Jasmine Elnora Brown, seorang pelukis yang menyukai hal sederhana dan tidak rumit harus menghadapi sebuah cinta unik dari seorang pria pendiam nan misterius, Edward Maleaki Lendsman. Semua berawal baik, tapi semakin jauh Jasmine melangkah dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak hanya menghadapi satu sisi pribadi saja dalam diri Edward, tapi juga menghadapi sisi tergelap Edward yang begitu hitam. Sisi yang akan membuat dia berpikir dua kali untuk memperjuangankan Edward.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah pendekatan
Happy Reading
***
Dia menatapmu penuh harap, sialan!!
Lucas berteriak keras dalam driku, tapi aku tetap menahan diri untuk tidak mengikuti apa pun yang dikatakan oleh Lucas. Tidak sedikit pun. Aku memandang Jasmine menatapku penuh harap. Saat aku mengetahui bahwa dia menceritakan tentang diriku pada Ibunya, Jessi, itu benar-benar membuatku melayang tinggi.
Sangat tinggi.
Namun, aku sadar bahwa aku tidak bisa. Sial! Aku tidak akan pernah bisa mendekatinya lebih jauh selama sosok Lucas ada dalam diriku. Aku takut jika aku melangkah lebih jauh hanya akan menimbulkan Jasmine dalam situasi bahaya. Dia wanita baik dan dia sudah melewati banyak waktu sulit dalam hidupnya. Aku tidak ingin menjadi salah satu sumber kesulitannya.
Seandainya.... Seandainya jika sosok Lucas tidak ada. Aku akan berani menunjukkan dan mengekspresikan betapa aku sangat menginginkan Jasmine menjadi milikku. Sejak dulu. Sejak lama. Namun, aku harus menahan diri karena sosok Lucas dalam diriku.
Sosok yang begitu terobsesi. Sangat terobsesi.
Aku tersenyum kecil padanya dan mengangguk kecil, "Kalau begitu, aku permisi..." ucapku dengan berat hati. Aku memutar tubuhku tanpa menunggu balasannya. Aku melangkah perlahan menuju apartemenku dan menunggu pintunya tertutup, tetapi tidak terjadi.
Putar tubuhmu, sialan!!
Lucas berteriak keras dalam diriku dan berusaha mengambil alih diriku. Di detik terakhir, aku ingin memutar tubuhku. Namun, keberuntungan tidak memihak padaku karena suara pintu tertutup terdengar begitu keras. Jasmine jelas membantingnya.
Aku tersenyum kecil dan mendengar tawa keras Lucas dalam diriku. Tawa penuh ejekan.
Kau mencintainya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa...
Just let me do it, Edward....
Biarkan aku melakukannya...
Aku berjanji tidak akan menyakiti wanita kecilmu.
Aku membuka pintu dan segera membantingnya keras untuk melampiaskan amarahku. Namun, aku tahu.. Itu tidak akan pernah bisa memuaskan rasa amarahku. Dan lagi.. Semakin amarah menguasaiku, semakin mudah Lucas menguasai tubuhku.
Aku hanya bisa menahan diri dan menahan diri seraya mendengar Lucas tertawa dalam diriku. Menertawakan betapa lemahnya diriku. Aku melepaskan mantel dan jasku lalu melemparnya sembarang arah. Aku berjalan ke ruangan tempat aku menyimpan semua kebusukanku.
Tempatku memata-matai Jasmine.
Here we are again... Bisik Lucas dengan nada cemooh....
Yah.. Aku pantas dicemoooh. Namun, apa yang bisa kuperbuat. Hanya ini.. Hanya ini yang bisa kulakukan... Menikmati Jasmine dari kejauhan. Aku tidak akan pernah bisa dan tidak akan mampu mendekatinya selama sosok Lukas dalam diriku.
Aku duduk di depan layar komputer yang menampilkan beberapa sudut ruangan Jasmine. Aku melihat dia membuang kasar paketnya lalu berjalan menuju dapur. Dia berdiri di depan lemari pendingin sesaat sebelum akhirnya membuka pintunya.
No.. No... Jangan lakukan apa pun yang sedang kau pikirkan
Dia mengambil satu botol penuh anggur dan segera membuka tutupnya.
Cih.. Jelas dia melakukannya. Aku buru-buru mengambil ponselku dan segera menghubungi nomor Jasmine yang selama ini kusimpan. Itu berdering dan detik sebelum bibir botol menyentuh mulut Jasmine, dering itu sampai ke ponselnya.
