NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Satu Malam

Terjerat Cinta Satu Malam

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Irna Mahda Rianti

Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.

Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Cancel?

KEDIAMAN ORANG TUA HILA ....

Elang telah menelepon keluarganya untuk segera datang ke rumah Hila. Hila tak mau berbicara sama sekali, dan itu membuat Elang sangat kesal. Hingga Elang sudah tak bisa mentoleransi lagi sikap Hila. Elang sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini. Awalnya, Elang berniat baik pada Hila, untuk memberinya kesempatan, karena mungkin saja Hila mengalami pel3ceh4n dan sebagainya. Sayangnya, Hila tak mau jujur sama sekali pada Elang.

Mungkin, membatalkan pernikahan adalah hal terbaik, daripada Elang harus menyesal dikemudian hari. Dan hal ini tentu saja harus diketahui oleh Nadia dan Dika, karena wanita yang dijodohkan untuk Elang adalah pilihan kedua orang tuanya. Wanita yang tengah hamil, saat menjelang hari pernikahannya, pasti akan membuat gempar seluruh keluarga.

"Siang, Om, Tante. Om sudah pulang ternyata," ucap Elang menyapa Pak Tio dan Bu Dewi.

"Siang, Elang. Iya, saya tidak ada kerjaan di Kantor Ibunya Nona Nisha. Kalian habis fitting baju ya ... silahkan duduk, Elang." Ucap Pak Tio begitu sopan, karena ia amat menyukai Elang.

Hila, wanita yang mencoba tegar, tetap terlihat tenang dan turut duduk dihadapan kedua orang tuanya. Hila sudah pasrah, dengan apa yang akan terjadi. Ia tak mau berpikiran aneh-aneh, hanya bisa pasrah dan mengahadapi semuanya. Elang masih menunggu kedatangan kedua krang tuanya, Elang akan memberitahu hal ini secara langsung pada kedua belah pihak.

Tak lama, asisten rumah tangga Bu Dewi pun tiba bersama dengan Nadia dan Dika, selaku kedua orang tua Elang. Kedua orang tua Elang masih belum tahu apa alasan Elang meminta mereka untuk datang ke rumah Hila. Elang hanya berkata, jika ada hal penting yang harus dibicarakan, dan Ayah serta Mamanya harus segera datang ke rumah ini.

"Loh, besan? Kesini kok gak ngasih tahu dulu?" Bu Dewi bangkit dari duduknya, karena kaget Mama Nadya sudah berdiri didepan pintu.

"Ah, iya ... maafkan kami tak mengabari kalian terlebih dahulu, karena Elang terkesan mendadak meminta kita datang kesini, katanya ada hal penting yang harus disampaikan." Ucap Mama Nadya.

"Hal penting?" seketika itu pula pandangan Pak Tio dan Bu Dewi mengarah pada Hila dan Elang.

Elang pun sedikit gugup, "Ah, iya. Ada hal yang harus kalian tahu, dan ada hal yang harus aku bicarakan. Kumohon, karena aku tak ingin berlama-lama lagi."

Semuanya penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Elang. Mereka pun duduk saling berhadapan. Tak dipungkiri, tangan Hila pun gemetar, ia memang takut, tapi ia harus bisa menghadapi semua ini. Ia tak boleh menangis, karena semua ini memang kesalahannya. Semuanya sudah terjadi, dan Hila hanya bisa pasrah menghadapinya.

"Ada apa Elang? Kenapa Tante gak tahu? Kamu tadi pagi gak ada ngasih tau apa-apa sama tante," tanya Bu Dewi.

"Ada apa, Lang?" tanya Ayah Dika amat penasaran.

"Sayang, katakan saja," Mama Nadia selalu tetap tenang.

Elang menarik nafasnya dalam-dalam. Tak ada lagi cara lain, selain membatalkan pernikahan ini. Elang sudah yakin, untuk mengatakan semuanya pada mereka semua. Tak ada lagi yang Elang harapkan dari pernikahan ini. Tak ada lagi, niat Elang untuk mencoba mencintai Hila. Ini lebih baik, daripada Elang harus menanggung semua bebannya.

"Elang, apa yang ingin kamu katakan?" ucapan Pak Tio mengagetkan Elang.

Elang masih gugup, dan tangannya sedikit gemetar. Ia juga takut akan reaksi kedua keluarga ini, jika mereka tahu yang sebenarnya, entah apa yang akan terjadi pada Hila. Karena disini, semua kesalahan ada pada diri Hila, dan Elang tak bersalah sedikitpun. Elang pun menatap Hila dengan tatapan kasihan juga kecewa, namun Hila mengangguk, pertanda bahwa Hila sudah siap, dan lebih baik dikatakan saja semuanya.

"Elang, bicaralah!" Tegas Dika yang mulai tak nyaman dengan keadaan ini.

