Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa kata Banu
Sesekali menengok ke belakang boleh Re, tapii untuk kembali, jangan pernah ya. Akan banyak perasaan yang tersakiti. Cukup kau dan hatimu saja yang tersakiti. Hidupmu sudah lebih dari cukup untuk bahagia. Apa yang kurang dari rumah tanggamu? Suami yang begitu menyayangimu, anak yang begitu cerdas yang menggemaskan
Rena menguatkan hatinya. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Akh terlalu berlebihan mungkin, tapi soal hati siapa yang tahu?
Mendengar begitu panjang cerita dari Sholeh tentang dirinya, alasan pergi tanpa kabar sekalipun, usahanya untuk kembali, bertemu dengannya, hingga akhirnya mengetahui bahwa dirinya tak lagi sendiri.
Menyakitkan
Menyedihkan
Dan, sepertinya memang ini cobaan rumah tangga. Kata orang memang semakin lama kisah semakin banyak cerita. Semua rumah tangga diberikan cobaan, entah dari anak, rejeki, suami, istri. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Mungkin ini cobaan dalam rumah tangga Rena, orang ketiga hadir disaat segalanya sedang indah-indahnya, sedang manis-manisnya.. ya, kita tidak pernah bisa menolak suatu takdir, tugas kita hanya menjalankan takdir, tawakal dan istiqomah.
Mudah, sangat mudah diucapkan tapi sangat sulit dijalani.
Santai.. Santai... Santai
Rena menghirup udara dengan rakus, sesekali menghembuskannya dengan hati-hati seolah-olah sedang berusaha agar beban ikut keluar dari dalam hatinya. Mencoba merilekskan hatinya yang entah sekarang apa yang sedang dia rasakan.
Marah?
Kepada siapa?
Menyesal
Untuk apa?
Hentikan pemikiran-pemikiran yang dapat menghancurkan dirimu
Hari sudah sore, jam menunjukan pukul empat.
Banu belum terlihat batang hidungnya. Rena sedang bersiap-siap akan menjemput Hizam ke rumah neneknya. Ibu dari Ibunya. Nenek Buyut anaknya.
Setelah mengunci pintu, Rena segera mengayuh sepeda mininya ke rumah Uyut.
Sesekali membunyikan Krincingan sepedanya bila bertemu dengan orang yang dikenali.
Di desa ini siapa yang tak kenal Rena? Ibu Rena? seorang ibu guru KB yang ramah dan baik hati. Hampir seluruh warga desa mengetahuinya. Selain asli warga desa, Rena juga besar dan tumbuh dilingkungan sini, menghabiskan seluruh waktunya, dari SD - Sarjana.
Dulu, tak pernah ada pikiran sedikit pun bisa menjadi seperti sekarang. Jangankan berniat, membayangkannya pun rasanya begitu takut. Tapi semuanya berubah. Iya..Terus terang, hidup bersama Banu membuat perubahan besar di hidupnya. Segala yang dia ingin pasti terkabulkan, apa-apa yang dulu hanya dalam angan sekarang sudah menjadi kenyataan.
Akhirnya sampailah Rena di tempat uyut.
Ramai sekali, apakah sedang ada tamu ya.
Rena melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, dan benar saja. Anak uyut atau Bulik Rena yang dari Purworejo datang berkunjung.
"Asalamualaikum!" Rena tersenyum hangat.
"Walaikumsalam" Semua orang menjawab sambil mengalihkan pandangannya ke arah Rena.
"Wah, Mbak Ren.. Lama tak jumpa!" Bulik Anti menghampiri Rena sambil memeluk hangat.
"Alhamdulillah sehat lik, Bulik apa kabar? sendirian aja nih?" Rena membalas pelukan Bulik Anti dengan erat pula.
"Alhamdulillah baik, kesini sama bapaknya anak-anak, tapi lagi pergi sama Akbar, beli getuk goreng buat oleh-oleh, teman Akbar nitip katanya. Duduk, Re."
"Banu mana, Re?" Uyut menghampiri sambil membawa secangkir teh.
