Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.
Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?
Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Ajakan Berpacaran
Keterkejutan tak dapat disembunyikan. Isabel dibuat kaget akibat Riko mengajaknya berpacaran. Tak ada angin, tak ada hujan. Tetiba saja ajakan berpacaran itu meluncur dengan ringan. Jelas sekali Isabel tidak menangkap adanya keseriusan dari kata-kata yang baru saja Riko katakan.
"Oh," ucap Isabel kemudian, dengan wajah datar.
"Kok oh doang sih. Gue seriusan nih loh!" sahut Riko.
"Jangan bercanda, deh! Nih, habisin makanannya! Kalau Anjani tau kita biarin makanan ini mubazir, bisa kena ceramah ntar!" Isabel menyodorkan paksa satu bulatan pentol bakar ke mulut Riko.
Riko hendak protes, tapi dikunyahnya juga pentol bakar yang dijejalkan hingga habis. Tak sembarangan mengunyah. Riko mengunyah sembari tersenyum ceria, menopang dagu lantas memandangi Isabel yang tengah mengunyah roti maryam topping cokelat keju.
Isabel tahu kelakuan Riko. Acuh saja Isabel melihat itu. Isabel fokus pada makanan di meja yang masih bersisa.
"Jangan ngeliatin aku lama-lama. Naksir beneran baru tau rasa," celetuk Isabel.
"Gue perhatiin, lu cantik juga, Bel." Riko malah memuji.
Geram juga Isabel mendengarnya. Isabel yakin Riko sedang mengerjainya. Sulit dipercaya jika tiba-tiba Riko menyatakan cinta sementara kemarin lusa ada Anjani yang baru saja Riko suguhkan panah asmara.
"Bel, pacaran yuk!" ajak Riko sekali lagi.
"Ogah!" tegas Isabel. "Pacaran aja sama saos! Nih-nih-nih! Hahahaa!" Isabel terpingkal melihat wajah Riko yang belepotan saos.
Buru-buru Riko mengambil tisu dan membersihkan saos yang hampir menyentuh sudut matanya. Setelahnya, Riko terpingkal juga. Sama sekali tidak marah atas perbuatan Isabel.
"Seneng banget lihat temen lu belepotan, ya. Rasain, nih. Gue bales lu!" Riko membalas dengan mencolekkan saos di pipi kanan Isabel.
"Ih, pendendam. Aku bales pakek kecap. Uuuh! Hahaha!" Isabel puas membalas Riko.
"Nona Saos Kecap lagi ngajak perang nih, ya. Ayo! Nih rasain!"
Riko meladeni kejahilan Isabel. Perang saos kecap pun berlanjut. Terlihat kekanakan, tapi baik Riko ataupun Isabel berhasil tertawa tanpa beban.
"Udah ya, Rik. Udah lega kan sekarang? Lain kali kalau cemburu lihat Anjani mesra sama suaminya, jangan bilang macam-macam apalagi sampai ngajak aku pacaran. Aku anti dibuat pelampiasan," tegas Isabel.
Terdengar helaan nafas dalam dari Riko. Isabel melihatnya sebagai satu beban perasaan yang tengah dicoba untuk dikeluarkan.
"Ikhlasin aja status Anjani, Rik. Bukankah kita bertiga sepakat berteman? Hanya teman!" Isabel mengingatkan.
"Huft. Iya, Bel. Sorry ya yang barusan. Gue nggak berniat jadiin lu pelampiasan. Eh, tapi kalau suatu saat nanti gue beneran naksir lu gimana?"
"Ya nggak mungkin kamu naksir aku, Rik. Masa habis jatuh hati sama cewek selevel Anjani, kamu langsung menjatuhkan plilihan sama cewek model begini?" Isabel menunjuk penampilannya yang biasa-biasa.
"Ya apa bedanya, sih. Penampilan kalian sama sederhananya. Bedanya, Anjani pakek hijab. Coba deh lu hijaban juga. Pasti langsung banyak yang naksir!" Riko memainkan sebelah alisnya.
