NovelToon NovelToon
Luka Hati

Luka Hati

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Mata-mata/Agen / Menyembunyikan Identitas / Cinta setelah menikah / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:713.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

~Bahkan, goresan peluru sekalipun tak pernah sesakit ini...

Pandu tak pernah menyangka akan terjebak dalam permainan seorang wanita licik penuh rahasia bernama Celine.

Terikat dalam pernikahan bersama wanita itu tak pernah memberikan bahagia untuk Pandu. Hingga lama kelamaan, perlahan kebencian itu mulai menghilang dan menghadirkan rasa yang asing di hati Pandu.

Namun, ketika Pandu memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya, Celine malah berpamitan pergi. Tidak hanya dari rumah Pandu tetapi juga dari kehidupan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama

Celine mematung dengan sepiring ikan goreng yang nyaris terjatuh dari kedua tangannya. Kedatangan Pandu yang tiba-tiba ke dapur membuat rasa ngeri wanita itu bangkit kembali.

"Se-selamat pagi!" Celine menyapa tanpa bisa menyembunyikan ketakutannya pada Pandu. Segera, ia meletakkan ikan goreng tadi di meja makan lalu duduk di salah satu kursi.

"Kamu udah mau berangkat?"

Lelaki yang di tanya tampak tak peduli. Wajah tampannya terlihat sangat tidak senang ketika ia menjumpai Celine di dapur apartemennya.

"Nggak sarapan dulu?" tanya Celine tak menyerah. Ia masih berusaha bersikap ramah bahkan ketika Pandu tidak menggubris keberadaannya sama sekali.

Pandu yang hendak melangkah pergi ketika selesai meminum segelas air putih mendadak berhenti. Ia kemudian berbalik. Menatap sinis wanita tak tahu malu yang sedang sarapan di ruang makan apartemennya.

"Dasar perempuan nggak tahu malu," cibir Pandu dengan tatapan jijik sebelum kembali melangkah pergi.

Suara bantingan pintu membuat Celine memejamkan matanya. Sekuat tenaga ia berusaha menenangkan hati. Perempuan cantik itu tersenyum. Meski, kedua matanya berlinang air mata.

"Gak apa-apa, Celine!" gumamnya menghibur diri sendiri. Ia tetap melanjutkan makan. Sambil sesekali tersenyum untuk menipu diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.

****

"Si*LAN..." umpat Pandu kesal sambil memukul-mukul kemudi mobilnya. "Emang ada ya, perempuan yang nggak punya malu sedikitpun kayak dia?"

Pandu menarik napas panjang. Di sandarkannya kepala lalu memejamkan mata demi menenangkan pikiran yang bergejolak. Selang beberapa saat, lelaki itu kembali menghela napas.

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan di kaca mobil membuat Pandu menoleh. Wajah kesalnya mendadak pudar ketika melihat sosok cantik nan menggemaskan Azkia terlihat sudah siap dengan seragam sekolahnya. Di sampingnya, ada Ellena yang sedang menggenggam tangan gadis kecil menggemaskan itu.

"Hai, sweetgirl!" sapa Pandu usai pintu mobil ia buka. Dengan cekatan, ia menggendong gadis kecil itu. Mencium pipi kiri dan kanan Azkia bergantian.

"Uncle kok marah?" tanya Azkia polos.

"Siapa yang marah?" Pandu bertanya dengan wajah jenaka seperti biasa.

"Kalau nggak marah, kenapa stir mobilnya di pukul? Kan, gak salah apa-apa," ucap Azkia polos.

Pandu nampak sedikit tidak enak. Terlebih lagi, saat menatap wajah Ellena yang sepertinya juga sedang menunggu penjelasan darinya.

"Kia masuk mobil dulu ,ya. Mama sama Uncle mau ngomong sebentar." Ellena meraih Azkia dari gendongan Pandu lalu memasukkan gadis kecil itu ke dalam mobil sebelum menutup pintunya kembali.

"Berantem sama Celine?" tanya Ellena dengan tangan bersedekap di depan dada.

"Tidak, Nona!" jawab Pandu berbohong. Pria itu menunduk. Tak berani menatap Ellena dengan netranya yang jelas sedang mengukir kebohongan.

Ellena menghela napas sambil mengangguk paham. Sedikit banyak, Ellena paham situasi Pandu karena ia juga pernah berada dalam posisi yang sama seperti Pandu meski dengan cerita yang jelas sangat berbeda.

"Nggak semua yang terlihat dari Celine itu buruk, Kak!" ucap Ellena menasehati.

Mulut Pandu sudah hampir mengeluarkan suara protes ketika Ellena kembali melanjutkan perkataannya.

