebenarnya racun apa yang mereka beri?. Pikirku bingung.
...| Flower Phoishiena |...
...Memiliki tingkat racun paling tinggi di wilayah ini, racunnya mudah terurai dalam tubuh. Sangat sulit dideteksi....
Mungkin jika orang lain yang meminumnya mereka akan langsung tewas kan? Untung saja aku bukan orang, eh. Maksudnya aku berbeda dari mereka.
"Kenapa ada bunga PhoiShiena disini?" Ujarku datar.
Mereka menatapku terkejut. Aku tersenyum tipis. Pelayan tadi terlihat terkejut. Namun berbeda dengan pelayan yang ada di belakangnya. Dia terlihat gelisah.
Ah, dia tak pandai ber-akting.
Kupikir ini akan sangat seru, ternyata tidak sama sekali. Lawanku terlalu lemah.
^^^つづく^^^
Arigato for reading~(◕ᴗ◕✿)