"Mulai deh bawel kayak Kak Bastian. Iya ntar aku bakal hijaban. Nunggu hidayah!" Isabel membuat alasan.
"Tenang. Hidayah pasti bakal segera datang kalau lu deket-deket sama teman yang beriman. Ehem!" Riko menunjuk dirinya.
"Ngaku beriman tapi ngajakin pacaran," sindir Isabel.
"Yaudah deh kalau nggak mau diajak pacaran. Yuk, taarufan! Nggak usah lama-lama. Minggu depan kita langsung nikah aja!" ujar Riko.
"Ngajakin macem-macem lagi, saos kecap sambel kuaduk jadi satu. Langsung kudaratkan di mukamu!" ancam Isabel sambil menunjuk wajah Riko yang belepotan.
"Kejam amat sih lu jadi teman, Bel. Kalau lu ditakdirkan jadi jodoh gue, ntar yang kalem dikit ya."
"Rikoooo!" Isabel sebal, geregetan, karena Riko tak kunjung usai memancingnya dengan ajakan.
Melihat wajah sebal Isabel, Riko lekas terpingkal. Sejatinya hati Riko tengah menikmati rasa akrab bersama seorang teman. Selama ini Riko terkenal sebagai idola kampus yang anti punya teman, karena memang lebih suka menikmati kesendirian. Semenjak Anjani dan Isabel hadir, perubahan datang perlahan. Termasuk saat ini, Riko menggunakan alasan pertemanan untuk bisa dengan bebas beradu kata hingga menggoda.
Isabel cemberut. Membuang muka ke kanan, tapi justru melihat sosok yang begitu dikenal.
"Bel, jangan ngambek dong! Bercanda doang tadi. Bel?" Riko memanggil-manggil nama Isabel.
"Ssut. Ada gebetanmu, tuh!" kode Isabel.
"Hm? Gebetan gue? Siapa?" Riko celingukan, dan lekas menangkap sosok Marisa yang berjalan centil ke arahnya.
Segera Riko mengambil tisu dan membersihkan raut belepotan di wajahnya. Sekilas Riko melirik Marisa yang terus tersenyum ke arahnya. Benar saja, Marisa datang mendekat dan langsung menyapa Riko.
"Bel, pindah situ dong duduknya. Mau ngobrol sama Riko bentar, nih!" usir Marisa dengan halus.
Isabel yang memang tidak suka mencari masalah pun hanya menurut. Sambil membawa kudapan lain yang belum termakan, Isabel pindah tempat duduk tanpa peduli dengan obrolan yang didengar.
"Apa?" tanya Riko ketus.
"Idih, jutek banget sih? Padahal gue ke sini mau ngasih tau kalau tugas kelompok kita udah beres. Tadi udah gue kerjain. Nih, filenya di flashdisk!" Marisa dengan bangga memberikan hasil pekerjaannya.
Kejutekan di wajah Riko bertambah usai mendengar penuturan Marisa.
"Rakus banget sih lu sama ilmu. Kerja kelompok ya harusnya dikerjain bareng, dong!" protes Riko.
"Jangan marah dong, Rik. Gue cuma ngeringanin tugas. Ntar yang presentasi di depan kelas lu deh!" Marisa memberi pilihan.
"Ogah kalau gue sendiri. Gue bagi tugas. Sini filenya!" Riko menerima flashdisk dari Marisa.
Dengan cekatan Riko membaca hasil pekerjaan Marisa. Sedikit banyak juga menambahkan poin-poin penting demi tercapainya ketuntasan tugas. Riko juga membagi, mana bagian yang harus Marisa presentasikan.
"Kok gue ikut ngomong juga sih? Gue kan nggak pinter-pinter amat kalau disuruh ngejelasin!" aku Marisa.
"Marisa, mau sampai kapan lu takut-takut melulu, ha? Nggak inget kita udah semester berapa? Latihan! Biar ntar waktu sidang skripsi lu nggak lagi belepotan di depan dosen penguji!" perintah Riko.
