NovelToon NovelToon
Wanita Kedua

Wanita Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Tamat
Popularitas:375.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sun Shine

Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.

Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.

Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.

Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa jadi?

Erika 👆

Erika berjalan cepat ke depan gang. Ada rasa gugup di hatinya. Beberapa langkah sebelum sampai di tujuan, Erika berhenti, dia sudah melihat Evans berdiri di samping mobil. Evans tampak melipat tangan karena udara cukup dingin. Kemudian dia tersenyum lalu melangkah ke arah Erika yang masih terdiam memandanginya..

"Kak Evans sempurna sekali.. Sangat tampan."

"Apa kamu mendengarku?" tanya Evans sontak mengusir lamunan Erika.

"Eh, Kakak bilang apa tadi?" Erika malah balik bertanya. Evans tersenyum maklum, walaupun dia tidak tahu apa yang dilamunkan gadis polos yang ada di hadapannya ini.

"Terimakasih sudah mau menemuiku di sini," ucap Evans mengulangi kata-kata sebelumnya yang dia ucapkan sewaktu Erika melamun karena terpesona.

"Ahahah, iya Kak. Tapi ada apa ya? Kakak tiba-tiba datang menemuiku padahal sudah malam begini?" tanya Erika canggung.

"Aku hanya ingin melihatmu saja." Evans menatap lekat pada wajah Erika yang mulai merona karena mendengar kata-katanya. Dia sedikit menunduk.

"Kenapa keluar tidak pakai jaket? Malam ini dingin sekali," ucap Evans lalu melepas pakaian luar yang dia kenakan dan memasangkan langsung ke tubuh mungil Erika.

Erika terkejut. "Tidak apa-apa, Kak. Kan dekat dari rumah." Erika berniat melepas pakaian luar tersebut.

"Jangan. Aku gak mau kamu terkena flu." Evans menahan tangan Erika sehingga aakhirnya Erika tetap memakainya.

"Makasih, Kak." Erika tersenyum, Evans juga tersenyum, matanya masih saja melekat pada wajah Erika .

"Apa Kakak pergi ke kampus hari ini?" tanya Erika penasaran.

"Tidak," jawab Evans singkat.

"Oh."

"Pantas saja dia tidak kelihatan seharian ini."

"Apa kamu mencariku?" tanya Evans menebak.

"Eum. Itu. Aku bertanya karena aku gak lihat kakak seharian ini di kampus," jawab Erika sedikit kikuk.

"Dua minggu ini aku bakalan jarang ada di kampus," ucap Evans memberi tahu.

"Kenapa Kak? Eum. Itu pun kalau aku boleh tahu."

"Ada pelatihan kerja," jawab Evans singkat.

"Pelatihan kerja?" Erika malah membeo.

"Iya. Di perusahaan papaku."

"Oh gitu. Tampaknya Kakak bakalan sibuk ya dua minggu ini?"

"Tidak terlalu."

"Ohh."

"Apa kamu mau jalan-jalan denganku, hari Minggu?"

"Hari Minggu ini?" tanya Erika terkejut di campur rasa senang.

"Iya."

"Um. Mau kok, Kak." Erika menjawab dengan penuh semangat. Evans tersenyum melihat ekspresi gadis itu.

"Baiklah, hari Minggu jam sepuluh pagi aku akan menjemputmu di sini," ucap Evans kemudian.

"Iya, Kak." Erika tersenyum.

"Masuklah ke rumah dan cepat tidur," kata Evans sambil memegang pelan kepala Erika. Dengan wajah yang terus merona, Erika lagi-lagi sedikit menunduk malu. Membuat Evans merasa gemas.

"Eum. Eum. Baiklah, Kak." Erika langsung berbalik, berjalan cepat, lalu tiba-tiba menoleh kembali.

"Sampai jumpa ya, Kak Evans." Tangan Erika melambai-lambai.

Evans tersenyum melihat Erika melambaikan tangan lalu Erika berlari dan masuk ke salah satu rumah.

"Oh, itu rumahnya. Tak sabar ingin main ke sana." Evans terus menatap rumah itu walaupun Erika sudah masuk ke dalam rumah.

Sementara itu, sedari tadi mereka tidak sadar ada yang menguntit mereka.

***

Sesampainya di rumah, Erika tersenyum senang. Bukankah itu ajakan kencan? Pikirnya dalam hati. Hatinya benar-benar gembira saat ini.

"Siapa temanmu yang datang, Erika?" tanya Danish yang ternyata sedang menunggu Erika kembali.

"Itu Kak. Cowok kemarin yang aku kasih tahu ke Kakak." Erika berucap penuh semangat.

"Kelihatannya dia cuma sebentar menemuimu. Ada apa dia datang mendadak?" tanya Danish lagi karena penasaran.

"Katanya dia cuma mau melihatku saja, Kak. Aw. Malu deh." Mulut Erika tersenyum lebar. "Dia juga mengajakku jalan-jalan di hari Minggu ini, Kak. Ahh, aku senang sekali rasanya," ucapnya kemudian dengan penuh kegembiraan. Kakaknya mengawasi baik-baik tingkah adiknya itu.