Elang memejamkan matanya sebentar, "Sebelumnya, saya mohon maaf pada Pak Tio, dan juga Bu Dewi. Aku juga minta maaf pada Ayah dan juga Mama. Aku mengumpulkan kalian semua disini, karena aku akan memberi tahu kalian sesuatu, bahwa aku akan ..." Elang benar-benar keberatan untuk berbicara, hatinya sungguh tak siap.

"Akan apa, Elang?" Dika seperti membawa gas, karena ucapannya begitu ngegas.

"Aku akan membatalkan pernikahan ini ...."

Duarrr ....

Semua mata melotot kearah Elang. Rasa tak percaya dan kecewa terlihat dimata kedua belah pihak. Sekretaris Dika apalagi, wajahnya sudah seperti akan memakan Elang. Elang dan Hila sama-sama menunduk. Mungkin, beban Elang akan hilang setelah menjelaskan akibat batalnya pernikahan mereka. Namun, apa yang akan terjadi pada Hila? Karena bebannya akan ia bawa selamanya. Hila mencoreng wajah kedua orang tuanya.

"APA MAKSUDMU, ANAK BODOH?" Gas sekretaris Dika mulai meledak.

Bu Dewi dan Pak Tio menatap penuh amarah pada Elang, karena ucapannya benar-benar diluar nalar.

"Maafkan aku, kumohon, jangan terpancing emosi ... aku membatalkannya karena aku tak bisa menikahi Hila. Aku punya alasan kuat untuk pembatalan ini. Dengarkan penjelasan ku dulu," Elang membela diri, ia takut pada Ayahnya, karena terlihat sudah seperti singa yang akan menerkam mangsanya.

"Apa alasan mu membatalkan pernikahan dengan anakku, ha?" Pak Tio pun mulai emosi.

"Elang, kenapa?" Nadia terlihat sedih.

Lagi-lagi, Elang menatap Hila, "Maafkan aku, aku tak ingin menikahi Hila. Aku serius membatalkannya, karena Hila ... Hila tengah hamil, dan itu membuatku sungguh kecewa!" Tegas Elang sambil menunduk, lalu ia memejamkan matanya.

"APA?"

"APA?"

Sekretaris Dika dan Pak Tio menyahut bersamaan. Mereka shock bukan main mendengarkan penjelasan Elang.

Kini, pandangan mereka tertuju pada Hila, yang sedari tadi diam tak bergeming. Hila hanya menunduk lesu, ia tak bisa berkata-kata. Jangankan untuk membela diri, meminta maaf saja ia sudah tak mampu. Hila sadar, ia telah mengecewakan kedua orang tuanya. Tapi, kejadian di Swiss kala itu, sungguh tak ia sadari. Ia dalam pengaruh alkohol yang memabukkan, oleh karena itu, setiap perkataan dan perbuatannya, ia lakukan tanpa kesadaran.

Pak Tio berjalan mendekati tempat Hila duduk, "HILA! TATAP AKU! Apa benar yang dikatakan oleh Elang, ha?"

Hila mendongakkan wajahnya, "Ma-maafkan aku, Ayah ...."

PLAKKKK ....

Satu buah tamparan mendarat di pipi Hila. Amarah Pak Tio sudah tak bisa dikontrol lagi. Ia tak menyangka, anak bungsunya yang ia banggakan melemparkan kotoran pada wajahnya didepan calon besan. Pak Tio kecewa, marah dan terluka mendengar kenyataan ini. Bu Dewi hanya bisa menangis menahan kekecewaan yang mendalam. Mereka tak menyangka, tiga hari menuju pernikahan, dikejutkan dengan kejadian naas ini.

"Hila, apa benar yang dikatakan Elang?" Sekretaris Dika ikut bicara.

"Hila, kamu mengecewakan aku yang menjadi Ibumu!" Bu Dewi menangis menahan rasa sakit yang menghujam dadanya.

"Hila, jujur saja. Katakan pada kami, apa itu benar? Lalu, siapa yang menghamili mu, Nak?" tanya Nadia baik-baik.

Pak Tio murka lagi, "ANAK TAK TAHU DIRI! JUJURLAH PADAKU! SIAPA BAJ1NGAN YANG TELAH MENGHAMILI DIRIMU, HA?"

Hila menunduk lesu. Kali ini, masalahnya bukan lagi dengan keluarga Elang, namun dengan keluarganya sendiri. Hila tak ingin, keluarga Elang malah jadi iba padanya. Hila pun angkat bicara, ia harus mengatakan apa yang ada didalam benaknya.