Senyum tulus Marisa suguhkan usai mendengar nasihat Riko. Bagi Marisa, di balik wajah jutek dan anti pertemanan yang dilabelkan, Riko selalu peduli dengan ilmu pengetahuan dan orang-orang sekitar. Marisa sudah merasakan itu pada diri Riko sejak awal perkuliahan. Berawal dari rasa kagum, benih cinta pun tumbuh subur tak terhindarkan. Marisa jatuh hati pada Riko sejak saat itu. Sayangnya, rasa yang tumbuh di hati justru berubah jadi obsesi untuk memiliki.
"Baiklah. Gue akan berusaha demi lu!" sahut Isabel.
"Garis bawahi. Bukan demi gue, tapi demi masa depan lu sendiri. Udahan ya diskusinya. Gue mau pacaran dulu sama Isabel!"
"What?" Marisa terkejut mendengarnya. "Gue kira lu naksir sama Anjani. Jadi ternyata lu main hati sama Isabel?" Marisa menunjuk Isabel dengan tatapan tak percaya.
Telah lama aktif dalam organisasi kampus membuat Isabel tenang menyikapi keadaan. Masalah-masalah model demikian dianggapnya sangat biasa. Apalagi, Isabel begitu yakin bahwa dirinya tak akan mampu menarik perhatian lelaki karena penampilan diri yang menurutnya pas-pasan.
"Marisa, mustahil banget Riko bakal suka sama cewek model begini. Jadi, masih percaya dengan ucapan Riko?" jawab Isabel dengan santainya.
Penjelasan Isabel memudarkan raut keterkejutan di wajah Marisa. Gelak tawa Marisa seketika pecah menyikapi semuanya.
"Bener juga sih! Mana mungkin Riko naksir cewek kayak lu." Marisa masih tertawa.
Sebenarnya Isabel ingin sekali meladeni sahutan kalimat Marisa barusan. Namun, keinginan itu hanya mampu diredam demi menghindari permusuhan.
"Btw, Anjani mana? Apa lagi jalan sama om-om lagi? Ganjen bener dia!" tuduh dan ledek Marisa.
Sepertinya Marisa terlupa bahwa Riko dan Isabel ada di pihak mana. Meledek Anjani bukan malah menambah dukungan, justru posisinya semakin terpojokkan.
"Om-om? Jangan asal nyebar gosip lu!" nasihat Riko dengan style juteknya.
"Eh, siapa yang nyebar gosip sih. Gue lihat sendiri tadi di depan gerbang sana Anjani dijemput om-om kepala botak pakai mobil mewah. Kalian sih temannya, mana mungkin percaya. Udah ah, gue pergi dulu. Mau latihan presentasi demi Riko. Bye!" Marisa pamit.
Sepeninggal Marisa, Riko mengganti posisi duduk agar lebih dekat ke Isabel.
"Bel, cari tau gih. Telepon Anjani. Beneran nggak sih dia dijemput om-om kepala botak? Kalau bener tanyain juga dia siapa, lalu apa hubungannya? Antisipasi hoax. Atau, kita bilang aja ke Marisa kalau Anjani udah nikah," usul Riko.
"Huuuuh! Lama-lama gemes juga aku lihat kamu, Rik! Pelan-pelan kenapa sih ngomongnya. Iya aku tau kamu kuatir betul Anjani didzalimi Marisa. Tapi ya jangan gegabah juga. Sampai saat ini yang tau status Anjani cuma kita berdua. Kita sama sekali nggak punya hak buat menyebarluaskan status Anjani pada teman-teman. Paham?" tegas Isabel.
"Bener juga, sih. Hehe. Terus kita harus gimana? Anjani teman kita, lho. Mana mungkin kita biarin berita macem-macem nyebar gitu aja."
"Rik, selama beritanya nggak nyebar, kita lebih baik diam. Paling tidak, kita sudah tahu siapa yang harus disalahkan andai berita yang menjatuhkan Anjani itu menyebar." Tatapan mata Isabel penuh keseriusan.
