Elvano Devan seorang CEO tampan yang cuek dan dingin adalah penerus dari perusahaan ayahnya The Royal Company.
Sang ayah mempekerjakan seorang wanita bernama Irene Stefanie yang sebenarnya adalah gadis yang dijodohkan dengan Devan untuk menjadi sekretarisnya tanpa sepengetahuan sang anak. Apa yang akan terjadi di antara Irene dan Devan? Apakah pada akhirnya Devan akan tau yang sebenarnya? Atau dia akan menolak perjodohan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LOEY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Devan
Hari ini The Royal Company akan merayakan hari jadi perusahaan yang ke-50 tahun, Devan dan ayahnya sedang sibuk mempersiapkan acara tersebut dan acaranya akan dirayakan besok malam di gedung aula perusahaan, "ayah seluruh ruangan sudah di dekorasi semua, apa masih ada yang kurang? " tanya Devan kepada ayahnya, ayahnya tampak mengamati keadaan gedung "ya, semuanya sudah selesai didekorasi, berarti tinggal hidangan dan hiburannya saja" ucap Rio ayah Devan.
Mereka mempersiapkan gedung itu dari pagi hingga larut malam dan ketika jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari Devan dan ayahnya memutuskan untuk pulang.
Sesampainya dirumah Devan segera masuk ke kamarnya dan membersihkan diri, selesai membersihkan diri, Devan pun merebahkan diri di kasur empuknya dan tertidur pulas.
Keesokan harinya, Devan bersiap - siap untuk pergi ke aula kantor untuk mengecek kembali persiapan yang dilakukan. Namun, saat Devan akan pergi, ia melihat Irene sedang menuruni tangga, ia seperti baru bangun dari tidurnya (alias berantakan wkwk) saat Irene pergi menuju dapur Devan berdiri tepat disebelahnya namun Irene tidak nenyadari hal tersebut. Alhasil, saat Irene hendak pergi Devan menahan tangan Irene dan menyudutkannya di sudut ruangan, Irene terkejut karna hal tersebut "apa yang kau lakukan? kau tidak pergi bekerja? " tanya Irene, namun Devan tidak menjawab sama sekali dan hanya menatap wajah Irene dengan tersenyum "kenapa kau diam saja? " tanya Irene lagi "aku akan pergi nanti " jawab Devan "apa maksudmu? kan kau harus menyiapkan gedung aula untuk acara nanti malam " jelas Irene "kau ingin aku pergi sekarang? " tanya Devan kepada Irene dan dibalas anggukan oleh Irene "baiklah aku pergi sekarang " ucap Devan, namun sebelum pergi Devan mencium kening Irene "morning kiss" ucapnya dan setelah itu ia pun berlalu pergi, Irene yang menerima perlakuan seperti itu bingung dengan sikap Devan belakang ini yang menurutnya sudah tidak cuek lagi dengannya, namun Irene tidak mau berpikir yang aneh - aneh dan ia pun segera pergi ke kamarnya dan bersiap-siap untuk menyusul Devan ke kantor.
Saat di perjalanan Rio melihat putranya sedang tersenyum seperti ada sesuatu yang dipikirkannya "apa yang kau tertawakan? " tanya Rio "menurut ayah Irene itu orangnya bagaimana? " tanya Devan kepada ayahnya "memangnya kenapa? kau suka pada Irene? " tanya ayahnya lagi, Devan sangat bingung dengan perasaannya sendiri, apakah ia suka atau tidak dengan Irene? ia pun masihbelum tau pasti tentang perasaannya itu, karena Rio melihat putranya tampak sedang bingung ia pun menjelaskan kepada Devan masalah perasaannya "menyukai seseorang itu bisa dilihat dari tingkah lakunya kepada orang yang dia sukai " ucap Rio menjelaskan "jadi bagaimana? " tanya Devan penasaran "jadi, jika kau berdekatan atau melihat orang yang kau suka, bawaan perasaanmu akan merasa senang dan kau akan selalu memperhatikan orang yang kau suka itu dan perilakumu kepada orang itu pun tidak seperti perlakuanmu kepada orang lain atau bisa dibilang kau lebih perhatian kepada orang yang kau suka dibanding ke orang lain" jelas Rio panjng lebar dan Devan hanya mengangguk mengatakan bahwa dia paham dengan penjelasan sang ayah. Sesampainya dikantor mereka berdua pun pergi menuju aula kantor untuk mengecek semua persiapan yang dilakukan, saat Devan sedang sibuk mengerahkan semua pekerja tiba - tiba ada seseorang dari belakang yang menutup mata Devan dengan kedua tangannya dan saat Devan membuka dan menoleh ke arah belakang terdapat sosok Irene yang sedang tersenyum kearahnya "hey, kenapa tidak bilng jika kau kesini? " ucap Devan "aku hanya tidak ingin merepotkan mu, jadi apa yang sedang kau lakukan? " tanya Irene "hanya melanjutkan pekerjaan yang tertunda kemarin" jawab Devan "apa belum selesai? " tanya Irene lagi "tinggal sedikit lagi " balas Devan dan saat pekerjaan mendekor telah selesai Devan pun mengajak Irene dan ayahnya untuk makan siang di restoran karna jam menunjukkan pukul 13:43 jadi mereka bertiga pun pergi untuk makan siang.
Sesampainya di restoran itu mereka bertiga berbincang-bincang sambil menunggu makanan dihidangkan, selama makan siang Rio memperhatikan tingkah laku Devan dan Irene yang menunjukkan bahwa hubungan mereka berdua semakin membaik dan lebih dekat tidak seperti sebelumnya.
Selesai makan siang Irene memutuskan untuk pulang ke rumah karna di kantor dia tidak ditugaskan apapun oleh Devan karna ia pun sibuk dengan persiapan acara nanti malam.
Saat Devan dan ayahnya kembali ke kantor ayahnya memperhatikan tingkah laku Devan yang tidak seperti biasanya "apa kau suka pada Irene? " tanya ayah Devan terus terang, awalnya Devan menolak untuk menjawab namun lama - kelamaan ia semakin yakin dengan perasaannya terhadap Irene "sepertinya aku memang menyukai Irene" ucap Devan serius kepada ayahnya "dan alasannya? " tanya Rio "aku rasa tidak ada alasan aku menyukainya, lagipula Irene bukanlah tipe wanita yang mendekati seorang pria hanya karna harta" ucapnya Devan yakin "ya sudah jika kau berpikir begitu" jawab Rio dan mereka berdua pun kembali kerumah pada sore harinya setelah bekerja seharian di gedung aula.
paling malas baca karakter istri seperti itu kalau merasa dicintai suami, setiap ada maunya harus dituruti dan mau menang sendiri, alasan bosan lah ini itu lahh. hei kebosanan itu bisa kau atasi buat hal2 yg bermanfaat di rumah. dikasih hati minta jantung.
di sini aku pribadi ga bisa menyalahkan org luar, justru salahkan diri sendiri ga bisa jaga diri sendiri