"Berangkat." Rena menjawab singkat.
"Minggu gini berangkat juga Re?" Anak ke 2 Uyut, ibu Zana menimpali.
"Iya, besok 'kan akhir bulan jadi kejar target, Kalo gak target, insentif gak cair Bulik!" Rena meraih gelas yang diberikan Uyut. "Terimakasih," imbuhnya.
"Mau jemput anakmu? Biar tidur sini aja yang banyak teman, di rumah nanti kesepian!" Uyut duduk di sebelah Rena.
"Berarti nanti aku yang kesepian dong , Yut. Aku aja sendirian di rumah, Hizam 'kan jadi nemenin aku, Yut." Rena menyesap tehnya.
"Lah kamu ada Banu, Re! biarlah anakmu di sini dulu, Bulik juga kangen sama bayik gembulmu. lama tak jumpa badannya sebesar itu. Udah gak pantes lagi dikatain bayi umur 3th!"
"hahahahhah" Suara gelak tawa semua orang pecah di ruang tamu.
Setelah berbasa-basi, akhirnya Rena pamit untuk pulang, khawatir kalau-kalau sang suami sudah pulang padahal dia belum menyiapkan makan malam. Hizam belum pulang, dia sedang ikut Pak lik dan Akbar membeli getuk goreng di Sokaraja. Akhirnya Rena mengizinkan anak gembulnya menginap di rumah uyut.
Lampu teras sudah menyala. Pertanda ada orang didalam rumah. Memang sudah hampir maghrib dan keadaan di luar mulai menggelap.
"Asalamualaikum!" Rena membuka pintu yang tak terkunci.
Suprayitno sudah bertengger manis di garasi berjejer dengan sepeda mini miliknya.
Hening, sepertinya Banu sedang di kamar mandi.
Dan benar saja, suara air terdengar dari dalam kamar mandi.
Sebaiknya aku masak dulu aja
Membuka kulkas, dan ternyata kosong, hanya ada beberapa botol minum dan telur. Rena lupa kalau tadi pagi bahan masakan telah diolah untuk sarapan dan dia lupa tidak berbelanja. Padahal besok hari Senin, sudah berangkat sekolah dan berangkat pagi, mana sempat belanja ke warung dulu..
"Bu.. dari mana saja? Bapak cariin," sebuah tangan kekar melingkar di pinggang Rena, Wangi harum shampo menyeruak di hidungnya. Persekian detik Rena sadar akan kehadiran suaminya.
"iih Mas ngapain sii, tumben peluk-peluk dari belakang segala," Rena menepuk tangan suaminya yang merengkuh pinggangnya.
ada maunya niih🤨
harus hati-hati
"Kangen aja," jawabnya manja "Mau masak apa?"
"Entahlah, aku lupa kalau bahan makanan habis, dan gak pergi ke pasar tadi pagi." Rena menjawab sambil menggerakan bahunya, berharap sang suami tidak menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil yang kalo dibiarkan pasti akan berlanjut yang yang tidak-tidak.
"Makan diluar aja yuk!"
Tumbenn
"Dalam rangka?" Rena mendongakan wajahnya sehingga wajah mereka bertemu.
Secepat kilat Banu melu*at bibir istrinya dengan rakus.
Kenapa dengan ini orang, tak biasanya
"Mas, kangen!" jawabnya sambil melepas ******* bi birnya.
ceh, kaya gak tiap hari aku di tinggalin
"Gak inget anak nih" godanya.
"Oya dimana Hizam? kok gak ngeliat dari tadi?"
"Bobo di tempat uyut. Ada Bulik Anti sedang berkunjung, Bulik minta Hizam biar nginep di sana." Rena menjelaskan sambil sambil melepaskan pelukan sang suami. "Ibu ganti baju dulu dulu ya," sambil berjalan berlalu.
Banu POV
Entah ada apa dengan diriku, beberapa hari ini rasanya ada yang aneh. Aku hanya ingin berdekatan dengan istriku, menghabiskan waktu bersama keluarga kecilku.