Tak lagi memedulikan ocehan Riko, Isabel pun gesit menelepon Anjani.
***
Siang hari di kantor, saat jam istirahat makan siang, Mario memperhatikan Anjani yang tengah asik bertelepon ria dengan Isabel. Dibiarkannya sang istri menyebut-nyebut kepala botaknya beberapa kali.
"Sudah selesai?" tanya Mario sembari menyodorkan segelas air putih.
"Makasih, Mas Sayang. Tau aja kalau haus," puji Anjani.
"Iya tau dong. Kan dari tadi ngobrolin aku di telepon. Lagi bahas kepala botakku ya?"
"Hihi. Iya. Ternyata tadi ada yang lihat kamu jemput aku di depan gerbang kampus. Aku dikira jalan sama om-om kepala botak." Tawa Anjani pecah.
Kening Mario berkerut. Bukan karena tawa Anjani, melainkan karena sebutan om-om kepala botak.
"Ah, sudah kuduga style botak pasti membuatku terlihat tua."
Anjani melangkah mendekati meja kerja Mario.
"Maafin aku, ya. Karena permintaanku aneh-aneh, kamu jadi menahan malu." Wajah Anjani mendadak sendu dipenuhi rasa bersalah.
Mario gesit menggerakkan tangan ke bibir Anjani yang masam. Diaturnya lengkung bibir sang istri menjadi sebuah senyuman.
"Asal kau bahagia, aku sungguh tak apa. Sini aku peluk!"
"Iiih, nggak mau! Ini kantor, lho. Nanti kalau ada karyawan yang masuk gimana?"
"Ya biarin aja mereka lihat kita mesra." Mario justru beranjak, memutar tubuh Anjani, lantas memeluknya dari belakang.
"Mas," desis Anjani hendak berontak.
"Ssut, biarkan aku memelukmu dan calon buah hati kita."
Ucapan Mario terdengar tulus dan penuh harap. Tak lagi berontak, Anjani membiarkan Mario memeluknya mesra, sembari mengusap perut datarnya.
"Anak daddy baik-baik di dalam perut bunda, ya. Jangan rewel. Kalau ingin sesuatu, lekas bilang. Pasti langsung daddy turuti."
"Iya daddy. Habis ini aku nggak minta buat botakin kepala daddy lagi, kok!" Anjani menyahuti dengan nada ala anak kecil.
"Ouhm, daddy bahagia sekali mendengarnya." Mario mempererat pelukannya. "Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku. I love you," ucap tulus Mario.
"Love you too, suamiku."
"Malam minggu ini pacaran, yuk!" ajak Mario.
"Udah nikah masih aja ngajakin pacaran."
"Ya nggak apa-apa dong pacaran halal. Mau ya, Sayang? Kita kulineran berdua." Mario terus membujuk.
"Nggak mau ah kalau cuma berdua," tolak Anjani sambil melepas pelukan Mario.
Mario mengikuti langkah Anjani hingga ke dekat jendela ruang kerjanya.
"Apa kamu mau ngajak Isabel sama Riko juga?"
"Ya nggak lah, Mas. Masa mesra-mesraan di depan mereka. Ini nih yang kumaksud. Ajakin dia juga dong." Anjani mengusap perutnya.
Mario geleng-geleng kepala melihat Anjani yang sikapnya ada-ada saja.
"Daddy lupa kalau ada kesayangan di perutnya bunda. Muaah." Mario curi-curi kesempatan mencium Anjani.
"Mas, kantor ini loh. Ntar ada yang lihat!"
"Nggak akan ada yang lihat. Lagi, ya!"
Baru saja Mario menggencarkan niatannya, seseorang masuk dan melihat kemesraan mereka. Seorang wanita cantik, berpostur tinggi, berkulit putih, dan lumayan sexy.
Bersambung ....
Enjoy Reading 😊
Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙
***
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