"Kamu menyukainya ya?" tanya Danish menebak.

Erika diam sejenak, memperhatikan keadaan sekitar. "Ibu di mana, Kak?"

"Di kamar. Kata Ibu, dia mau tidur. Kakak disuruh menunggumu."

Erika mendekat pada Kakaknya. "Sepertinya aku menyukainya, Kak. Tidak apa-apa kan?" tanya Erika dengan setengah berbisik.

"Wajar saja kalau kamu menyukai seseorang. Tapi kamu harus berhati-hati dalam bergaul dengannya, Erika. Kita kan belum tahu dia itu bagaimana. Apalagi kamu baru mengenalnya," ucap Danish menasehati.

"Iya, Kak. Beres," jawab Erika singkat sambil tersenyum.

"Kamu tidurlah," kata Danish sambil memegang kepala Erika.

"Iya, Kak." Erika hendak masuk ke dalam kamar.

"Tunggu. Itu pakaian luar siapa? Laki-Laki tadi?" cegat Danish.

"Iya, soalnya di luar dingin banget, Kak. Dia baik ya. Heheheh. Aku akan memulangkannya nanti," jawab Erika. Danish hanya mengangguk mendengarnya.

"Masuklah ke kamar."

"Iya Kak. Selamat malam. Hehehe."

"Selamat malam." Danish tersenyum kecil.

***

Flashback

Pagi itu, Lisa masih tidak habis pikir akan apa yang dia alami tadi malam. Ketika Evans mengajaknya tidur bersama, lalu menikah jika dia didapati memang masih suci.

"Kak Evans.. Apa mungkin dia cuma menggertakku saja? Sepertinya aku memang tidak ada harapan lagi." Lisa berwajah muram sambil berjalan memasuki kampus. Tetapi walaupun dengan wajah seperti itu, dia malah semakin terlihat cantik.

"Kak Revin!" seru Lisa yang tidak sengaja melihat Revin keluar dari mobil di kejauhan. Lisa berlari menghampiri Revin dan langsung memeluk lengannya.

"Lisa? Makin cantik saja kamu," ucap Revin santai sambil tersenyum.

"Makasih, Kak. Ntar malam ke club yuk?" Ajak Lisa penuh semangat. Ya. Revin dan Lisa memang acap kali pergi ke club. Untuk bersenang-senang bersama sebagai teman. Jika tidak ada orang lain yang bisa diajak, biasanya mereka akan mengajak satu sama lain untuk menghilangkan stres.

"Apa kamu ingin aku mengajak Evans?" tanya Revin menebak.

"Tidak usah, Kak. Kita sudah putus," jawab Lisa singkat.

"Kamu tidak ingin memperbaiki hubunganmu dengannya?" tanya Revin lagi. Lisa menggeleng.

"Kak Evans lagi mengutip sampah yang sudah dia buang, Kak. Hehehe."

"Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan. Dia temanku, Lisa." Revin mengingatkan perkataan Lisa yang menurutnya berlebihan.

"Dia kembali ke mantannya yang tak tahu diri itu, Kak." Lisa menekuk wajahnya tanda tak suka.

"Yang mana?"

"Alexa. Aku memergoki Alexa tadi malam di rumah Kak Evans."

"Evans sudah punya gebetan baru." Revin berucap santai.

"Hah? Siapa lagi tuh?" tanya Lisa penasaran, sepertinya dia ketinggalan informasi.

"Cantiklah pokoknya. Hehehe." Revin tersenyum mengejek.

"Kak. Please. Siapa orangnya?" Lisa mencubit lengan Revin.

"Aw! Buat apa kamu tahu?" Revin mengusap-usap lengannya yang dicubit sampai merah.

"Biar jelas saja dan hatiku menjadi tenang, Kak. Aku lebih menerima kalau Kak Evans mencari gebetan baru daripada kembali ke mantannya itu. Aku tak suka dengan Alexa," ucap Lisa berbohong.

"Namanya Erika. Kelas Akuntansi tingkat Dasar." Revin menjawab tanpa rasa prasangka sedikit pun pada Lisa. Maklum, kan mereka cukup akrab.

"Hehehe syukurlah, Kak. Semoga Kak Evans bahagia dengannya. Aku ke kelas dulu ya. Sampai jumpa, Kak." Lisa tersenyum lalu meninggalkan Revin.

"Hei! Jadi gak ke club?" tanya Revin sedikit berteriak, tetapi Lisa sepertinya tak mendengarnya lagi karena buru-buru pergi.

Tanpa diketahui Revin, wajah Lisa saat ini berubah muram seketika. Dirogohnya ponsel dengan cepat.

Flashback Off

***

Erika cemberut memperhatikan wajahnya di cermin. Beberapa hari ini sejak Evans yang datang mendadak di malam hari menemuinya, Evans sama sekali tidak menghubungi Erika. Kirim satu pesan pun tidak. Hati Erika menjadi risau.