Rena.. Satu-satunya Wanita yang setiap hari menggetarkan hatiku, menjadi semangatku, dialah duniaku. Berlebihan mungkin, tapi tidak. Bertahun-tahun aku memendam rasa ku sendiri, pesimis dengan diri sendiri.
Pertama kulihat sosok mungilnya kala itu tanpa sengaja. Dia sedang berada di toko buku bersama temannya. Usianya masih sangat belia. 15 tahun. Saat itu dia menduduki kelas 1 SMA. Dan aku pria yang hanya berprofesi sebagai penjaga counter HP, usiaku sudah menginjak 23 tahun.
Wajahnya yang manis, rambut hitamnya yang legam, bibir seksinya yang tak pernah berhenti menyunggingkan senyumnya.
Aku jatuh cinta padanya, jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan sejak itu aku selalu memperhatikannya, menunggu kehadirannya untuk hanya sekedar lewat di depan counter tempatku bekerja. Hingga akhirnya suatu hari aku mengetahui dimana rumahnya.
Bertahun-tahun aku seperti pencuri, mengawasi gerak geriknya, mengorek tentang kehidupan pribadinya, sangat patut disebut dengan pedofil bocah!
hahaha memang dia sudah melumpuhkan otakku untuk berpikir.
Hingga suatu ketika, ku beranikan untuk memperkenalkan diri, memunculkan diriku dihadapannya. Namun, ternyata ia telah menjalin hubungan dengan kakak kelasnya! Seorang anak lurah.
Hatiku hancur remuk saat itu juga, aku sadar diri dengan diriku sendiri. Umurku yang lebih cocok menjadi omnya mungkin, pekerjaanku yang hanya sebagai penunggu counter menjadikan nyaliku menciut. Dan langsung pupus ambisi ku.
Hingga akhirnya sekian tahun berlalu, dan kulihat dia lagi tanpa sengaja, saat aku sedang memesan martabak di pasar, dia turun dari Bus SJ antar kota antar propinsi di depan Masjid pertigaan pasar.
Dia berbeda, bukan gadis kecil yang dulu lagi. tambah anggun dengan jilbab yang dikenakannya. Meski begitu, tak menjadikanku lupa dengan sosoknya yang manis itu, yang saat ini sedang kesusahan membawa satu ransel dan koper besarnya.
Reflek ku langkahkan kakiku mendekatinya.
Untuk pertama kalinya aku berinteraksi dengannya. Dada ini terus bergemuruh. Semakin kuat tak kala aku semakin dekat dan menawarkan dia bantuan. Hingga akhirnya dia menerima dan disitulah awal kedekatan ku dengan dia.
Ternyata dugaan ku salah, aku pikir setelah sekian tahun tak berjumpa rasa ingin memiliki ku padanya telah hilang. Tapi tidak. Rasa ini terus tumbuh dan semakin subur.
Hingga akhirnya aku memberanikan diri meminangnya. Rasa pesimis pasti ada, tapi terkalahkan begitu saja oleh rasa ingin memiliki yang menggebu-gebu.
Ternyata mendapatkannya juga tidak semudah yang aku pikirkan. Dengan penuh perjuangan, dan semangat untuk meyakinkan Rena, (karena awalnya Rena seperti ragu untuk menerima lamaranku) dan bantuan dari ayahnya yang kemudian ikut turun tangan membujuk Rena, akhirnya Rena bersedia ku nikahi.
Dan disinilah kami, membangun cinta yang semakin hari terus aku pupuki agar cinta selalu tumbuh dan berkembang. Bersatu mengarungi biduk rumah tangga, selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk Rena dan Bapak yang baik untuk anak kami.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Haiii readers
Mulai bab ini aku akan memberi sudut pandang setiap karakter ya. Biar semakin jelas jalan ceritanya. Terimakasih atas partisipasi semuanya..jangan lupa untuk tekan jempol dan tulis kritik saran kalian di kolom komentar yaaa
terimakasih😘
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor