Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9.Calon mantu.
"Ternyata kita tetanggaan." Cetus Anin masih tidak percaya.
Ntah akan seperti apa kehidupan mereka selanjutnya, apalagi mereka ternyata tetanggaan.
"Memang rumah kamu dimana?" Tanya Danis penasaran.
"Rumahku dilantai dua no 12." Jawab Anin dengan nada jutek.
"Aku juga dilantai dua no 13." Sambung Danis.
Anin membulatkan matanya, rasanya ia tidak percaya ternyata karyawan baru ditempat kerjanya adalah tetangganya.
"Baiklah aku masuk dulu!" Anin berlalu pergi dari hadapan Danis.
Danis hendak mengejar Anin, tapi tiba-tiba ponsel miliknya berdering, ia mengambil ponselnya dari saku celananya lalu mengangkat telponnya yang ternyata dari Aqila.
"Hallo..." sapa Danis singkat.
"Hallo Kak Danis," Jawabnya dengan suara cempreng.
"Aish Aqila, pelankan suaramu!" Omel Danis.
"Kak Danis, aku akan segera pulang dari luar negeri dan Kakak tahu papa sudah membeli rumah di dekat rumah kakak." Cerita Aqila dengan begitu bawel.
"Tapi aku sudah tidak tinggal dirumah, aku sekarang sedang berkelana." Jawab Danis.
"Aqila bawel, kamu telpon Dafa dulu kakak ada urusan penting dan ini masalah hati." Danis mematikan saluran teleponnya, dan langsung mengejar Anin yang sudah berjalan duluan.
Aqila memanyunkan bibirnya, Alya yang melihat anaknya memanyunkan bibirnya menghampirinya.
"Kenapa anak mama?" Tanya Alya dengan nada lembut.
"Kak Danis, main matikan telpon dari Qila ma katanya ada masalah hati." Aqila memasang wajah memelasnya, lalu Alya memeluknya.
"Anak mama, mungkin kakakmu itu sedang bersama dengan kekasihnya. Sudah jangan manyun lagi bersiaplah bukankah kita akan pulang ke kota halaman kita." Alya tersenyum pada putrinya.
Panji yang baru saja keluar dari kamarnya, menghampiri kedua wanita yang selama ini menjadi bagian dalam hidupnya.
"Istriku, anak papa, kalian sedang apa? Bersiaplah bukankah kita akan segera pulang." Panji duduk ditengah-tengah anak dan istrinya.
.
.
Kembali Ke Danis dan Anin.
Danis mengejar Anin, ia tersenyum melihat Anin ternyata benar tinggal disamping rumahnya.
"Akhirnya, aku akan lebih sering bertemu dengan dirinya." Danis senyam-senyum sendiri dalam hatinya.
"Ceklek..." Danis membuka pintu rumahnya lalu langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Lelah sekali hari ini." Danis membanting tubuhnya ke ranjang tempat tidurnya.
Danis senyam-senyum sendiri, dalam hatinya sungguh Anin adalah gadis yang berbeda dari gadis-gadis yang aku kenal.
Sedang asik memikirkan Anin, tiba-tiba ponselnya berdering membuat ia berdecak kesal.
"Aish siapa sih? Mengganggu saja." Gumam Danis, sambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
"Mama...." Danis mengembangkan senyumnya, ternyata mamanya yang menelponnya.
Danis mengangkat telpon dari mamanya lalu menempelkan ponselnya ditelinganya.
"Anak mama!!" Panggil Risa dengan begitu semangat.
"Aish mama, pelankan suara mama." Pinta Danis sambil menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Danis mama merindukanmu, mama tidak bisa tidur tanpa kamu." Kata Risa dengan nada merajuk.
"Mama, kan ada papa yang setiap malam bisa tidur sambil memeluk mama." Ledek Danis sambil tertawa.
"Papamu menyebalkan nak, tega dia menjauhkan kita berdua." Kata Risa dengan nada kesal.
"Mama, mama tidak usah pikirkan Danis! Oh iya ma suatu saat Danis akan pulang membawakan mama calon mantu buat mama." Danis tertawa dengan begitu senang.
"Sungguh? Cepatlah pulang nak bawa calon mantu mama pulang." Jawab Risa dengan begitu girang.
"Baiklah ma, sekarang Danis tidur dulu ya ma! Besok Danis harus berangkat kerja soalnya." Kata Danis sambil menguap karena sudah merasa mengantuk.
"Kamu kerja? Tapi kamu kerja apa nak?" Tanya Risa dengan begitu bawel.
Danis mematikan saluran teleponnya begitu saja.
"Maaf ma, jika aku memberitahu mama aku berkerja sebagai pelayan cafe pasti mama akan sedih." Batin Danis dalam hatinya.
Danis beranjak dari tempat tidurnya, lalu menuju ke kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu sebelum tidur.
Danis dan mamanya memang sangat dekat, apalagi Risa adalah orang yang selalu membela ia ketika ia sedang kena marah dari Papanya.
"Mama, Danis juga sangat merindukan mama." Batin Danis dalam hatinya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian tidur, Danis langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang tempat tidurnya.
"Tidak nyaman sekali tidur disini, tapi aku harus kuat menjalani hukuman dari papa atau aku tidak akan mendapatkan fasilitasku kembali lagi." Danis berusaha memejamkan matanya.
Risa dan Denis.
Risa menaruh ponselnya diatas nakas dekat tempat tidurnya, kini ia sedang bengong memikirkan anaknya yang sekarang hidup jauh dari dirinya.
"Nak, sebenarnya kamu kerja apa?" Tanya Risa pada dirinya, perasaannya tidak tenang gara-gara memikirkan pekerjaan anaknya.
"Kamu kenapa?" Tanya Denis yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku memikirkan anak kita, katanya dia sudah berkerja, tapi ntah dia kerja apaan?" Risa menundukkan kepalanya karena merasa sedih.
Denis tahu pasti istrinya ini sangat kepikiran dengan anak kesayangannya.
"Istriku, biarkan anak kita mandiri ya! Ingat tujuan aku memberikan hukuman buat anak kita agar anak kita bisa menjadi lebih baik lagi. Jadi kamu harus percaya dan biarkan anakmu hidup diluaran sana." Denis menarik istrinya masuk ke dalam pelukannya.
"Tapi aku kesiapan suamiku, aku juga tidak bertemu dengan anakku. Mana kita hanya punya anak satu lagi." Risa mengerucutkan bibirnya membuat Denis merasa gemas.
Dalam hati Denis, sungguh istriku begitu mengemaskan dari dulu dirinya tidak pernah berubah.
"Bagaimana kalau kita buat anak satu lagi?" Denis tersenyum mesum pada istrinya.
"Buat satu lagi?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...