"Mohon maaf, Pak Dika, Bu Nadia ... saya mengecewakan kalian. Silahkan, hukum saya dan cibir saya. Saya mengakui kesalahan saya, dan saya ikhlas menerima hukuman dari kalian. Semua telah terjadi, dan saya tak bisa membalikkan keadaan. Saya harap, pembatalan pernikahan ini, akan menyelamatkan kehidupan Elang selanjutnya, karena dia beruntung tidak jadi menikahi wanita seperti saya. Sungguh, mohon maaf sekali, atas perlakuan saya." Hila menunduk.

"Ini mengejutkan aku. Tapi, kurasa kapasitas ku cukup sampai disini. Mohon maaf, aku membatalkan pernikahan ini secara sepihak, karena aku terlalu kecewa dengan perbuatan Hila. Selanjutnya, biar Ayahku yang mengurus semua pembatalan pernikahan ini. Ayah, Mama ... lebih baik kita pulang, aku tak ingin berlama-lama disini." Pinta Elang.

"Pak Dika, Bu Nadia ... apa kalian bisa mempertimbangkan pembatalan itu? Saya mohon, jangan batalkan pernikahan ini. Kita bisa menggugurkan janin itu. Kita bisa tetap melangsungkan acara pernikahan anak kita. Saya mohon, Bu Nadia, Pak Dika ... jangan pergi dulu," Bu Dewi terus menahan Nadia dan Dika.

"MAMA! Hentikan mengemis seperti itu! Biarkan mereka pergi, dan batalkan saja pernikahan ini. Jika pernikahan ini batal, maka aku juga akan membatalkan nama SAHILA TANZANIA sebagai anakku dari kartu keluarga kita. Tak ada pengecualian, karena keputusanku sudah bulat!" Bentak Pak Tio.

"PAPA! Teganya, kau!" Bu Dewi menangis sejadi-jadinya.

Hila hanya bisa menunduk, dan bongkahan air matanya jatuh tak tertahankan. Cukup lama ia menahan air matanya agar tak jatuh, tapi kali ini jatuh juga, karena ucapan sang Papa yang teramat menyakiti hatinya.

"Pak Tio! Cukup! Anda tak boleh seperti ini." Sekretaris Dika menyadarkan Pak Tio.

"Pak Dika, Bu Nadia, dan juga Elang, maafkan saya atas batalnya pernikahan ini. Tolong segera berlalu dari rumah saya. Kalian tak perlu repot-repot melakukan apapun, konferensi pers dan pembatalan biar saya dan pengacara saya yang mengurus. Mohon maaf, silahkan pergi, karena saat ini, masalahnya bukan antara kita lagi, tapi murni masalah intern didalam keluargaku." Pak Tio mengusir keluarga sekretaris Dika.

Maafkan aku ... aku bodoh, aku tak habis pikir. Mengapa aku seperti ini? Ya Tuhan, hilangkan lah nyawaku, aku terlalu malu untuk menatap mata kedua orang tuaku. Aku tak bisa melanjutkan hidupku yang seperti ini. Kumohon, Tuhan ... cabut saja nyawaku, dan bayi ini. Agar mereka tak sakit hati melihatku yang tengah hamil. Batin Hila, tak terasa berkali-kali ia menjatuhkan air matanya yang bening.

*Bersambung*

JANGAN LUPA LIKE YA SEMUANYA 🥰❤😘

Jangan lupa, berikan Hadiah dan Vote nya ya teman-teman🥰❤

1
falea sezi
g rela jalang Bianca dpet gata
falea sezi
males deh di bkin mati anaknya/Shame/
falea sezi
hmmmm emank murahan klo g murahan g bsa hamil uda jalang sombongnya
Nur Aini
Luar biasa
Nur Aini
Lumayan
Sovi Yana
keren ceritanya lanjutan elang
Pitri Minarti
duh gara kata katanya menyejukkan banget👍💚
Pitri Minarti
sedih banget😭😭😭
Eka Rauf Ginting
capek capek baca bayinya meninggal.. alur ceritanya jga bertele tele..
ningnong
😭😭😭😭😭
SR.Yuni
Demi nama besar rela korbankan kebahagiaan anak, anak akhirnya cari jalan keluar yg salah dan fatal akibatnya. Mendidik anak bukan berarti menentukan jalan hidup anak.
Sri Widjiastuti
indahnya pengorbanan!!
Sri Widjiastuti
Aamiin.... setuju calista
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
kluarga gara sama jg dng keluarga sahila lebih mementingkn harta
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
aq kok kasihan sama sahila ya
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
dasar pengecut sagara, gue benci laki2 kek bgtu, pengen ku bejet2
Ernawati
iiihhh davian kok gitu sih
Ernawati
semoga gata dapat wanita yg baik karna dia sulit jtuh cinta
Chandra-Jelita
author nya ternyata termasuk gemar nonton sinetron, sampai jadi referensi di ceritanya 🤔🤣🤣🤣🤪
Kadek Bella
gimana lanjutannya Calista sama elang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!