"Apa Kak Evans benar-benar sangat sibuk?" Erika melihat nomor kontak Evans di layar ponselnya.

"Apa kami bakalan jadi jalan-jalan hari Minggu ini? Hmmm." Ragu-ragu Erika mencoba menelepon Evans.

"Hah? Nomornya sibuk?" gumam Erika.

"Dia sempat bertelepon dengan orang lain. Kenapa denganku tidak? Apa jangan-jangan Kak Evans lupa dengan janjinya?"

Erika mencoba menelepon Evans kembali. "Masih sibuk nomornya." Erika meletakkan ponselnya di meja. Wajahnya sedih. Dia merebahkan diri di tempat tidur.

Tiga puluh menit Erika berbaring. Pikirannya gelisah penuh dengan Evans. Ini kali pertama Erika benar-benar tertarik pada seorang pria. Cukup dimaklumkan jika dia merasa risau saat ini. Jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam. Erika bangkit berdiri melihat pakaian luar Evans yang sudah dia cuci dan setrika. Dirabanya pakaian itu pelan-pelan. Erika menghela nafas.

Drrtt drrtt drrrtt...

Tiba-tiba ponsel Erika berbunyi. Sontak Erika terkejut dan buru-buru meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Cepat-cepat dia melihat layar ponselnya berharap kalau yang menghubunginya itu adalah Evans.

Benar saja! Eavns memanggil.

"Aaahhh, Kak Evans!" Erika tidak sengaja berteriak saking senangnya. Cepat-cepat dia menutup mulutnya. Takut mengganggu ibu dan kakaknya.

ddrrrttt drrrttt..

Klik

Erika mengangkat telepon.

"Halo, Kak Evans," sapa Erika dengan lembut.

"Halo, Erika. Kamu sedang apa?"

"Tadi lagi baring, Kak."

"Apa kamu sudah mau tidur?"

"Tidak kok, Kak. Kakak sibuk sekali ya beberapa hari ini?"

"Iya, Erika." Evans terdengar mengela nafas, sepertinya dia memang sangat lelah akan kesibukannya.

"Eum. Tadi nomor Kakak sibuk." Erika mencoba mencari tahu.

"Apa kamu menghubungiku tadi?" tanya Evans tampak terkejut.

"Iya, Kak."

"Maaf, tadi aku tidak memperhatikan."

"Tidak apa-apa kok, Kak. Ngomong-ngomong....." Erika hendak menanyakan soal jalan - jalan di hari Minggu. Tetapi terdengar suara ketukan pintu di seberang sana.

Tok tok tok "Evans.." tok tok tok..

"Iya, Pa. Sebentar." Suara Evans menyahut.

"Erika. Sudah dulu ya. Sampai jumpa hari Minggu."

"Eh, iya Kak."

Bip bip bip bip... Evans memutuskan panggilan. Panggilan terputus.

"Aaaahhhhh! Sampai jumpa hari Minggu katanya!" Erika berteriak di dalam hati riang gembira. Menghempaskan diri ke tempat tidur dan berguling-guling. Ternyata mereka bakalan jadi jalan-jalan di hari Minggu ini.

***

Evans

Terimakasih atas dukungannya dengan memberi Like, Comment dan Vote-nya ya, Kak! 😉

1
Anonim
bgsss bgtt
Pitriya BiMe
Evans bodo banget yaa,, tanpa konfirmasi udah nyimpulkan sesuatu yg jelas2 itu salah..
Aisyah Nabila
aku mampir thor smoga bgus ceritanya dan gk bnyk typo
Diana Susanti
dibukak nggak bisa
Sumini Harrni
peran semuanya ga ada yg aku sukai . semangat thor
Sumini Harrni
putus aja aku ga suka karakter Evan aku juga ga suka karakter Erika..putus dulu biar Evan. memantapkan rasanya dia cinta Erika apa ga
Sumini Harrni
putus Evan itu ga cinta erica.pria plin plan
🇮🇩Imelda🇰🇷
ada ya saking cinta rela jadi yg kedua
Mamanya Vin Van
up
Yanti Palamani
Erika yg bodoh.
Han Yonggi
Visual Evans tdk keren !
Sun Shine: khayalin tokoh lain aja, kak..
total 1 replies
Redflow
erika kekanak kanakan sekali..terlalu bucin sampai ga inget keluarga...
Redflow
erika kok lama lama ngeselin..gak inget perjuangan kakaknya...gak ada kasihan ma kakaknya yg di penjara gara2 dia
arin
akhiry bahagia,semoga ngga ad kuman amiin
arin
mabok dech si Evans,semoga bucin trs ngga jdi nkhin Alexa...😍
arin
semoga Evan ngga jdi nikahin alexa
arin
haha ad ya yg kaya gni,demi cinta rela jdi yg kedua...klo sy wlpun cinta bngt mah ogah jdi yg kedua🤣
Riski Agustika
akhirnya 😘😘😘
dayutz 💕
makasih kk udah nulis cerita yg bagus,aq tunggu cerita revin dan lisa😊
Kusuma Wardhani Wiwin
makasih kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!