Shella namanya, seorang gadis kecil yang tumbuh dilingkungan keluarga yang membenci ibunya, dia dipisahkan dari Lisna sang ibu dengan cara paksa.
Meski demikian, Shella sering diperlakukan tidak adil setelah ayahnya menikah lagi, namun dia enggan kembali pada ibunya. Seiring berjalannya waktu dia sering menghilang tanpa kabar.
Ini menjadi dilema tersendiri bagi anak korban perceraian. Apakah Shella akan ikut membenci Lisna seperti hasutan yang selama ini diberikan oleh keluarga sang ayah? dan apakah Lisna bisa mendapatkan kembali hati anaknya dengan kesabaran yang dia miliki?
Sikahkan simak kisahnya ya.. 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selly setiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Perubahan Hidup
Tahun demi tahun berganti, warung kecilku telah berkembang menjadi toko serba ada dari mulai pupuk, kelontongan, sembako dan perlengkapan sekolah. Aku berhenti menjadi penjahit karena sibuk mengurus toko.
Teringat kata-kata majikanku dulu saat bekerja ditoko kue yang selalu memotivasi agar aku bisa menabung dan membuka usaha seperti dirinya. Semua itu kini menjadi kenyataan dari mulai berjualan dipintu jendela sampai berkembang menjadi toko sebesar ini.
Aku belajar dari hal terkecil dalam bidang usaha dan kuterapkan saat aku membuka usaha sendiri. Ku syukuri nikmat tuhan yang luar biasa ini. Dulu aku banyak disakiti orang, difitnah orang, sampai rumah tanggapun hancur karena hasutan orang lain. Kini tuhan anugerahkan kebahagiaan untuku. Suami yang baik, anak-anak yang bisa kuurus dan rezeki yang lancar.
Sebelum menikmati semua kemudahan ini, awal-awal aku menikah dengan Dimas kami sempat menemui hal tersulit dalam hidup kami.
###
Waktu itu suamiku Dimas tidak mempunyai pekerjaan apapun. Berjualan sayur berseteru terus dengan orang lain yang telah berjualan terlebih dahulu, jualan buburpun selalu ada saja halangannya, begitupun denganku. Orderan menjahit saat itu sedang sepi sampai suatu hari kami tidak mempunyai uang sepeserpun bahkan untuk makan saja kami tidak punya beras sebijipun.
Anak keduaku sudah kelaparan dari pagi, aku berinisiatif untuk pergi ketoko beras. Bukan untuk membeli tapi untuk meminta izin mengambil beras disana.
"Permisi pak," ucapku pada sang pemilik toko.
"Iya ada yang bisa dibantu bu?" tanyanya ramah.
"Saya mau minta izin untuk memungut beras disini pak, boleh?" pintaku gugup.
"Oh Boleh, silahkan."
Kupungut butir demi butir beras yang berceceran dilantai yang telah bercampur dengan tanah, setelah itu kubawa pulang lalu kubersihkan. Hampir 1 jam aku menghabiskan waktu untuk membersihkan beras itu hingga akhirnya bisa kumasak dan kami bisa makan.
Anak-anakku yang sedari tadi menunggu makanan langsung menyantapnya dengan lahap. Air mataku jatuh tak terbendung melihat mereka begitu kelaparan, aku merasa gagal sebagai orangtuanya.
Dalam kondisi seperti ini, aku dan suami berinisiatif untuk mencari daun pisang yang akhirnya bisa kami jual kepasar agar dapat membeli beras, semua ini terus berlanjut hingga akhirnya kami meminjam uang dari bank keliling untuk menjadi modal usaha.
Kami terus berusaha untuk membuat perubahan, berbagai pekerjaan coba kami lakoni, sempat menjadi buruh tani, bahkan pernah difitnah mencuri buah milik tetangga kampung sebelah karena kondisi keluarga kami yang sedang minim. Sekeras itu kami menjalani kehidupan sampai akhirnya berada dititik seperti sekarang ini.
Sementara Fahri ayahnya Shella, dulu dia dikelilingi orang orang hebat, keluarga yang tergolong mapan menjadikannya pribadi yang angkuh dan pemalas. Dia tidak pernah menghargai kerja kerasku selama kami tinggal bersama, terkadang dia lebih mendengarkan masukan dari sodara-sodaranya ketimbang pendapatku.
Banyak perselisihan yang sering terjadi diantara kami, sampai akhirnya kami bercerai. Tapi mana Fahri yang dulu si anak manja sampai lupa keluarga, sekarang dia diberikan ujian oleh Allah. Anak 3 waktunya membutuhkan biaya, Allah ambil semua nikmat yang selama ini dia salah gunakan. Kini Fahri bekerja sebagai tukang ojeg pengkolan atau buruh serabutan.
Aku sering mengirim beras untuk Shella agar tidak kekurangan dan memberikan uang jajan untuk anak-anaknya yang lain.
Sempat ku ajak Shella untuk tinggal bersama kami sampai kondisi keuangan Fahri membaik, tapi Shella menolaknya. Aku tak pernah menyombongkan diri dihadapan mereka, hanya saja aku merasa kasihan dengan keadaannya sekarang.
Roda itu memang berputar. Kadang kita hidup dibawah kadang diatas, tapi ketika Allah menguji kita dengan berlimpahnya harta, jangan pernah kita jadikan alasan untuk menjadi manusia yang malas, sombong, angkuh bahkan kikir, begitu juga jika Allah menguji kita dengan sedikitnya harta jangan pernah kita jadikan alasan untuk mengeluh, ditakutkan semua itu bisa menjadi kufur nikmat atas apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita.
Harta itu hanyalah titipan, kita akan pulang dengan sehelai kain kafan, jadi apa yang bisa kita sombongkan.
Pada intinya apapun kondisi yang terjadi pada kita syukuri saja. karena Allah adalah sebaik-baiknya penolong.
Bersambung.......
Salam kenal 😉💐
mampir juga di karyaku
Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
likeback ke Who is He ya, dah UP😄💕
dan minta tolong kk komen di sana sebagai kehadirannya yah, hehe😅