"Mungkin dia memang punya motif tertentu dengan mendekati keluarga kita. Tapi, jangan hanya karena satu kecurigaan, membuat Kak Pandu buta untuk menyadari kalau Celine saat ini terlihat sedang putus asa."

"Putus asa? Cih!" Pandu tertawa menyepelekan.

"Aku pernah di posisi dia sebelumnya. Dan, terlebih lagi, aku dan dia sama-sama perempuan. Kami bisa jauh lebih peka memahami perasaan masing-masing meski tanpa perlu berbicara banyak."

Kali ini, Pandu diam. Ia tak tahu harus dengan kalimat apa untuk memotong pernyataan Ellena. Ia takut Ellena tersinggung jika dia tetap bersikeras mengatakan bahwa Celine selebihnya bukan orang baik seperti yang Ellena pikirkan.

"Kak Pandu ngira aku salah menilai ya?"

Pertanyaan Ellena nyaris membuat Pandu tersedak ludahnya sendiri. Darimana Ellena tahu apa yang Pandu pikirkan?

"Ti-tidak begitu!" sangkalnya.

"Coba lihat lebih baik lagi, Kak! Bisa jadi, Celine jauh lebih rapuh dari yang Kak Pandu pikirkan. Oke?" ujar Ellena sembari menepuk bahu kanan Pandu. "Aku panggil Arkan dulu ya!" lanjutnya sebelum meninggalkan Pandu yang tertegun sendirian.

Selepas mengantar Arkan dan Azkia ke sekolah, Pandu berangkat menuju Dirgantara Group. Ada panggilan darurat dari Bima yang mengharuskan Pandu untuk datang segera. Sementara, tugas memastikan Arkan dan Azkia aman di sekolah sudah di berikan kepada dua bawahan Sam yang lain.

Pandu menghentikan langkahnya yang terburu-buru begitu pintu lift terbuka. Raut wajahnya mendadak suram. Sorot matanya tajam menghunus aura permusuhan kepada seorang perempuan satu-satunya yang berada di dalam lift. Sementara, perempuan itu hanya memeluk map besar berwarna biru dengan erat. Matanya berkedip menghalau ketakutan yang tiba-tiba menguar dari dalam tubuhnya. Nampak, setiap sel saraf Celine sudah mulai terbiasa mendeteksi kengerian setiap berdekatan dengan Pandu.

Mau tak mau, Pandu tetap masuk ke dalam benda kotak itu. Ia tak punya pilihan lain karena harus buru-buru sampai ke ruangan Bima.

"Mau ketemu Pak Bima, ya?" tanya Celine basa-basi. Meski jemarinya bergetar, gadis itu berusaha tetap biasa-biasa saja.

"Bukan urusan kamu," jawab Pandu ketus.

"Ada perlu apa?" tanya Celine lagi.

"Saya bilang, bukan urusan kamu, Celine!" bentak Pandu yang bertambah kesal.

"PMS ya? Galak banget!" cetus Celine yang bermaksud bercanda. Namun, yang ia dapat sebagai balasan justru tatapan tajam tak bersahabat dari Pandu.

"Maaf!" ucap Celine mencicit. Beruntung, pintu lift kembali terbuka dan Celine buru-buru keluar dari sana lebih dulu. Sementara, Pandu menyusul selang 3 detik kemudian dan langsung memasuki ruangan Bima tanpa perlu menunggu persetujuan dari pemilik ruangan.

"Akhirnya kamu datang!" ucap Bima tanpa perlu mendongak melihat siapa yang mampir ke ruangannya.

"Anda mencari saya?" tanya Pandu setelah sebelumnya menundukkan badan sembilan puluh derajat memberi hormat pada atasannya.

"Saya punya tugas untuk kamu," kata Bima sambil terus mencoret-coret sesuatu di tablet pintar miliknya.

"Apa, Tuan?"

"Saya ada pertemuan bisnis selama seminggu di Bali. Tapi, sayangnya saya tidak bisa hadir karena Ellena sedang tidak ingin di tinggal akhir-akhir ini."

"Lalu?"

"Celine yang akan menggantikan saya untuk ke sana. Dan kamu, bertugas untuk menemaninya selama seminggu bekerja tanpa saya," terang Bima tak acuh.

"Anda gila?" tanya Pandu dengan wajah terkejut.

Gerakan menggambar Bima di tablet terhenti. Wajahnya mendongak dengan tatapan pembunuh ke arah Pandu.

"Gila? Kami bilang saya gila?" Bima meraih salah satu pensil yang berjejer rapi di atas mejanya. Melempar benda tersebut hingga telak mengenai kening Pandu.