Dia segera menggerutu dan menaruh kembali botolnya. Jasmine merogoh saku untuk mengambil ponsel kemudian menatap layar ponsel. Dia mengerutkan keningnya, jelas bingung dengan nomor yang tidak di kenal. Namun, dia segera menerima panggilan itu.
Aku segera menaruh ponsel ke telingaku dan menatapnya dari layar.
"Halo, Jasmine... Ini aku Edward...."
Sesaat ada keheningan yang mencengkam di sana...
"Edward Lendsmen?"
Jasmine bergerak untuk mengambil posisi duduk di kursi.
Aku menahan napas, bingung untuk membicarakan apa...
"Aku tidak sengaja melihat nomor ponselmu di paketmu... Kau tidak keberatan jika aku menyimpan nomormu?"
Dia tersenyum kecil di sana.
"Tidak masalah. Aku akan menyimpan nomormu juga...."
Aku mengetuk-etuk tangan kiriku di atas meja, menimbang-nimbang apa yang harus kukatakan selanjutnya.
"Kau suka datang ke pameran?" tanyaku secara acak.
"Pameran? Yah... Tentu. Aku suka...."
Responnya tidak terlalu membuatku senang. Dia seperti berpura-pura tertarik. Terlalu baik.
"Atau ada sesuatu tempat yang ingin kau kunjungi?"
"Tempat?" dia berdiri dari posisinya seraya menyimpan botol anggur ke lemari pendingin. Fyuh.. Itu memberi kelegaan padaku.
"Yah... Suatu tempat."
Suatu tempat di mana aku bisa menikmati tubuhmu yang indah...
Aku menggeleng, berusaha mengabaikan suara Lucas dalam diriku.
"Entahlah..." dia berjalan perlahan untuk meninggalkan dapur.
"Aku ingin mengajakmu berkencan sabtu ini jika kau ada waktu..."
Dia sedikit terkejut dan tidak ada senyum di sana. Ah.. Sial. Ini membuat nyaliku ciut. Aku memerhatikan dia berjalan cepat menuju kamar dan detik itu juga, aku tidak melihat dia di mana pun. Aku mendengus... Demi privasinya, aku tidak memasang penyadap di sana.
"Aku ada waktu sabtu ini..." aku mendengar suara detuman badan ke atas ranjang dari seberang
Hotel... Bisik Lucas.
"Ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanyaku lagi.
"Kau menyinggung pameran sebelumnya..."
"Ada pameran heterogen jadi tidak hanya menampilkan lukisan saja. Mungkin akan ramai karena menampilkan banyak karya seni. Kau mau?"
"Yah.. Aku mau. Tentu..."
"Sepertinya kau tidak suka tempat ramai..."
"Uhm.. Tidak juga...."
Tentu kau tidak suka, Jasmine... Dia cukup sulit jujur untuk menjaga perasaan orang lain.
"Jadi kita pergi lusa?"
"Yah... lusa. Pamerannya dilakukan malam..."
"Itu bagus..."
"Kau keberatan jika kita pergi lebih awal untuk makan siang bersama?"
"Tidak. Tentu saja tidak..."
"Baguslah..."
"Uhm.. Yeah.."
"Good night, Jasmine..."
"Good night, Edward..." aku memejamkan mata, menikmati suara halusnya saat mengucapkan namaku. Beberapa saat kemudian, sambungan terputus. Aku menarik napas dan membuangnya kasar.
Kau tidak konsisten.
Bisik Lucas
Kau yang berkata ingin menjauhinya, sekarang kau sendiri yang mendekatinya.
"Diam.." geramku marah. Andai saja. Andai saja aku bisa menyingkirkan si sialan ini.
Kau tidak akan bisa menyingkirakanku karena aku adalah kau, Edward...
Aku mengepalkan tanganku, "Kuharap kau tidak berusaha menghancurkan rencanaku, Lucas.. Biarkan aku melakukannya...."
Yah.. Yah, Edward.. Aku akan membiarkanmu untuk saat ini. Hanya untuk saat ini. Camkan itu....
Kesabaranku ada batasnya....
*****
MrsFox
sukaaa bgt semua tulisan miss Foxxy ini
❤️❤️❤️
dan kasihan juga Edward..
terimakasih thor cerita mu luar biasa