"Ma-maaf, Tuan!" ujar Pandu menyesal. Ia memukul mulutnya sendiri karena sudah berseru lancang terhadap atasannya.

"Kalau mau mati lebih cepat, bilang! Mumpung istri saya yang selalu belain kamu lagi nggak ada di ruangan ini!" Bima kembali meraih satu pensil dan melemparnya ke arah Pandu.

"Maaf, Tuan!" Pandu berusaha menghindar yang justru semakin membuat amarah Bima kian menjadi-jadi.

"Permisi, Pak!" Celine tiba-tiba masuk dengan wajah tersenyum. Membuat, pensil yang hampir di lemparkan lagi oleh Bima tertahan di jari pria itu.

"Ada apa?" tanya Bima sembari meletakkan kembali pensil itu di tempat semula.

"Rapat dengan dewan eksekutif dimulai lima menit lagi. Apa Bapak ingin ke ruang rapat sekarang?"

Bima memandangi arloji di pergelangan tangan kirinya. Celine benar. Pertemuannya dengan para dewan eksekutif memang sebentar lagi akan di mulai. Padahal, awalnya Bima sudah salah sangka mengira Celine masuk tiba-tiba ke ruangannya karena ingin menyelamatkan Pandu.

"Ke sini sebentar!" perintah Bima sambil memberi isyarat tangan agar Celine mendekat.

Perempuan cantik itu tetap memasang senyum meski kelopak matanya lagi-lagi berkedip karena grogi harus berdiri berdekatan dengan Pandu.

"Ya, Pak?" tanyanya ramah.

"Dua hari lagi, kamu berangkat ke Bali untuk menghadiri meeting dengan klien perusahaan kita menggantikan saya," kata Bima yang sukses membuat ekspresi wajah Celine kaget bukan main.

"Ta-tapi, Pak... Bukannya itu klien penting? Sa-saya rasa saya..."

"Pandu akan ikut menemani kamu," potong Bima cepat. Lelaki bermata elang itu mampu menangkap ekspresi ketakutan di wajah Celine. Namun, akan hal apa? Kenapa gadis ini terlihat begitu gelisah ketika Bima memintanya menjauh darinya?

"Pak, saya belum cukup pengalaman untuk memperoleh mandat sebesar ini. Akan lebih baik jika wakil direktur anda saja yang berangkat," ucap Celine dengan nada panik. Ke Bali sendirian tanpa Bima? No. Anak buah Madam Chu akan dengan mudah menangkap Celine dan membawanya kembali pada wanita Medusa itu.

"Saya tidak suka di bantah, Celine! Pergi ke Bali atau pergi selamanya dari perusahaan ini. Kamu yang tentukan!" ujar Bima tegas sambil berjalan lebih dulu menuju ruang rapat.

1
Dati Purwani
bener banget...👍👍👍..setuju...setuju...setuju..♥️
Nicky
masih belum nyambung aku, ini Gabriella dr Singapura tempat madam chue, dia nemuin bima, pandu dll di Indonesia? akomodasi alias uang, sarana prasarana aja ga ada. Atau ada paragraf yang terlewat baca?
Nicky
darimana gaby ini bisa tahu dengan pandu kalau dia suaminya Celine. Toh selama ini dia di kurung oleh madam chue, pernikahan pandu Celine juga tertutup kan.
itin
demen banget lihat zhao lusi aka celine. gemesin. defenisi gadis mungil super cute yg ga bisa diabaikan
Surati
bagus ceritanya
Mimi rachmah
mantaap banget ceritanya
Puspa Sella
sumpah baca karakter calline BKN emosi kenapa gak mau jujur heran aku
Dewa Nara
kenapa pisah
Maria Tri Wulandari
Luar biasa
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
whaaa.. kereeen.. mantap Ellana🤣🤣
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
hahhaahhaha.. nangis sambil guling2🤣🤣🤣
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
aaa jd Rindu si Top1 yg meninggal akibat di hianati sahabat2nya sndiri😭😭
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
Luar biasa
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
aaa aku rindu Darren 🤗🤗🤭
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
jangan2 si Lorna itu kakaknya Pandu yg di culik🤔🤔🤔
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
aku kembali cari pandu pke akun baru thor.. dlu ceritanya belum selesai ku baca
Ririn Satkwantono
UTK PEMILIK HATI SUAMIKU... apa blm ada yah.. kok aqcari lagi nggk ada
Mila Jamilah
cerita tentang roscoe belum up lgi Thor bari satu episode aku buka lapak nya
Anonim
suka ama karyamu
yuiwnye
celline ketemu tp mrk kan janji gak akan saling mengenal nnt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!